19 November 2015

Pemberontakan Perempuan Bali dalam Novel Tarian Bumi

Tarian Bumi, novel yang ditulis Oka Rusmini

Saat para perempuan sudra[1] rela melakukan apa saja demi menaikkan kastanya, Ida Ayu Telaga Pidada justru melakukan hal sebaliknya. Ia membuang gelar Ida Ayu—gelar untuk perempuan berkasta Brahmana[2]--demi bisa menikah dengan Wayan Sasmitha, seorang pelukis yang dicintainya sejak umur 10 tahun. Di griya, Telaga merelakan kakinya diinjak, orang-orang Brahmana membasuh kaki di atas kepalanya, sebagai rangkaian upacara melepaskan gelar kehormatannya. Sejak saat itu, namanya menjadi Luh Telaga, bukan lagi Ida Ayu Telaga.
Lahir sebagai perempuan dalam masyarakat dengan strata sosial bertingkat-tingkat bukan main sakitnya. Itulah yang dirasakan para tokoh perempuan yang diciptakan Oka Rusmini dalam novel Tarian Bumi ini. Mereka hanya bisa bergaul dengan yang memiliki kasta setara. Wanita Brahmana menikahi pria Sudra adalah aib tak tertanggungkan. Sebaliknya, jika wanita sudra menikahi pria brahmana, kastanya, juga kasta anak turunannya akan berubah jadi brahmana. Status sosial anak-anak ditentukan oleh kasta sang bapak. Perempuan bukan apa-apa selain sekedar pelengkap hidup.
Hal ini yang menjadi pertimbangan Ni Luh Sekar, ibu Telaga, sehingga rela melakukan apa saja agar bisa menikah dengan laki-laki Brahmana. Dengan menikahi laki-laki Brahmana yang kaya raya, kelak anaknya juga akan lahir sebagai perempuan Brahmana. Kelak anak-cucunya akan memiliki posisi terhormat di tengah masyarakat.
Ia bahkan tak perduli meski laki-laki Brahmana yang ia nikahi itu—Ida Bagus Pidada—adalah seorang laki-laki yang sehari-hari menghabiskan waktu untuk mabuk dan tidur dengan pelacur. Sekar tak perduli. Sebab yang terpenting adalah status sosial. Ia juga tak perduli meski ibu mertuanya membencinya setengah mati.
Telaga adalah potret seorang perempuan pemberontak dalam masyarakat Bali yang digambarkan Oka Rusmini dalam novelnya ini. Ia memberontak pada sistem strata sosial yang mengharuskan ia menikah dengan laki-laki yang memiliki kasta setara dengannya. Ia meninggalkan rumah yang bergelimang harta, menanggalkan perhiasan dari tubuhnya, pakaiannya yang bagus-bagus, dan memasuki rumah Wayan Sasmita, membiasakan diri meniup bara api di depan dapur.
Pemberontakan perempuan yang digambarkan Oka Rusmini dalam novel ini bukan hanya tentang Telaga. Ada banyak perempuan lain yang akhirnya memilih jalan sendiri, tidak mengikuti sistem dan norma yang berlaku dalam masyarakat Bali. Luh Kenten, sahabat ibunyan Telaga, memilih untuk tidak pernah mencintai laki-laki, dan menyadari justru ia jatuh cinta pada perempuan. Pada sahabatnya, Luh Sekar (ibunya Telaga).
Ada Luh Kambreng, seorang penari luar biasa yang berkali-kali mendapat piagam penghargaan. Tapi ia menyadari bahwa ternyata setumpuk piagam tak membuatnya banyak uang, ia merobek-robek piagam tersebut untuk menutupi gubuknya yang bocor. Luh Kambreng menolak cinta seorang pria bule saat menyaksikan bagaimana sahabatnya mati bunuh diri setelah tubuhnya dieksploitasi oleh suami bulenya untuk objek lukisan.
Saya rasa, menulis novel ini adalah cara Oka Rusmini memberontak pada kekuasaan laki-laki yang selalu mendominasi perempuan dalam semua hal. Tak sedikit pun Oka menggambarkan laki-laki sebagai makhluk terhormat dalam novel ini. Ia bercerita bahwa, segala penderitaan perempuan bersumber dari ulah laki-laki. Laki-laki digambarkan sebagai sosok yang tak punya tanggung jawab terhadap keluarga dan hanya bisa hura-hura. Mereka senang menggoda perempuan cantik, malas, dan berpikir bahwa perempuan terbaik untuk dinikahi adalah yang kuat dan pekerja keras, sehingga para suami bisa berleha-leha di rumah.
Saya tak begitu paham budaya Bali. Saya tak tahu apakah apa yang digambarkan Oka Rusmini tentang laki-laki Bali sama persis dengan apa yang ada dalam novel ini. Oka seolah memandang semua laki-laki sama saja. Ia seolah menulis sambil menahan amarah terhadap laki-laki, semua laki-laki. Namun bagaimana pun, saya pikir, tak semua laki-laki punya karakter buruk seperti para laki-laki dalam Tarian Bumi. Di dunia nyata pun, tak semua laki-laki jahat. Di novel ini, hanya ada satu laki-laki Ida Bagus Pidada, kakek Telaga. Tapi kebijaksanaan itu toh ternodai juga dengan ulahnya meniduri menantunya sendiri (meski hanya desas-desus dan tidak dijelaskan lebih jauh apakah benar atau tidak).
Oka Rusmini punya kesempatan lain untuk menjelaskan bahwa di antara sekian banyak laki-laki jahat, ada juga laki-laki yang baik dan menghargai perempuan. Dia adalah Wayan Sasmitha, yang berani menerobos segala norma budaya demi cintanya pada Telaga. Tapi Oka Rusmini bahkan tak menjelaskan lebih jauh tentang karakter Wayan. Ia hanya menggambarkan tokoh Wayah sebagai seorang pelukis berbakat yang mati muda setelah menikahi Telaga. Alangkah sayangnya.
Di sisi lain, Oka menggambarkan perempuan-perempuan Bali sebagai sosok yang pemberani, kuat, dan pekerja keras. Ada Ibu Sekar misalnya, yang gigih berjuang seorang diri demi anak-anaknya. Ia bahkan dengan tulus membesarkan dua anak kembar yang lahir dari hasil pemorkosaan terhadap dirinya.
Ada Luh Sekar, yang dengan gigih berjuang demi bisa menjadi penari. Meski pada saat itu, ia diremehkan karena statusnya sebagai perempuan Sudra. Ada Luh Kambreng yang meski dikenal sebagai penari berbakat, tak mau menggunakan kemampuannya untuk mencari uang.
Tapi di antara perempuan-perempuan pemberani itu, ada sosok perempuan berani lain yang digambarkan secara setengah-setengah. Dia Luh Kenten, sahabat Luh Sekar. Kenten menolak jatuh cinta pada laki-laki. Ia malah jatuh cinta pada Sekar, namun takut menyampaikan cintanya, dan takut pada pandangan masyarakat umum tentang orientasi seksualnya.
Tarian Bumi adalah sebuah novel dengan tema yang menarik. Tapi bagi saya, novel ini belum tuntas. Banyak hal yang masih perlu dijelaskan.
Apa yang terjadi setelah Sadri (saudara ipar Telaga) meminta bagian tanah warisan pada ibunya? Apakah ia berhasil membawa Putu Sarma datang kepada ibunya?
Apa yang terjadi setelah Putus Sarma menggoda Telaga dan ternyata Telaga menyukai godaan itu? Apakah ia akhirnya akan benar-benar tergoda atau tetap setia pada suaminya yang telah mati?
Apa yang terjadi setelah Telaga melepaskan statusnya sebagai perempuan Brahmana?
Tusuk konde itu... dari mana dan untuk apa nenek Telaga mewariskannya?
Jika saja Oka Rusmini menuliskan novel ini dengan cara yang lebih terperinci dan mengalir, dengan perbincangan yang tidak kaku dan lebih hidup, Tarian Bumi akan jadi sebuah novel yang sangat indah.   




[1] Kasta terendah dalam strata sosial di Bali
[2] Kasta tertinggi dalam strata sosial di Bali 
Share:

0 komentar: