29 October 2015

Menertawakan Orang-orang yang Gila Gelar


Salah seorang teman kost saya seorang mahasiswa pascasarjana di salah satu universitas swasta di Makassar. Ia juga bekerja sebagai  dosen di sebuah yayasan, di sebuah kabupaten berjarak 4 jam perjalanan dengan mobil dari Makassar. Ia bekerja dari Senin hingga Rabu, dan selebihnya menghabiskan waktu di Makassar untuk kuliah. Ia datang ke Makassar setiap Rabu, meski ia bilang, ia kuliah hanya dua hari dalam seminggu, setiap Jumat dan Sabtu. Hari Kamis ia gunakan untuk bersantai karena malas masuk kantor.
Setiap datang, ia selalu membawa cerita-cerita baru. Sebagian besar tentang pekerjaannya. Tentang kampus tempatnya mengajar, dan tentang bosnya—ketua yayasan di kampus tempat ia mengajar tersebut. Ia selalu bercerita tentang bosnya dengan rasa bercampur aduk. Kesal dan geli. Di saat ia bercerita dengan raut wajah kesal, saya tertawa-tawa. Kisah yang ia ceritakan tak ubahnya bak kisah sinetron komedi.
Bosnya, pemilik yayasan, seorang wanita berusia lebih dari 40 tahun. Mungkin 50. Ia sedang mengambil program Doktor di sebuah universitas swasta di Makassar. Tapi jauh-jauh hari, sebelum gelar Doktor tersebut ia peroleh secara resmi, ia telah memakai gelar itu dengan bangga. Dr. bla bla bla. Ia adalah seorang yang sangat bangga dengan gelar akademik, senang mempermudah cara memperoleh gelar tersebut. (Saat ini ia telah benar-benar memperoleh gelar tersebut secara resmi). Tapi meski dengan gelar kehormatan itu, ia sama sekali tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan banyak di bidang akademik.
Kenapa teman saya itu mengambil kesimpulan demikian? Sebab mata dan hati tak bisa dibohongi. Doktor baru itu tak pandai menggunakan laptop dan berselancar di dunia internet. Jika ia ingin mengetik sesuatu atau membuat power point, ia meminta tolong pada bawahannya. Jika ia harus mengajar dan butuh materi, ia meminta dosen-dosen bawahannya mencarikan bahan kuliah tersebut dari internet. Copy paste. Pernah suatu ketika, saat ia harus menghadapi ujian kompetensi yang juga berkaitan dengan gelar, ia minta izin pulang karena merasa sakit. Ia tak ikut ujian. Tapi sebuah nilai bagus tetap tercetak untuknya entah dengan cara apa. Pernah ada sebuah kejadian, ketika ia menghadap papan tulis, semua mahasiswa di belakangnya berjingkat keluar kelas. Sejak saat itu ia kapok mengajar.
Ia memberi label ‘kampus internasional’ pada kampus yang ia dirikan di bawah yayasannya itu. Apa yang membuat ia percaya diri memberi label luar biasa tersebut? Sang bos bilang, karena mahasiswa yang mendaftar di sana diwajibkan punya nilai TOEFL dan TOEIC. Saya kaget mendengarnya. Unhas saja, yang universitas terbesar di Indonesia Timur, hanya mensyaratkan TOEFL untuk mahasiswa pascasarjana. Tak ada TOEIC. Bahkan di universitas luar negeri setahu saya, untuk calon mahasiswa internasional, TOEIC tak diminta jika nilai TOEFL sudah memenuhi standar. Bagaimana mungkin sebuah kampus swasta skala kabupaten mensyaratkan TOEIC?
Teman saya bilang, ada dugaan sang bos ditipu. Barangkali. Bagaimana pun, ini hanya dugaan. Pihak yang diundang untuk menyelenggarakan tes TOEFL tersebut berasal dari Jakarta. Tak jelas lembaganya apa. Sebab di sertifikat yang diberikan untuk calon mahasiswa baru, tak ada nama lembaga. Hanya ada tanda tangan dan nama seseorang yang bertanggungjawab menyelenggarakan tes tersebut. Saya bilang, kalau untuk menyelenggarakan tes TOEFL, Pusat Bahasa di Unhas adalah salah satu lembaga resmi perwakilan ETS di Makassar. Tapi sang Sang bos senang dengan hal-hal yang terdengar canggih. Jakarta lebih canggih dari Makassar. Apa pun yang berbau Jakarta, pasti lebih bagus. Segala peralatan kampus didatangkan dari Jakarta. Bahkan kertas sertifikat. Biar mahal yang penting dibeli dari Jakarta, karena itu terdengar keren.
Soal TOEFL itu, tak ada yang tak lulus tes. Semuanya dijamin lulus, bahkan meski hanya memperoleh nilai 250. Ini hanya sebuah persyaratan resmi, untuk masuk sebuah universitas swasta skala kabupaten berstandar internasional. Yang penting calon mahasiswa membayar dan ikut tes. Itu saja.
 Di kampus, sang bos tidak sekedar mengurusi hal akademik. Bahkan persoalan pribadi para karyawan (dosen) ia urusi. Ia melarang para dosen melanjutkan pendidikan. Alasannya, untuk apa kuliah tinggi-tinggi kalau toh nanti setelah menikah ikut suami juga. Nah lho?! Ia melarang para dosen pacaran karena katanya pacar bisa mengganggu pekerjaan di kampus. Ia pernah memanggil teman saya itu menghadap hanya untuk memberitahu satu hal: “Kamu, kalau punya pacar yang jabatannya tinggi jangan belagu. Gelar dan pangkat itu hanya untuk di dunia. Tidak dibawa mati.” Teman saya terbengong-bengong. Ia tak tahu mengapa sang bos memanggilnya hanya untuk mengatakan itu. Tiba-tiba saja, tanpa ada angin atau pun hujan.
Suatu hari, ia pernah memanggil satpam menghadap. Ia marah kepada satpam tersebut. Katanya, “Kerjamu apa di kampus ini? kenapa sempritanmu tidak pernah bunyi?” Barangkali ia pikir, tugas satpam hanya satu: membunyikan sempritan sepanjang hari. Di hari lain, ia mengadakan rapat mendadak untuk dosen dan pegawai kampus. Rapat tersebut membahas anak kuda kesayangannya yang baru mati. Sang bos menceritakan kesedihannya kehilangan anak kuda sambil menangis.
Di kampus, ia membayar seorang cleaning service. Tapi sang CS hanya berleha-leha. Kerjanya tak seberapa, sebab ia tak diizinkan membersihkan ruangan. Sang bos memberi jadwal piket untuk para pegawai kampus. CS membersihkan bagian luar ruangan saja.
Saya selalu merasa terhibur mendengar cerita teman saya itu. Saya sadar, sang bos tersebut hanya satu di antara sekian banyak. Di Indonesia. Saya teringat pada sebuah universitas di Jakarta, yang telah menerbitkan banyak sertifikat gelar untuk banyak petinggi. Katanya, namanya Universitas Berkley. Konon, ini adalah perwakilan resmi dari Universitas Berkley di Michigan, Amerika. Pemiliknya sudah mengantongi izin menyelenggarakan pendidikan dan menciptakan gelar bagi yang membutuhkan di Indonesia. Sementara di beberapa sumber disebutkan, Universitas Berkley ini, di Amerika, tidak terakreditasi dan tidak diakui. Berbeda dengan Universitas Berkeley, sebuah universitas keren di daerah California. Tapi Berkley dan Berkeley jelas beda.
Masih jelas pula bagaimana seorang peserta wisuda di Universitas Terbuka di Tangerang tak tahu nama mata kuliah dan tak tahu jumlah IPKnya. Saya tidak tahu kampus itu masuk wilayah Tangerang atau Jakarta Selatan. Saat berlalu-lalang dari Pamulang ke Jakarta, saya sering melewati kampus itu. Wisuda palsu itu digerebek Kementerian Pendidikan. Di Makassar, beberapa waktu lalu, puluhan kampus swasta dinonaktifkan karena memperjualbelikan ijasah. Konon, di kampus-kampus itu, kau bisa mendapat ijasah dan nilai IPK luar biasa tanpa perlu hadir di bangku kuliah.
Membicarakan pendidikan di negeri ini memang selalu menggelikan. Selalu ada cerita lucu yang membuat kita tertawa-tawa. Betapa gelar akademik adalah sebuah kebanggaan, bahkan oleh orang-orang yang tak mencintai pendidikan. Akibatnya, banyak juga yang memperdagangkan pendidikan, menjadikannya lahan bisnis. Saya mencoba memposisikan diri di pihak mereka. Betapa malunya saya jika punya gelar doktor tapi tak memahami apa yang dibicarakan orang-orang di sekitar saya. Tak membaca buku, tak tahu isu lingkungan, tak punya kepedulian sosial. Tapi saya tahu, kesalahan tidak sepenuhnya ada di pihak mereka, pembeli gelar itu. Sepertinya sistem pendidikan di negeri ini sudah amburadul sejak awal.

Makassar, 30 Oktober 2015
Share:

0 komentar: