Inferno, Siti Fadilah Supari, dan tentang Teori Konspirasi Corona


Mei yang kelabu. Ramadhan tidak sesemarak tahun-tahun sebelumnya. Jalan-jalan tidak lagi dipenuhi penjaja makanan yang menawarkan menu buka puasa. Tapi di pasar-pasar, saya melihat orang-orang tetap bergerombol, meski raut wajah pedagang tidak seceria biasanya. Di jalan-jalan, kendaraan masih ramai pada sore hari. Bagi saya, di satu sisi hal itu mengkhawatirkan: tidak semua orang patuh pada aturan PSBB. Tapi di sisi lain, keramaian itu adalah penanda denyut kehidupan. Hidup masih berlanjut ternyata. Dan pikiran itu cukup menguatkan.

Di awal-awal ketika jejak Covid-19 di Indonesia mulai ditemukan, orang-orang di media sosial berdebat tentang apakah pemerintah perlu memberlakukan lock down atau tidak. Sekarang, topik perdebatan berganti. Orang-orang mulai beropini, apakah Covid-19 bersumber dari alam atau dari laboratorium. Media memainkan peran, memanas-manasi. Trump menyiarkan propaganda. Katanya punya bukti bahwa Covid-19 berasal dari laboratorium virologi di Wuhan, tapi menolak membeberkan bukti tersebut kepada publik. Ilmuwan dan environmentalist keukeuh bahwa Covid-19 adalah dampak lingungan. Disertai ancaman: kalau tidak mulai menjaga lingkungan dari sekarang, di masa yang akan datang akan muncul virus yang lebih mematikan.

Di masa yang gamang ini, kita tidak tahu harus percaya pihak mana. Anyway, kenapa juga harus percaya salah satunya? Orang-orang di bawah sana, yang dapurnya tidak mengepul selama pandemi, tidak perduli darimana virus itu berasal. Mereka hanya ingin segera keluar rumah. Mencari sesuatu untuk dimakan.

Tapi untuk tidak terlibat dalam perdebatan itu secara emosional, rupanya sulit juga.

Ketika Covid-19 merebak di China pada Desember lalu, saya teringat pada novel Dan Brown, Inferno. Inferno adalah sebuah novel yang epik (tidak ada yang meragukan kepiawaian Dan Brown dalam menulis). Tidak sekedar fiksi semata, ia menggabungkan banyak kisah sejarah, menguliti karya-karya seni masa lampau, membedah bangunan gedung-gedung tua, kemudian menjalinnya dalam sebuah karya yang padat dan mendebarkan.

Inferno yang ditulis Dan Brown pada 2013, berkisah tentang hiruk-pikuk dan kepanikan para petinggi WHO, ketika seorang ahli epidemiologi yang sangat cerdas, menciptakan sebuah virus untuk ditularkan kepada manusia di seluruh dunia. Inferno berkisah banyak tentang wabah hitam yang muncul pertama kali di Florence, Italia, yang menewaskan sepertiga penduduk Eropa. Wabah paling mematikan sepanjang sejarah Eropa ini, kemudian menjadi inspirasi sang pencipta virus, ketika ia merasa putus asa melihat pertumbuhan populasi manusia yang kian tak terkendali. 

Tapi sesungguhnya, meski sumber kepanikan dalam novel ini adalah virus, Brown sesungguhnya sedang mengkritik WHO dan ketidakberdayaannya menghadapi pertumbuhan populasi manusia. Overpopulasi yang menyebabkan ekploitasi alam gila-gilaan. Overpopulasi yang jadi sumber kekurangan makanan dan air bersih. Yang jadi sumber segala bencana.  Overpopulasi akan menjadi sumber kemusnahan semua mahluk di bumi.

Dalam Inferno, Bertrand Zobrist, sang epidemiolog yang sangat populer dan memiliki banyak pengikut, penganut Transhumanis, menemui Direktur WHO secara empat mata. Ia mengemukakan gagasannya bahwa, cara terakhir untuk mencegah kepunahan ras manusia adalah dengan depopulasi. Dan hanya satu cara untuk itu: wabah. Di hadapan Direktur WHO, ia mengungkapkan fakta-fakta. Setiap tahun, pertumbuhan populasi nyaris 2 kali lipat. Sementara WHO tidak memiliki jalan penyelesaian. WHO hanya bermain pada angka-angka statistik belaka. Lantas WHO apa gunanya? Solusi penggunaan kondom, nyatanya menawarkan masalah baru. Limbah kondom mencemari lingkungan. Dan manusia tetap beranak-pinak tanpa terkendali.

Direktur WHO yang murka memasukkan nama Zobrist ke dalam daftar orang yang paling dicari karena membahayakan keamanan global. Tapi ia cukup cerdik untuk menghilang selama setahun, kemudian muncul kembali untuk mempersembahkan virus ciptaannya sebelum membunuh dirinya sendiri. Di dasar sebuah waduk yang menjadi salah satu kunjungan turis di Turki, ia melepaskan wabah tersebut.

Di akhir kisah, hasil penyelidikan menjelaskan bahwa wabah yang dilepaskan Zobrist ternyata tidak bersifat mematikan. Virus itu, memodifikasi DNA manusia, bekerja dengan cara tertentu, membuat manusia mandul dan tidak bisa bereproduksi. Virus itu pun, bekerja secara acak. Tak semua manusia akan mandul. Sebagian tetap akan bisa berketurunan. WHO yang awalnya murka tak terkendali, di akhir cerita menjadi melunak. Pada akhirnya, metode wabah itu diterima dengan tabah. Mungkin sedikit lega.

Apakah Dan Brown melihat bahwa WHO memang tidak begitu berperan dalam menyelamatkan manusia dan mewujudkan kesehatan global?

Bulan lalu, Donald Trump memutus dukungan pendanaan kepada WHO karena menuduh lembaga itu tidak transparan dan terlalu berpihak pada China.

 

Mengingat Siti Fadilah Supari

Dari dalam penjara, Dr Siti Fadilah Supari mengirim surat kepada Presiden Jokowi. Pesan-pesannya singkat saja namun padat. Salah satunya, ia berpesan agar Presiden Jokowi tidak menggunakan vaksin yang diproduksi Bill Gates. Dr Siti mengungkapkan banyak kecurigaan. Membuat vaksin butuh waktu lama. Jika Gates sedang memproduksi vaksin, darimana ia memperoleh seed virusnya? Apakah ia telah memiliki seed virus itu jauh sebelum Covid-19 merebak? Virus strain dari negara lain, belum tentu cocok di Indonesia. Dan satu hal yang patut diwaspadai, Gates menyertakan microchip dalam vaksin buatannya. Kita tidak bisa mengetahui dampak dari micro chip itu dalam waktu dekat. Lagipula kata Dr Siti, Gates punya ambisi depopulasi manusia.

Pada 2005, jika ada yang mengikuti perkembangan virus Flu Burung, Dr Siti pernah menjadi sorotan dunia. Ketika itu ia menjabat Menteri Kesehatan di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam bukunya, Saatnya Dunia Berubah (diterjemahkan: It’s Time for The World to Change: In the Spirit of Dignity, Equity, and Transparency: Divine Hand Behind Avian Influenza), ia menceritakan semua perjuangannya menghadapi Flu Burung, namun dalam waktu bersamaan juga harus berhadapan dengan WHO dan negara-negara maju produsen vaksin untuk menyelamatkan muka Indonesia.

Saya masih SMA Ketika Flu Burung merebak di Indonesia. Tidak punya perhatian terhadap Menteri tertentu, dan tidak mengenal Siti Fadilah Supari. Tapi ketika membaca bukunya beberapa waktu lalu, hati saya bergejolak. Sungguh ia bukan orang biasa. Buku itu, bagi saya, ditulis dengan bahasa jujur dan blak-blakan. Terkesan ‘kurang ajar’ sebenarnya, mengingat ia adalah seorang Menteri Kesehatan dari sebuah negara berkembang. Seorang Menteri Kesehatan dari sebuah negara berkembang, minta dihargai dan disejajarkan posisinya dengan negara-negara maju.

Dr Siti menuntut WHO untuk transparan dalam penelitian virus. Jika tidak, ia menolak untuk mengirimkan seed virus apapun dari Indonesia ke WHO. Selama 50 tahun, negara-negara berkembang yang menghadapi wabah diwajibkan mengirim seed virus mereka ke GISN (Global Influenza Surveillance Network), sebuah lembaga yang berada di bawah naungan WHO. Negara-negara pengirim tidak pernah tahu seed virus tersebut akan diapakan. Ada semacam ketakutan dan kepatuhan. Negara-negara berkembang yang telah banyak mendapat bantuan dari negara maju, manut saja apa pun yang diperintahkan lembaga global. “Kita tidak tahu, seed virus itu diapakan. Apakah dibuatkan vaksin, atau malah dibuatkan senjata biologi?” kata Dr Siti. Oleh WHO, seed virus tersebut kemudian diserahkan kepada negara maju produsen vaksin. Vaksin dikuasai oleh negara-negara maju yang justru tidak mengalami wabah tersebut. Vaksin kemudian dijual kembali kepada negara yang terinveksi dengan harga selangit.

Ia juga mengungkapkan keterkejutannya saat mendapati bahwa, seed virus yang dikirim ke WHO dikirim Kembali ke Los Alamos.  Los Alamos berada di bawah Kementerian Energi Amerika, tempat riset senjata kimia. Konon, bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dirakit di tempat ini.

Perjuangan Dr Siti membuahkan hasil setelah berjuang pada pertemuan World Health Assembly Meeting di Jenewa pada 2007. Indonesia mendapat dukungan 23 negara untuk mengajukan resolusi kepada WHO, meminta transpransi dan profit sharing penggunaan seed virus yang diambil dari negara-negara berkembang. Bagi Dr Siti, aturan paten yang diterapkan WHO selama ini terhadap negara-negara berkembang, tidak saja tentang transparansi. Ini adalah sebuah bentuk neo-kolonialisme terselubung.

Majalah The Economist di London, pada 10 Agustus 2006 menulis: “Menteri Kesehatan Republik Indonesia memerangi Flu Burung bukan hanya dengan obat-obatan, tapi juga dengan keterbukaan (transparansi)”.  

Beredar isu bahwa dijebloskannya Dr Siti ke penjara karena isu korupsi, tidak lepas dari aksinya mengusik WHO dan negara-negara maju produsen vaksin. CNN Indonesia pada 27 April menulis tentang kejanggalan pada sebuah petisi yang digulirkan publik, yang meminta Jokowi membebaskan Dr Siti agar bisa membantu mengangani wabah Covid-19. CNN Menulis: Pada Kamis 16 April, petisi tersebut diberitakan tercatat sudah mendapatkan 42 ribu tanda tangan dari para warganet dan terus bergerak menuju angka 50 ribu. Namun pada Sabtu, 18 April 2020, tanda tangan di petisi tersebut tiba-tiba turun drastis menjadi 15 ribuan.

 

Jadi, apakah Covid-19 bersumber dari alam atau dari laboratorium? Saya tidak ingin berandai-andai. Tapi saya ingin berkata, bahwa jika memang Covid-19 adalah senjata biologi, dunia ini tidak pernah kekurangan orang jahat untuk melakukannya. Jika disebut dari alam, saya bekerja di sebuah NGO dalam bidang lingkungan, dan saya pastikan bahwa kerusakan alam dan perubahan iklim adalah hal yang nyata; ada di depan matamu namun kamu abaikan. Hanya saja, orang-orang yang menyatakan pendapatnya dengan kuat bahwa Covid-19 adalah hasil reaksi natural, mengemukakan opini dari satu sisi saja. Mereka mengesampingkan kemungkinan-kemungkinan lain seperti apa yang ditulis dan diperjuangkan Siti Fadilah Supari.

No comments:

Powered by Blogger.