14 December 2016

Seorang Anak yang Menangis di Kaki Ibunya


Tulisan ini mungkin terlalu melankolis dan sok tahu. Tapi saya tidak tahan untuk tidak menuliskannya.

Sudah beberapa hari belakangan saya merasa terganggu. Saya terngiang-ngiang seorang gadis cilik yang menangis terisak-isak sambil memohon, “Jangan tendang saya! Jangan tendang saya!” Kenyataan bahwa saya mengenalnya namun tak mampu berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya dari penderitaan membuat saya tak dapat menahan tangis jika mengingat wajahnya yang berlelehan air mata. Percayalah, kau pun akan merasakan hal yang sama jika menyaksikan seorang anak yang kau kenal sejak masih berupa bayi merah disakiti seseorang, meski oleh ibunya sendiri. Saya tidak habis pikir, mengapa ada orang yang sanggup menyakiti anak-anak yang masih polos tanpa dosa.

Gadis cilik itu memang bukan darah daging saya. Ia bukan siapa-siapa. Tapi demi mendengar suaranya yang memelas dan memekik tertahan, saya memberanikan diri menuju ke sana, meraihnya dalam pelukan sementara seseorang masih berdiri di hadapannya siap melayangkan sapu. Ia menangis sambil mengelusi kulit pahanya yang meninggalkan bekas cubitan. Dan saya tidak tahan untuk tidak menangis menyaksikannya. Saya memang terlalu perasa terhadap anak-anak, sebab saya pernah merasakan menjadi anak-anak yang tak sanggup berbuat apa-apa untuk membela diri. 

Setelah kejadian itu, saya selalu memikirkannya. Entah bagaimana ia akan tumbuh. Bukan tentang kelak ia akan jadi apa. Hal-hal yang terlihat dengan kasat mata gampang diraih dan dimanipulasi. Yang saya khawatirkan adalah jiwa yang bersemayam di sana. Setiap hari menerima pukulan dan caci maki, bagi anak-anak akan menorehkan luka yang abadi. Bukan rasa sakit di permukaan kulit itu yang perlu dirisaukan. Dalam beberapa jam sakit di permukaan kulit akan sembuh. Tapi kenangan yang tersimpan tak akan terhapuskan hingga masa dewasa.

Oya, kau juga harus tahu. Disakiti oleh orang lain, rasanya tidak sesakit jika kita disakiti oleh seseorang yang justru kita harap dapat melindungi kita.

Tentang mengapa saya begitu mengkhawatirkannya, atau men-cap kelak ia akan tumbuh dengan jiwa yang tidak sehat, bukan karena saya merasa telah tumbuh menjadi seorang dengan emosi yang lebih stabil dan mapan. Saya hanya belajar dari pengalaman masa kecil. Ketika orang-orang dewasa di sekitar saya menilai saya hanya anak-anak yang tak tahu apa-apa, sementara mereka tidak tahu bahwa ingatan saya telah terbentuk terlalu dini dan saya sanggup mengingat setiap momen masa balita hingga detik ini.

Saya dapat mengingat bagaimana saya digendong ke sana-kemari, bertemu orang-orang yang gemas melihat saya, mencubiti pipi saya. Saya masih ingat bagaimana saya merasakan jengah pada mereka dan tak sanggup berbuat apa-apa karena saya bahkan belum bisa bicara. Saya tidak bangga dengan kekuatan ingatan masa kecil itu, tapi menyesalinya. Hingga kini, saya tidak bisa mengakrabkan diri dengan orang-orang yang familiar di masa kecil saya. Karena saya masih mengingat dengan jelas, di antara mereka siapa yang bersikap baik kepada saya. Saya bahkan bisa tahu dari sekedar melihat ekspresi wajah mereka.

Suatu ketika, entah berapa usia saya kala itu, saya berada di tengah para gadis-gadis remaja, dalam gendongan salah seorang sepupu. Salah seorang di antara mereka melontarkan pertanyaan, kira-kira kelak ketika saya dewasa, siapa yang lebih cantik antara saya dan kakak perempuan saya. Saya belum bisa bicara kala itu. Tapi saya masih ingat dengan jelas siapa yang menilai kakak saya lebih cantik dari saya, dan saya masih ingat bagaimana kala itu saya merasa sangat kesal padanya.

Beberapa tahun silam, salah seorang bibi, saudara bapak saya meninggal. Para keluarga berkumpul. Ketika saudara saya menelepon dan memberitahu, saya tak merasakan emosi apa-apa. Ia menyuruh saya pulang. Saya bilang, saya tipe orang yang tidak bisa berbohong. Kalau saya pulang, saya mesti ikut menangis di tengah orang-orang yang tengah berduka. Tapi saya tidak bisa menangis sebab saya tidak merasa sedih. Saya tidak pulang. Sebab, ia tak meninggalkan kesan apa-apa dalam masa kecil saya, seberapa dekat pun ikatan darah kami.

Seorang kenalan saya pernah menceritakan masa kecilnya. Ia tinggal di sebuah pedalaman dekat laut. Masa kecilnya, saban hari diwarnai dengan pukulan dan amarah dari orang tuanya. Ia harus menerima pukulan untuk hal-hal remeh, semisal bermain terlalu jauh atau terlambat pulang ke rumah pada sore hari menjelang malam. Kelak ketika ia dewasa, ketika teringat akan rumah dan orang tuanya, hal yang melintas pertama kali dalam kepalanya adalah kenangan menyakitkan tersebut. Semuanya memang sudah lama berlalu. Seiring masa dewasanya, sikap orang tuanya telah berubah. Tapi ingatannya masih begitu jelas. Dan semua ingatan masa kecilnya itu, membuat ia tak ingin pulang ke rumah. Ia lebih senang berada di tempat yang jauh, menjalin pertemanan dengan orang-orang baru. Ia hanya pulang sesekali. Kadang saat lebaran, kadang saat mendengar kabar orang tuanya sedang sakit.

Ketika ia menjalin hubungan dengan seorang pria, ia menjadi sosok yang pemarah dan kerap berbuat kasar pada pasangannya. Semacam melempar barang-barang atau berkata kasar. Ia bilang pada saya, ia sadar bahwa tindakannya salah. Tapi itulah gambaran yang ada di kepalanya tentang kedua orang tuanya. Ia tidak bisa menghindar, tidak bisa menolak. Potret keluarganya di masa kecil telah mempengaruhinya di masa dewasa.
Seorang psikolog berkata, anak adalah peniru ulung. Dan orang tua, adalah role model mereka.  perilaku orang tua mereka di masa kecil secara otomatis akan tercetak dalam kepala mereka. Dan ingatan itu, juga secara otomatis akan membentuk mereka menjadi seperti apa yang mereka lihat. Sebagian besar—seperti teman saya tadi—sesungguhnya sadar bahwa contoh yang diberikan orang tuanya salah. Tapi ingatan mereka role model itu telah mereka ikuti sejak kecil. Dan mereka tidak sanggup mengendalikan diri. Tidak sanggup menolak apa yang telah terekam dalam otak sejak kecil.

Masih dengan tema yang sama, saya pernah membaca sebuah artikel (atau buku, saya lupa) psikologi yang mengatakan: seseorang yang memiliki orang tua buruk, dan sanggup mengendalikan diri dengan tidak meniru pola asuh orang tuanya tersebut terhadap anak-anaknya sendiri, sesungguhnya adalah orang yang memiliki pengendalian diri yang luar biasa. Orang tua yang bisa belajar dari pengalaman buruk di masa kecilnya, alih-alih menirunya, adalah pribadi yang istimewa. Dan hanya sedikit yang dapat melakukannya.

Saya pernah melakukan ‘riset’ kecil-kecilan. Saya mengamati orang-orang di sekitar saya (anak-anak, teman, keluarga) yang tumbuh dengan perilaku kurang baik (dari segi sikap, moral, dan mental). Tentu saja saya sekedar iseng dan saya tidak punya kapasitas dalam hal ini. Saya menemukan bahwa anak-anak yang berperilaku kurang bagus, umumnya hidup dalam keluarga yang tidak sehat. Saya menemukan bahwa orang yang berperilaku buruk dan cenderung kasar terhadap anaknya, biasanya mengalami hal serupa semasa kecilnya.

Itulah yang saya takutkan pada gadis cilik itu. Saya takut ia akan tumbuh dengan jiwa yang tidak sehat. Naluri saya mengatakan bahwa anak dengan jiwa yang terluka akan tumbuh dengan mental yang tidak sehat. Mereka bisa jadi penyendiri, pemalu, tidak bisa bergaul, tidak bertanggungjawab, dan tidak percaya diri. Mereka akan tumbuh menjadi jiwa yang tidak utuh.

Menjadi orang tua memang tidak mudah. Hanya orang tua yang sabar yang mampu melahirkan anak-anak yang berjiwa sehat dan berprestasi. Dan sedikit sekali orang tua yang seperti ini. Itulah sebabnya anak-anak yang berhasil dengan cita-citanya dapat dihitung dengan jari tangan. Sebagian besar gagal, dan menghasilkan anak-anak yang stres dan menjalani hidupnya mengikuti arus. Tidak percaya diri pada kapasitas yang dimilikinya.

Terkadang, orang tua terlalu dini menuntut anak-anak mereka menjadi ‘sesuatu’. They forced their children to do ‘cool things’, but they don’t show the way. Akibatnya anak-anak akan kebingungan. Mereka tidak bisa melakukan apa yang baik menurut mereka sendiri. Mereka tidak sadar bahwa jiwa anak-anak butuh waktu untuk menjadi matang. Mereka butuh waktu untuk bermain-main hingga menemukan jalan sendiri, kelak akan menjadi apa.

Percayalah, jika kau membiarkan anak-anakmu tumbuh bahagia, menikmati masa kecil yang bahagia tanpa bentakan, kelak kau akan melihat mereka menjadi sesuatu. Ajarkan mereka menyanyikan lagu ‘balonku ada lima. Biarkan mereka bermain hujan-hujanan di halaman berumput. Sesekali izinkan mereka berkelahi dengan teman sekelas.

Frederick Douglass, seorang yang tak saya kenal namun saya anggap ia bijak pernah berkata, “It is easier to build strong children than to repair broken men". Jika anak-anakmu tumbuh dengan jiwa yang rusak, akan sangat terlambat untuk memperbaikinya.

Oya, ketika saya menuliskan semua omong kosong ini, saya hanya seorang perempuan single yang belum pernah merasakan menjadi orang tua. Tapi saya belajar dari hal-hal kecil yang saya lihat dan saya sangat mencintai senyum anak-anak.

Hal-hal sepele membuat saya paham betapa kita orang-orang dewasa harus memelihara jiwa anak-anak dari amarah, seberapa marah pun kita. Sebab kebersamaan, sifatnya hanya sementara. Kenanganlah yang abadi. Saya selalu berusaha sedapat mungkin menjaga ingatan anak-anak kecil tentang saya. Semoga, kelak ketika dewasa, saya meninggalkan kenangan manis di kepala mereka. Dan saya berjanji kelak jika saya menjadi seorang ibu, saya akan melahirkan anak-anak yang selalu merindukan rumah.


Makassar, 2016
Sambil mendengarkan ‘7 Years’-nya Lukas Graham
Share:

0 komentar: