18 December 2015

Mendambakan Pebisnis Sosial di Indonesia


Pada suatu waktu, dulu, saya pernah begitu berambisi menjadi pebisnis. Alangkah menyenangkannya punya usaha sendiri, mempekerjakan sejumlah orang dengan gaji rendah, dan rupiah pun mengalir ke dalam kantong sendiri. Kelak dengan bisnis yang saya jalankan, saya bisa membeli apa saja. Mobil seharga 1 Miliar, rumah eksotis berhalaman luas, dan apa pun yang bisa melambangkan saya sebagai pebisnis sukses. Saya juga tidak akan lupa beramal tentu saja. Secara rutin, pada waktu yang telah saya  tentukan, saya akan mengunjungi rumah yatim, memberi beasiswa pada anak-anak miskin, atau membagi-bagikan kotak makanan pada anak-anak jalanan.
Saya memulai ambisi itu dengan rajin mengikuti pelatihan dan seminar tentang bagaimana memulai bisnis. Misalnya, bagaimana trik-trik untuk menjual barang dagangan. Ini bagian tersulit. Sebab saya tipe orang yang paling tak tahan melihat orang memelas. Jika saya menjual sesuatu dan calon pembeli mulai memelas, saya tidak tahan.
Para pemateri dalam seminar-seminar itu, yang konon saat ini bisnisnya sudah beromzet miliaran dan sudah pernah mengalami kebangkrutan berkali-kali lantas bangkit lagi (konon ini adalah pembuktian kesuksesan sebuah bisnis), saya menyaksikan betapa mereka gigih dan keras. Betapa mereka ulet melakukan promosi. Segala kemampuan dikeluarkan untuk menjual produk yang mereka buat.
Pada sekali kesempatan, saya mengikuti sebuah seminar yang dibawakan seorang pengusaha yang sekaligus menjual buku-buku. Ia menjual buku tentang pengalaman yang telah ia jalani hingga menjadi seorang pebisnis handal. Buku dengan judul-judul semacam: 7 Jurus Jualan di Medsos, Jurus Marketing, dan jurus-jurus lainnya. Buku-bukunya tipis saja, kecil pula, tapi harganya selangit (bagi orang pas-pasan seperti saya). Antara 300 ribu hingga 700 ribuan. Saya membayangkan, buku-buku bagus di toko buku dengan tebal 5 kali lipat harganya cuma berkisar Rp 100-150 ribu. Biasanya, sebelum bukunya ditulis, promosinya sudah dilakukan duluan lewat internet. Kalau banyak yang pre-order, barulah bukunya benar-benar ditulis.
Tapi barangkali itu memang jenis buku yang sangat berharga dan bernilai tinggi, terutama bagi orang-orang yang tergiur menjadi pengusaha beromzet miliaran. Bagi mereka, pengalaman-pengalaman yang tertuang dalam buku tipis itu bak harta karun. Harus segera dimiliki, agar kesuksesan yang empunya bisa segera menular. Tapi harga setinggi itu tentu tak akan sanggup dibeli oleh mahasiswa-mahasiswa yang untuk makan saja seringkali harus berhemat akibat uang bulanan yang selalu datang terlambat. Saya jadi berpikir, sebegitu mahalkah membagi pengalaman berharga dalam sebuah buku kecil itu?
Belakangan saya sadar, saya tidak bisa menjadi bagian dari mereka. bukan berarti mereka adalah komunitas yang tidak baik. Mereka baik tentu saja, dan punya peranan besar dalam menggerakkan roda perekonomian di Indonesia. Tapi jika saya sendiri yang melakukannya, hati kecil saya berontak. Ada rasa bersalah ketika saya melakukan berbagai upaya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya untuk diri saya sendiri. Sementara di banyak tempat yang saya kunjungi, saya menemukan banyak orang yang tak punya kesempatan mengikuti seminar wirausaha, orang-orang yang sakit tapi tak punya uang untuk berobat, yang terusir dari rumahnya karena tanahnya dirampas pengusaha rakus, anak-anak yang memilih tak sekolah (meski gratis) karena lebih memilih mencari nafkah agar keluarganya bisa makan, dan orang-orang yang tak mungkin bisa membeli sebuah buku kecil bertajuk Jurus Sukses Jadi Pebisnis. Dan percayalah, orang seperti ini di Nusantara, jumlahnya jauh lebih banyak. Dan kehidupan mereka tak akan berubah dengan sekedar sumbangan ala kadarnya dari para pengusaha dan perusahaan yang mencari citra baik. Saya mematikan ambisi itu. Jika menjadi pengusaha adalah satu-satunya cara menjadi kaya raya, barangkali memang ada orang yang tidak ditakdirkan menjadi kaya. Dan saya adalah salah satu di antaranya.
Saat kemudian saya bertemu dan berkenalan dengan Muhammad Yunus lewat bukunya yang berjudul Bisnis Sosial, ambisi itu kembali. Muhammad Yunus adalah seorang warga negara Bangladesh. Pada tahun 2006, ia menerima penghargaan Nobel Perdamaian atas langkah-langkah yang ia lakukan untuk mengurangi kemiskinan di Bangladesh. Siapa yang tak kenal Bangladesh? Ia adalah sebuah negara miskin di Asia Selatan yang penuh dengan pengangguran, orang-orang miskin, dan wabah penyakit. Tapi sesial-sialnya Bangladesh, negara yang tingginya hanya 1 meter dari atas permukaan laut itu, ia adalah sebuah negara yang beruntung karena memiliki seorang warga jenius bernama Muhammad Yunus.   
Pasca krisis keuangan global pada 2008, Bangladesh adalah salah satu negara yang merasakan imbasnya. Jumlah orang miskin dan pengangguran meningkat. Hal semacam ini kemudian dimanfaatkan oleh lintah darat, yang memberi pinjaman kepada orang-orang miskin dengan bunga tinggi. Meminjam kepada bank adalah sesuatu yang mustahil, sebab mereka mensyaratkan agunan dan menganggap orang miskin tak akan pernah sanggup mengangsur pinjaman. Prihatin dengan apa yang terjadi di negaranya, Yunus membentuk sebuah bank yang fokus memberi kredit mikro bagi orang orang miskin di Bangladesh. Namanya Grameen Bank.
Grameen Bank telah membuktikan bahwa anggapan bank-bank besar bahwa orang miskin tak bisa membayar sangsuran salah besar. Grameen Bank bahkan berani memberi pinjaman untuk para pengemis. Dalam seketika, ribuan pengemis beralih menjadi pedagang kecil-kecilan. Dan diakui Yunus, sebagian masih tetap mengemis dengan menjadikan berdagang sebagai pekerjaan sampingan. Yang ajaib, ternyata orang-orang miskin ini bisa membayar angsuran tepat waktu.
Yunus juga memberdayakan nasabah Grameen Bank yang kebanyakan perempuan. Mereka diberi pekerjaan lewat anak usaha Grameen yang lain. Sejauh ini, Grameen telah melakukan kemitraan dengan banyak perusahaan besar dunia, dengan tujuan mengurangi dampak kemiskinan di Bangladesh. Ia misalnya, bekerjasama dengan Adidas untuk membuat sepatu dengan harga terjangkau agar semua anak-anak miskin di Bangladesh bisa memiliki sepatu. Sebab penyakit parasit, seperti cacing, biasanya masuk ke dalam tubuh melalui kulit, terutama di kaki. Ia juga bekerjasama dengan sebuah perusahaan air minum, Veolia Water, untuk menyediakan air bersih bagi warga sebuah desa yang sumber airnya terpapar racun arsenik. Untuk anak-anak yang tidak mampu, ia mendirikan sekolah keperawatan, dengan sistem pembayaran uang sekolah melalui pinjaman dari Grameen Bank.
Yang unik, Yunus tak memberikan semuanya secara cuma-cuma. Semuanya berlatar bisnis. Yunus percaya bahwa segala yang diberikan secara gratis, melalui badan amal, yayasan, maupun LSM, selalu tidak berkelanjutan dan tidak memberi manfaat dalam jangka panjang. LSM misalnya, bekerja dengan menggunakan dana dari sebuah badan amal. Pada saat hibah terhenti, maka program akan terhenti pula. Sebaliknya dalam sebuah bisnis sosial, bisnis akan terus dikembangkan dan laba yang diterima sepenuhnya dipergunakan untuk memberdayakan masyarakat miskin. Tidak ada pembagian dividen untuk investor.
Grameen Bank yang didirikan Muhammad Yunus telah memberikan dampak besar bagi perkembangan perekonomian kelas bawah di Bangladesh. Sistem kredit mikro ini pun ditiru di berbagai negara. Bank di Indonesia misalnya, berlomba melakukan promosi tentang pemberian kredit mikro untuk petani dan nelayan, kredit dengan bunga kecil yang tanpa agunan. Namun yang terjadi di lapangan sangat jauh berbeda. Dalam perjalanan saya ke berbagai tempat di Sulsel dan mengobrol dengan komunitas masyarakat, tak ada pinjaman yang sama sekali tanpa agunan dari bank. Yang tak kalah menjengkelkan, bank tidak bersedia memberi pinjaman kepada kaum perempuan (ibu rumah tangga) tanpa persetujuan suami. Bahkan, meskipun perempuan ini memiliki penghasilan sendiri, meskipun ia adalah pencari nafkah dalam keluarga. Hal ini bertolak belakang dengan Grameen Bank yang justru memberi perhatian khusus dan memprioritaskan perempuan. Di satu sisi, Grameen dan semua anak perusahaannya juga sangat memperhatikan dampak lingkungan.
Di Indonesia akankah kita menemukan seorang social enterpreneur? Akankah kita suatu akan terkesima dengan sebuah berita tentang sosok pebisnis yang menggunakan seluruh laba yang diperoleh perusahaannya untuk mengentaskan kemiskinan? Alih-alih hanya tentang perusahaan rakus yang terus memperluas lahan perkebunan dengan membabat hutan dan melepaskan jutaan ton karbondioksida ke atmosfer, dan membuat rakyat Indonesia menderita?

  
Share:

0 komentar: