Showing posts with label Essay. Show all posts
Showing posts with label Essay. Show all posts

06 March 2018

Mahalona, Mahalona


“Siapa kah yang harus bertanggungjawab terhadap penggundulan hutan di Mahalona Raya itu?” ucap saya semalam kepada teman-teman di Perkumpulan Wallacea, di Palopo.
Saat itu kami duduk bersama mengitari meja panjang, diskusi soal strategi menyusun peraturan desa di Desa Buangin, salah satu desa di Mahalona Raya, Kecamatan Towuti. Dalam perdes tersebut nantinya akan diatur bagaimana menyelamatkan hutan dan daerah tangkapan air untuk menyelamatkan lingkungan Desa Buangin.
Share:

14 December 2016

Seorang Anak yang Menangis di Kaki Ibunya


Tulisan ini mungkin terlalu melankolis dan sok tahu. Tapi saya tidak tahan untuk tidak menuliskannya.

Sudah beberapa hari belakangan saya merasa terganggu. Saya terngiang-ngiang seorang gadis cilik yang menangis terisak-isak sambil memohon, “Jangan tendang saya! Jangan tendang saya!” Kenyataan bahwa saya mengenalnya namun tak mampu berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya dari penderitaan membuat saya tak dapat menahan tangis jika mengingat wajahnya yang berlelehan air mata. Percayalah, kau pun akan merasakan hal yang sama jika menyaksikan seorang anak yang kau kenal sejak masih berupa bayi merah disakiti seseorang, meski oleh ibunya sendiri. Saya tidak habis pikir, mengapa ada orang yang sanggup menyakiti anak-anak yang masih polos tanpa dosa.

Gadis cilik itu memang bukan darah daging saya. Ia bukan siapa-siapa. Tapi demi mendengar suaranya yang memelas dan memekik tertahan, saya memberanikan diri menuju ke sana, meraihnya dalam pelukan sementara seseorang masih berdiri di hadapannya siap melayangkan sapu. Ia menangis sambil mengelusi kulit pahanya yang meninggalkan bekas cubitan. Dan saya tidak tahan untuk tidak menangis menyaksikannya. Saya memang terlalu perasa terhadap anak-anak, sebab saya pernah merasakan menjadi anak-anak yang tak sanggup berbuat apa-apa untuk membela diri. 

Setelah kejadian itu, saya selalu memikirkannya. Entah bagaimana ia akan tumbuh. Bukan tentang kelak ia akan jadi apa. Hal-hal yang terlihat dengan kasat mata gampang diraih dan dimanipulasi. Yang saya khawatirkan adalah jiwa yang bersemayam di sana. Setiap hari menerima pukulan dan caci maki, bagi anak-anak akan menorehkan luka yang abadi. Bukan rasa sakit di permukaan kulit itu yang perlu dirisaukan. Dalam beberapa jam sakit di permukaan kulit akan sembuh. Tapi kenangan yang tersimpan tak akan terhapuskan hingga masa dewasa.

Oya, kau juga harus tahu. Disakiti oleh orang lain, rasanya tidak sesakit jika kita disakiti oleh seseorang yang justru kita harap dapat melindungi kita.

Tentang mengapa saya begitu mengkhawatirkannya, atau men-cap kelak ia akan tumbuh dengan jiwa yang tidak sehat, bukan karena saya merasa telah tumbuh menjadi seorang dengan emosi yang lebih stabil dan mapan. Saya hanya belajar dari pengalaman masa kecil. Ketika orang-orang dewasa di sekitar saya menilai saya hanya anak-anak yang tak tahu apa-apa, sementara mereka tidak tahu bahwa ingatan saya telah terbentuk terlalu dini dan saya sanggup mengingat setiap momen masa balita hingga detik ini.

Saya dapat mengingat bagaimana saya digendong ke sana-kemari, bertemu orang-orang yang gemas melihat saya, mencubiti pipi saya. Saya masih ingat bagaimana saya merasakan jengah pada mereka dan tak sanggup berbuat apa-apa karena saya bahkan belum bisa bicara. Saya tidak bangga dengan kekuatan ingatan masa kecil itu, tapi menyesalinya. Hingga kini, saya tidak bisa mengakrabkan diri dengan orang-orang yang familiar di masa kecil saya. Karena saya masih mengingat dengan jelas, di antara mereka siapa yang bersikap baik kepada saya. Saya bahkan bisa tahu dari sekedar melihat ekspresi wajah mereka.

Suatu ketika, entah berapa usia saya kala itu, saya berada di tengah para gadis-gadis remaja, dalam gendongan salah seorang sepupu. Salah seorang di antara mereka melontarkan pertanyaan, kira-kira kelak ketika saya dewasa, siapa yang lebih cantik antara saya dan kakak perempuan saya. Saya belum bisa bicara kala itu. Tapi saya masih ingat dengan jelas siapa yang menilai kakak saya lebih cantik dari saya, dan saya masih ingat bagaimana kala itu saya merasa sangat kesal padanya.

Beberapa tahun silam, salah seorang bibi, saudara bapak saya meninggal. Para keluarga berkumpul. Ketika saudara saya menelepon dan memberitahu, saya tak merasakan emosi apa-apa. Ia menyuruh saya pulang. Saya bilang, saya tipe orang yang tidak bisa berbohong. Kalau saya pulang, saya mesti ikut menangis di tengah orang-orang yang tengah berduka. Tapi saya tidak bisa menangis sebab saya tidak merasa sedih. Saya tidak pulang. Sebab, ia tak meninggalkan kesan apa-apa dalam masa kecil saya, seberapa dekat pun ikatan darah kami.

Seorang kenalan saya pernah menceritakan masa kecilnya. Ia tinggal di sebuah pedalaman dekat laut. Masa kecilnya, saban hari diwarnai dengan pukulan dan amarah dari orang tuanya. Ia harus menerima pukulan untuk hal-hal remeh, semisal bermain terlalu jauh atau terlambat pulang ke rumah pada sore hari menjelang malam. Kelak ketika ia dewasa, ketika teringat akan rumah dan orang tuanya, hal yang melintas pertama kali dalam kepalanya adalah kenangan menyakitkan tersebut. Semuanya memang sudah lama berlalu. Seiring masa dewasanya, sikap orang tuanya telah berubah. Tapi ingatannya masih begitu jelas. Dan semua ingatan masa kecilnya itu, membuat ia tak ingin pulang ke rumah. Ia lebih senang berada di tempat yang jauh, menjalin pertemanan dengan orang-orang baru. Ia hanya pulang sesekali. Kadang saat lebaran, kadang saat mendengar kabar orang tuanya sedang sakit.

Ketika ia menjalin hubungan dengan seorang pria, ia menjadi sosok yang pemarah dan kerap berbuat kasar pada pasangannya. Semacam melempar barang-barang atau berkata kasar. Ia bilang pada saya, ia sadar bahwa tindakannya salah. Tapi itulah gambaran yang ada di kepalanya tentang kedua orang tuanya. Ia tidak bisa menghindar, tidak bisa menolak. Potret keluarganya di masa kecil telah mempengaruhinya di masa dewasa.
Seorang psikolog berkata, anak adalah peniru ulung. Dan orang tua, adalah role model mereka.  perilaku orang tua mereka di masa kecil secara otomatis akan tercetak dalam kepala mereka. Dan ingatan itu, juga secara otomatis akan membentuk mereka menjadi seperti apa yang mereka lihat. Sebagian besar—seperti teman saya tadi—sesungguhnya sadar bahwa contoh yang diberikan orang tuanya salah. Tapi ingatan mereka role model itu telah mereka ikuti sejak kecil. Dan mereka tidak sanggup mengendalikan diri. Tidak sanggup menolak apa yang telah terekam dalam otak sejak kecil.

Masih dengan tema yang sama, saya pernah membaca sebuah artikel (atau buku, saya lupa) psikologi yang mengatakan: seseorang yang memiliki orang tua buruk, dan sanggup mengendalikan diri dengan tidak meniru pola asuh orang tuanya tersebut terhadap anak-anaknya sendiri, sesungguhnya adalah orang yang memiliki pengendalian diri yang luar biasa. Orang tua yang bisa belajar dari pengalaman buruk di masa kecilnya, alih-alih menirunya, adalah pribadi yang istimewa. Dan hanya sedikit yang dapat melakukannya.

Saya pernah melakukan ‘riset’ kecil-kecilan. Saya mengamati orang-orang di sekitar saya (anak-anak, teman, keluarga) yang tumbuh dengan perilaku kurang baik (dari segi sikap, moral, dan mental). Tentu saja saya sekedar iseng dan saya tidak punya kapasitas dalam hal ini. Saya menemukan bahwa anak-anak yang berperilaku kurang bagus, umumnya hidup dalam keluarga yang tidak sehat. Saya menemukan bahwa orang yang berperilaku buruk dan cenderung kasar terhadap anaknya, biasanya mengalami hal serupa semasa kecilnya.

Itulah yang saya takutkan pada gadis cilik itu. Saya takut ia akan tumbuh dengan jiwa yang tidak sehat. Naluri saya mengatakan bahwa anak dengan jiwa yang terluka akan tumbuh dengan mental yang tidak sehat. Mereka bisa jadi penyendiri, pemalu, tidak bisa bergaul, tidak bertanggungjawab, dan tidak percaya diri. Mereka akan tumbuh menjadi jiwa yang tidak utuh.

Menjadi orang tua memang tidak mudah. Hanya orang tua yang sabar yang mampu melahirkan anak-anak yang berjiwa sehat dan berprestasi. Dan sedikit sekali orang tua yang seperti ini. Itulah sebabnya anak-anak yang berhasil dengan cita-citanya dapat dihitung dengan jari tangan. Sebagian besar gagal, dan menghasilkan anak-anak yang stres dan menjalani hidupnya mengikuti arus. Tidak percaya diri pada kapasitas yang dimilikinya.

Terkadang, orang tua terlalu dini menuntut anak-anak mereka menjadi ‘sesuatu’. They forced their children to do ‘cool things’, but they don’t show the way. Akibatnya anak-anak akan kebingungan. Mereka tidak bisa melakukan apa yang baik menurut mereka sendiri. Mereka tidak sadar bahwa jiwa anak-anak butuh waktu untuk menjadi matang. Mereka butuh waktu untuk bermain-main hingga menemukan jalan sendiri, kelak akan menjadi apa.

Percayalah, jika kau membiarkan anak-anakmu tumbuh bahagia, menikmati masa kecil yang bahagia tanpa bentakan, kelak kau akan melihat mereka menjadi sesuatu. Ajarkan mereka menyanyikan lagu ‘balonku ada lima. Biarkan mereka bermain hujan-hujanan di halaman berumput. Sesekali izinkan mereka berkelahi dengan teman sekelas.

Frederick Douglass, seorang yang tak saya kenal namun saya anggap ia bijak pernah berkata, “It is easier to build strong children than to repair broken men". Jika anak-anakmu tumbuh dengan jiwa yang rusak, akan sangat terlambat untuk memperbaikinya.

Oya, ketika saya menuliskan semua omong kosong ini, saya hanya seorang perempuan single yang belum pernah merasakan menjadi orang tua. Tapi saya belajar dari hal-hal kecil yang saya lihat dan saya sangat mencintai senyum anak-anak.

Hal-hal sepele membuat saya paham betapa kita orang-orang dewasa harus memelihara jiwa anak-anak dari amarah, seberapa marah pun kita. Sebab kebersamaan, sifatnya hanya sementara. Kenanganlah yang abadi. Saya selalu berusaha sedapat mungkin menjaga ingatan anak-anak kecil tentang saya. Semoga, kelak ketika dewasa, saya meninggalkan kenangan manis di kepala mereka. Dan saya berjanji kelak jika saya menjadi seorang ibu, saya akan melahirkan anak-anak yang selalu merindukan rumah.


Makassar, 2016
Sambil mendengarkan ‘7 Years’-nya Lukas Graham
Share:

11 May 2016

Mahalona, Merica dan Ancaman Bencana Alam


Hutan telah dibakar, tiang telah dipancangkan, bibit merica telah ditanam
Apa yang Anda pikirkan saat melihat begitu banyak mobil mewah berlalu-lalang di jalan raya? Barangkali, hal pertama yang terlintas di pikiran adalah, sang pemilik mobil pasti seorang konglomerat, pengusaha kaya raya, atau pejabat. Sejenis orang yang tentu tak kesulitan membeli kendaraan seharga setengah miliar rupiah ke atas.
Tapi di Luwu Timur, tidak demikian. Jika menyusuri jalan-jalan desa, kita akan sangat sering berpapasan dengan mobil-mobil mahal berbagai merk. Fortuner, Hilux, Strada, Pajero, hingga sekelas Avanza. Pemiliknya? Bukan pejabat atau pengusaha, melainkan petani biasa. Mereka adalah petani-petani yang tiba-tiba menjadi menjadi kaya raya dari hasil bertanam merica.
Kebun merica di Kabupaten Luwu Timur paling banyak saya temukan di Kecamatan Towuti. Lahan merica menyebar di sepanjang jalan, di tepi Danau Towuti dan Danau Mahalona, dalam perjalanan menuju kawasan Mahalona. Saya menyebutnya sebagai kawasan Mahalona karena awalnya, daerah ini hanya terdiri atas satu desa (Desa Mahalona) yang kemudian dimekarkan menjadi 5 desa. Di sana, tanaman merica tampak tumbuh gemuk dan subur, bertumpu pada tiang-tiang yang ditancapkan dengan kuat ke dalam tanah pegunungan yang gembur. Pada tiang-tiang itu, buah-buah merica bermunculan menjuntai-juntai dengan lebatnya.
Mahalona berjarak sekitar 34 kilometer dari Ibukota kecamatan. Penduduknya, pada umumnya adalah petani. Kawasan ini juga merupakan salah satu unit pemukiman transmigrasi (UPT) di Luwu Timur. Mahalona dihuni oleh orang-orang dari beragam suku dan etnis. Bugis, Makassar, Jawa, dan Bali. Untuk menuju ke sana, kita akan membelah hutan, melewati jalan yang belum beraspal. Kubangan air dan lumpur, jembatan dari dua belahan pohon, adalah pemandangan yang lazim. Pada musim hujan, tidak sembarang kendaraan yang bisa melewati jalan tersebut. Orang-orang Mahalona sendiri, yang tentu sudah paham kondisi tersebut, telah mengantisipasi. Mereka mendesain kendaraan roda dua agar bisa melewati jalan macam ini. Demikian juga dengan mobil-mobil angkutan yang biasanya berupa mobil jenis Panther atau Kijang. Umumnya, ban mobil akan diganti dengan jenis GT Radial yang cocok melewati segala medan, termasuk jalan berlumpur.
Akses jalan ke Mahalona
Tapi sejak lonjakan harga merica itu, para petani menemukan jenis kendaraan yang lebih tepat dan praktis yang tak perlu dimodifikasi ulang. Dan tentunya, terlihat terlalu mewah untuk kelas kawasan pemukiman transmigrasi di tepi hutan seperti Mahalona. Di jalan tanah merah yang penuh kubangan lumpur itu, berseliweran motor jenis trail yang tampak masih baru. Ninja. Juga mobil jenis double cabin. Mitsubishi Strada atau Toyota Hilux.
“Di sini, orang-orang membeli mobil seperti membeli sayur,” kata Mamad, sopir yang mengantarkan saya dan teman-teman dari JURnaL Celebes dari Towuti ke Desa Buangin. Desa Buangin berada di ujung kawasan Mahalona, berbatasan langsung dengan Sulawesi Tengah dan Tenggara. Mamad berkata demikian karena orang-orang itu membeli mobil mahal seakan tanpa beban. Jika ingin beli mobil, ya langsung beli saja. Tunai. Tanpa tawar menawar. Persis seperti membeli sayur. Jika ingin mobil jenis lain, ya beli lagi. 
“Orang itu baru kemarin beli mobilnya,” kata Mamad lagi saat kami berpapasan dengan sebuah mobil Hilux yang pengemudinya ia kenal. Mobil itu berhenti di sisi mobil kami. Pengemudinya bercakap-cakap sejenak dengan Mamad. “Ia sedang membangun rumah senilai 1 Miliar,” tambah Mamad saat mobil kembali melaju.
Sejak kurang lebih setahun terakhir, harga merica melonjak drastis. Sekilo bisa dijual seharga Rp 110-150 ribu. Bayangkan saja jika seseorang memiliki 1000 pohon merica dalam sepetak lahan. Setiap pohon, biasanya bisa menghasilkan 5-6 kilogram sekali panen, yang dilakukan sepanjang September hingga Februari dalam setiap tahun. Buahnya bermunculan tak henti-henti. Sekali panen, petani bisa menghasilkan ratusan juta. Bagaimana dengan panen kedua, ketiga, dan seterusnya?
Camat Towuti, Pak Aswan Azis mengatakan, di Towuti ada kepala desa yang memiliki kebun merica hingga 150 hektar. (Bisa membayangkan berapa uang yang diperoleh setiap panen yang berlangsung selama 6 bulan non-stop setiap tahun? Saya tidak bisa). Jika ia hendak menjual hasil panen, ia akan carter kapal ke Surabaya, menyeberang melalui Pelabuhan Timampu. Jika ingin bawa uang hasil panen ke bank, ia akan minta dikawal polisi dalam perjalanan. Menurut Pak Aswan, salah seorang pedagang pengumpul merica di Towuti pernah melakukan pembelian hingga Rp 700 Miliar. Peredaran uang sebanyak itu di sebuah kecamatan kecil, tentu merupakan hal yang terlalu luar biasa.
Hutan yang telah dibakar untuk berkebun merica
Merica di Mahalona tak serta merta bisa disebut telah menyejahterakan petani, tapi juga merusak dan menghancurkan. Bahkan dampak kerusakan itu terasa lebih mengkhawatirkan ketimbang keuntungan yang diterima oleh hanya segelintir petani saja. Orang-orang yang beruntung itu adalah yang sedari awal fokus bertanam merica, jauh sebelum harga melonjak. Sementara mereka yang hanya mengembangkan tanaman lain, atau tidak memiliki lahan, hanya jadi penonton atau buruh pemetik. Kecemburuan meningkat. Banyak petani yang kecurian saat hasil panennya tengah direndam. Biasanya buah merica direndam selama 15-18 hari sebelum dikelupas dari kulitnya. Adapula yang kalap membabat hutan agar bisa ikutan menanam merica.
Merica membuat banyak hal berubah di Towuti, termasuk gaya hidup penduduknya. Sehabis panen, mereka berbondong ke Makassar, berkunjung ke mall-mall, dan membeli sejumlah barang, yang terkadang berlebihan. Cerita lain mengenai ini saya dapatkan dari Pak Ulfa di Desa Buangin. “Ada teman saya, pergi ke Makassar hanya untuk sekedar cukur rambut,” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Para petani yang sedari awal tak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengenai sistem manajemen keuangan, jadi kalap ketika mendadak memiliki uang banyak. Mereka menjadi konsumtif secara berlebihan, tak terpikir untuk investasi. Padahal, lonjakan harga hasil pertanian macam ini, biasanya terjadi secara berkala dan hanya beberapa saat, tidak terus-menerus.  Hal sama pernah terjadi dengan kakao dan cengkeh. Di kampung saya di Bulukumba, para petani sama kalapnya ketika itu. Konon, ada yang membeli kulkas meski rumahnya belum dialiri listrik. Akhirnya, kulkas malang itu difungsikan sebagai lemari pakaian.
Harga barang kebutuhan pokok di Towuti juga berubah drastis. Semuanya melonjak tanpa tedeng aling-aling. Penyebabnya adalah kebiasaan penduduk, khsusnya petani merica membeli barang-barang tanpa tawar-menawar dengan penjualnya. Untuk apa menawar? Uang yang ada saja bingung mau dikemanakan. Merica pulalah yang merusak kebiasaan gotong royong, yang biasanya masih tumbuh mekar di desa-desa terpencil seperti Mahalona. Warga tak lagi berminat saling membantu, atau bergotong royong membangun fasilitas publik. Setiap tenaga yang dikeluarkan mesti ada harganya. Untuk apa gotong royong, jika mereka bisa menghasilkan uang Rp 80 ribu sehari jika memetik merica di desa sebelah?
Tanaman merica di sepanjang jalan
Sementara itu, anak-anak pun terkena dampaknya. Di warung-warung di desa, menurut Pak Rahmat, anak-anak bisa belanja jajan hingga 3 kali sehari. Pagi-pagi, mereka akan datang ke warung dengan membawa uang pecahan 100 ribu. Sekali belanja menghabiskan 20-30 ribu. Sisa uang kembalian akan dihabiskan saat mereka jajan lagi pada siang dan sore hari. Yang menggelisahkan, gaya hidup anak-anak petani merica itu, entah mengapa telah menular pada anak-anak lain, yang orang tuanya tak punya kebun merica. Mereka seakan tak mau kalah.
Hal paling menakutkan, yang kelak akan menjadi puncak dari bom merica ini adalah kerusakan hutan. Di sepanjang jalan desa, saat kita mendongak ke atas ke arah pegunungan, akan tampak dengan sangat jelas lahan-lahan yang tak lagi hijau. Seluruhnya berganti menjadi hamparan tanah kecoklatan dengan potongan-potongan kayu hitam sisa pembakaran hutan. Pelakunya adalah orang-orang yang tergoda tingginya harga merica. Seperti petani yang telah merasakan manisnya hasil bertani merica, mereka juga ingin merasakan hal yang sama. Karena tak punya lahan, jalan satu-satunya yang mereka lakukan adalah membakar hutan. Kayu sisa hasil pembakaran mereka tegakkan kembali untuk bakal tempat merambatnya tanaman merica.
Salah satu kawasan yang telah gundul akibat dibakar dengan segaja, saya saksikan langsung ketika menyusuri tepian Sungai Lamonto yang mengalir di belakang pemukiman warga Desa Buangin. Menurut Kepala Desa Buangin, Pak Rahmat, kawasan itu beberapa bulan sebelumnya masih hijau. Luas lahan yang dibakar mungkin mencapai 3 hektare, memanjang di tepian sungai. Di beberapa bagian sudah ditanami bibit merica. Pak Rahmat, mengaku tak tahu siapa yang melakukannya. Kawasan tersebut sebenarnya masih masuk area lahan transmigrasi. Warga Desa Buangin sendiri, kebanyakan hanya menjadi buruh pemetik di desa tetangga.
Di sela-sela perbukitan yang telah gundul itulah, Sungai Lamonto yang berhulu di Morowali, mengalir dengan derasnya. Sungai ini menjadi sumber irigasi bagi lahan pertanian warga di 5 desa. Kita yang menyaksikan kenyataan ini dari jauh saja, dapat membayangkan bahaya apa yang hendak dituai oleh warga di sana. Cepat atau lambat, jika tak segera ada penanganan, tanah dari ketinggian itu, yang kini tanpa pepohonan, akan longsor ke bawah dan menghancurkan kawasan Mahalona dan sekitarnya, seperti peristiwa yang sudah-sudah. Hal seperti ini sebelumnya pernah terjadi di Enrekang dan Sinjai. Banjir bandang yang bermula dari pegunungan gundul mengalir jauh hingga kota, menghancurkan lahan pertanian dan rumah-rumah penduduk. Bahkan mengambil korban nyawa. Tanaman merica memang berbuah manis. Tapi akibat jangka panjangnya, tentulah pahitnya tak tertanggungkan.  (*)
Makassar, Mei 2016

Share:

19 November 2015

Mengenal Kearifan Masyarakat Adat Kaluppini di Enrekang

Mas Yayan memimpin di depan, disambut Pemangku Adat 

Kak Uthi, teman seperjalanan saya dari Sulawesi Community Foundation (SCF) menuju Desa Kaluppini, berpegang erat pada jok mobil sambil tak henti-hentinya merafal doa. Wajahnya pucat. Saya ingin tertawa tapi tak sanggup. Rasa tegang memang telah menyelimuti kami saat mulai masuk ke jalan desa. Sebelumnya, teman-teman dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulsel dan Massenrempulu (Enrekang) telah memberitahu medan yang akan kami lalui menuju Desa Kaluppini. Tapi saat menyaksikan sendiri, rasanya apa yang ada di depan mata jauh lebih menakutkan dari apa yang mereka ceritakan.
Jalanan menuju Kaluppini terbuat dari beton. Tapi lebarnya tak seberapa, tak bisa dilalui dua mobil yang berpapasan. Hujan yang turun sejak siang hingga sore membuat jalanan licin. Ada beberapa bagian jalan yang rusak. Mobil harus mendaki tanjakan yang cukup tinggi, kemudian menuruni lereng terjal. Di beberapa bagian adalah tikungan tajam. Di sisi kiri kanan jalan adalah jurang yang menganga. Dapat dibayangkan bagaimana takutnya kami melewati tikungan tajam di sebuah jalan beton yang sempit dan licin, di lereng gunung, sementara di sisi jalan adalah jurang. Tantangan lainnya adalah menyeberangi sungai tanpa jembatan. Belum lagi, sopir yang membawa kami sejak dari Makassar, tidak terbiasa dengan kondisi jalan seperti ini.
Dari atas ketinggian, kami masih sempat melirik ke sisi kiri jalan, pada hamparan perbukitan yang hijau menyejukkan mata, dan pada ibukota Kabupaten Enrekang nun di bawah sana. Indah, namun ketegangan membuat kami tak dapat benar-benar menikmatinya.
Mobil yang kami tumpangi tak bisa membawa hingga ke Kaluppini. Kepala Desa berserta belasan ojek menunggu kami di bagian jalan datar, tempat kami menitip mobil di depan rumah salah seorang warga. Desa Kaluppini masih sekitar 3 kilometer ke atas puncak. Tapi tanjakan terlalu tajam dan jalanannya rusak.
Berfoto dengan Bupati Enrekang, Pak Muslimin Bando

Desa Kaluppini masuk ke dalam wilayah pegunungan Latimojong, gunung tertinggi di Sulsel. Letaknya sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Desa ini dipilih AMAN sebagai salah satu komunitas adat percontohan, karena keteguhan masyarakatnya mempertahankan adat istiadat dan kearifan lokal. Hari itu, setelah berbincang dengan Bupati Enrekang, Pak Muslimin Bando di rumah jabatan, kami bermobil mendaki ketinggian untuk berkenalan dengan Komunitas Masyarakat Adat Kaluppini. Dalam tim ada teman-teman dari AMAN Enrekang, Armansyah Dore dari AMAN Sulsel, Mbak Tea Marlina Chandra dan Mbak Fadlun Saus dari Yayasan Persfektif Baru (YPB), Mas Gladi ‘Yayan’ Haryanto dari Kemitraan, Kak Uthi dan Kak Aji dari SCF, Kak Wahyu Chandra dari Mongabay, serta beberapa wartawan yang diundang khusus dari Jakarta. Saya sendiri mewakili JURnaL Celebes (Perkumpulan Jurnalis untuk Advokasi Lingkungan).
AMAN saat ini sedang mengadvokasi pembuatan Perda tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat di Enrekang. Ranperda tengah dibahas di DPRD dan ditargetkan selesai sebelum 2016. Langkah AMAN didukung Kemitraan, SCF, dan YPB. Enrekang adalah kabupaten kedua yang sedang mempersiapkan Perda, selain Bulukumba. Di Enrekang, Komunitas Masyarakat Adat Kaluppini yang didorong sebagai percontohan, sementara di Bulukumba adalah Masyarakat  Adat Kajang.
Melihat dukungan Pemda, tampaknya target pengesahan Perda sebelum 2016 bukan hal mustahil. Pak Muslimin Bando sendiri dengan tegas menyatakan dukungannya terhadap perlindungan masyarakat adat. Muslimin mengungkapkan, masyarakat adat punya peranan penting dalam pelestarian hutan. Enrekang kata dia, bagaimana pun juga punya tanggungjawab moral untuk menjaga sumber air di Sulsel. Sebab dari pegunungan Latimojong, mengalir Sungai Saddang yang merupakan sumber pengairan lahan persawahan di beberapa kabupaten penghasil beras, seperti Pinrang, Sidrap, Wajo, dan Palopo. Semua kabupaten tersebut adalah lumbung padi yang menjadikan Sulsel sebagai salah satu provinsi penghasil beras di Indonesia. Maka jika hutan rusak, sumber air akan terganggu yang secara otomatis akan berpengaruh pada hasil pertanian di Sulsel.
Memasuki kawasan hutan

Saat tiba di perkampungan Masyarakat Adat Kaluppini, rasa tegang dan lelah hilang menyaksikan sambutan warga. Mereka berdiri di tepi jalan menyambut kami. Tiga orang lelaki paruh baya dengan pakaian adat berdiri di depan rombongan warga, menyambut kedatangan kami dengan ritual adat. Mereka menari-nari, sambil ‘menggiring’ kami menuju sebuah aula yang biasa digunakan warga untuk pertemuan. Ratusan warga, laki-laki dan perempuan, anak-anak, sudah duduk di dalam, menyambut dengan hangat. Selepas pertemuan singkat itu untuk berkenalan dan menyampaikan maksud kedatangan, kami menuju rumah Kepala Desa dan rumah Pak Imam untuk beristirahat. Diskusi dengan masyarakat akan dilanjutkan malam nanti selepas Isya.

Kerjasama yang Baik Antara Pemangku Agama dan Pemangku Adat
Sejatinya, agama dan adat istiadat adalah dua hal yang kontras. Sering kita saksikan bahwa sebuah komunitas harus memilih untuk mempertahankan salah satu di antara keduanya. Tapi di Kaluppini, sebuah hal yang unik terjadi. Ajaran agama dan ritual adat berjalan bersamaan tanpa ada gesekan. Mayoritas penduduk di Kaluppini beragama Islam. Mereka adalah pemeluk Islam yang taat. Perayaan hari besar keagamaan selalu berlangsung dengan meriah. Semua ritual keagamaan yang selalu dilaksanakan dengan khidmat, mulai dari perayaan Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, hingga salat Jumat berjamaah. Yang unik, mesjid desa dibangun di atas puncak tertinggi.
Sementara itu, ritual adat juga selalu berlangsung dengan meriah. Ritual adat yang paling terkenal dan paling meriah bernama Pangewaran yang dilaksanakan delapan tahun sekali. Pada setiap perayaan, ribuan orang akan memadati Kaluppini. Bukan hanya warga Desa Kaluppini sendiri, melainkan juga pendatang dari luar. Anggota keluarga yang mencari nafkah di Malaysia akan pulang kampung beramai-ramai untuk menghadiri pesta adat ini.

Yang khas dalam ritual ini adalah ritual memanggil air. Dalam ritual tersebut, para pemangku adat akan duduk mengelilingi sumber air yang terletak di tepi hutan. Sekilas, sumber air tersebut bukan apa-apa, hanya tumpukan batu yang ditupi dedaunan kering. Namun dengan sebuah mantra yang dirafalkan para tetua adat, air bersih akan mengalir pelan keluar dari sebuah lubang di balik batu-batu tersebut. Warga yang hadir akan berkerumun, dan meminum air yang keluar dari lubang.
Pemimpin adat Kaluppini dikenal dengan nama Tau Appa’ (empat orang). Mereka adalah Tomakaka, Khali’, Ada’, dan Imam. Tomakaka dan Ada’ adalah pemimpin dalam kelembagaan adat, sementara Khali’ dan Imam adalah pemimpin di bidang agama. Dalam praktek pemerintahan, Tomakaka dipasangkan dengan Khali’, sementara Ada’ berpasangan dengan Imam. Dalam kepercayaan masyarakat Kaluppini, pasangan tersebut ibarat suami istri yang harus saling menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Dalam tingkat Pemerintahan Masyarakat Adat, tugas mereka adalah menjaga keharmonisan Kawasan Adat Kaluppini.

Rumah Adat Kaluppini


Antara ritual keagamaan dan ritual adat tak ada gesekan. Maka, di sinilah letak peran Imam dan Pemangku Adat. Imam mengurusi ritual keagamaan, sementara pemangku adat mengurusi ritual adat. Keduanya berjalan di jalurnya masing-masing. Pengikut keduanya saling menghargai dan tak ada yang saling menentang. Tak heran jika Pak Muslimin Bando menyebut Enrekang sebagai sebuah daerah dengan toleransi tinggi. Jika dalam sebuah rumah tangga sang suami lebih mempercayai ritual agama sementara sang istri lebih condong pada ritual adat, keduanya saling menghargai dan bekerjasama. Hal ini, menurut Bupati dapat juga dilihat dari letak wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja. Enrekang yang penduduknya 90 % beragama Islam, tak pernah ada konflik dengan Tana Toraja yang 90 % penduduknya beragama Nasrani.

Melek Informasi dan Teknologi
Meski Komunitas Masyarakat Adat Kaluppini mendiami daerah pegunungan di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, jangan membayangkan mereka sebagai masyarakat yang terbelakang dan gagap teknologi. Sebagai contoh, Pak Imam di Kaluppini terampil berselancar di dunia Internet. Ia punya akun Facebook.
Nenek Sabiah, penjaga rumah adat yang bercakap dengan Bahasa Melayu

Saat berada di sana, saya kaget ketika smartphone saya menangkap sinyal wi-fi. Selidik punya selidik, sumbernya dari pocket wi-fi milik Pak Imam. Ia membagi-bagikan kami password untuk mengakses internet. Ia bilang sudah membeali cukup paket data internet khusus untuk menyambut kami. Wi-fi itu selalu mengikuti ke mana pun kami pergi. Saat tengah duduk di dalam aula yang berjarak sekitar 400 meter dari rumah Pak Imam, Fa (Fadlun Saus) kaget, berpikir sinyal wi-fi nya kuat sekali menjangkau sampai ke aula. Ternyata, Pak Imam yang duduk di dekat kami membawa pocket wi-finya di dalam saku.
Keesokan harinya saat kami menjelajah hutan, melihat beberapa situs sejarah dan melihat-lihat lokasi hutan adat, dengan jumawa teman-teman memamerkan foto terbaru dan update status di media sosial masing-masing. Sambil tertawa-tawa tentu saja, sebab merasa lucu bisa dapat akses internet di tengah hutan.
Tak hanya itu, nyaris setiap rumah memiliki antena parabola. Setiap rumah punya tivi. Masyarakat Kaluppini tentu saja tak pernah ketinggalan informasi, sama halnya dengan mereka yang tinggal di kota.

Mempertahankan Kearifan Lokal
Sebagai sebuah komunitas masyarakat, sebuah konflik kadang dapat dihindari. Biasanya, konflik yang terjadi seputar sengketa tanah. Meski demikian, semua konflik selalu bisa diselesaikan secara adat. Tak ada sengketa yang sampai melibatkan pihak keamanan atau sampai ke pengadilan. Masyarakat Kaluppini percaya bahwa menyelesaikan masalah secara adat adalah jalan penyelesaian terbaik.
Dalam mengelola hasil panen, Masyarakat Adat Kaluppini punya aturan tersendiri. Mereka tidak pernah menjual hasil panen, seberapapun banyaknya. Hasil panen disimpan di lumbung penyimpanan. Peraturan ini berawal pada puluhan tahun silam ketika paceklik dan kekeringan melanda Kaluppini. Tak ada hujan. Tanah kering kerontang. Sejak peristiwa itu, Masyarakat Adat Kaluppini jadi lebih menghargai hasil panen dan makanan. Maka tak heran pula, saat makan mereka tak pernah menyisakan sebutir pun nasi di piring. Mereka belajar untuk mengambil makanan sesuai yang mampu dihabiskan.
 Yang paling penting adalah bagaimana mereka mengelola hutan. Masyarakat Adat Kaluppini  sadar bahwa hutan adalah sumber kehidupan mereka. Jika ada warga yang butuh kayu untuk bahan membangun rumah, mereka hanya mengambil seperlunya. Jika berlebih, sisa kayu akan disimpan di rumah adat dan kelak bisa digunakan oleh oleh warga lain. Di samping itu, terdapat juga kawasan hutan adat, hutan yang masih perawan dan tidak boleh diganggu. (*)
Fa dan Tea selfie di hutan



Share:

29 October 2015

Menertawakan Orang-orang yang Gila Gelar


Salah seorang teman kost saya seorang mahasiswa pascasarjana di salah satu universitas swasta di Makassar. Ia juga bekerja sebagai  dosen di sebuah yayasan, di sebuah kabupaten berjarak 4 jam perjalanan dengan mobil dari Makassar. Ia bekerja dari Senin hingga Rabu, dan selebihnya menghabiskan waktu di Makassar untuk kuliah. Ia datang ke Makassar setiap Rabu, meski ia bilang, ia kuliah hanya dua hari dalam seminggu, setiap Jumat dan Sabtu. Hari Kamis ia gunakan untuk bersantai karena malas masuk kantor.
Setiap datang, ia selalu membawa cerita-cerita baru. Sebagian besar tentang pekerjaannya. Tentang kampus tempatnya mengajar, dan tentang bosnya—ketua yayasan di kampus tempat ia mengajar tersebut. Ia selalu bercerita tentang bosnya dengan rasa bercampur aduk. Kesal dan geli. Di saat ia bercerita dengan raut wajah kesal, saya tertawa-tawa. Kisah yang ia ceritakan tak ubahnya bak kisah sinetron komedi.
Bosnya, pemilik yayasan, seorang wanita berusia lebih dari 40 tahun. Mungkin 50. Ia sedang mengambil program Doktor di sebuah universitas swasta di Makassar. Tapi jauh-jauh hari, sebelum gelar Doktor tersebut ia peroleh secara resmi, ia telah memakai gelar itu dengan bangga. Dr. bla bla bla. Ia adalah seorang yang sangat bangga dengan gelar akademik, senang mempermudah cara memperoleh gelar tersebut. (Saat ini ia telah benar-benar memperoleh gelar tersebut secara resmi). Tapi meski dengan gelar kehormatan itu, ia sama sekali tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan banyak di bidang akademik.
Kenapa teman saya itu mengambil kesimpulan demikian? Sebab mata dan hati tak bisa dibohongi. Doktor baru itu tak pandai menggunakan laptop dan berselancar di dunia internet. Jika ia ingin mengetik sesuatu atau membuat power point, ia meminta tolong pada bawahannya. Jika ia harus mengajar dan butuh materi, ia meminta dosen-dosen bawahannya mencarikan bahan kuliah tersebut dari internet. Copy paste. Pernah suatu ketika, saat ia harus menghadapi ujian kompetensi yang juga berkaitan dengan gelar, ia minta izin pulang karena merasa sakit. Ia tak ikut ujian. Tapi sebuah nilai bagus tetap tercetak untuknya entah dengan cara apa. Pernah ada sebuah kejadian, ketika ia menghadap papan tulis, semua mahasiswa di belakangnya berjingkat keluar kelas. Sejak saat itu ia kapok mengajar.
Ia memberi label ‘kampus internasional’ pada kampus yang ia dirikan di bawah yayasannya itu. Apa yang membuat ia percaya diri memberi label luar biasa tersebut? Sang bos bilang, karena mahasiswa yang mendaftar di sana diwajibkan punya nilai TOEFL dan TOEIC. Saya kaget mendengarnya. Unhas saja, yang universitas terbesar di Indonesia Timur, hanya mensyaratkan TOEFL untuk mahasiswa pascasarjana. Tak ada TOEIC. Bahkan di universitas luar negeri setahu saya, untuk calon mahasiswa internasional, TOEIC tak diminta jika nilai TOEFL sudah memenuhi standar. Bagaimana mungkin sebuah kampus swasta skala kabupaten mensyaratkan TOEIC?
Teman saya bilang, ada dugaan sang bos ditipu. Barangkali. Bagaimana pun, ini hanya dugaan. Pihak yang diundang untuk menyelenggarakan tes TOEFL tersebut berasal dari Jakarta. Tak jelas lembaganya apa. Sebab di sertifikat yang diberikan untuk calon mahasiswa baru, tak ada nama lembaga. Hanya ada tanda tangan dan nama seseorang yang bertanggungjawab menyelenggarakan tes tersebut. Saya bilang, kalau untuk menyelenggarakan tes TOEFL, Pusat Bahasa di Unhas adalah salah satu lembaga resmi perwakilan ETS di Makassar. Tapi sang Sang bos senang dengan hal-hal yang terdengar canggih. Jakarta lebih canggih dari Makassar. Apa pun yang berbau Jakarta, pasti lebih bagus. Segala peralatan kampus didatangkan dari Jakarta. Bahkan kertas sertifikat. Biar mahal yang penting dibeli dari Jakarta, karena itu terdengar keren.
Soal TOEFL itu, tak ada yang tak lulus tes. Semuanya dijamin lulus, bahkan meski hanya memperoleh nilai 250. Ini hanya sebuah persyaratan resmi, untuk masuk sebuah universitas swasta skala kabupaten berstandar internasional. Yang penting calon mahasiswa membayar dan ikut tes. Itu saja.
 Di kampus, sang bos tidak sekedar mengurusi hal akademik. Bahkan persoalan pribadi para karyawan (dosen) ia urusi. Ia melarang para dosen melanjutkan pendidikan. Alasannya, untuk apa kuliah tinggi-tinggi kalau toh nanti setelah menikah ikut suami juga. Nah lho?! Ia melarang para dosen pacaran karena katanya pacar bisa mengganggu pekerjaan di kampus. Ia pernah memanggil teman saya itu menghadap hanya untuk memberitahu satu hal: “Kamu, kalau punya pacar yang jabatannya tinggi jangan belagu. Gelar dan pangkat itu hanya untuk di dunia. Tidak dibawa mati.” Teman saya terbengong-bengong. Ia tak tahu mengapa sang bos memanggilnya hanya untuk mengatakan itu. Tiba-tiba saja, tanpa ada angin atau pun hujan.
Suatu hari, ia pernah memanggil satpam menghadap. Ia marah kepada satpam tersebut. Katanya, “Kerjamu apa di kampus ini? kenapa sempritanmu tidak pernah bunyi?” Barangkali ia pikir, tugas satpam hanya satu: membunyikan sempritan sepanjang hari. Di hari lain, ia mengadakan rapat mendadak untuk dosen dan pegawai kampus. Rapat tersebut membahas anak kuda kesayangannya yang baru mati. Sang bos menceritakan kesedihannya kehilangan anak kuda sambil menangis.
Di kampus, ia membayar seorang cleaning service. Tapi sang CS hanya berleha-leha. Kerjanya tak seberapa, sebab ia tak diizinkan membersihkan ruangan. Sang bos memberi jadwal piket untuk para pegawai kampus. CS membersihkan bagian luar ruangan saja.
Saya selalu merasa terhibur mendengar cerita teman saya itu. Saya sadar, sang bos tersebut hanya satu di antara sekian banyak. Di Indonesia. Saya teringat pada sebuah universitas di Jakarta, yang telah menerbitkan banyak sertifikat gelar untuk banyak petinggi. Katanya, namanya Universitas Berkley. Konon, ini adalah perwakilan resmi dari Universitas Berkley di Michigan, Amerika. Pemiliknya sudah mengantongi izin menyelenggarakan pendidikan dan menciptakan gelar bagi yang membutuhkan di Indonesia. Sementara di beberapa sumber disebutkan, Universitas Berkley ini, di Amerika, tidak terakreditasi dan tidak diakui. Berbeda dengan Universitas Berkeley, sebuah universitas keren di daerah California. Tapi Berkley dan Berkeley jelas beda.
Masih jelas pula bagaimana seorang peserta wisuda di Universitas Terbuka di Tangerang tak tahu nama mata kuliah dan tak tahu jumlah IPKnya. Saya tidak tahu kampus itu masuk wilayah Tangerang atau Jakarta Selatan. Saat berlalu-lalang dari Pamulang ke Jakarta, saya sering melewati kampus itu. Wisuda palsu itu digerebek Kementerian Pendidikan. Di Makassar, beberapa waktu lalu, puluhan kampus swasta dinonaktifkan karena memperjualbelikan ijasah. Konon, di kampus-kampus itu, kau bisa mendapat ijasah dan nilai IPK luar biasa tanpa perlu hadir di bangku kuliah.
Membicarakan pendidikan di negeri ini memang selalu menggelikan. Selalu ada cerita lucu yang membuat kita tertawa-tawa. Betapa gelar akademik adalah sebuah kebanggaan, bahkan oleh orang-orang yang tak mencintai pendidikan. Akibatnya, banyak juga yang memperdagangkan pendidikan, menjadikannya lahan bisnis. Saya mencoba memposisikan diri di pihak mereka. Betapa malunya saya jika punya gelar doktor tapi tak memahami apa yang dibicarakan orang-orang di sekitar saya. Tak membaca buku, tak tahu isu lingkungan, tak punya kepedulian sosial. Tapi saya tahu, kesalahan tidak sepenuhnya ada di pihak mereka, pembeli gelar itu. Sepertinya sistem pendidikan di negeri ini sudah amburadul sejak awal.

Makassar, 30 Oktober 2015
Share:

28 October 2015

Menikmati Masa Hibernasi: Membaca, Blogging, dan Minum Kopi


Ada kalanya manusia waras tiba-tiba merasa jenuh dan gila dan tak ingin berbuat apa-apa. Seperti itulah yang saya rasakan saat ini. Ada saat-saat di mana tiba-tiba tinggal di kamar adalah hal yang paling menyenangkan. Dan rasa jenuh seperti ini datang di waktu-waktu tertentu. Tak ada obatnya. Seperti beberapa waktu silam ketika saya merasa bahwa orang-orang di lingkungan pekerjaan saya memperlakukan saya dengan tidak adil. Rasa muak dan marah membuat saya jenuh. Dan rasa jenuh itu membuat saya tidak ingin kembali. Tidak lagi menerima uang bulanan? Peduli amat. Jalan datangnya uang bisa dari mana saja. Saya bukan tipe orang yang bisa bertahan dalam ketidaknyamanan demi uang tak seberapa, yang bahkan nyaris tak cukup untuk hidup selama 30 hari.
Beberapa minggu belakangan, saya tiba-tiba tidak ingin keluar rumah. Tapi bukan berarti saya tidak melakukan apa-apa. Sepanjang hari saya membaca buku persiapan TOEFL dan IELTS berganti-ganti. Sebab saya berencana ikut tes akhir tahun ini untuk persiapan kuliah S2 tahun depan. Dan karena saya tidak ingin gagal memperoleh nilai yang saya impikan, saya mengabaikan seluruh tawaran pekerjaan.
Jika bosan, maka saya akan duduk di depan laptop, menulis sesuatu. Namun ada saat-saat tertentu ide tulisan di dalam kepala saya berseliweran terlalu banyak dengan segala macam tema. Akibatnya, kadang saya membuat empat judul tulisan berbeda. Esai. Semuanya hanya jadi setengah. Tak ada yang jadi satu.
Saya memang sedang bersemangat menulis esai. Minggu lalu, sebuah esai saya dimuat di Harian Fajar. Sang pengasuh rubrik, entah sengaja atau khilaf, menaruh nomor telepon di bawah nama saya, disertai embel-embel: jika ada kritik dan saran, maka.... Akibatnya, selama berhari-hari saya mendapat sms dari orang-orang yang tak saya kenal. Bahkan ada yang menelpon. Semuanya mengaku terharu dan memberi komentar positif. Tapi saya berpikir, ini bukan hal yang membanggakan. Hanya secara kebetulan tema esai saya menyangkut persoalan orang banyak. Saya sadar, suatu saat kelak, jika saya menulis tentang sesuatu yang menyindir pihak tertentu, maka yang akan saya terima bukan pujian melainkan cacian.
Jika saya sama sekali kehabisan ide, maka saya akan mengutak-atik blog, menulis beberapa konten yang sama sekali tidak penting. Jika sudah asyik, saya bahkan nyaris lupa makan. Saya baru akan beranjak ke dapur jika perut saya benar-benar perih menahan lapar.
Dan seperti juga hari ini. sepanjang hari, dari pagi hingga malam saya hanya tinggal di dalam kamar. Membaca buku, blogging, dan minum kopi.
Jika ingin melihat cahaya matahari dan merasakan udara yang sejuk, saya mengunjungi supermarket terdekat. Akhir-akhir ini cuaca Makassar memang sangat panas menyengat. Dan panas itu tidak hanya terasa di permukaan kulit. Suasana hati juga ikut kusut akibat kegerahan. Tinggal di kota ini semakin tidak nyaman. Saya berdiri di depan rak pajangan barang yang saya sama sekali tidak berniat membelinya. Saya hanya mengulur-ulur waktu. Berjam-jama kemudian, saya pulang membawa beberapa bungkus snack.
Rasa bosannya belum hilang. Barangkali saya perlu mengusir rasa bosan ke tempat yang lebih jauh. Ke Jogja, atau ke Bali. Sendiri saja. Sendiri lebih menyenangkan. Tidak ada teman yang cerewet. Tidak ada yang memintamu melakukan hal yang mereka inginkan namun tak kau inginkan. Dua tahun lalu, saat rasa jenuh menyergap saya ketika sedang di Jakarta, saya membeli selembar tiket keret api, berangkat dari Stasiun Senen ke Jogja. Sendiri. Saya tinggal selama 4 hari di sebuah hotel murah di kawasan Malioboro. Berkeliling naik becak, makan kerang rebus, menonton pertunjukan tari di keraton. Barangkali saya harus melakukannya lagi saat ini. Tapi di tempat yang berbeda. Bukan Jogja lagi.  
Saya mulai memikirkan satu hal tentang diri saya. Saya adalah tipe orang yang cepat bosan. Saya tidak betah melakukan sesuatu dalam waktu lama. Dan jika rasa bosan itu menyergap, tak ada apa pun yang bisa menghibur saya untuk kembali melakukannya, kecuali melakukan sesuatu yang memang menjadi keinginan saya sendiri. Saya tiba-tiba terpikir, bahwa memang sudah seharusnya saya menulis. Menulis novel, seperti cita-cita saya sejak kecil yang tiba-tiba menguap begitu saja saat saya mulai menjadi wartawan. Ya, menjadi wartawan melenyapkan kemampuan saya menulis fiksi. Semasa kuliah, sesekali saya mengirim puisi dan cerpen ke sebuah media lokal. Tapi setelah menjadi wartawan, kemampuan itu hilang sama sekali. Tapi saya malah lancar menulis esai dan reportase. Tentu saja ini hanya alasan pembenaran.
Ya, sepertinya hanya satu hal itulah yang bisa mengobati rasa jenuh saya dan membuat saya kembali waras. Menulis. Tak peduli ada yang membacanya atau tidak. Jika ada yang membaca dan merasa terhibur syukur, jika pun tidak, toh setidaknya bisa menjadi obat. Ya, menulis untuk pengobatan. Ibaratnya, menurunkan hujan untuk memekarkan bunga-bunga di musim kemarau.


Share:

02 October 2015

Seni dan Kenakalan Remaja

Ilustrasi
Makassar, yang sedang gencar mempromosikan diri sebagai Kota Dunia, sedang menghadapi sebuah persoalan besar yang sepele. Entah bagaimana awalnya, warga kota dilanda ketakutan dan rasa marah secara bersamaan. Di sudut-sudut kota, para penjahat berkeliaran mengintai orang-orang lengah yang membawa barang-barang berharga. Laptop, ponsel, dompet, atau apapun yang bisa mereka rampas.
Mereka tentu tak lebih memilih barang-barang berharga ketimbang seutas nyawa yang tak bisa ditukar dengan rupiah. Sebab jika mereka bergeming, segala macam senjata—anak panah, ketapel, hingga parang—sudah siap mengarah ke mereka. Pertahankanlah barang berhargamu, niscaya nyamamu yang cuma satu itu akan melayang seketika.
Sudah terlalu lama, sudah ratusan korban melayang, yang luka parah maupun yang mati, namun kejahatan ini tak terhenti. Sudah puluhan dari para penjahat itu yang tertangkap dan menjadi bulan-bulanan warga, bahkan ada yang meregang nyawa karena ditembak petugas keamanan. Tapi keesokan harinya, kita selalu mendengar kabar bahwa di sudut kota lain, aksi serupa masih terjadi.
Beberapa hari lalu, saya dan beberapa rekan berbincang soal aktifitas anak-anak muda di salah satu komplek perumahan. yang terbilang jauh dari ciri gemerlap kemewahan. Anak-anak di komplek tersebut, entah dari mana datangnya tiba-tiba saja muncul dan membuat onar. Sepanjang hari mereka mengisap lem. Pada saat lapar mereka memalaki anak-anak perempuan yang lewat. Pada malam hari, mereka turun ke jalanan mengendarai motor yang meraung-raung. Seorang teman saya menduga, barangkali anak-anak seperti inilah yang sering turun ke jalanan dan menjadi apa yang akrab kita sebut begal.
Kalaupun bukan kelompok mereka, tak ada salahnya menduga bahwa dari kondisi inilah para begal berasal. Siapapun dan dari mana pun mereka, satu hal yang pasti, mereka adalah anak-anak muda yang tak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak sekolah dan tak punya aktifitas. Mereka, barangkali tak punya orang tua yang memperhatikan segala kebutuhan dan kelakukan mereka. Bagaimana pun, rumah adalah awal dari segalanya. Jika rumah dan keluarga tak membuat mereka nyaman, maka anak-anak akan mencari kebahagiaan di luar, bersama anak-anak tak bahagia lainnya. Kebahagiaan yang konsepnya tentu agak berbeda dengan apa yang dipahami orang dewasa yang sudah mandiri dan punya banyak pilihan tentang hidup. Ketika anak-anak yang sama-sama tak bahagia saling berkumpul, maka membuat onar bukan lagi hal yang menakutkan, melainkan hal mengasyikkan.
Mengapa saya mengatakan hal ini adalah persoalan sepele? Sebab ini hanyalah tentang anak-anak yang tak tahu harus berbuat apa (meskipun ada juga pelaku dewasa). Yang ingin sekolah tapi tak punya uang beli seragam dan bayar SPP. Yang ingin punya gadget karena tergoda iklan di tivi tapi untuk makan saja susah. Hal yang harus dipikirkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah memberi perhatian kepada anak-anak muda dan memberikan mereka kesibukan yang bermanfaat. Salah satu cara yang humanis adalah mengenalkan seni dan budaya kepada anak-anak dan remaja. Perkenalkan mereka betapa seni adalah sebuah kreatifitas yang menyenangkan untuk dinikmati, yang dengan keindahannya mampu memberi kedamaian dan menyentuh hati manusia sedalam-dalamnya, membuat manusia sadar bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan melakukan sesuatu yang tak membuat nama kita diingat ketika sudah mati.
Sanggar Seni Pemuda Paropo
Di Paropo, salah satu sudut kota yang jadi tempat favorit saya, sudah sejak puluhan tahun silam anak-anak sibuk dengan sanggar kesenian mereka. Jika berkunjung, jangan kaget jika Anda menemukan anak-anak muda dan remaja bertampang garang, berbicara dengan suara besar dan menggelegar, tapi sesungguhnya mereka adalah penari, pemain suling, penyanyi, atau penyair. Para orang tua tidak pernah khawatir anak-anak remaja mereka akan terlibat tawuran atau membuat onar entah di mana. Mereka terlalu sibuk latihan untuk pertunjukan seni.
Jika saja ada aparat pemerintah kota yang ingin serius membenahi permasalahan begal di Makassar yang notabene pelakunya adalah anak-anak remaja, tak usahlah studi banding ke luar kota atau luar negeri (Biasanya jalan keluar sebuah masalah dicari dengan studi banding kan?). Datanglah ke Paropo, sebuah perkampungan yang pada abad ke-16 menjadi wilayah Gowa tapi kini berada di area Jalan Abdullah Daeng Sirua.
Kecuali aparat menganggap permasalah ini bukan hal yang dampaknya lama, cukup tangkap mereka—jika bisa—dan tembaki jika melarikan diri. Tapi jika menganggap ini permasalahan serius, beranguslah hingga ke akar-akarnya. Menangkap, menembak, dan memenjarakan hanya menyelesaikan masalah sementara waktu. Yang harus ditemukan adalah akar permasalahannya. Tentu saja ini pekerjaan maha berat. Tapi menjadi pengayom negeri memang tak ringan. Sebab yang mesti dipikirkan bukan hanya masalah diri sendiri, anak, dan istri, melainkan masalah jutaan orang lainnya. Jika tak kuasa memberi rasa aman, jangan berani mencoba menjadi bagian dari aparat pemerintahan sebuah negeri.
Kita semua tidak bisa terus diam menyaksikan warga kota ketakutan, anak-anak bergerombol menodongkan senjata kepada setiap orang yang lewat dan merampok mini market. Lalu yang akan peduli, mencari dan menghancurkan akar permasalahan ini? Sementara kota ini sedang sibuk bersolek dan mempercantik diri. Kota ini sedang repot dengan urusan investasi, pembangunan gedung tinggi, dan reklamasi sebagai ciri kota dunia, sementara warganya ketakutan sebab nyaris tak ada lagi sudut kota yang mampu menawarkan rasa aman dan nyaman.


Makassar, September 2015

Tulisan ini dimuat di Harian Fajar edisi Jumat 2 Oktober 2015  
Share:

28 June 2015

Ketika Anak-anak Tak Punya Ruang untuk Bermain


Saat berbicara tentang tanggungjawab sosial, saya tak tahu lagi sampai di mana batasannya. Anak-anak ini, punya orang tua dan tidak miskin, meski juga tidak kaya raya. Setiap hari mereka mampir ke tempat saya membaca buku atau sekedar bermain. Bahkan kadang, mereka tinggal hingga larut malam.
Ketika mereka berkeliaran di luar hingga tengah malam, saya ingin tidak peduli. Ketika mereka mengganggu ketentraman para tetangga, itu bukan urusan saya. Apa pun yang mereka lakukan, bukan tanggungjawab saya. Mereka punya orang tua dan tentu saja bukan saya yang harus memaksa mereka belajar atau mengajarkan mereka bagaimana bersikap sopan dan menjadi anak yang baik. Mereka punya orang tua, dan orang tualah yang harusnya bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan anak-anak mereka.
Tapi saya tak bisa menghindar, ikut merasa gelisah melihat kegelisahan anak-anak  ini. Seperti kemarin, saat mendengar salah seorang di antara mereka sedang berbicara dengan anak-anak mahasiswa yang indekost di dalam komplek dan mengeluarkan kata-kata kasar. Saya ingin tak peduli dan pura-pura tidak mendengar. Teman saya yang kebetulan menginap di rumah ingin memanggil anak tersebut. Saya bilang, ia punya orang tua dan kami tidak bertanggungjawab terhadap anak tersebut. Tapi teman saya bilang, karena kita mendengarnya, maka mau tidak mau kita harus ikut bertanggungjawab.
Maka kami memanggil anak tersebut. Ia datang dengan segera. Karena ia sering mampir membaca buku dan bermain di tempat saya, ia dan juga anak-anak lainnya selalu mendengar apapun yang saya katakan. Sudah lewat pukul 9 malam. Kami memberinya makan dan menegur kelakuannya dan kata-kata kasar yang harusnya tak pantas diucapkan anak-anak. Sambil terus mengunyah makanan, ia berjanji tak akan mengulangi.
Semalam, kami mendengar ribut-ribut di luar dan salah seorang tetangga berteriak mengancam anak-anak. sebabnya, anak-anak tersebut bolak-balik ke depan rumah tersebut dan melempari pagarnya. Sang pemilik rumah tidak terima. Tapi anak-anak toh lebih lincah melarikan diri dari orang dewasa. Mereka bersembunyi beberapa saat, lalu muncul lagi, berdebat dengan sang pemilik rumah dan tidak ada yang mau mengaku sebagai pelaku.
Saya tahu bahwa pemilik rumah yang berang tersebut, juga bagi orang dewasa lainnya yang menyaksikan, akan beranggapan bahwa mereka adalah anak-anak nakal yang tak cukup dididik orang tua, anak-anak nakal yang tak bisa dikasihani. Tapi saya juga sadar, bahwa mereka tidak seburuk itu. Mereka adalah anak-anak yang baik dan jiwa mereka masih suci. Mereka hanya anak-anak yang gelisah, sedang mencoba mengekspresikan diri, dan menemukan hal-hal menyenangkan. Dan yang paling penting adalah, mereka tidak punya tempat untuk bermain. Gertakan, teriakan dan pukulan tak akan membuat mereka berubah menjadi kalem.
Kenapa mereka menjadi gelisah? Komplek perumahan kami, adalah sebuah komplek dengan desain lama, yang tidak mementingkan ruang publik untuk bersantai atau tempat untuk anak-anak bermain. Jangankan ruang publik, jalanan pun begitu sempit hingga hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Dinding setiap rumah saling berdempetan tanpa sela, dan tak ada halaman. Sama sekali tak ada ruang kosong.
Sangat wajar kiranya, jika anak-anak ini menjadi gelisah tak karuan. Ketika mereka tidak tahu harus berbuat apa, maka satu-satunya hal mengasyikkan bagi mereka adalah mengganggu ketenangan orang-orang. Semakin orang yang diganggu naik pitam, semakin mereka akan merasa senang. Tapi tentu adalah hal bodoh jika orang-orang dewasa mengikuti permainan anak-anak tersebut dengan menghardik, memaki atau mengancam akan melaporkan ke orang tua masing-masing.
Kejadian beberapa minggu kemarin jauh lebih mengerikan. Pagi-pagi betul, saat saya belum lagi membuka pintu, terdengar ribut-ribut di depan rumah. Saya tidak akan tertarik memanggil anak-anak ini jika yang terdengar hanya pertengkaran biasa. Mereka berteriak dengan keras, menyebut-nyebut sebuah agama tertentu, disertai kata-kata “anjing” dan “kurang ajar.” Saya membuka pintu dan melihat di ujung jalan, seorang ibu rumah tangga yang sedang menjemur pakaian dikerumuni anak-anak. Ya ampun, anak-anak ini memaki orang dewasa dengan kalimat yang sudah tak bisa ditolerir. Apalagi sudah mulai membawa-bawa agama dan nama binatang.
Saya berteriak memanggil mereka dan mereka pun berlari ke arah saya dengan bergerombol. Saya bertanya mengapa mereka berbuat seperti itu. Mereka membela diri dan memberi penjelasan pada saya. Konon, ibu tersebut yang memulai. Ia menuduh anak-anak ini memukul anak kecilnya hingga menangis. “Dia memfitnah kami. Kami tidak pernah memukul anaknya. Dia yang lebih dahulu menghina agama kami, jadi kami balas.” Ya, betapa agama memang hal yang terlalu sensitif untuk diungkap-ungkap, bahkan anak kecil pun bisa merasa tersakiti. Tapi orang dewasa kadang menilai, toh mereka hanya anak-anak dan belum mengerti apa-apa. Anggapan yang tentu saja salah 100 persen. Mereka memang anak-anak, tapi mereka juga punya perasaan. Perasaan mereka jauh lebih halus dari orang dewasa.
Beberapa bulan belakangan, saya memperhatikan kebiasaan anak-anak tersebut. Jumlah mereka sangat banyak, dan nyaris sama besar. Sebagian besar maasih SD dan beberapa orang sudah SMP. Setiap pulang sekolah, kalau bosan membaca buku atau bermain di tempat saya, maka mereka akan terus berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di dalam komplek. Tak jelas apa yang mereka lakukan, mereka hanya berjalan dan berjalan. Kadang berjalan sendirian, kadang berkelompok. Komplek perumahan ini kecil, bisa dikelilingi dalam waktu kira-kira setengah jam.
Hari ini, mereka mampir lagi. Mereka melihat tumpukan kertas di atas meja dan meminta izin untuk menggambar. Saya memberikan mereka pensil warna, lantas masuk ke kamar karena sedang banyak pekerjaan. Saya membiarkan mereka main di luar. Sebentar kemudian, mereka mengetuk pintu kamar saya berulang-ulang dan tak berhenti hingga saya buka. Ternyata mereka hanya ingin memamerkan gambar. “Apa gambar saya bagus?” “Kakak suka?” Dengan wajah polos, mereka memamerkan apa yang telah mereka lakukan dengan usaha sendiri. Saya tahu mereka berharap pujian. Mereka senang sekali ketika saya mengizinkan mereka menempel gambara-gambar tersebut di dinding. Meski saya terperangah melihatnya, tapi saya tetap mengatakan gambar-gambar mereka indah. Saya meminta mereka menempel di jendela, dekat pintu. “Biar orang-orang yang masuk lihat,” kata saya.
Saya dan teman saya mulai membuat analisa kecil-kecilan. Barangkali mereka bosan di rumah. Barangkali suasana rumah mereka tidak menyenangkan. Barangkali orang tua mereka tidak manis memperlakukan mereka. Atau entah apapun yang mereka cari, mereka butuh ruang publik untuk bermain, dan orang tua yang sesekali mengajak mereka bicara layaknya orang dewasa, bukan sebagai anak-anak. Sebab jika orang tua tak membentuk karakter anak-anaknya, lingkunganlah yang akan membentuknya. Dan tidak ada yang tahu lingkungan seperti apa, baik atau buruk.



Share:

27 April 2015

Hukumlah Para Pengedar Narkoba, Tapi Selamatkan Mary Jane!

Mary Jane (sumber foto: tempo.co)
Melihat ribut-ribut di media sosial soal hukuman mati, mau tidak mau saya merasa tergelitik untuk ikut berkomentar. Saya sendiri, setuju dengan penerapan hukuman mati, untuk berbagai alasan yang sebelumnya telah saya ungkapkan dalam tulisan saya terdahulu. Barangkali ada baiknya saya ringkas kembali seperti ini:
Pertama, perdagangan narkoba masuk dalam kategori extraordinary crime, di mana hukuman mati sudah menjadi ketetapan. Kita sama-sama tahu, bahwa para penjahat pengedar narkoba telah menjalankan bisnis ini dengan sangat sistematis. Bahkan hukuman puluhan tahun hingga hukuman seumur hidup tidak akan menghentikan mereka. Mereka masih menjalankan bisnis ini dari dalam penjara. Nah, sedangkan dari dalam bui mereka masih menjalankan bisnis dan saling terhubung dengan jaringan mereka di luar. Apalagi jika mereka dibiarkan berkeliaran di luar?
Kedua, tidakkah kita merasa marah saat mengetahui bahwa seorang asing dengan seenaknya masuk ke negera kita, mendirikan pabrik ekstasi yang masuk kategori terbesar di dunia, menjadikan bangsa kita pasar potensial, membunuhi anak-anak kita? Saya, tidak akan mau memaafkan!
Ketiga, saya memiliki teman dekat, mantan pecandu. Betul sekali pendapat banyak orang (seperti beberapa aktifis HAM yang kontra dengan hukuman mati) bahwa kecanduan bisa dihentikan. Tapi, ketika kita telah terlanjur pernah mengkonsumsi narkoba, tubuh dan sistem saraf yang terlanjur rusak tak akan bisa diperbaiki. Seumur hidup, mantan pecandu akan menderita. Hal ini saya saksikan pada teman saya tersebut. Ia sudah belasan tahun berhenti mengkonsumsi narkoba, tapi ia menderita sakit yang tak bisa disembuhkan dengan apa pun. Sakitnya yang terakhir adalah ginjal. Ia harus melakukan cuci darah dua kali dalam sebulan. Sementara para penjahat narkoba kita ampuni, akan muncul  beribu-ribu bahkan berjuta-juta generasi bangsa yang akan mengalami nasib seperti teman saya ini. Generasi bangsa yang sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk bangsanya.
Dan di negeri kita yang pemaaf ini, kita masih harus mengampuni orang-orang yang dengan sadar menjual racun yang membunuh secara perlahan-lahan itu kepada anak-anak kita? Kepada ayah kita? Kepada saudara kita? Kepada para sahabat kita? Kepada generasi bangsa kita? Demi alasan HAM? Bukankah anak-anak kita yang menderita dan mati sia-sia karena narkoba juga punya HAM, dan harus kita lindungi karena ia bagian dari kita?
Mary Jane
Ada banyak komentar di media sosial, tentang tanggungjawab yang harus dipikul Presiden Jokowi jika ternyata orang yang dihukum mati adalah orang yang sebenarnya tidak bersalah. Saya, Presiden Jokowi, dan kita memang bukan Tuhan yang bisa tahu seseorang bersalah atau tidak. Tapi ketika kita telah menangkap tangan seseorang membawa narkoba, menyelundupkan berkilo-kilo heroin, sabu-sabu dan sejenisnya, dan berdasar hasil investigasi dan pemeriksaan memang ia seorang pengedar narkoba yang melakukan kejahatannya secara sadar, apakah kita masih akan berandai-andai, “Ah, barangkali ini orang ini tidak bersalah, sebaiknya dibebaskan dari hukuman?”  
Lalu muncul sosok Mary Jane, seorang warga Filipina yang konon menjadi kurir karena (seperti penemuan Komnas Perempuan) dimanfaatkan, menjadi korban perdagangan perempuan, korban kemiskinan, dan ia tidak tahu-menahu tentang barang di dalam koper yang ia bawa ke Indonesia. Beberapa hari ini, saya membaca beberapa media online yang menuliskan tentang sosok Mary Jane. Mary Jane konon hanya seorang ibu rumah tangga pengangguran yang sedang kebingungan mencari pekerjaan. Dan sementara ia menunggu sang calon majikan yang akan mempekerjakannya di Malaysia, ia diminta mengantarkan sebuah koper ke Indonesia, yang ternyata berisi heroin 2,6 kilogram di sela-sela pakaian.
Orang-orang pembela Mary Jane mengecam Jokowi jika seandainya Mary Jane benar-benar dihukum mati. Saya pun secara pribadi, jika berita tentang siapa sebenarnya sosok Mary Jane benar, saya akan mengecam Jokowi, dan meminta Mary Jane dibebaskan, dikembalikan kepada keluarganya, atas nama HAM. Sebab Mary Jane adalah korban para mafia narkoba. Ia menjadi kurir tanpa sengaja dan tanpa tahu apa-apa tentang apa yang ia lakukan. Tapi bagaimana pun, kita harus melihat masalah ini secara jelas.
Melihat banyaknya dukungan untuk Mary Jane, semestinya Presiden Jokowi sudah tahu hal ini. Hemat saya, jika tanggal pelaksanaan hukuman sudah ditetapkan, maka sebaiknya Mary Jane diberi pengecualian. Bukan untuk membebaskan begitu saja, tapi untuk membuat investigasi lanjutan: benarkah Mary Jane tidak bersalah? Benarkah ia tidak tahu apa isi koper yang ia bawa ke Indonesia? Tidakkah ia bertanya lebih jauh kepada sang pemberi mandat? Benarkah berita yang mengatakan bahwa ia hanya disuruh dan tidak tahu menahu tentang apa yang ia lakukan? Investigasi harus dilakukan hingga ke rumahnya, keluarganya, dan menelusuri latar belakangnya.
Jika memang semua berita itu benar, jika memang benar Mary Jane tidak bersalah, maka tidak ada alasan untuk tidak membebaskan dia dan mengejar pelaku sebenarnya yang memanfaatkan Mary Jane. Mary Jane harus dikembalikan ke negaranya dan ia harus mendapatkan perlindungan dari negaranya. Sebab jika tidak, meskipun ia bebas, bukan tidak mungkin ia masih akan dikejar oleh sindikat yang pernah memanfaatkannya. Jika Mary Jane tetap dihukum mati, maka Presiden Jokowi—beserta rakyat Indonesia yang mengetahui hal ini dan tidak melakukan apa-apa untuk membelanya—telah melakukan sebuah kesalahan besar yang tidak termaafkan.
Komnas Perempuan sendiri telah mengirimkan tim ke Lapas Wirogunan untuk menggali keterangan lebih lanjut dari Mary Jane. Namun sebaiknya, investigasi tidak terhenti di sini, tapi lebih dalam lagi. Komnas Perempuan bisa menjadi jembatan untuk memperjelas semuanya.
Sebaliknya, jika berita yang beredar tidak betul, dan hanya sekedar berita yang dihembuskan agar ia bebas, jika Mary Jane memang penjahat, ia harus tetap dihukum sama seperti yang lainnya. Mary Jane mungkin miskin. Tapi bisa saja, ia tahu apa yang dibawanya, dan melakukannya dengan sadar dengan iming-iming yang dijanjikan sebagai imbalan. Sebab jika penyelidikan dilakukan setengah-setengah, hal ini bisa berimplikasi pada para terhukum selanjutnya, dengan memanfaatkan kasus Mary Jane. Tapi sekali lagi, jika Mary Jane memang tidak bersalah, ia harus dibebaskan atas nama kemanusiaan.

Share:

16 April 2015

Minat Baca Anak-anak Indonesia Tidak Rendah!

Anak-anak membaca buku-Dino Pustaka

Sebulan terakhir, saya dan beberapa teman mengelola sebuah rumah baca. Buku-buku di rumah baca kami berasal dari koleksi pribadi dan beberapa teman yang dengan sukarela menitipkan buku-bukunya. Pada awalnya, target pembaca yang kami bidik adalah kalangan mahasiswa. Maka kami menyewa sebuah rumah sederhana di dalam sebuah komplek perumahan yang terdapat banyak kost mahasiswa dan aksesnya dekat dari beberapa kampus di Makassar.
Nyaris tiap hari, rumah baca kami mendapat banyak kunjungan. Namun saya sama sekali tidak menyangka, di antara sekian banyak pengunjung, yang paling antusias adalah anak-anak yang tinggal di dalam kompleks. Mulanya hanya seorang. Lalu esoknya, yang seorang ini memanggil belasan orang temannya yang lain. Lalu kemudian mereka terus saling memanggil teman.
Share:

10 April 2015

Suka Duka jadi Freelancer

ilustrasi. Sumber: enkivillage
Pagi ini, saya berbicara dengan teman saya yang menetap di Depok. Sebuah percakapan sederhana berlangsung lewat telepon. “Baru sekarang saya sadar, saya menetap di Depok sejak 2012. Dan sekarang sudah 2015. Saya tidak percaya bisa melalui 3 tahun di sini. Tan tanpa bekerja kantoran, hanya menjadi freelancer,” ungkapnya terkekeh.
Saya menanggapi dengan tertawa. Saya bilang, jika kita selalu optimis dan bersikap positif, tak ada yang tak bisa dilalui. Termasuk melalui hari-hari dengan rekening bank yang nyaris kosong dan sisa uang seadanya di dompet. Teman saya melanjutkan ceritanya. Memang ia sudah memutuskan untuk menjadi freelancer. Ia memiliki beberapa orang teman di Jakarta yang akhirnya memutuskan bekerja freelance, meski sebelumnya memiliki pekerjaan bagus dengan gaji bulanan tinggi di sebuah perusaahaan bergengsi.
Share:

01 April 2015

Sampah dan Kota Dunia

Ilustrasi: Koran Inilah Sulsel

Penggantian tampuk kepemimpinan Kota Makassar telah lama berlalu, tapi belum ada perubahan yang terasanya begitu nyata. Namun bagi saya, ada satu hal yang cukup melegakan setelah kepemimpinan Makassar diambilalih Danny Pomanto-Syamsu Rizal: deretan tempat sampah di tepi jalan raya. Langkah ini bisa menjadi jalan keluar bagi warga Makassar yang terbiasa membuang sampah begitu saja di pinggir jalan.
Mengapa tempat sampah sederhana tersebut begitu menarik perhatian saya? Saya pernah mengalami sebuah peristiwa memalukan. Suatu hari, saya sedang menemani seorang tamu berkewarganegaraan Amerika. Kami singgah di sebuah tempat untuk sebuah urusan. Ketika urusan selesai, kami semua bergegas ke atas mobil untuk melanjutkan perjalanan. Namun kenalan saya yang orang Amerika tersebut tak kunjung naik ke atas mobil. Kami bingung kemana ia pergi. Lantas, kami turun dari atas mobil untuk mencarinya.
Ternyata, ia sedang kebingungan mencari tempat sampah. Ia baru saja menghabiskan sebatang rokok dan hendak membuang puntungnya. Meskipun hanya sebuah puntung rokok, ia tak sudi membuangnya begitu saja di sembarang tempat. Untuk sesaat lamanya, ia harus berjalan mondar-mandir hingga menemukan sebuah tumpukan tempat pembakaran sampah. Di atas mobil dalam perjalanan, ia masih mengeluh soal susahnya mendapat tempat sampah di tempat umum di Makassar. 
Perihal sampah di Kota Makassar bukan hal baru. Tumpukan sampah di tepi jalan, atau bak kontainer sampah yang sudah penuh dan belum diangkut, bukan pemandangan asing. Kita bisa menyaksikannya hampir di setiap ruas jalan. Yang paling miris, perilaku warga kota yang seakan sama sekali tidak peduli terhadap kebersihan kota. Tiap hari, kita bisa menyaksikan orang-orang di jalanan yang membuang sampah seenaknya dari atas mobil sambil mobil terus melaju. Ketika seseorang baru saja menghabiskan minuman kemasan, sangat jarang yang mau merepotkan diri mencari tempat sampah untuk membuang botol kemasannya.
Yang memprihatinkan, perilaku buruk seperti ini sudah menjadi kebiasaan di semua kalangan. Tak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak usia sekolah. Saya teringat sentilan seorang kawan. Dia menyoroti gaya hidup orang Indonesia dan membandingkannya dengan warga negara maju. Dia  mengungkapkan alasan mengapa misalnya orang-orang Belanda sangat peduli kebersihan dan taat pada aturan. Sebab di Belanda, pelajaran yang diberikan kepada anak-anak di sekolah bukanlah hal yang rumit-rumit seperti halnya di negara kita. Pelajaran pertama yang diberikan kepada anak-anak yang baru menginjakkan kaki di sekolah hanyalah membiasakan buang sanmpah pada tempat yang disediakan.
Sedari kecil, anak-anak kecil di Belanda sudah diajarkan untuk tidak membuang sampah seenaknya di sembarang tempat. Dampaknya setelah dewasa, mereka akan merasa malu jika kedapatan membuang sampah di sembarang tempat. Maka tak heran jika berjalan di sepanjang jalan di sana—kata teman saya—kita tak akan menemukan sampah plastik berserak begitu saja. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan kota Makassar.
Kini, setelah Pemerintah Kota Makassar berinisiatif menyiapkan tempat sampah di sepanjang jalan-jalan kota, kita berharap usaha tersebut tidak sampai di sini saja. Orang-orang tua barangkali sudah tak bisa kita arahkan untuk memperhatikan kebersihan. Tapi kita belum terlambat untuk mendidik anak-anak kita yang kelak akan menjadi generasi penerus di Kota Makassar. Tak perlu metode pendidikan yang rumit, cukup ajarkan kepada mereka pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
Kita harus menjelaskan kepada anak-anak kita tentang bahaya yang ditimbulkan jika kita membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik. Ini bukan sekedar menjaga kebersihan saja, melainkan ada dampak yang lebih besar yang mengancam kita. Plastik adalah material yang tidak dapat diurai oleh organisme pengurai. Jika tertinggal di dalam tanah, plastik dapat mengganggu jalur air dan mengakibatkan banjir.
Di samping itu, penelitian memmbuktikan bahwa racun partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan pengurai, seperti cacing. Plastik juga akan merusak kesuburan tanah sehingga berpengaruh terhadap produktivitas tanaman.
Nantinya setelah permasalahan sampah di Makassar beres, barangkali kita bisa berharap Wali Kota Makassar juga memberikan perhatian serius terhadap masalah kebersihan di pulau-pulau terluar Makassar. Sudah bukan rahasia lagi, warga pulau, yang tidak punya pengetahuan tentang bahaya sampah plastik, menjadikan pantai dan laut sebagai tempat pembuangan sampah. Setidaknya, hal ini saya saksikan sendiri setelah beberapa minggu hidup bersama masyarakat Pulau Langkai, salah satu pulau terluar Makassar.
Perilaku seperti ini sama berbahayanya dengan perilaku warga kota. Ikan-ikan akan menganggap sampah di lautan sebagai makanan, dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya. Hebatnya lagi, pada saat ikan mati dan membusuk, plastik tersebut akan tetap tinggal di dalam tubuhnya, kembali ke laut dan dimakan ikan lain. Plastik ini pun akhirnya juga merusak sistem rantai makanan laut. Plastik bisa mengganggu perkembangbiakan plankton dan zooplankton yang merupakan makanan ikan. Jika persoalan sampah saja tak bisa ditangani, masihkah kita patut membanggakan kota kita sebagai Kota Dunia?

Tulisan ini dimuat di Koran Inilah Sulsel edisi 27 Maret 2015
Share:

30 March 2015

Perihal Narkoba dan Hukuman Mati (Koran Tempo Makassar edisi 27 Maret 2015)


Ilustrasi: Koran Tempo Makassar
Beberapa hari belakangan, saya sering berdebat dengan seorang kawan. Kami berbincang perihal penyalahgunaan narkoba dan hukuman mati yang diterapkan pemerintah bagi pengedar yang tertangkap. Aturan ini memang baru. Setahu kami, Jokowi adalah presiden pertama yang berani menabuh genderang perang dengan cukup keras terhadap narkoba. Januari lalu, enam terpidana telah ditembak mati. Dan saat ini di Nusakambangan, sepuluh lainnya sedang menunggu giliran, menunggu hari kematian.
Share:

21 September 2014

Lawe dan Kisah Peperangan Memperebutkan Emas

Desa Lawe

Mendengarkan Pak Isai Kaleb—Kepala Desa Lawe—menceritakan sejarah desanya, seperti mendengarkan kisah dongeng. Saya terbuai. Kami duduk berhadap-hadapan di sebuah meja kayu yang biasa digunakan keluarganya makan malam bersama. Di hadapannya secangkir kopi hitam pekat. Sebatang rokok mengepulkan asap di sela jemarinya. Sambil bercerita, tatapannya menghadap langit-langit rumah.
Desa Lawe dipindahkan dari Kampung Lama ke Kampung Baru (perkampungan yang ditempati saat ini) pada tahun 1970-an. Di Kampung lama, sumber air yang tersedia tidak mencukupi untuk pengairan sawah dan kebutuhan sehari-hari. Tanaman tidak bisa tumbuh subur karena kekurangan air.
Nama Lawe, diberikan untuk desa itu setelah peperangan dengan masyarakat Kulawi[1]. Menurut Pak Isai, Lawe artinya perdamaian. Konon di Kampung Lama, orang-orang Lawe memiliki emas. Panjangnya melebihi 2 meter. Emas itu, biasanya digunakan orang-orang Lawe sebagai perhiasan pada pakaian yang mereka kenakan. Mereka menggunakan pakaian yang terbuat dari tenunan serat kulit kayu. Setiap membuat pakaian baru, mereka akan memukul emas itu, untuk membuat biji-biji emas kecil yang pas ditempelkan pada pakaian mereka. Namun suara pukulan tersebut terdengar hingga ke Kulawi. Orang-orang Kulawi yang merasa penasaran mendatangi Lawe untuk mencari tahu asal suara tersebut. Alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa orang-orang Lawe memiliki kekayaan berharga berupa emas.
Orang-orang Kulawi ingin memiliki emas itu. Mereka berusaha merebutnya dari orang-orang Lawe. Tapi orang-orang Lawe tidak lebih menginginkan emas ketimbang perselisihan. Emas itu mereka buang ke dalam sebuah sungai yang entah bermuara di mana. Mereka tidak ingin emas itu membuat hubungan mereka dengan orang-orang Kulawi jadi rusak.
Di Kampung Baru, kehidupan orang-orang Lawe mulai membaik. Mereka membuka lahan untuk bertani. Mereka menanam kakao, kopi, jagung, dan sayuran. Sekarang sumber penghasilan utama orang-orang Lawe berasal dari kopi dan kakao. Sayuran ditanam hanya untuk kebutuhan dapur. Daerah Pipikoro yang berada di atas pegunungan sebenarnya sangat cocok untuk bertanam sayuran. Sayangnya, akses jalan tidak memadai. Sayuran akan hancur sebelum tiba di pasar. Untuk tiba ke pasar terdekat di ibukota kecamatan, butuh waktu 3 jam dengan sepeda motor melewati jalan setapak menuruni lereng pegunungan.  
Sebelum sepeda motor masuk ke Lawe, orang-orang menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Tapi dengan kuda, perjalanan ke Gimpu (ibukota kecamatan) membutuhkan waktu tempuh selama 3 hari 3 malam. Mereka harus bermalam di perjalanan. Memang bukan hal yang mengada-ada. Kuda memang hewan yang kuat dan cepat. Tapi jika berjalan terlalu cepat di atas jalan setapak yang licin dan berbatu-batu, bukan tak mungkin nasib kuda akan berakhir di dalam jurang terjal di sisi lereng pegunungan. Jalanan di Pipikoro selalu basah. Tak peduli musim hujan atau kemarau, hujan selalu turun setiap sore. Maka tak heran jika seekor kuda membutuhkan waktu 3 hari 3 malam untuk berjalan ke Gimpu dengan beban biji kopi dan kakao kering di pundak.


Tahun 90-an, orang-orang Lawe mulai mengenal sepeda motor. Seorang warga Porolea[2] yang pertama kali membawa sepeda motor ke Lawe. Pak Isai masih ingat, bagaimana orang-orang berkerumun mengelilingi sepeda motor itu. Sepeda motor bagi mereka adalah sebuah benda ajaib yang bisa meluncur dengan cepat melebihi kecepatan kuda, dengan suara menggelegar dan menyisakan kepulan asap hitam di udara. Orang-orang Lawe terharu. Bahkan mereka menangis. Desa mereka bisa dilalui kendaraan bermotor adalah sebuah keajaiban bagi mereka. “Kami tidak pernah menyangka sepeda motor bisa masuk ke Lawe,” kenang Pak Isai.
Sejak saat itu, orang-orang Lawe berlomba-lomba belajar mengendarai sepeda motor. Kuda-kuda dijual hingga tak bersisa. Satu per satu sepeda motor didatangkang ke Lawe. Dan kini, kuda di Lawe hanya tinggal kenangan. Tak ada lagi seekor pun. Bang Sius bilang paling banyak dijual ke Jeneponto[3]. Hewan jinak yang masih ada di Lawe kini hanya babi dan anjing yang beranak pinak tanpa terkendali.
Obrolan kami dipotong oleh ajakan makan malam oleh Bang Sius. Sejak tadi saya heran melihatnya tiba-tiba sibuk dia dapur Bu Made—istri Pak Isai— menyiapkan makan malam untuk kami. Hal itu tidak dilakukannya di rumah Pak Apollo (Kepala Desa Lonebasa). Setelah di sepanjang rumah yang kami singgahi kami selalu disuguhi indomie rebus, melihat kesibukan Bang Sius di dapur membuat saya berharap lebih. Saya berharap ia memasak sayur untuk kami. Tapi ternyata tidak. Makan malam kami malam itu tetap saja indomie rebus, seperti menu yang kami dapatkan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam di Desa Lonebasa. Bedanya, masakan Bang Sius kali ini agak berbeda karena kelebihan bumbu. Ada begitu banyak cabe dan dan bawang dalam indomie rebus yang kami makan malam itu.
Rasa penasaran saya terjawab ketika Bang Sius memaksa kami naik ke lantai 2 rumah kayu Pak Isai seusai makan. Sebenarnya saya masih ingin duduk di bawah bersama Pak Isai, tapi ia memaksa. Rupanya ia kasihan melihat anak-anak merengek-rengek minta nonton tivi. Kalau kami terus di bawah, lampu di ruang makan akan terus dinyalakan dan mereka tidak bisa nonton tivi. Listrik di Lawe menggunakan tenaga kincir. Dayanya terbatas.
Ia juga menjelaskan mengapa ia begitu semangat di dapur. Bu Made tidak percaya diri memasak buat kami. Ia berpikir masakannya tidak akan enak untuk kami. Baginya, kami selalu mendapatkan makanan enak di kota. Karena itulah, ia mengambil beberapa bungkus indomie di warung kecilnya dan meminta Bang Sius memasaknya untuk kami.
“Lalu kenapa kami terus diberi makan indomie? Saya lihat di sini banyak daun yang bisa dipetik dan dimasak jadi sayur,” ujar Mariati Atkah. Ia bilang kepada saya, jika terlalu banyak makan indomie, selera makannya bisa hilang meskipun menu makanan kembali normal. Rupanya sejak kemarin ia memperhatikan tanaman singkong di samping rumah. Saya menelan ludah ketika ia menghayal betapa enaknya daun singkong itu ditumbuk dan diberi bumbu kelapa.
“Itu dia. Bagi mereka, sayur macam itu makanan kampung. Mereka menganggap indomie makanan mewah dan pas untuk kalian,” jelas Bang Sius. Kami mendesah kecewa.
Penjelasan itu juga yang membuat saya menarik kesimpulan atas mengapa kami diberi kopi sachet dan bukan kopi bubuk yang dipetik dari kebun dan digiling sendiri. Ketika kunjungan saya tahun lalu, saya mendapat oleh-oleh satu bungkus kopi bubuk. Rasanya sangat enak. Aromanya wangi. Ketika melihat Ibu Made sibuk di dapur, saya berharap segelas kopi beraroma khas itu. Tapi ternyata, kami diberi seduhan kopi sachet dengan merk yang tak asing.
“Kalian percaya di dalam perut Lawe ini ada emas?” tanya saya pada Bang Sius dan Pak Suaib. Keduanya adalah aktivis yang aktif mengadvokasi permasalahan agraria.
Bang Sius bilang, satu-dua orang Pipikoro atau Kulawi kadang mendulang emas di Sungai Lariang. Itu nama sungai terkenal yang membelah pegunungan Pipikoro. Saya teringat perkataan seorang kenalan saya, peneliti, di Makassar. Ia pernah bilang, Pipikoro adalah gunung emas. Entah di mana ia memperoleh informasi itu. Ia bilang, jika akses transportasi modern dibuka, Pipikoro akan hancur.
“Kau lebih suka akses jalan ke sini dibuka atau tetap terisolir seperti ini?” tanya Pak Suaib.
Saya bingung menjawabnya. Saya tahu, jalan pergi dan pulang ke Pipikoro yang terlalu mudah akan membuat banyak hal berubah. Sistem kehidupan sosial dan kebudayaan akan berubah total. Barangkali, jika akses keluar dibuka, orang-orang Lawe akan kehilangan keramahan. Kebiasaan gotong royong akan hilang. Tapi dengan kondisi Pipikoro yang seperti ini, kehidupan mereka tidak akan pernah berubah. Mereka tidak akan dapat mengenyam pendidikan tinggi dan mendapatkan akses kesehatan memadai.


Cerita yang saya dengar dari Bang Sius kemudian jauh lebih menakutkan. Ketika Pipikoro masih masuk dalam wilayah kabupaten Donggala, peta pembagian wilayah HPLnya sudah dibuat. LSM Bang Sius memiliki peta itu. Izin telah diberikan kepada sebuah perusahaan untuk menghancurkan Pipikoro dan mengeruk seluruh emas dari dalamnya. Sekarang Pipikoro menjadi bagian dari Kabupaten Sigi, yang merupakan kabupaten pemekaran dari Donggala pada tahun 2008. Sejak pemekaran itu, Bang Sius bilang, ia tak pernah lagi mendengar kabar mengenai pemberian izin tambang tersebut.
Membayangkan Pipikoro akan dihancurkan dan masyarakatnya disingkirkan adalah sebuah hal menakutkan bagi saya. Saya tahu, perusahaan tambang selalu menyingkirkan pribumi dan hanya menguntungkan segelintir orang. Orang-orang pintar didatangkan, dan orang-orang pribumi diusir secara perlahan namun pasti.
Baru pekan lalu saya mendampingi kegiatan Public Hearing Masyarakat Adat yang diselenggarakan Komnas HAM, AMAN dan Sajogyo Institute di Palu. Orang-orang yang memberikan kesaksian di sana adalah orang-orang yang tersingkir dari tanah leluhur mereka karena pemerintah lebih menginginkan perusahaan tambang atau perkebunan dengan alasan sebagai sumber APBD. Saya menyaksikan orang-orang Tau Ta’a Wana[4] yang menangis sesenggukan karena sejengkal demi sejengkal tanah leluhur mereka diklaim Pemerintah dan sebuah perusahaan sawit. Orang-orang Wana itu, kini tak dapat hidup tenang karena mereka sadar bahwa sewaktu-waktu oknum-oknum pemerintah dan perusahaan akan datang menghancurkan gubuk, mengusir, dan menuduh mereka sebagai pemukim liar atau perambah hutan. Terusir, tentu tidak menyakitkan jika kita punya tempat untuk pergi. Tapi tidak demikian dengan orang-orang Wana.
Saya menyaksikan bagaimana orang-orang Karonsi’e Dongi[5] menangis di hadapan Komisioner Komnas HAM karena lahan tempat mereka bertanam jagung sejak turun-temurun disulap menjadi lapangan golf untuk orang-orang perusahaan tambang nikel. Lalu kampung mereka dijadikan tempat pembuangan sampah oleh orang-orang yang tinggal di apartemen khusus orang-orang perusahaan. Ketika mereka tidak lagi memiliki tempat untuk bertani, yang lebih menyakitkan adalah, kehadiran mereka tidak diakui pemerintah setempat.
Saya tidak bisa membayangkan orang-orang Pipikoro yang ramah dan sederhana diperlakukan seperti itu. Tapi semoga hal tersebut tidak akan benar-benar terjadi.        




[1] Salah satu suku di Sulawesi Tengah, sekarang mendiami wilayah Kecamatan Kulawi
[2] Salah satu desa di Pipikoro, jaraknya sekitar 20 km dari Lawe. Dari Kulawi, kita akan menemukan desa Porolea terlebih dahulu, kemudian Lonebasa dan Lawe.
[3] Salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan makanan khas coto kuda.
[4] Salah satu komunitas masyarakat adat di Morowali, Sulawesi Tengah
[5] Salah satu komunitas masyarakat adat di Kabupaten Luwu Timur
Share: