06 March 2018

Mahalona, Mahalona


“Siapa kah yang harus bertanggungjawab terhadap penggundulan hutan di Mahalona Raya itu?” ucap saya semalam kepada teman-teman di Perkumpulan Wallacea, di Palopo.
Saat itu kami duduk bersama mengitari meja panjang, diskusi soal strategi menyusun peraturan desa di Desa Buangin, salah satu desa di Mahalona Raya, Kecamatan Towuti. Dalam perdes tersebut nantinya akan diatur bagaimana menyelamatkan hutan dan daerah tangkapan air untuk menyelamatkan lingkungan Desa Buangin.

“Pemerintah,” jawab Kak Basri, Kak Enal, dan Rais bersamaan.
“Pemerintah yang mana?” saya bertanya lagi.
“Siapa saja,” jawab mereka sekenanya.
Memandang Mahalona Raya dan sekitarnya dari ketinggian memang bikin putus asa. Pedesaan itu berada pada sebuah lembah yang luas. Di sekelilingnya oleh perbukitan bertanah merah, tampak subur dan seperti sanggup menumbuhkan tanaman apa saja. Nyaris tak ada lagi bagian yang masih tertutupi pepohonan dengan rapat. Hutan sudah habis ditebangi untuk dijadikan kebun merica. Nun jauh, tampak pucuk-pucuk gunung berwarna biru, menjulang. Kadangkala di balik gunung-gunung itu nampak asap mengepul. Hutan dibakar.
“Kalau saya jadi pemerintah, saya akan tangkap semuanya. Tak perduli siapa pun pelakuya.”
“Sebelum kamu tangkap mereka, kamu akan ditangkap duluan. Ha-ha-ha!” kata Rais sambil tertawa terbahak-bahak. Kak Enal dan Kak Basri ikut tertawa.
Saya tidak mengerti apa maksudnya. Tapi bagi teman-teman saya ini, bagi kami, kondisi di Mahalona Raya memang hanya bisa ditertawakan. Sebab kami menyaksikan semuanya dari tempat yang sangat dekat, namun nyaris tak sanggup melakukan apa-apa.
Tak ada yang begitu istimewa dengan Mahalona, dibandingkan daerah-daerah lainnya yang pernah saya kunjungi. Jika saya begitu antusias membuat tulisan panjang tentang daerah ini, itu lebih dikarenakan oleh sebuah rasa prihatin. Saya melihat Mahalona seperti sebuah wajah cantik yang penuh dengan luka-luka menganga. Ia dilukai dengan sengaja. Pada akhirnya yang tersisa dari kecantikannya hanya borok.
Saya berkunjung ke Mahalona pertama kali pada awal tahun 2016. Ketika itu, kami sedang mencari daerah atau desa terpencil yang miskin dan membutuhkan sumber listrik. Kami menawarkan bantuan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dari Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia). Lembaga tempat saya bekerja, JURnaL Celebes, adalah salah satu yang terpilih untuk menjalankan program dari MCA-Indonesia.
Desa Buangin adalah desa yang direkomendasikan oleh Pak Aswan Azis, Camat Towuti ketika itu. Kami kemudian menjalin komunikasi intens dengan Kepala Desa Buangin, Pak Rahmat, yang kebetulan adalah seorang mantan wartawan di Makassar. Ia pindah ke Luwu Timur selepas menikah belasan tahun silam. Dari Pak Rahmat, kami tahu bahwa desa tersebut memang punya potensi air yang cukup. Pada Februari 2016, kami datang ke sana untuk melihat potensi sungai; mengukur debit air dan ketinggian.
Mahalona, adalah nama sebuah desa di Kecamatan Towuti. Luasnya 409,41 kilometer persegi. Mahalona adalah desa terluas di Kecamatan Towuti. Ia mengambil porsi 19 % dari total luas kecamatan. Pada penghujung tahun 2012, Mahalona dimekarkan menjadi 5 desa: Tole, Kalosi, Libukang Mandiri, Buangin, dan Mahalona sendiri. Kelima desa tersebut kemudian disebut sebagai Mahalona Raya. Dari kelima desa tersebut, 3 desa di antaranya dijadikan pemukiman transmigrasi. Pasca pemekaran tersebut, Pemerintah Daerah mendatangkan transmigran dari Pulau Jawa dan Bali. Desa Mahalona dan Tole, yang tidak masuk kawasan transmigrasi biasa disebut desa tua.
Mahalona adalah sebuah daerah yang subur, bertanah merah gembur. Ia diapit oleh beberapa danau. Danau Matano, Towuti, Malili, dan Danau Mahalona. Barangkali kondisi ini yang membuat tanah Mahalona sangat subur. Orang-orang Mahalona adalah petani. Mereka mengolah sawah dan ladang. Namun awalnya, sebelum pertanian marak, para lelaki dewasa bekerja sebagai penebang kayu. Mereka memilih-milih kayu yang besar dan bagus di dalam hutan, menebang, lalu menyeretnya ke pemukiman. Kadang menggunakan arus sungai untuk memudahkan membawa kayu dari hutan. Di Towuti ada oknum pengusaha yang terkenal dan namanya selalu membuat keder saat disebut. Ada beberapa orang. mereka ini yang menadah kayu dari para penebang, dan menjadi kaya raya karenanya.
Sekitar tujuh tahun belakangan, pertanian merica jadi tren karena harganya yang sangat tinggi. Sekilo bisa mencapai Rp 150 ribu. Maka masyarakat Mahalona pun beramai-ramai berkebun merica. Ada yang menanam di lahan sendiri. Ada yang menanam di lahan yang masuk kawasan hutan. Ada yang memanfaatkan kondisi ini dengan membuka lahan, menanam merica dan memperjualbelikan lahan yang sudah ditanami. Lama kelamaan, nyaris tak ada lagi kawasan yang benar-benar masih tertutup pepohonan. Semuanya telah dibuka untuk pertanian merica. Sementara pembalakan hutan, tetap berjalan seperti biasa.
Saat keluar dari Mahalona minggu lalu, Pak Hidayat Sela yang akrab dipanggil Pak Opik, numpang di mobil kami. Ia salah seorang petani merica sukses di Desa Buangin. Sore itu ia hendak menengok kebun mericanya di Timampu namun tak sanggup menyetir sendirian. Timampu adalah sebuah desa di pinggir Danau Towuti, sekaligus jadi nama pelabuhan di sana. Saya dan teman-teman pakai mobil double cabin sewaan dari Malili. Mobil jenis lain tak bisa melewati jalanan ke Mahalona Raya. Hujan turun nyaris tiap hari. Jalanan macam kubangan. Becek dan berlumpur. Di beberapa bagian banyak genangan yang cukup luas dan dalam, mirip kolam. Sepanjang perjalanan, kami menemukan 4 unit truk mogok dan tenggelam di dalam lumpur. Sopir dan kernet terengah-engah mengangkat ban dengan tuas besi, agar bisa keluar dari kubangan lumpur.
“Tolol ki memang sopirnya. Sudah tahu jalanan rusak, masih nekat juga bawa muatan melebihi kapasitas,” ucap Pak Opik sambil menunjuk-nunjuk ke arah truk. Ia duduk di sisi saya di bak belakang mobil. Saya menggunakan kesempatan itu bertanya banyak hal.
Pak Opik punya lebih dari 2.000 pohon merica. Kebunnya berhektar-hektar. Tapi yang paling banyak ia ceritakan adalah yang di Timampu. Ada 700 pohon di sana. Saya bertanya seberapa besar penghasilannya tiap bulan dari berkebun merica. Ia bilang, dari 700 pohon dari kebun yang di Timampu itu, sekali panen ia terima Rp 270 juta. Dalam semusim, pohon merica berbuah selama 3 bulan penuh. Setiap bulan panen 2 kali. Setiap pohon bisa menghasilkan 5 kilogram setiap panen.
Saya enggan menanyakan penghasilan Pak Opik dari kebunnya yang lain. Yang di Timampu itu sudah cukup sebagai gambaran. Saya takut kepala saya jadi pening sendiri gara-gara sibuk menghitung-hitung penghasilan Pak Opik dari semua lahannya.       
Apa yang memotivasi Pak Opik berkebun merica?
Ia bercerita, yang membuat orang-orang Mahalona termotivasi berkebun merica adalah para petani di Bantilang. Itu adalah nama sebuah desa di Kecamatan Nuha, di tengah Danau Towuti. Desa ini bisa ditempuh dengan berperahu sejam lamanya dari Pelabuhan Timampu. Kata Pak Opik, ia pernah ke bank di kota kecamatan dan melihat seorang petani dari Bantilang di sana.
“Mereka tampak kotor. Penampilan semrawutan. Sepatu boot penuh lumpur. Pakaian petani. Tenteng kantong kresek hitam. Tapi begitu masuk bank, para karyawan di bank semua menoleh dan tersenyum padanya. Ia langsung menghempaskan kantong kresek itu di meja teller. Kantong kresek itu penuh berisi uang pecahan seratus ribuan. Sontak, seorang teller memanggil temannya yang lain untuk bantu hitung. Merica yang bikin mereka begitu,” kata Pak Opik.
“Apa kita tidak sakit hati, liat mereka?” tambahnya.
“Uang hasil penjualam merica itu mereka apakan?” tanya saya. Saya masih penasaran, bagaimana para petani yang umumnya tak punya keahlian manajemen keuangan memperlakukan uang yang mereka peroleh.
“Beli mobil,” jawab Pak Opik pendek.
“Mobil Pak Opik sendiri sudah berapa buah?”
“Baru empat,” jawabnya. Saya tertawa keras karena mengira ia bercanda. Kemudian saya jadi malu sendiri ketika menyadari Pak Opik sama sekali tidak bergurau soal punya mobil empat unit. “Tiga mobil off road, satu mobil grandong,” tambahnya.  Yang ia maksud mobil grandong adalah mobil yang jelek, setidaknya lebih jelek dibandingkan mobil-mobilnya yang lain.
Saat tiba di depan rumahnya yang sederhana di Timampu, ia berbasa-basi mempersilahkan kami mampir. Jika malam belum turun, barangkali saya akan benar-benar mampir karena penasaran melihat kebun mericanya. Di samping rumahnya terparkir sebuah mobil Toyota Avanza terbaru berwarna merah. Itulah yang dia sebut sebagai mobil grandong.

Jalan Panjang ke Mahalona
Menurut Kepala Desa Buangin, Pak Rahmat menilai, pertanian mericalah yang paling berkontribusi terhadap penggundulan hutan. Efeknya jauh melebihi illegal logging. “Illegal logging hanya mencari kayu besar. Sementara perkebunan merica tidak pandang itu,” ucapnya.
Apa yang disampaikan Pak Rahmat ada benarnya. Perkebunan merica tak pandang kayu besar atau kecil. Sebab kebun, membutuhkan tanah kosong. Segala pohon, tanpa pandang ukuran, dibakar hingga jadi abu. Sisa-sisa pembakaran akan membuat tanah jadi makin subur untuk kebun merica.
Cerita lain saya dapat dari Pak Alex. Ia juga punya lahan merica tapi tak banyak. Hanya 1 hektare lebih, yang sudah dipetak-petak, dibagi sama rata berdasarkan jumlah anaknya. “Uang merica itu panas, Pak. Memang sekali jual banyak, tapi nanti habis juga uangnya tak tau kemana. Hahaha,” Ucapnya.
Ketika saya bertanya tentang maraknya perusakan hutan, ia hanya bicara sedikit dan terlihat sangat hati-hati. “Nanti kalau kamu mau menulis sesuatu, jangan sebut nama saya. Saya masih mau hidup lama. Istri saya masih muda,” katanya setengah bercanda. Ia tertawa terbahak-bahak sambil menoleh ke istrinya yang saat itu sedang melintas dari teras menuju dapur.
“Kalau nanti ada bencana alam, yang paling kena adalah warga di sini kan?” kata saya.
“Yaaa. Itu saya tau. Tentu saja kami yang kena. Para perambah itu kan tinggalnya di luar.” Ia menghisap kreteknya sejenak sambil melanjutkan, “Itulah pemerintah. Kalau rakyat kecil seperti kami yang masuk hutan, kami dikejar tanpa ampun. Katanya hutan lindung, dilarang masuk. Tapi kalau orang berpangkat yang masuk buka kebun, dibiarkan saja. Kamu pikir pemilik lahan di atas sana siapa? Orang berpangkat, Pak!” saat mengucapkan kata ‘berpangkat’, ia memegang pundaknya, lalu kembali tertawa terbahak-bahak seolah apa yang diceritakannya adalah lelucon.
Saya tidak tahu siapa yang ia maksud dengan orang berpangkat. Juga tidak tahu tentang kebenarannya.
Pak Alex bilang, di Mahalona ada orang yang punya lahan sampai 500 hektare. Tapi saya tidak percaya. Saya tidak percaya ada orang punya lahan seluas itu. Saya tidak percaya sampai saya bertemu Mr. X.

Mr X
Pada 17 Agustus 2017, saya meminta Pak Adi menemani kami ke Danau Mahalona. Teman saya, Sharif, hendak bikin film dokumenter. Pak Adi bilang, bagus sekali jika ia ambil gambar danau sambil berperahu.
Danau itu berada di wilayah Desa Tole, desa pertama yang akan kita temui saat menuju Mahalona Raya dari Wawondula. Danau Mahalona merupakan muara dari beberapa sungai kecil di Mahalona. Air dari Danau Mahalona, mengalir ke Danau Towuti. Antara kedua danau itu, terdapat sebuah sungai yang tenang dan hening berwarna kehijauan. Di atas sungai itu terdapat sebuah jembatan. Jika kita telah melintasi jembatan tersebut, artinya kita telah tiba di perkampungan Desa Tole.
Pada 17 Agustus itu, kami berdiri di atas jembatan. Saya, Sharif, Wandi, dan Pak Adi. Kami melihat ke sisi sungai di bawah jembatan. Tampak beberapa orang sedang duduk di atas dahan sebuah pohon sambil memegang pancing. Ada seorang ibu dan anaknya sedang mencuci pakaian di bawah jembatan. Ada pula seorang pria berenang ke sana-ke mari sambil memegang tombak ikan. Juga ada sebuah perahu yang tertambat di tepian tapi tanpa pemilik. Kata Pak Adi, jika tidak dapat perahu, satu-satunya jalan ke Danau adalah dengan jalan kaki menyusur tepian sungai itu. Tapi itu berarti kita harus melintas di kebun Mr X.
Dari wajahnya saya tahu ia khawatir. Tantangan terberatnya bukan karena kami harus jalan kaki beberapa kilometer untuk ke danau, tapi karena kami harus melintas di jalan kebun milik Mr X. Pak Adi bilang, Mr X sudah memasang palang di jalan kebunnya. Orang-orang tak bisa lewat sana. Sebabnya, beberapa kali ia menemukan pemancing memotongi pelepah sawitnya untuk bernaung. Ia murka dan memasang palang kayu. Saya tau Pak Adi tak akan berani meminta izin melintas. Saya sendiri tak kenal Mr X. Tapi orang-orang selalu menyebut-nyebut namanya. Kemudian saya tahu, ia adalah salah satu orang terkaya di Towuti.
Kami sudah bermenit-menit berdiri di atas jembatan sambil menatap aliran sungai yang tampak menggoda direnangi. Pak Adi tak juga mengambil tindakan apa-apa. Banyak waktu kami habis di atas jembatan itu. Akhirnya saya berinisiatif turun ke sisi sungai di belakang perumahan penduduk. Di sana, saya duduk di atas sebuah tumpukan balok kayu, menunggu penombak ikan itu kembali ke tepi sungai. Saya hendak tanya soal perahu yang tertambat itu. Apakah ada pemiliknya dan bisa kami sewa?
Tapi penombak ikan itu tak kunjung kembali ke tepi. Ia malah makin bergerak ke tengah. Rupanya belum ada ikan yang berhasil ditombaknya. Saya tidak tahu apakah ia jadi lama karena belum dapat ikan, atau karena malu melihat saya duduk di tepi sungai. Sebab belakangan saya tahu, ternyata ia hanya berenang dengan kolor.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, saya beranjak dan kembali ke jalan, hendak kembali ke atas jembatan tempat teman-teman saya menunggu. Saya pikir, saya juga bisa bertanya pada warga. Tapi saya tidak melihat seorang pun di dalam rumah-rumah itu. Ada 3 buah rumah di sisi kiri jalan sebelum kita tiba di jembatan. Di sebelah kanan adalah perkebunan merica dan sebuah pondok kayu. Sepertinya pondok pekerja merica. Sebab di halaman pondok itu saya melihat seorang wanita sedang menjemur biji merica.
Saat tiba di jalan, saya melihat seorang pria tua berjalan beberapa meter di belakang saya. Saya sengaja memperlambat langkah agar bisa bicara padanya.
“Pak, saya mau tanya. Kalau mau jalan kaki ke danau, bisa lewat mana?” saya bertanya saat ia dekat, sambil terus berjalan.
“Kamu mau ke danau?”
“Ya, Pak.”
Ia menunjukkan jalan tanah di depan halaman pondok itu. Jalanan yang tembus ke hamparan ladang merica. Di gerbang jalan itu terdapat sebuah palang kayu yang dalam keadaan terbuka.
“Jauh lho kalau jalan kaki. Tidak pakai motor saja?”
“Memangnya motor bisa lewat Pak?”
“Bisa. Kamu berapa orang.”
“Empat orang, Pak.”
“Baik. Itu jalan punya saya. Kamu lewat saja. Tapi mampir dulu ke sini, biar saya kasih pengarahan,” katanya sambil berlalu menuju pondok itu. Hati saya riang. Saya memanggil teman-teman saya yang masih berada di atas jembatan. Mereka mendekat dengan cepat dan saya tuntun menuju pondok itu. Lima menit kemudian saya tahu bahwa pria itu, yang awalnya saya kira buruh pekerja merica, adalah Mr X.
Saya menapaki tangga kayu ke beranda pondoknya. Ia masuk ke dalam sebentar, kemudian keluar lagi. Ia duduk di sebuah kursi dan mempersilahkan saya untuk duduk dengan ramah. Di sela-sela jemarinya terselip sebuah rokok dengan asap mengepul. Saya duduk pada sebuah bangku kayu panjang di hadapannya dan teman-teman saya mengikuti. Di atas pondok kayu itu, kami duduk sekitar 30 menit. Ia banyak berbicara dan kami hanya jadi pendengar sambil mengangguk-angguk.
“Di belakang sana itu lahan saya,” ia membuka pembicaraan. “Saya sengaja pasang palang. Karena banyak pemancing yang masuk ke sana. Pohon sawit saya dirusak. Bahkan ikan di empang saya juga dipancingnya. Kalau kamu mau ke sana silahkan. Pemandangan di sana cantik. Pasir putih. Saya juga ada bikin permandian di sana. Mampir saja kalau mau.”
Mr X kemudian bercerita banyak soal Mahalona. Ia menceritakan awal mula pembukaan kawasan transmigrasi di sana.
Saya banyak mendengar bahwa pemekaran Desa Mahalona sarat nuansa politis. Nuansa politis macam apa, saya tak mengerti. Tapi hari itu, Mr X menuntaskan rasa penasaran saya.
“Dulu, waktu pilkada, saya bilang ke Pak Gubernur, ‘kalau Mahalona dimekarkan, saya jamin Bapak menang di Luwu Timur. Karena memang itu (pemekaran) yang diinginkan masyarakat. Tapi kalau tidak dimekarkan, saya tidak jamin.’”
Saya mencerna kata-katanya. Barangkali itu yang dimaksudkan orang-orang dengan ‘tujuan politis’. Mr X banyak bicara soal dunia politik. Ia memang berpenampilan seperti petani yang jauh dari dunia politik. Tapi dunia politik adalah dunia yang tak asing baginya. Dan satu lagi, ia salah satu orang terkaya di kecamatan itu. Barangkali bahkan di Kabupaten Luwu Timur. “Minggu lalu Pak NH ke rumah saya untuk konsultasi,” katanya lagi.
Saat matahari tepat berada di atas ubun-ubun, sepertinya ia tersadar bahwa kami sudah terlalu lama duduk di atas pondoknya. “Kalau mau berangkat sekarang, berangkat saja,” katanya kemudian. “Jangan lupa mampir lagi. Kalau kalian mau bakar-bakar ikan, ke sini saja,” katanya panjang lebar. Mr X punya empang. Mungkin ia ingin mengajak kami menangkap ikan dari empangnya jika memang kami benar-benar berminat dengan tawarannya. Tapi tentu saja tawaran itu sekedar basa-basi.
Turun dari tangga kayu pondok itu, kami mulai menyusur jalan setapak dengan sepeda motor. Ban motor melaju dengan tidak stabil. Jalanan licin. Di banyak bagian, ban motor tenggelam ke dalam lumpur. Saya harus turun dari boncengan dan mengangkat pantat motor untuk membebaskan bannya dari cengkeraman lumpur. Ketika tiba pada bagian genangan air yang luas, kami memarkir motor dan berjalan kaki. Genangan air cukup dalam, cukup merendam saya hingga lutut. Namun cukup jernih hingga kami dapat melihat rumput hijau kekuningan di dasarnya. Ini air genangan dari danau. Di dalam genangan air itu, tanaman kelapa sawit tumbuh berderet. Kurus dan tak subur. Mungkin area tepian danau yang penuh genangan ini tak cocok untuk sawit. Saya sama sekali tak melihat hamparan pasir putih di sana seperti yang dijelaskan Mr X.
Ketika saya menceritakan kepada Eko Rusdianto, teman saya yang seorang penulis dan wartawan lingkungan, ia bilang, sebentar lagi genangan air itu akan habis. Dan tepian danau itu akan menjadi kering kerontang. “Sawit adalah tanaman yang rakus air,” katanya. Konon bahkan sawit bisa membuat sungai-sungai jadi kering. Saya sendiri tak paham soal itu.
Barangkali sawit ini juga milik Mr.X. Baru saja ia bilang ia menanami lahannya dengan sawit dan merica. Tapi Pak Adi membantah. Ia bilang, kalau punya MR X, tanaman itu tak akan tampak menyedihkan. Katanya, Mr X adalah orang yang rapi. Dan disiplin. Bahkan saat menjejerkan bibit tanaman di kebunnya, ia sangat rapi. Tak ada sepohon pun yang keluar dari garis lurus jejeran tanaman. “Coba saja lihat jejeran tanaman mericanya,” katanya lagi.
Saat kembali dari danau, saya memperhatikan lahan merica di sisi kiri jalan. Benar saja. Tiang-tiang penyangga berderet dengan sangat rapi. Sama tinggi, sama besar. Pak Adi bilang, pernah suatu ketika Mr X punya pekerja yang tidak rapi dalam bekerja, maka ia akan langsung memecatnya.
Soal tepian danau yang penuh genangan itu, Pak Alex punya cerita lain lagi. Ia bilang, dulu tepian danau itu adalah tempat para buaya menyambut pagi. Mereka berjemur di sana, dan kembali ke air begitu matahari beranjak naik. Kadang juga jadi tempat mereka menyimpan telur-telurnya sebelum dierami. “Tapi itu dulu, saat hutan masih lestari. Sekarang juga masih tapi sudah jarang,” katanya.
Pak Alex tertawa geli saat saya bilang saya merasa prihatin dengan buaya-buaya itu. Mungkin ia pikir saya bergurau. Tapi saya tulus mengucapkannya. Terlepas dari mereka adalah jenis binatang buas yang seram dan bisa mematikan dalam sekejap, saya tetap merasa iba. Sebab sebagaimana manusia, mereka juga makhluk hidup yang butuh tempat berlindung. Jika hutan habis dirambah, danau jadi dangkal karena sedimentasi, air tercemar polusi, bukankah mereka juga akan merasakan merana dan putus asa? Saya takut buaya tentu saja. Tapi saya ingin mereka tetap hidup dengan damai tanpa terganggu kehadiran manusia.
Danau Mahalona, memang habitat bagi buaya. Dulu, sebelum manusia mulai banyak pindah ke Mahalona dan membangun kehidupan, konon mereka hidup beranak-pinak dengan gembira. Buaya sangat gampang ditemukan di pinggiran-pinggiran sungai dan danau. Dan mereka tidak mengganggu manusia. Ketika para penebang kayu menghanyutkan kayu di sungai, mereka selalu bertemu dengan buaya. Dan kedua makhluk berbeda jenis ini tak saling mengganggu, hidup harmonis di habitatnya masing-masing. Bahkan ada yang bilang, para penebang kayu menghanyutkan kayu gelondongan di sambil mendorong dari atas punggung buaya. Entah benar atau tidak, saya tidak tahu. Tapi di daerah-daerah pedalaman, kadang memang banyak hal yang tak mampu kita pahami dengan baik tanpa mencernanya.
Pak Alex bilang buaya tidak suka makan manusia. Buaya hanya makan binatang.
“Tapi selama ini?” ucap saya membantah.
“Jika buaya makan orang, artinya orang itu terlihat seperti binatang,” ucapnya serius.
Pak Alex bilang, tiap-tiap orang punya sifat binatang dalam dirinya. Pada sebagian orang, bahkan sifat binatang itu lebih dominan dari sifat manusianya.
Ini pelajaran baru yang saya dapat dari Pak Alex. Lelaki berkulit hitam dan berbadan kecil itu memang senang bercerita akan banyak hal. Dan saya sangat senang mendengar setiap ceritanya. Pak Alex senang menunjukkan banyak hal, terutama kepada orang yang baru datang ke desanya.
Suatu hari, ia mengajak saya berkunjung ke kebunnya. Kami menyusur jalan setapak, berjalan cukup jauh, membelah semak dan menyeberangi sebuah sungai kecil. Saat pulang, saya baru sadar bahwa sebenarnya ada jalan memotong yang jaraknya lebi dekat. Tapi bagi Pak Alex, semakin jauh jarak yang kami tempuh, semakin banyak hal yang bisa ia perlihatkan kepada saya.
Saat ini, sudah berbulan-bulan saya meninggalkan Mahalona. Kegiatan kami sudah selesai di sana. Tapi saya masih sering memikirkannya. Menyayangkan kesengsaraannya. Mahalona, dalam imajinasi saya, adalah sebuah wajah yang kini penuh luka-luka. Luka yang bisa dilihat kebanyakan orang. Tapi sisa-sisa kecantikan masih ada di sana. Saya membayangkan akan seperti apa wujudnya seandainya tempat indah itu tak pernah dirambah manusia.

Makassar, 07 Maret, 2018

Share:

0 komentar: