Showing posts with label Essay. Show all posts
Showing posts with label Essay. Show all posts

05 September 2014

Cerita-cerita Kematian di Lonebasa (Catatan Perjalanan ke Pipikoro)

Desa Lonebasa

Matahari sudah tenggelam ketika kami tiba di Lonebasa[1]. Kabut mulai menyelimuti pegunungan di belakang perkampungan. Beberapa saat ketika kami duduk di beranda rumah Pak Apollo, Kepala Desa Lonebasa, tampak iring-iringan orang-orang yang melangkah dengan cepat dan tergesa-gesa di jalan desa. Mereka membawa obor yang yang nyalanya meliuk-liuk karena tiupan angin. Ketika iring-iringan itu mulai mendekat, kami melihat di tengah rombongan itu sebuah tandu digotong di atas pundak empat orang pria dewasa. Tandu itu berisi jenazah.
Share:

19 August 2014

Berkunjung ke Negeri Tepi Awan


Anak-anak sekolah di Pipikoro
Perempuan itu meloncat dan sigap merengkuh pinggang saya ketika saya nyaris jatuh terjerembab ke tanah berlumpur. Hujan semalam membuat jalanan sangat licin hingga kaki saya terpeleset.
Share:

16 August 2014

17 Agustus dan Orang-orang yang Kehilangan Tanah

Ilustrasi: Koran Tempo Makassar


17 Agustus tinggal hitungan jam. Sebentar lagi negeri ini akan gegap gempita oleh kegembiraan, mengenang ketika pertama kalinya pendiri bangsa ini mengucapkan kata “merdeka” 69 tahun silam. Tapi bagi saya, ada sesuatu yang mengusik setiap 17 Agustus tiba. Benarkah bangsa ini sudah merdeka?
Tidak, saya tidak percaya bahwa bangsa ini telah merdeka. Sebab di banyak tempat, saya menyaksikan begitu banyak rakyat kehilangan tanahnya dan tak kuasa merebutnya kembali. Saya menyaksikan para orang tua kebingungan mencari lahan untuk bertanam jagung agar anak-anaknya tetap bisa makan. Saya menyaksikan anak-anak yang tak punya uang untuk membeli gelar sarjana, yang lantas beringsut ke kota untuk mencari sesuap nasi di rumah mewah orang-orang yang mereka panggil Majikan.
Share:

15 July 2014

Merawat Ingatan

Model: Aisha

Demi menjaga  ‘ingatan masa lalu’, saya telah berjanji untuk berbuat baik dan menyayangi setiap bayi dan anak-anak yang saya temui. Sebelumnya, saya tidak pernah begitu menyadari tentang sebetapa kuat pengaruh ingatan masa lalu terhadap pandangan hidup di masa kini.
Share:

21 June 2014

Lisa

Ketika saya melihat Lisa menangis, serta-merta saya kembali teringat pada novel To Kill a Mockingbird karya Harper Lee yang saya baca bertahun-tahun silam. Saya teringat pesan sederhana yang tak pernah bisa saya lupakan dalam novel itu: You never really understand a person untill you consider things from his point of view—until you climb into his skin and walk around it.
Saya mengartikan pesan itu secara sederhana; Kita tak pernah bisa benar-benar mengerti seseorang, sampai kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandangnya, sampai kita bisa menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya. Tapi bisakah kita melakukan semua itu? Kenyataannya, tidak! Dan itu berarti kita tak akan pernah bisa benar-benar mengerti kehidupan seseorang. Dan kesadaran itu, semestinya juga menyadarkan kita bahwasanya kita tak bisa begitu saja menghakimi seseorang dengan penilaian buruk karena melihat penampilan dari luar.
Share:

06 March 2014

Anjing

Saya ingin bercerita tentang seekor anjing, hewan peliharaan yang sangat keren dan garang itu. Siang tadi, saya ngobrol dengan teman saya lewat BlackBerry Messenger. Dia memasang foto anjing sebagai display picture. Seekor anjing besar dan gagah. Saya bertanya apakah ia suka anjing. Dan ia mengiyakan. Ia bergabung dalam klub SARDog Indonesia, sebuah klub pemelihara anjing yang diperuntukkan untuk kemanusiaan. Anjing-anjing yang tergabung dalam klub itu digunakan untuk menolong korban bencana.
Share:

17 January 2014

Belajar Bahasa Perancis di IFI Surabaya


Bonjour! Je m'appelle Anne Françoise. Je suis Indonésienne. J'habite à Surabaya, mais je viens de Makassar.
Selama seminggu pertama belajar bahasa Prancis di Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya, itulah kalimat yang selalu saya ulangi setiap hari. Sejak hari pertama, saya telah mendapat nama Prancis dari Monsieur Karguna, professeur (guru) yang mengajar saya di minggu pertama. Anne Françoise! Nama pemberian Monsieur Karguna ini membuat lidah saya menderita berhari-hari karena tak sanggup mengucapkannya dengan benar.  
Di kelas saya ada 5 siswa lain: Arnella Harvany (Armelle Legrand), Patricia Harsono (Pauline Rapon), Tika Ristyarini Hapsari (Therese Garnier), Ahmad Yani Budi Laksana (Alain Dumenil), dan Renaldi Andra Pradana (Rolland Martin). Semuanya mendapat nama Prancis. Teman-teman saya ini pun sama menderitanya dengan saya menanggung beban nama Prancis yang mengucapkannya membuat lidah menjadi keriting. Kami butuh waktu berhari-hari untuk bisa mengucapkan nama kami masing-masing dengan benar. Sementara Monsieur Karguna, tertawa terbahak-bahak melihat begitu payahnya lidah kami menyebut nama sendiri.
Share:

23 December 2013

Semalam Bersama Putri Raja Lindu

Oma (kiri) bersama seorang penari Lindu
Perempuan itu berkulit putih nyaris pucat. Rambutnya ikal, panjang, dan kemerah-merahan. Tatapan matanya teduh dan menenangkan. Setiap geriknya begitu lembut. Keriput kulitnya tak dapat menyembunyikan betapa cantiknya ia di masa muda. Bahkan kini di usianya yang sudah tua—barangkali di atas 60 tahun—ia masih tampak cantik. Setidaknya jika disandingkan dengan perempuan seusianya.

Saya kaget ketika tahu dia istrinya Pak Alimutia. Pak Alimutia adalah opanya Pak Subarkah, teman seperjalanan saya ke Pipikoro, Sulawesi Tengah. Ia seorang pria kurus berkulit hitam. Tak tampak sisa-sisa ketampanan fisik pada wajahnya. Tapi ia sangat cerdas. Saya kaget menemukan orang gunung secerdas dia. Kemudian, saya dapat memaklumi kecerdasan yang ia miliki, ketika ia bercerita bahwa ia seorang wartawan. Ia sering mengirim berita untuk VoA atau BBC. Ia bahkan sering ke luar negeri.

Perempuan itu kemudian, saya sebut Oma karena saya begitu bodoh tak menanyakan namanya.

Ketika pertama kali melihat Oma, saya berbisik pada Pak Subarkah. "Oma itu orang asli Lindu? Apakah, dia punya darah Barat? Bule? Masya Allah cantik sekali!"

Pak Subarkah tidak tahu. Ia kemudian memberitahukan apa yang saya bisikkan kepada Oma dalam bahasa Lindu. Oma melihat saya sambil tersenyum. Ia memegangi anak-anak rambutnya yang tergerai di dahi. "Sudah seharian rambut saya belum ketemu sisir," ucapnya. Barangkali ia risih saya bilang cantik. "Saya bule Lindu," tambahnya tersipu.

Oma kemudian memberitahu apa yang saya katakan kepada suaminya. Dan Pak Alimutia menjelaskan kepada saya, bahwa Oma punya darah Prancis.

Oma adalah putri satu-satunya Raja Lindu. Di Lindu, yang berlaku adalah sistem matrilineal, bukan patrilineal seperti di kebanyakan daerah Indonesia. Dengan demikian, setelah raja wafat, Oma adalah pewaris takhta kerajaan. Tapi saat ini sistem kerajaan sudah tidak berlaku di sana. Meski demikian, Oma dan suaminya masih sangat dihormati di Lindu. Semua orang mengenalnya. Jika ada warga yang mendapat banyak mujair hasil pancingan dari danau Lindu, Oma selalu mendapat bagian.

Kami tiba di sana karena keingintahuan saya mengenai Lindu. Dalam perjalanan dari Palu ke Pipikoro, saya mendengar bahwa sedang ada Festival Danau Lindu. Ini festival budaya tahunan, tapi dua tahun sebelumnya batal dilaksanakan. Tahun pertama batal karena banjir bandang yang melanda Sulteng, dan tahun kedua karena gempa bumi.  Saya meminta Pak Subarkah agar, sepulang dari Pipikoro kami mampir dulu ke Lindu sebelum ke kota Palu. Maka pada Jumat sore itu, di sinilah kami berada, di rumah Oma, sang Ratu Lindu.

Untuk masuk ke Lindu, kami harus melewati 2 lapisan bukit. Pertama-tama, kami melalui jalan menanjak, sebelum akhirnya menyusur lereng ke bawah, dan mendapatkan desa ini dengan jalan datar berbatu kasar. Saya bersyukur, jalan yang kami lalui ini setidaknya lebih bagus daripada jalan ke Pipikoro. Jalan ke Lindu lebih lebar dan tampaknya telah diratakan. Menurut Pak Subarkah, jalan ini baru diperlebar tahun lalu.

Gempa tahun lalu merobohkan rumah sejumlah warga di Lindu, termasuk rumah Oma. Tim pembawa bantuan sulit menjangkau lokasi karena akses terbatas. Jalan menuju Lindu hanya jalan setapak. Gempa itulah yang kemudian mendorong dilakukannya pelebaran jalan agar penyaluran bantuan bisa lebih mudah.

Di sepanjang jalan adalah kebun dan sawah yang sepertinya tidak terlalu subur. Saya menyaksikan batang-batang padi yang begitu kurus. Tapi di halaman rumah warga terhampar jemuran kopi dan kakao yang sepertinya menjadi sumber mata pencaharian yang cukup menjanjikan.

Rumah Oma terbagi menjadi dua bagian. Rumah induk di bagian depan, dan dapur di bagian belakang. Rumah induk terbuat dari kayu dengan tiang-tiang yang hanya sekitar 1 meter. Dapur jauh lebih sederhana, berlantai tanah dan berdinding bambu, tapi ada balai-balai di sisi kiri-kanan yang berfungsi sebagai tempat duduk melantai saat makan. Dapur ini selalu penuh kepulan asap dari tunggu berbahan bakar kayu.

Rumah induk penuh tempelan poster di dinding. Segala macam poster terdapat di sana, mulai dari poster Yesus hingga poster kampanye anti korupsi. Ketika tiba, kami langsung menuju dapur. Oma datang ke sana kemudian, dan segera menegur kami agar naik ke atas rumah. Katanya dapur terlalu kotor. Ia lalu membuatkan kami kopi panas.

Di rumah itu sedang banyak tamu. Pak Alimutia bilang, rumahnya selalu ramai oleh tamu dari kecamatan maupun kabupaten. Apalagi sekarang sedang ada festival budaya. Ia meminta saya menyimpan tas di sebuah kamar. Rupanya kami menjadi tamu spesial hari itu. Saya diberi kamar khusus.

Setelah berganti pakaian, kami kembali ke pinggir danau. Pak Alimutia berpesan agar kami cepat pulang untuk makan malam. Oma akan memasak ikan mujair bumbu pedas untuk kami.

Ketika kami pulang jam 7, sepasang suami istri itu mengomel. Pak Alimutia bilang ia telah mencari kami di pinggir danau tapi tidak bertemu. Mereka menggiring kami ke dapur. Makanan telah tersaji. Ikan bakar bumbu pedas dan ikan goreng. Oma bilang tamu sedang banyak. Ikan cuma sedikit. Kalau terlambat kami tidak kebagian. Karena itu, ia menyuruh kami makan duluan.

Sambil makan, Pak Alimutia memberitahu agar saya nanti tidur di kamar tempat saya berganti pakaian. Itu akan menjadi kamar khusus untuk saya. Hanya saya yang bisa menggunakannya. "Saya akan temani tidur supaya tidak ada yang culik kamu," kata Oma. Saya mengiyakan.

Pak Subarkah tidak bersedia menemani saya menyaksikan pagelaran kesenian di tepi danau seusai makan malam. Ia bilang ingin berbincang dengan Pak Alimutia. Ia meminta Ody yang menemani saya menonton. Sejak di Pipikoro, Ody memang sudah naik pangkat dari tukang ojek jadi teman seperjalanan. Saya dan Pak Subarkan menjadi sangat akrab dengan Ody dan Albert, dua tukang ojek kami itu.

Ody mengiyakan. Barangkali ia tidak enak hati menolak permintaan Pak Subarkah. Saya tahu ia pasti akan memilih berkumpul dengan para kenalannya di Lindu sambil menenggak saguer (arak Sulteng) untuk menghangatkan badan, ketimbang menemani saya duduk berjam-jam di depan panggung seperti orang bodoh. Ody bukan tipe orang seperti saya yang gampang terpesona oleh suara musik bambu atau lenggak-lenggok penari tradisional. Albert sendiri, sedari tadi tak tahu entah kemana.

Saya kembali dari tepi danau pukul 9 malam. Benar perkiraan saya. Setelah mengantar saya pulang, Ody ngacir entah kemana.

Rumah Oma mulai senyap. Sejumlah tamu tergeletak di lantai,  tidur di dalam kelambu. Bahkan teras rumah pun dipenuhi orang tidur. Saya langsung membuka pengikat pintu kamar dan masuk ke dalam. Seorang tamu bilang Oma ada di kamar sebelah. Saya berpikir ia sudah tidur. Saya tidak enak memanggil dia menemani saya.

Cuaca sangat dingin. Saya mengenakan dua lapis jaket, kaos kaki, kaos tangan dan syal. Belum cukup menghangatkan. Saya masih menggigil. Gigil ini membuat badan saya yang kelelahan karena mendaki gunung 2 hari lamanya menjadi tambah sakit. Saya mengambil kelambu yang tidak terpasang dan menutupkan ke badan saya. Ah, masih dingin.

Sekitar sejam kemudian, Pak Alimutia dan Oma membuka pintu sambil membawa lampu petromak. Ia kaget saya sudah pulang dari danau tanpa memberitahu Oma. Oma menyuruh saya pindah ke kasur sebelah. Dalam kamar itu ada dua kasur yang dipasang berdempetan tanpa ranjang. Kelak keesokan paginya, saya baru tahu mengapa ia meminta saya pindah kasur. Kasur yang saya pakai malam itu menggunakan sprei baru, sedangkan yang dikenanakan Oma sendiri spreinya sudah tua.

Oma menyelimuti saya dan memastikan selimut itu benar-benar rapat di tubuh saya dari leher hingga ujung kaki. Selimutnya sangat tebal. Setelah itu, ia meletakkan dua buah bantal guling di sisi saya. “Supaya kamu tidak kedinginan. Di sini dingin,” katanya. Rupanya ia tahu orang kota macam saya tidak terbiasa dengan dingin alami yang berasal dari angin yang berhembus dari pegunungan. Ia sendiri tidak mengenakan selimut. Sebelum merebahkan badan, Oma duduk tegak beberapa menit lamanya dan berkomat-kamit. Barangkali ia membaca doa tidur, saya tidak tahu.

Beberapa menit kemudian, Oma tertidur di sisi saya. Saya masih terjaga, telentang menatap atap rumbia yang menaungi kami. Air mata saya meleleh diam-diam. Saya menangisi kelembutan hati perempuan tua itu.

Saya tiba-tiba tak dapat memejamkan mata meski sedari siang tadi merasa ngantuk dan lelah. Saya memikirkan Oma, perempuan tua yang tampak tak serasi dengan keranjang di pundak ketika berjalan menuju ladang. Kecantikannyalah yang membuat ia tak serasi dengan keranjang kebun itu. Saya melihat ia lebih cocok duduk di atas tahta dan menggerakkan telunjuk ke sana- ke mari memberi perintah kepada para bawahan.Saya memikirkan Lindu. Saya memikirkan kelembutan hati orang-orang gunung ini. Kelembutan hati Oma tak ada bedanya dengan orang-orang yang saya temui di atas pegunungan Pipikoro.

Ini untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Sulawesi Tengah. Saya tidak tahu apa-apa tentang daerah ini, meskipun provinsi kami bertetangga cukup dekat. Sebelumnya yang saya tahu tentang Sulawesi Tengah hanya tentang Poso yang riuh oleh suara tembakan dan ledakan bom karena konflik agama. Tapi di sini, apa yang saya saksikan dari Palu hingga Kulawi dan Sigi sangat berbeda. Saya menyaksikan bangunan mesjid berjarak hanya beberapa puluh meter dari bangunan gereja. Saya melihat para tetangga berbeda agama bergaul dengan cukup akrab. Selebihnya, kesan yang saya peroleh adalah sejuk udara pegunungan dan kelembutan hati orang-orang suku Kulawi, Uma, dan Lindu. Di sini, dalam perjalanan yang begitu singkat, saya benar-benar belajar tentang kelembutan hati orang-orang gunung, dan bagaimana mereka memperlakukan tamu.

Esok paginya, saat kami baru saja menghabiskan segelas kopi dan siap berkemas, Oma muncul ke teras dengan sebuah karung berisi ikan mujair kering. “Ikan ini harus tiba di Makassar,” katanya. Saya terharu. Kemarin, saya lihat karung itu tergantung di atas dapur Oma. Ah, itu pasti persediaan makanan mereka. Saya tidak enak menolak pemberiannya. Dan akhirnya, setengah karung ikan kering itu pun saya bawa ke Makassar. Saya berdoa, semoga Tuhan melapangkan rezeki Oma. Dan semoga ada banyak orang yang membantu saya membalas kebaikannya.
Share:

06 December 2013

17 November 2013

Ishak Ngeljaratan dan Tafsir Al Quran

Pak Ishak Ngeljaratan adalah seorang Kristiani. Tapi saya berani bertaruh, pemahamannya tentang Al

Quran jauh lebih baik dibandingkan sebagian orang Islam. Saya menilai ia seorang Humanis. Ia mencintai keberagaman dan kebersamaan. Ia tak pernah menilai seseorang dari agama dan kepercayaannya. Itulah yang membuat saya begitu mengaguminya.

Ia dosen di fakultas saya, Fakultas Ilmu Budaya Unhas. Meski begitu, kami tidak pernah berinteraksi di dalam kelas. Seingat saya hanya sekali, ketika saya masih mahasiswa baru, ia pernah memberi kuliah umum. Setelahnya, saya sering menyaksikan ia berceramah dalam berbagai acara bertema budaya. Pada sebuah kesempatan, saya juga pernah melakukan wawancara dengannya untuk keperluan penulisan buku biografi seseorang. Saya teringat pesannya ketika kami hendak berpisah, setelah ia menanyakan umur dan pekerjaan saya. Ia berpesan agar saya setia dan mempertahankan idealisme dalam pekerjaan saya. Ia juga berkata, “Sudah cukup orang tuamu menjagamu. Sekarang saatnya kamu menjaga diri sendiri,” katanya sembari mengantar saya ke pintu pagar.

Pak Ishak sudah tua. Barangkali usianya sudah mencapai 70-80 tahun. Kulitnya sudah mengeriput. Tapi semangatnya tampak tak pernah memudar. Ia tetap terlihat kuat menghadiri berbagai undangan. Ia masih sanggup berbicara dengan penuh semangat. Saya senang mendengar setiap kata yang ia keluarkan dari mulutnya. Bagi saya, setiap kalimat yang ia ucapkan penuh makna dan mengandung nilai-nilai kebijaksanaan.

Beberapa hari lalu, saya kembali berada dalam satu forum dengannya. Seorang kenalan saya, Pak Shaifuddin Bahrum—yang akrab disapa Pak Udin—sedang melaunching buku kumpulan esainya. Saya didaulat menjadi MC, dan Prof Ishak menjadi pembedah. Buku itu berjudul “Rahmatan Lil Alamin: Indahnya Berbagi”.

Dalam bukunya tersebut, Pak Udin menulis 40 judul kisah sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Semuanya adalah kisah nyata dari orang-orang di sekitarnya. Secara garis besar, kesemua esai yang ditulisnya berkisah tentang bagaimana seseorang dalam memperlakukan alam semesta. Seperti konsep Rahmatan Lil Alamin yang termaktub dalam Al Quran, yang berarti “Rahmat bagi Alam Semesta”. Tuhan, meminta manusia untuk mengasihi alam semesta beserta isinya. Tidak hanya kepada sesama manusia, atau kepada sesama Muslim, tapi juga terhadap hewan dan tumbuhan. Terhadap semesta dan segala isinya.

Pak Ishak membedah konsep Rahmatan Lil Alamin yang terkandung dalam buku tersebut. Ia juga membandingkan konsep ini, antara yang dipahami oleh seorang Muslim dan seorang Kristiani. Prof Ishak hafal beberapa ayat dalam Al Quran. Bagi dia, konsep Rahmatan Lil Alamin juga dimiliki seorang Kristiani dalam nama yang berbeda. Ia mencontohkan, masyarakat Tana Toraja yang sebagian besar beragama Kristiani, yang begitu mencintai alam dan lingkungan. Dan bagi mereka, tidak ada penghormatan yang lebih tinggi melebihi kepada alam dan lingkungan.

Diskusi pada hari itu melebar ke arah masalah tafsir Al Quran. Prof Ishak mengaitkan antara konsep Rahmatan Lil Alamin dengan tafsir Al Quran. Ia menyindir kalangan Fundamentalis yang beberapa waktu belakangan sering muncul ke permukaan karena tindak kekerasan yang mereka lakukan. Yang tentu saja, tindak kekerasan apa pun, jika mengatasnamakan agama, tidak bisa dibenarkan.

Bagi Prof Ishak, munculnya tindak kekerasan mengatasnamakan agama disebabkan oleh penafsiran yang salah terhadap ayat-ayat atau firman Tuhan. “Ayat tidak pernah salah, tapi tafsir manusia bisa saja salah,” ucapnya. Ia mengatakan, setiap manusia bebas menafsirkan ayat dalam Al Quran. Tapi kita tentu saja tidak boleh menganggap bahwa tafsir kita adalah yang paling benar dan menyalahkan tafsir yang dibuat orang lain. Sebab, sikap seperti inilah yang pada akhirnya menciptakan Fundamentalisme. Dan Fundamentalisme, tambahnya, sesuatu yang sangat berbahaya karena akan mendorong kita untuk melukai setiap yang berbeda pemahaman dengan kita.

Prof Ishak mendorong umat Muslim untuk menafsirkan ayat-ayat Al Quran tidak secara harafiah. Itu diungkapkannya ketika menanggapi seorang peserta diskusi, tentang pernyataan bahwa Tuhan Maha Melihat atau Maha Mendengar. Kata ‘melihat’ atau ‘mendengar’ adalah sesuatu yang biasa digunakan untuk manusia. Tapi benarkah Tuhan punya mata atau punya telinga? Pada kenyataannya, tidak! Itu hanya sebuah analogi agar manusia gampang memahami keberadaan Tuhan. Sebab tanpa sebuah analogi, manusia tidak bisa memahami Ketuhanan.

Apa yang diungkapkan oleh Prof Ishak sama halnya dengan apa yang diungkapkan oleh Ulil Abshar Abdallah yang seorang Muslim. Ulil menegaskan umat Islam untuk menafsirkan Al Quran secara kontekstual, bukan secara harafiah. Sebab jika ayat-ayat Al Quran mulai ditafsirkan secara harafiah, maka itu adalah sumber kehancuran bagi Al Quran itu sendiri. Kita dapat mengambil contoh pada berbagai tindakan terorisme yang dilakukan sekelompok orang dengan mengatasnamakan agama.

Yang Ulil maksud dengan pemaknaan secara kontekstual adalah pemahaman yang memperhitungkan konteks turunnya ayat tersebut, maupun konteks penerapannya pada waktu tertentu. Sejumlah pemikirannya saya kutip, salah satunya dalam esainya yang berjudul “Pancasila” Pemahaman mengenai Quran. Salah satunya ia menyatakan bahwa, ketika sebuah ayat Quran dikutip untuk membenarkan atau melarang suatu tindakan, kita harus memperhatikan kedua konteks itu: konteks turunnya ayat (siyaq al-nuzul) dan konteks penerapan (siyaq al-tathbiq).

Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin. Rahmat bagi alam semesta. Bukan Rahmatan Lil Naas atau Rahmatan Lil Muslimin. Konsep ini saya pahami sebagai konsep Humanis. Islam adalah sebuah agama yang Humanis. Karena itu saya tidak pernah setuju jika ada sekelompok tertentu yang melakukan kekerasan dengan alasan untuk menegakkan hukum Islam. (Jika kita berbicara mengenai konsep Nusantara, akan lain lagi dan pembahasan akan menjadi lebih panjang).   

Mengutip Ulil lagi, Islam bukanlah agama yang menghendaki instabilitas sosial, melainkan ketertiban sosial berdasarkan kebebasan berkeyakinan. Dengan demikian, pemahaman yang menganjurkan kebencian sosial jelas-jelas berlawanan dengan tujuan Islam yang sesungguhnya  

Saya tahu apa yang akan dipikirkan oleh rekan-rekan saya sebagian besar jika membaca tulisan saya. Mengutip seorang Kristiani yang sedang menafsirkan Al Quran bagi sebagian mereka tentu saja akan dianggap sebagai tindakan yang tidak terpuji. Tapi ketika saya memahami pemikiran-pemikiran Prof Ishak, saya tidak melihatnya sebagai sosok Kristiani. Saya melihatnya sebagai sosok yang bijaksana dan banyak memberikan pelajaran berharga. Dan mengutip seorang Ulil yang seorang Muslim Liberal apa lagi. Seorang Ulil, yang bagi kaum Fundamentalis dianggap kafir.

Tapi saya memilih belajar dari keduanya, ketimbang dari orang-orang yang lantang menggemakan takbir untuk menyerukan permusuhan dan pengrusakan. Sungguh!

Bagi saya pribadi, tindakan menyakiti sesuatu yang hidup adalah hal yang tak pernah bisa saya mengerti. Bagi saya, hanya ada salah satu alasan untuk tidak saling melukai: kesadaran bahwa sesuatu itu hidup dan mampu merasakan sakit. Hidup bagi saya adalah sebuah kenyataan yang dramatis dan misterius. Ketika kita melukai sesosok mahluk yang hidup, kita telah melukai sebuah jiwa yang misterius. Saya, dalam segala keterbatasan, selalu merasakan dorongan untuk mengasihi sesuatu yang hidup. Tidak saja sesama manusia, tapi juga hewan dan tumbuh-tumbuhan. 

Barangkali saya harus minta maaf. Saya hanya sedang belajar. Bukan kapasitas saya berbicara tentang agama, tapi saya, dalam keawaman, sedang mencoba menafsirkan sendiri ayat-ayat Quran ketika membacanya dengan terbata-bata. Saya tidak percaya bahwa ayat-ayat Quran yang begitu agung punya perintah untuk saling melukai sesama manusia. Ketika saya membaca setiap ayatnya, saya mencoba memutar otak, sejarah apa yang ada di balik turunnya ayat itu.

Dan jika saya mengutip Prof Ishak atau Ulil, itu karena keduanya seorang humanis. Masa kecil saya, saya habiskan dalam lingkungan keluarga Muslim yang taat.  Para sepupu beramai-ramai sekolah di pesantren. Tapi saya meminta sekolah umum karena saya tidak bisa membayangkan sepanjang hari mengenakan rok dan hidup dalam pagar pesantren tanpa bisa melihat dunia luar. Saya dididik untuk taat beragama dengan cara yang keras.

Saya pernah hidup dalam sebuah masa, dalam sebuah lingkungan, di mana berteman dengan Non-Muslim adalah tindakan tidak terpuji. Tapi seiring waktu, dan seiring saya menjadi dewasa, saya belajar memahami perbedaan. Bahwa sebuah perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa kita hindari. Saya menilai seseorang berdasarkan bagaimana ia memperlakukan saya, bukan dari apa kepercayaan yang dia anut.

Ah maafkan, maafkan saya. Saya hanya sedang belajar menjadi manusia yang penuh cinta dan kasih... 


Makassar, 18 November, 2013
Share:

14 November 2013

Eksistensi Hutan dan Ancaman Industri


Dalam sebuah perjalanan tak terencana dari Kabupaten Luwu Timur (Sulsel) menuju Poso Sulawesi Tengah, saya mendapatkan sebuah pengalaman istimewa: menyaksikan hutan-hutan perawan. Pepohonan besar dan tinggi menjulang di sepanjang kiri-kanan jalan. Suara segala jenis satwa bersahut-sahutan. Kupu-kupu endemik beraneka warna bermain-main di sisi jalan. Damai rasanya. Begitu sejuk. Udara yang memenuhi rongga pernafasan begitu segar tak bercampur polusi.  
Share:

01 October 2013

Mam Ria, dan Mata Kuliah yang Membuat Mahasiswa Kabur dari Kelas


Saya dan teman kantor, sedang berbincang mengenai pengalaman semasa kuliah. Salah satu topik yang paling menarik adalah tentang dosen killer. Istilah killer, kadang diberikan kepada dosen yang mempersulit mahasiswanya dalam proses belajar, atau tidak memberi toleransi dalam hal memberikan nilai mata kuliah.
Share:

05 September 2013

Bocah dari Kampung Pemulung

Foto milik Tribun News

“Tante, lihat, kaca mobilnya pecah!” Sebuah suara kanak-kanak menyambut saya saat tiba di halaman kantor pagi ini. Suara itu berasal dari seorang bocah berkulit gelap dengan seragam putih-merah yang sudah lusuh. Saya tidak tahu siapa bocah itu dan bagaimana ia bisa tiba-tiba berada di kantor saya.
Mobil yang ia maksud adalah milik salah seorang teman kantor. Benar saja. Kaca belakang mobil tersebut telah digantikan oleh plastik yang ditempel dengan perekat. Bagian belakang mobil penyok. Lampunya juga hancur. Bocah itu kemudian menunjuk ke arah pagar. Di sana, pecahan kaca berserakan.
Bocah tersebut lalu menceritakan saya awal mula peristiwa itu.
Pagi tadi, begitu teman saya turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam ruangan kantor, tanpa ia sadari, mobil yang telah ia parkir dengan sempurna mundur dengan sendirinya. Mobil tersebut terhenti begitu tertahan pagar besi, yang kemudian menghancurkan kaca bagian belakang. Tanpa pagar itu, mobil tersebut akan mundur hingga ke jalan raya.
Bocah tersebut yang pertama kali melihatnya. Awalnya ia mengira ada seseorang di atas mobil. Tapi begitu melihat kaca mobil pecah berhamburan, ia berteriak memanggil para buruh pengangkut pasir di seberang jalan. Kebetulan, di seberang kantor saya ada sebuah tempat penjualan pasir. Orang-orang itulah yang kemudian masuk ke kantor dan memberitahukan teman saya.
Sampai orang-orang bubar, bocah itu tak beranjak. Ia tetap berada di halaman kantor saya duduk sambil asyik bermain-main sendirian.
Saya menduga ia bolos sekolah, sebab ia masih berseragam. Tapi ketika saya menanyakan itu, ia membantah.
“Saya masuk jam 1 siang,” ucapnya. Saya melirik jam tangan. Belum jam 10 pagi.
“Lalu kenapa kamu begitu cepat memakai seragam dan kenapa ada di sini?”
Ia lalu menjelaskan. Dan percakapan kami menjadi begitu panjang. Saya menanyakan banyak hal padanya. Dan seperti inilah cerita yang ia tuturkan kepada saya.
Bocah itu tinggal berdua dengan neneknya. Pagi-pagi betul, neneknya harus keluar rumah entah kemana. Karena tidak ada seorang pun di rumah, sang nenek meminta ia segera berkemas. Akhirnya, ia terpaksa segera mengenakan seragamnya dan keluar rumah. Ia mengeluh. Neneknya meminta ia pergi ke sekolah terlalu cepat tapi tidak diberi uang jajan. Ia ingin meminta uang jajan, tapi ia tahu neneknya tak punya uang sama sekali.
Saya kian penasaran. Saya menanyakan semakin banyak hal kepadanya. Termasuk pekerjaan sang nenek dan kedua orang tuanya.
Bocah itu tinggal di sebuah pemukiman kumuh di dekat Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di Makassar. Tempat itu adalah perkampungan pemulung. Di sana, banyak warga yang bermatapencaharian sebagai pemulung.
Bocah itu punya dua orang adik. Orang tuanya tinggal terpisah. Ayahnya merantau ke Jakarta membawa salah seorang adiknya. Ibunya tinggal di tempat yang tak ia tahu dimana, dengan membawa adiknya yang lain.
Tapi ia tidak tahu pekerjaan apa yang dilakoni orang tuanya. Ia hanya tahu bahwa ayah dan ibunya sama-sama menjaga adiknya.
Bersama sang nenek, bocah itu dulu mengandalkan hidupnya pada hasil kerja keras sang kakek mencari nafkah. Tapi kakeknya telah meninggal. Neneknya pun tak lagi bekerja. Saya bertanya darimana mereka mendapatkan uang, termasuk untuk membeli beras buat makan sehari-hari.
“Kami tak pernah beli beras,” ucapnya.
“Lalu apa yang kamu makan?” saya mencecar.
Ia menjelaskan, bersama neneknya, ia tidak pernah makan nasi dari beras. Sehari-hari keduanya makan singkong. Itupun diminta dari ladang milik tetangga.
Saya terhenyak. Dada saya terasa sesak.
Pagi itu, saya menyerahkan padanya 2 helai uang rupiah yang nilainya tak seberapa. Ia butuh beberapa saat lamanya—menatap lembaran uang itu dan wajah saya bergantian—sebelum mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ada binar-binar keheranan di matanya. Setelahnya saya masuk ke dalam kantor. Saya memberinya kesempatan untuk merasakan kegembiraannya seorang diri dengan lembaran uang yang nilainya tak seberapa itu.
Sesaat kemudian, anak itu pergi. Saya menduga ia pergi mencari makanan untuk menghilangkan rasa laparnya.
Seorang teman kantor berkata, anak itu bisa saja berbohong atas apa yang diceritakannya. Saya mengiyakan. Betul, ia bisa saja berbohong. Tapi kadang, saat kita berbicara dengan seseorang sambil menatap matanya, kita bisa membedakan mana perkataan yanh jujur dan mana yang bohong. Dan saya melihat cahaya kanak-kanak yang masih suci dari kedua bola mata anak itu. Saya merasa ia masih terlalu polos untuk bisa berbohong.
Pada anak itu, saya belajar lagi satu hal sederhana. Kemiskinan tidak sesederhana yang kami pikirkan dan kami perbincangkan di ruang-ruang diskusi. Sampai saya bertemu bocah itu, saya belum pernah terpikirkan, di sebuah tempat di sekitar saya, ada orang-orang kecil yang sama sekali tak punya uang untuk membeli beras dan hanya bisa makan singkong dari hasil meminta di ladang tetangga.
Saya membatinkan sebuah doa sederhana. Semoga tetangga bocah, pemilik ladang singkong itu senantiasa mendapatkan rezeki berlimpah. Dan semoga bocah itu bisa terus bersekolah. Ia harus terus bersekolah agar bisa meraih cita-citanya dan mengubah nasibnya.
 Ah, Boy! Teruslah bersekolah untuk menolong hidupmu. Karena hanya kau sendirilah yang bisa menolong dirimu. Bukan mereka, para pejabat yang mendewakan uang dan tak malu-malu mencuri uang rakyat yang semestinya sebagian kecil diperuntukkan bagimu. Bukan pukan pula undang-undang yang menyatakan bahwa negara ini menjamin hak-hakmu. Kamu hidup di sebuah negeri yang tak banyak orang punya empati pada orang-orang sepertimu. Negeri dimana seorang perampas uang rakyat yang tertangkap lalu dipenjarakan masih bisa berdandan cantik dan masih bisa berlibur ke luar negeri dengan rambut passport palsu.
Sekarang, saya tiba-tiba menyesal. Saya menyesal tak menanyakan alamat lengkapnya dan meminta ia datang lagi ke kantor saya sesekali waktu. Betapa ingin saya memberinya beberapa buah buku yang bisa ia baca agar ia tetap termotivasi untuk terus belajar.
Share:

09 May 2013

Menari bersama Api

Peppe-peppeka ri Makkah
Lenteraya ri Madinah
Tarumbasai
Natakabbere Dunia
(Cahaya di Mekah
Lentera di Madinah
Bersinarlah
Dan dunia pun bertakbir)
Share:

11 February 2013

Parasit itu Tak lagi Lajang (Tentang Ayu Utami)


Foto: gresik.co

Saya berhenti mengidolakan Ayu Utami. Sebelumnya, saya mengira ia wanita paling teguh sedunia. Tapi pernikahannya membuat pikiran saya berubah haluan: ia seorang wanita yang sangat lemah mempertahankan pendirian dan prinsip. Saya tidak tahu apa hukumnya mematahkan prinsip pribadi yang telah dibangun bertahun-tahun. Ini tentu urusan pribadi yang tidak merugikan kepentingan orang lain. Tapi bagi saya, jika seseorang tidak memiliki keyakinan untuk mampu mempertahankanprinsipnya seumur hidup, semestinya jangan begitu terburu-buru mempropagandakannya (mungkin dengan tujuan mendapat dukungan).
Share:

11 January 2013

Sexy Bitch dan Pikiran-pikiran yang Membunuh

Saya masih duduk di sini. Di depan jendela, menatap rinai hujan yang jatuh dengan pelan di luar sana. pepohonan meliuk-liuk bak manusia tua yang mengidap Parkinson. Irama musik beat yang dibawakan David Guetta bersama Akon mengalun dari headset yang yang terpasang rapat di telinga. Suaranya mampu mengalahkan suara hujan dan deru angin karena saya menyetel volumenya full. Sexy Bitch.Rasa-rasanya lagu ini sangat tak cocok dengan cuaca yang tak bersahabat seperti saat ini. Tapi tak apalah. Ini salah satu hiburan saya saat sedang bingung dan tak bisa kemana-mana. Hujan beberapa hari belakangan ini benar-benar tak bisa berkompromi dengan para pekerja yang harus selalu berlalu-lalang di jalan raya.

Sexy Bitch. Bersama pikiran yang melayang tinggi. Pikiran-pikiran tak berguna. Lama-lama pusing sendiri. Tentu saja tidak jika diri ini bisa melakukan sesuatu.

Pikiran-pikiran ini, bukan lagi sekedar melintas. Tapi juga membayangi, mengganggu. Sudah mirip hantu yang selalu muncul dari kegelapan malam dan tak bisa membiarkan tidur nyenyak.

Ada sms yang selalu muncul di pagi hari bagai teror. “Bu, kapan perahu bantuannya dibagikan?” Saya menarik nafas dalam-dalam. Kenapa orang itu begitu berharap. Sms itu dari seorang lelaki nelayan miskin yang tinggal di sebuah pulau terpencil. Beberapa pekan sebelumnya, saya bertemu, wawancara dengannya di tempat pelelangan ikan. Pemerintah membuat sebuah wacana tentang bantuan kapal nelayan. Kapal besar berkapasitas 30 knot, bukan perahu kecil dengan layar seadanya yang bisa terbang dan hancur porak-poranda dengan tiupan badai seperti yang ia digunakan.

Saya menanyakan pendapat lelaki itu sebagai seorang nelayan. Dan ia bersorak gembira. Katanya ia bosan dengan perahu kecilnya. Jadi, ia akan belajar mengemudikan kapal besar. Entah belajar dimana, saya tidak tahu. Tapi setelahnya, ia rutin mengirimi saya sms menanyakan kapal itu dibagikan. Saya bertanya kepada Dinas setempat, dan jawabnya: nanti. Memang begitu kan, pemerintah selalu penuh dengan janji-janji tak pasti.

Sexy Bitch. Saya memutarnya berkali-kali. Saya tak memberi kesempatan kepada Emma Button yang sudah mengantri sedari tadi di list winamp dengan What Took You so Longnya. Juga Pixie Lott yang  sepertinya pantatnya mulai panas ingin meloncat-loncat dengan Get Weaknya. Pikiran ini kembali melayang.

Ada yang mengirim Blackberry Messager. Si pengirim meminta kegiatannya dipublikasikan di koran. Besok ia dan rombongan akan melakukan kegiatan bakti sosial di lokasi banjir. Hujan deras yang turun beberapa hari belakangan mengakibatkan air merendam beberapa lokasi. Layar tivi dipenuhi berita banjir, jalan longsor dan rumah yang kehilangan atap akibat puting beliung.

Kepada si pengirim Blackberry Messager, saya katakan bahwa kegiatan bakti sosial untuk orang susah tak perlu dipublikasikan. Nanti jadi riya dan pahalanya hilang. Kecuali, ia membantu orang susah dengan tujuan agar wajahnya dikenal orang, bukan untuk beramal. Setelahnya, saya meremove ia dari list kontak Blackberry. Permasalahan selesai. Persetan! Saya tidak suka orang seperti itu.

Kotak pesan kembali dipenuhi pesan-pesan tak berguna. Belasan pesan yang isinya kampanye pemilihan gubernur. Kampanye yang aneh, sebab mereka hanya menjelek-jelekkan pasangan lain yang menjadi rival masing-masing. Dan di akhir pesan mereka berseru: coblos nomor ini, jangan nomor itu. Saya ingin meremove juga, tapi ah tidak. Pengirimnya teman yang saya kenal baik meski ia juga menjadi tim kampanye calon tertentu. Rasa-rasanya saya terlalu sensitif. Ya, memang.

Sexy Bitch untuk yang kelima kalinya.

Saya membuka internet. Forum-forum diskusi diramaikan dengan topik tentang peraturan bodoh yang dibuat oleh salah seorang walikota di Aceh. Para perempuan tidak boleh duduk mengangkang di atas motor. Perdanya sudah dibuat. Bodoh! Bodoh! Jangan tanya saya apa alasan kenapa saya mengatakan ia bodoh. Saya sedang tak ingin berdebat. Kenapa ia tak membuat peraturan untuk menjaga kebersihan kota, membuat program penghijauan, menyelenggarakan pemerintah bersih tanpa korupsi, memperhatikan kesehatan warga atau melarang warga saling mencaci maki? Saya keluar dari forum.

Di Facebook, ada seorang teman yang sibuk menyindir-nyindir. Katanya banyak yang tak tahu diri. Perempuan disuruh menutup aurat untuk menjaga kehormatannya. Agar tak diganggu para lelaki. Jadi perempuan harus menjaga sikap. Menjaga kehormatan. Bla bla bla…

Jadi, laki-laki itu seperti monster barangkali ya. Monster jahat yang bisa berkeliling kemana-mana sesuka hati dengan pongahnya bebas melakukan apa saja termasuk melecehkan perempuan yang mereka ingin. Dan tak ada perda yang melarang laki-laki menjaga kehormatannya. Awas, para perempuan harus menjaga kehormatan dengan menghindar dari para monster itu. Jadi kalau terjadi sesuatu dengan perempuan-perempuan itu, salah sendiri, kenapa tidak menjaga kehormatan? Kenapa tidak menutup aurat?   

Apalagi? Apalagi?

Well, saya tidak peduli soal Kim Kardashian yang dihamili kekasihnya Kanye West. Mereka toh tak ada masalah dengan hidup beranak-pinak tanpa surat nikah. Saya tidak peduli sama Ardina Rasti yang menangis terisak-isak seperti orang bodoh karena dianiaya sang kekasih. Saya tidak perduli dengan The Duchess of Cambridge, Kate Middleton yang muntah-muntah dengan hebatnya akibat ngidam. Tapi itu, ada berita lucu: sepasang lesbian tinggal bersama di pulau Batam dan mereka memiliki surat nikah. Hoho!

Sexy Bitch untuk ketujuh kalinya.

Raja Dangdut ngotot ingin mencalonkan diri jadi presiden. Saya ingin muntah. 

Baiklah, tinggalkan gosip-gosip murahan tak berguna.

Banyak hal yang tak mampu saya enyahkan dari otak saya. Misalnya tentang bangsa Amerika yang membangun negara mereka dengan emas batangan yang dikeruk dari Freeport. Tentang hutan di Sumatra dan Kalimantan yang setiap detik mengalami kehancuran oleh para kapitalis dan sekutunya. Tentang regulasi ekonomi. Negara ini dibanjiri produk impor berkualitas rendah dari Cina. Dan kita harus bersusah payah jika ingin melakukan hal serupa: mengekspor barang ke sana. Kenapa? Karena Cina menerapkan pajak tinggi bagi negara-negara yang ingin mengekspor ke sana, dan negara kita tidak. Koruptor-koruptor tak memiliki rasa malu. Anggota DPR yang terhormat seenaknya menghamburkan uang rakyat untuk jalan-jalan ke luar negeri. 

Pikiran yang paling membunuh adalah saya tidak pernah bisa berhenti membayangkan negara Belanda. Seperti apa negara maju itu setelah 350 tahun membangun dengan mencuri kekayaan alam kita? Kenapa harus ada pengkhianat yang menusuk Soekarno dari belakang? Dan kenapa ada pemimpin yang begitu egois dan bodoh? Kapan negara ini bisa maju?

(Tentu saja Sexy Bitch tak ada hubungannya dengan semua ini. Karena Guetta dan Akon sedang membicarakan gadis seksi di liriknya).

Ah untuk apa pula saya memikirkan semua ini? padahal hidup pasti akan lebih damai jika saya berjalan saja sebagaimana adanya tanpa memikirkan hal yang aneh-aneh. Oke, saya mematikan Sexy Bitch dan memilih tidur sebelum saya jadi gila.  Peduli setan dengan Emma Button, Pixie Lott, Beyonce, Miley Cyrus, Rihanna, Colbie Caillat, Shontelle, Nicky Minaj, Shania Twain…… Saya ingin tidur sambil memaki-maki.

Share:

24 February 2012

Pelukis Roh


Mirna Gonzales
Bahtiar Hafid (65 tahun), akhirnya tahu mengapa Islam melarang umatnya menyimpan lukisan makhluk hidup di dalam rumah, ketika pada suatu hari ia bertemu dengan Mirna Gonzales. Saya ingin bercerita tentang teknik melukis Bahtiar yang sangat unik namun entah kenapa saya lebih tertarik menceritakan lebih awal tentang kisah hidup Mirna.
Share:

05 August 2011

Kenangan tak Pernah Benar-benar Hilang

Kenangan tak pernah benar-benar hilang. Itu yang terukir di benak saya ketika kami bertemu lagi. Meski mengenalnya bukanlah sesuatu hal yang terlalu istimewa, tetap saja sedikit kisah itu mengisi sebagian ingatan saya. 
Ia tetangga saya dulu semasa SMA. Sudah lama kami tidak bertemu. Seingat saya, sudah lebih dari lebih dari empat tahun.
Share:

07 April 2011

Kisah Makan Malam

“Kalau tak cekatan, kami bisa malu”

Senang bisa bertemu Mas Andreas Harsono lagi. Saya pernah mengikuti kelas menulisnya di Padang tahun 2009 lalu. Ketika itu saya ikut sebuah pelatihan yang diadakan oleh Surat Kabar Kampus Ganto, Universitas Negeri Padang, dengan tema Jurnalisme Investigasi. Dia guru yang luar biasa dan rendah hati, tak pernah segan berbagi ilmu kepada siapa saja.
Share:

26 February 2011

Kisah Demonstran Gagal

Hampir tiap hari berita di media, terutama tivi, dihiasi berita demonstrasi dengan tuntutan yang beragam. Siang tadi, saat menonton berita demonstrasi para pencinta sepak bola yang menuntut Nurdin Halid mundur dari pencalonan kembali sebagai ketua PSSI, saya ingat kenangan bertahun-tahun silam. Kurang lebih tujuh tahun lalu. Hal yang mengingatkan saya akan kenangan itu bukan Nurdin Halid atau PSSI. Saya bukan penikmat sepakbola. Malah, saya membenci sepakbola karena tayangan pertandingan sepakbola di tivi selalu membuat saya berkelahi dengan kakak saya rebutan remote.

Saya teringat pengalaman pertama kali melakukan demonstrasi. Tapi demonstrasi yang saya dan teman-teman lakukan bukanlah menuntut seseorang mundur dari jabatan apa pun, tapi berjuang mempertahankan hak-hak orang tersebut. Ketika itu saya masih kelas 3 SMP. Belum mengerti tentang tata cara melakukan demonstrasi dengan baik dan benar. Kalau saat itu saya dan teman-teman melakukannya, rasa-rasanya itu pun terinspirasi dari berita-berita di tivi—yang memberitahu kami bahwa demonstrasi berarti mengumpulkan massa dan membuat spanduk dengan tulisan yang berisi tuntutan-tuntutan.

Saat menginjak kelas 3 SMP, kami (saya menulis ‘kami’ untuk mengikutsertakan teman-teman SMP saya) kedatangan guru bahasa Inggris baru. Kami senang. Sebelumnya, guru bahasa Inggris kami cuma 3 orang, yang mengajar 9 kelas. Kata kepala sekolah, guru bahasa Inggris ketika itu masih susah dicari. Nama guru baru kami itu Pak Hamka. Saya sudah lupa nama lengkapnya. Setiap hari, Pak Hamka datang ke sekolah dengan sepeda motor vespanya.  

Kami menganggap Pak Hamka guru yang unik dan beda dari guru bahasa Inggris kami yang lain. Ia berjiwa muda dan tak segan bercanda dengan para murid. Cara mengajarnya pun beda. Jika guru kami sebelumnya mengandalkan buku teks, Pak Hamka tidak demikian. Ia jarang meminta kami membuka buku teks. Ia mengajarkan kami cara-cara menghapal kata-kata bahasa Inggris beserta artinya. Selain mengajarkan bahasa Inggris sesuai kurikulum, Pak Hamka juga memberi kami les bahasa Inggris setiap sore, tiga kali seminggu.

Hari pertama mengajar di kelas saya, ia meminta ketua kelas membuat sebuah kotak dari kayu. Mirip kotak surat. Setiap hari, murid-murid diwajibkan menulis 3 kata bahasa Inggris beserta artinya. Setiap kata ditulis di atas sebuah kertas yang digunting kecil. Artinya, 3 kata ditulis di atas 3 lembar kertas pula. Kata Pak Hamka ketika itu, “kalau kalian merasa 3 kata terlalu sedikit, tulislah sebanyak-banyaknya, asalkan kalian bisa pertanggungjawabkan di akhir minggu.” Saya termasuk yang merasa 3 terlalu sedikit, jadi saya memasukkan sepuluh kertas setiap hari ke dalam kotak itu.

Setiap hari Sabtu, kertas-kertas itu dikeluarkan dari kotak. Murid-murid diminta ke depan kelas untuk menghapalkan kembali kata-kata yang telah mereka tuliskan di atas kertas tersebut. Saya senang, karena metode mengajarnya yang demikian menambah perbendaharaan kata bahasa Inggris saya. Setiap hari, saya memperhatikan sekeliling dan mencari kata-kata apa yang kira-kira akan saya tulis.

Pak Hamka baru beberapa minggu mengajar di sekolah kami ketika insiden itu terjadi. Suatu hari, ketika Pak Hamka mengajar di kelas 2, ia memukul salah seorang murid yang terkenal bandel dan malas. Nama anak itu Irfan. Entahlah benar Pak Hamka memukulnya atau tidak, saya tidak tahu. Ada teman saya yang bilang itu tidak benar. Pak Hamka tidak memukul Irfan, hanya mendorongnya karena kesal. Irfan sudah berkali-kali diajari dan juga belum mengerti pelajaran yang diberikan Pak Hamka. Dan dasar anak itu yang pertahanan tubuhnya kurang bagus, baru didorong saja sudah jatuh pingsan. Dan sayangnya, Irfan adalah keponakan dari guru bahasa Indonesia kami, Pak Syam.

Ketika mengetahui peristiwa itu, Pak Syam murka bukan kepalang. Kalau saja tidak dihalangi oleh guru-guru yang lain, ia akan membalas memukul Pak Hamka. Hari itu juga, Pak Syam mengusir Pak Hamka dari sekolah kami. Ia mengancam akan memukul Pak Hamka jika kembali ke sekolah kami. Kami tahu ancaman itu membuat Pak Hamka takut. Rumah pak Syam hanya berjarak beberapa ratus meter dari gedung sekolah. Dan Pak Syam termasuk orang yang disegani oleh warga. Sementara Pak Hamka adalah pendatang.

Selama beberapa hari, Pak Hamka tidak datang ke sekolah. Kami merindukannya. Dan meskipun ia tidak datang mengajar, kami tetap rajin memasukkan kertas-kertas ke dalam kotak yang tergantung di sudut ruang kelas. Berharap esok hari, dan esok harinya lagi, Pak Hamka akan datang dan meminta kami menghapalkan kata-kata itu di depan kelas. Ketika Pak Hamka menghilang dalam waktu lama, Pak Syam sesekali masuk ke kelas kami untuk mengajarkan bahasa Inggris. Teman-teman saya bilang, ia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa mengajarkan bahasa Inggris, seperti Pak Hamka.

Saya masih ingat pelajaran bahasa Inggris pertama yang ia berikan. Ia mengacungkan sebuah kapur ke depan wajahnya lalu bertanya, “ini bahasa Inggrisnya apa, anak-anak?” Tak ada yang menjawab. Bukan karena tidak tahu, tapi kami belum terbiasa diajar pelajaran bahasa Inggris olehnya. Melihat semua murid diam, Pak Syam kesal. “Bagaimana ini? Selama ini apa yang diajarkan oleh Pak Hamka kepada kalian?” Dengan kapur yang dipegangnya tadi, ia menuliskan sebuah kata di papan tulis. CHALK. “Kapur bahasa Inggrisnya chalk. Saya juga bisa mengajarkan kalian bahasa Inggris. Jangan pikir cuma Pak Hamka yang bisa.” Kami masih diam. Kami menunggu Pak Hamka.  

Penantian kami berujung kecewa ketika pada suatu pagi Pak Hamka datang namun tidak masuk ke kelas. Ia duduk di atas motor vespanya yang ia parkir di bawah pohon kelapa di halaman samping sekolah kami. Kami memintanya masuk ke kelas tapi ia menolak. Ia datang bukan untuk mengajar, tapi untuk berpamitan kepada kami. Ia akan pindah. Berita itu membuat kami sedih. Kami memohon-mohon padanya agar ia tidak pindah. Kami ingin ia tetap tinggal dan mengajarkan kami bahasa Inggris. Tapi ia bilang, kepala sekolah yang meminta ia pindah. Ia mengatakan itu pada kami dengan mata berkaca-kaca. Dan yang paling membuat kami sedih, hari itu tidak ada guru lain yang menemui Pak Hamka yang duduk di atas motor vespanya. Ia sendirian saja di sana sampai kami datang. Ia tidak berani masuk ke halaman sekolah.

Kami juga kesal karena kepala sekolah sepertinya tak berinisiatif menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan. Padahal Pak Hamka baru beberapa minggu pindah ke sekolah kami. Dan kami sudah terlanjur suka padanya. Hari itu, saya dan teman-teman berembuk. Kami tak  mau Pak Hamka pergi. Karena itu, kami memutar otak, mencari cara agar Pak Hamka tidak pindah. Saya mengusulkan untuk melakukan demonstrasi di depan kantor kepala sekolah. Teman-teman yang lain manggut-manggut dan setuju. Kami pun segera bergerak, membagi tugas. Ada yang mencari kardus bekas ke kantin sekolah, ada yang mengais-ngais tempat sampah mencari kertas karton bekas dan menyiapkan spidol. Setelah semua bahan-bahan itu terkumpul, kami pun bekerja layaknya demonstran profesional. Jika saya tak salah ingat, inilah beberapa tuntutan yang kami tulis: Kembalikan Pak Hamka!; Pak Hamka guru favorit kami!; Pak Hamka tidak boleh pindah!. 

Teman-teman yang tulisannya bagus membubuhkan tulisan dengan spidol di atas kardus-kardus bekas yang direntangkan dan di atas kertas karton yang tersedia. Saya mengumpulkan massa. Berhubung saya di kelas 3A, saya menyeberang ke kelas 3B dan 3C untuk mengajak yang lain bergabung. Saya tidak mendapat banyak pendukung dari kelas 2 karena mereka kebanyakan membela Irfan, yang juga notabene anak kelas 2. Saya tidak mengajak anak kelas 1 karena menganggap mereka masih bau kencur dan belum layak diikutkan.

Setelah semua berkumpul, kami membuat barisan. Jumlah murid yang ikut sekitar 30-an. Yang berada di barisan paling depan—termasuk saya—membentangkan kertas karton dan kardus yang sudah kami tulisi. Kami mengambil start dari depan kelas saya, yang berhadapan dengan kantor kepala sekolah, dibatasi oleh lapangan upacara. Kami pun mulai bergerak, berjalan perlahan melintasi lapangan upacara menuju kantor kepala sekolah sambil berteriak “Kembalikan Pak Hamka!”. Kami sangat bersemangat. Dan ketika itu, saya berpikir, barangkali aksi kami mirip dengan aksi para demonstran yang biasa saya lihat di tivi.

Sementara itu, dari seberang sana, tampak Pak Syam keluar dari dalam ruang guru yang berdampingan dengan ruang kepala sekolah. Ia menyeberangi lapangan upacara mendekati kami dengan langkah bergegas. Rupanya sedari tadi ia memperhatikan tindak-tanduk kami dari jauh. Ia tampak sangat marah. Sungguh, melihatnya berjalan mendekat membuat saya merasa ingin pipis. Saya ketakutan melihat wajahnya memerah, khas kalau ia sedang marah. Spontan langkah kami terhenti. Kaki saya gemetaran. Begitu Pak Syam mulai mendekat, barisan kami kocar-kacir. “Apa-apaan ini?!” suaranya menggelegar. Teman-teman yang lain bubar tanpa aba-aba. Mereka berlarian ke belakang ruang kelas untuk bersembunyi. Saya pun tak ketinggalan, berjalan berjingkat-jingkat menuju kantin. Pak Syam memungut semua kertas karton dan kardus yang kami bawa. Ia merobek-robek dan menginjak-injaknya. Para guru memperhatikan dari jauh. Saya melihat Pak Hamka juga mengintip aksi kami.

Aksi kami gagal. Kami belum sempat tiba di depan ruang kepala sekolah ketika Pak Syam datang dan membubarkan kami. Tapi kami tetap puas karena Pak Hamka melihat aksi kami. Setidaknya ia tahu bahwa tidak semua menginginkan ia pergi. Tidak semua memusuhinya. Masih ada yang mengharapkan ia tetap tinggal. Meski pada akhirnya ia tetap pergi. Hingga hari ini, saya tidak pernah melihat Pak Hamka lagi.
Share: