Bahagia


Kata Pak Rudi, ini yang namanya bahagia. Sejak kemarin dan sampai seterusnya, saya akan menganggap Pak Rudi sebagai guru spiritual saya. Meskipun dia selalu bilang, “enak saja! Kalau mau cari guru, sana cari yang bersorban dan berjenggot!”

Tapi ini bukan tentang religiusitas. Ini tentang spiritualisme. Hal yang sudah lama saya pelajari dan saya pahami namun belum tahu bagaimana cara memanfaatkannya dan melakoninya.

Kata orang bijak, tidak ada pertemuan yang terjadi secara kebetulan. Ketika kemarin saya bertemu Pak Rudi, saya bertanya begitu ia duduk di kursi ruang tamu rumah saya: “Apa yang menggerakkan Pak Rudi datang ke sini? Tuhan?”

Memang, ia datang atas undangan saya. Tapi saya tahu persis ia seperti apa. Ia sangat cuek. Kadang kala ditelpon tidak angkat. Tapi ia bilang, entah mengapa malam sebelumnya, ia memikirkan saya. Dan pagi-pagi buta, saya mengajak ia bertemu. Obrolan biasa saja. Tentang bagaimana mencapai bahagia. Dan wejangannya ampuh. Mungkin Tuhan memang mengatur pertemuan saya dengan Pak Rudi. Untuk memberi tamparan, ketika Tuhan jengah melihat saya mengabaikan pertanda-pertanda yang telah saya lihat selama ini.

“Kamu bisa saja terjerumus,” katanya. Tapi mungkin Tuhan masih melihat kamu sebagai orang baik. Sehingga Tuhan masih melindungi kamu. Di samping itu, doa orang tuamu masih makbul. Cuma, kamu bandel, sih. Sudah diberi tanda-tanda berkali-kali, masih ngotot.”

Saya bertemu Pak Rudi pertama kali pada 2015. Seiring waktu, saya menyadari ia memiliki sebuah kelebihan tersendiri. Ia memahami spiritualisme. Dan ia bilang, saya juga demikian. Kami nyambung kalau ngobrol. Pak Rudi memiliki 3 orang anak yang ganteng-ganteng dan cerdas. Kesemuanya sekolah di universitas-universitas terbaik di Pulau Jawa. Ia asli Palembang, tapi menikah dengan orang Palopo. Ia bertemu istrinya saat sama-sama kuliah di Bandung. Meskipun usia kami terpaut jauh, ia seperti teman akrab bagi saya.

Kemudian, saya tahu ia memiliki kemampuan pengobatan. Kemampuan itu bukan sesuatu yang dicarinya, tapi datang begitu saja. Semacam anugerah dari Tuhan. Pernah, saya kena flu. Tiba-tiba ia mengetuk-ngetuk tumit saya. Besoknya, flu saya hilang.

Beberapa kali saya menyaksikan ia mengobati orang-orang yang terkena pengaruh negatif. Semacam rukyah, tapi dengan cara slengean. Ia bisa mengobrol dengan mahluk-mahluk yang bersemayam di dalam tubuh orang-orang. Saya pernah iseng membawa seorang teman kepadanya. Saya tahu teman itu menderita sakit secara spiritual. Ia sering berhalusinasi. Pak Rudi memegang telinganya kemudian meniupkan ayat-ayat. Teman saya menjerit-jerit.  

Pada suau ketika, saya meneleponnya.

“Pak Rudi, ayo ke Benteng Rotterdam!”

“Ngapain?” tanyanya.

“Nyari hantu,” jawab saya.

Beberapa hari sebelumnya saya rajin nonton channel Youtube Jurnalisa. Tentu saja Pak Rudi menolak ajakan bodoh saya. Sambil mengingatkan, saya tidak boleh bermain-main soal begituan.

Malam harinya, saya tidak bisa tidur. Tengah malam, ada yang berbisik di telinga saya: “ayokmi!” Saya bangun mengambil air wudhu. Charger laptop saya bergoyang sendiri. Saya merinding ketakutan. Setelahnya, saya tidak mau lagi bicara tentang hantu. 3 malam berturut-turut saya tidak bisa tidur.

Setelah ngobrol dengan Pak Rudi hari itu, malamnya saya tidur dengan sangat nyenyak. Ketika shalat Isya, doa-doa saya isinya hanya rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada Tuhan. Saat bangun untuk shalat subuh, saya tidak lagi memiliki keinginan tidur kembali seperti biasanya. Saya langsung berdiri dan membersihkan rumah sebelum keluar rumah untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Tapi saya tahu bahwa energi positif yang saya miliki malam itu adalah karena saya telah menyedot energi Pak Rudi sehari sebelumnya. Selanjutnya, saya harus bisa mempertahankan dan menciptakan energi positif saya sendiri tanpa menyedot energi orang lain.

Ia menggantikan energi negatif dalam diri saya. Merecharge saya dengan energi postifinya. Saya tahu hal itu menguntungkan saya dan merugikan Pak Rudi. Ia sendiri kehabisan energinya. Jadi sebelum ia pulang, saya minta maaf padanya. Saya tahu, setelah pulang ke rumahnya, ia akan mengalami sakit seperti biasanya, setiap kali ia habis menyerap energi negatif orang lain. Atau sehabis ia mengobati orang sakit.

Pagi ini, saya mengirim pesan WhatsApp kepadanya. “Pak Rudi sakit? Semalam saya tidur nyenyak.”

Ia bilang, ia mengalami sakit di rahang dan tenggorokan. Ia menelepon kakaknya di Bandung. Ia diminta minum air kelapa untuk menetralisir pengaruh negatif. Besok paginya, keadaannya membaik. Saya kemudian menceritakan sensasi yang saya rasakan sendiri.

“Pak Rudi, bahagia atau tidaknya saya, saya sendiri yang menentukan. Bukan orang lain,” kata saya.

Ketika saya bangun pagi, saya merasakan sensasi aneh. Saya ingin mendatangi rumah semua tetangga, mengetuk pintunya dan memberi mereka pelukan hangat. Saya ingin mendatangi semua orang yang lalu-lalang di jalanan dan mengucapkan doa-doa kebaikan untuk mereka.

Saya melihat dunia indah sekali. Pohon-pohon. Benda-benda. Dan semuanya.

Saat melihat orang yang tidak saya kenal, saya seperti ingin mengalirkan energi cinta kepada mereka. Saya melihat semua orang sebagia jiwa-jiwa yang baik dan indah. Saya memandangi mereka tanpa men-judge. Saya sangat ingin memeluk siapa pun yang saya temui. Saya memaafkan siapa pun yang pernah menyakiti saya di masa lalu. Dan saya berjanji di masa depan, saya tidak akan pernah menyakiti siapa pun.  

Hati saya merasa sangat lega dan saya seperti melayang-layang. Saya sangat ini menari-nari. Saya ingin mengajak orang-orang berdansa dengan saya.

Saat duduk di kafe dan menyelesaikan beberapa pekerjaan, saya tak henti-hentinya tersenyum. Tanpa saya sengaja dan tanpa saya sadari. Saya merasa di wajah saya ada cahaya terpancar. Di hati saya ada cinta yang meletup-letup.

Sepulang dari kafe ini, saya akan menelepon orang-orang yang mencintai saya untuk menyampaikan bahwa saya mencintai mereka.

Pak Rudi bilang, inilah yang namanya bahagia. Hati saya sudah terbuka.

Juni adalah bulan kelahiran saya. Dan 2020 akan saya ingat sebagai tahun titik balik kehidupan saya.


No comments:

Powered by Blogger.