08 November 2015

Cat’s Eye: Dengan Siapa Engkau akan Minum Teh dan Tertawa di Hari Tua?

Cat's Eye, novel yang ditulis Margaret Atwood

This is what I miss, Cordelia: not something that’s  gone, but something that will never happen. Two old women giggling over their tea.
Elaine sadar bahwa ia merindukan Cordelia, teman masa kecilnya. Bahwa dengan Coordelia-lah seharusnya ia menjalin persahabatan hingga tua. Tapi Cordelia menghilang. Dan sebuah penyesalan merayap pelan dalam sanubarinya. Seandainya dulu ia menolong Cordelia, barangkali hingga di usia senjanya kini, keduanya masih berteman.
Kembali ke Toronto, Elaine seakan dipaksa untuk kembali mengingat semua kenangan masa kecilnya di kota itu. Tentang rumah orang tuanya di sisi jalan berlumpur, tentang bukit dan jembatan tempat ia sering bermain, dan tentang teman-temannya: Cordelia, Carol, dan Grace.
Memiliki orang tua seorang peneliti biologi membuat Elaine tak memiliki teman. Orang tuanya tidak memiliki tempat tinggal tetap. Bersama kakanya Stephen, mereka hidup berpindah dari hotel ke hotel, dari hutan ke hutan. Mengamati ulat, katak, dan segala hewan yang menarik perhatian ayahnya.
Ketika akhirnya ia memasuki usia sekolah dan orang tuanya memutuskan membeli rumah sederhana di Toronto, Elaine sangat senang. Satu hal yang telah lama diimpikannya sepertinya akan segera terwujud: teman perempuan. Ia sudah bosan bermain dengan Stephen, kakaknya satu-satunya. Impian Elaine terwujud saat ia akhirnya bertemu Cordelia, Carol, dan Grace. Ia menyayangi ketiganya. Mereka bermain bersama dan saling berkunjung ke rumah masing-masing. Dan Elaine akan rela melakukan apa pun demi mereka, karena mereka adalah teman-temannya.
Saat mengetahui bahwa Elaine dan keluarganya tak pernah berkunjung ke gereja, keluarga Smeath (Carol Smeath) berinisiatif mengajaknya untuk ke gereja bersama. Orang tua Elaine yang atheis karena menganggap agama hanya memecah-belah persaudaraan sesama manusia, tidak keberatan. Dan akhirnya, setiap Minggu Elaine rutin ke gereja bersama keluarga Smeath.
Persahabatan Elaine dan teman-temannya mulai terasa aneh ketika Cordelia muncul. Cordelia menjelma sebagai ketua geng yang kerap menyuruh Elaine melakukan hal-hal aneh. Cordelia menggali lubang dan meminta Elaine masuk ke dalam lubang tersebut lalu meninggalkannya. Elaine sering menyalahkan Elaine atas hal yang tak ia pahami. Caranya berjalan, caranya bersikap, caranya berbicara, dan semuanya. Singkat kata, Elaine sangat buruk di mata teman-temnnya. Elaine tak protes, sebab ia menganggap bahwa mereka adalah teman terbaik yang ia punya. Lagipula, teman-temannya tak pernah mempermalukan dirinya di depan orang lain. Segala tentang itu hanya diketahui anggota geng.
Suatu hari, saat berkunjung ke rumah Carol, Elaine mendengar percakapan Mrs Smeath di dapur mereka. Elaine sadar, bahwa semua perlakukan buruk yang dilakukan teman-temannya terhadapnya adalah sepengetahuan keluarga Smeath yang taat dan rajin ke gereja. Semuanya terjadi atas perintah Mrs Smeath yang menurut ia, sebagai hukuman dari Tuhan karena keluarga Elaine tidak pernah ke gereja. Peristiwa itu membuat Elaine membenci Mrs Smeath.
Ia menyadari bahwa ketiga temannya bukan teman yang baik, ketika suatu sore di musim dingin mereka memaksa Elaine turun ke bawah jembatan untuk mengambil topinya yang jatuh, lalu meninggalkannya sendiri. Elaine tak sanggup kembali ke atas dan nyaris mati keidinginan. Kesadaran itu membuat ia menjauhi teman-temannya dan mencari teman lain.
Persahabatan mereka benar-benar putus hingga lulus sekolah. Saat menginjak bangku SMA, Elaine harus berteman kembali dengan Cordelia, yang dikeluarkan dari sekolah lamanya dan terpaksa masuk ke sekolah Elaine. Elaine tak keberatan dan tak pernah mendendam. Ia sudah melupakan perlakuan buruk Cordelia di masa kecilnya. Tapi perlahan ia kembali menjauhi Cordelia, saat menyadari bahwa Cordelia adalah anak yang sama sekali tak punya keinginan belajar. Karakter dan kecerdasan keduanya sangat bertolak belakang.
Pertemuan terakhir antara Elaine dan Cordelia terjadi di sebuah cafe ketika Cordelia meminta bantuan Elaine. Cordelia ingin Elaine menyelamatkannya dari sebuah rumah, tempat ia ditahan karena disangka gila. Ia ingin Elaine mengeluarkan ia dari tempat itu atau meminjamkannya uang. Tapi Elaine tak bersedia melakukannya. Hingga ia sadar, beberapa bulan kemudian saat mengirim surat untuk Cordelia, suratnya dikembalikan. Cordelia sudah tidak ada di tempat itu.
Pertengkaran dengan suaminya Jon membuat Elaine pindah ke Vancouver. Saat kembali ke Toronto untuk pameran lukisan-lukisannya, ia setengah berharap mendapat kejutan: bahwa Cordelia akan muncul tiba-tiba di tengah gedung pameran. Atau tiba-tiba meneleponnya untuk mengabarkan bahwa ia melihat Elaine, sang pelukis terkenal, di koran. Tapi Cordelia sudah benar-benar hilang. Dan ia kembali menyesal. Seandainya dulu ia menolong Cordelia...
Margaret Atwood menulis Cat’s Eye dengan narasi yang sangat mengagumkan. Ia bercerita dengan alur maju-mundur, dengan irama yang tenang tapi tajam. Tak ada peristiwa yang mencengangkan di ending novel ini. Tidak ada kejutan yang luar biasa. Sang tokoh utama, Elaine, memang sudah sadar bahwa Cordelia, sahabatnya satu-satunya, telah hilang darinya.  Ia sekedar mengajak pembaca ikut menguliti masa kecilnya, atau sekedar memberitahu bahwa ia pernah punya teman baik bernama Cordelia.
Poin utama yang ingin ia sampaikan kepada pembaca, akhirnya tersampaikan di bagian ending: This is what I miss, Cordelia: not something that’s  gone, but something that will never happen. Two old women giggling over their tea. Ketika itu ia dalam perjalanan dari Toronto kembali ke Vancouver dan melihat dua orang tua di atas pesawat. Dua sahabat yang sangat akrab. Elaine membayangkan kedua orang itu adalah dirinya dan Cordelia.
Bagi saya, satu hal yang disayangkan dalam novel ini adalah bagaimana pandangan Elaine terhadap gubungan antara laki-laki dan perempuan. Ia seperti tak memiliki pendirian tetap tentang percintaan. Misalnya, ia mencintai dua pria dalam sekali waktu. Ia menjalin hubungan dengan Josef Hrbik, gurunya, dan Jon, temannya. Sementara ia tahu bahwa Josef juga menjalin hubungan dengan teman perempuannya yang lain, Susie. Ia akhirnya menikah dengan Jon karena hamil. Mereka mulai bertengkar saat anaknya lahir, hingga Elaine pindah ke Vancouver dan menikah dengan Ben. Tapi saat kembali ke Toronto untuk pameran lukisannya, ia secara sadar kembali tidur dengan Jon. Atau barangkali, seperti ini pulalah pandangan Atwood tentang bagaimana hubungan laki-laki dan perempuan: Tak ada komitmen, dan tak ada salahnya tidur dengan lelaki lain jika ada kesempatan, meski ada laki-laki lain yang menunggumu di tempat lain.
  


   
Share:

0 komentar: