22 September 2015

Everest: Rasa Simpati Berujung Petaka

ilustrasi

Jika Rob tak membiarkan Doug menuruti obsesinya mencapai puncak Everest di saat-saat terakhir, ia tentu bisa kembali ke bawah dengan selamat. Jika ia membiarkan Doug kembali dari Everest untuk ketiga kalinya tanpa berhasil mencapai puncak, ia tentu bisa menyaksikan anaknya, Sarah lahir ke dunia. Tapi apa daya, rasa simpati dan belas kasih itu telah membuat mereka dan dua orang anggota regu lainnya kehilangan nyawa sebelum kembali dari puncak. Tapi barangkali Rob terlambat menyadari bahwa, di atas gunung rasa simpati dan emosi pribadi harus dibuang jauh.
Dalam film besutan sutradara Baltasar Kormaur ini, saya belajar satu hal, saat bekerja dalam sebuah tim, apalagi dalam situasi sulit, jangan pernah memperlihatkan rasa simpati dan belas kasih untuk satu orang saja. Keselamatan dan kesuksesan tim adalah hal yang utama. Sebab simpati kepada satu orang saja bisa mengorbankan keselamatan yang lain. Hal ini tentu saja tidak hanya berlaku untuk sebuah kegiatan pendakian, tapi juga untuk semua pekerjaan yang dilakukan secara berkelompok.
Film yang diangkat dari kisah nyata ini mengisahkan petualangan para pendaki Everest yang mengalami petaka karena terserang badai pada 1996. Rob Hall, seorang pendaki dari New Zealand sekaligus sebagai guide untuk pendakian Gunung Everest di Nepal, harus membawa para petualang ini. Mereka adalah Dough Hansen yang sudah 2 kali gagal mencapai puncak dan kali ini hendak mencoba yang ketiga kalinya, Yasuko Namba pendaki dari Jepang yang sudah berhasil mendaki 6 puncak gunung tertinggi dan berniat menjadikan Everest sebagai yang ketujuh, dan Jon Krukauer si penulis yang akan menuliskan kisah perjalanan tersebut dalam majalah. Ada pula para pendaki profesional lain: Scott Fischer, Andy Harris, dan Anatoli Boukreer.
Pada awalnya, pendakian tersebut berjalan dengan lancar. Semua anggota regu mendaki dengan riang gembira sambil saling bercanda. Namun cuaca di atas gunung tak pernah bisa ditebak. Siapa yang menyangka bahwa sesaat setelah mereka berdiri di atas puncak tertinggi dunia itu, sebuah badai sedang bergerak perlahan dari bawah lereng dan bersiap menerjang mereka yang sedang tertatih-tatih kedinginan sambil bergelayutan di tali-tali yang menahan tubuh mereka di dinding bukit.
Mereka hanya terlambat sepuluh menit untuk berhasil menghindari badai tersebut. Seluruh anggota regu telah berhasil tiba di puncak kecuali Doug yang berjalan lamban karena kelelahan dan oksigen di tabungnya sudah nyaris habis, dan Beck yang tiba-tiba pandangannya tiba-tiba mengabur sehingga harus berhenti di lereng sambil menunggu teman-temannya kembali dari puncak.
Dalam perjalanan kembali dari atas puncak untuk kembali ke pos terakhir, Doug berkeras untuk mendaki hingga ke puncak. Puncak tertinggi dunia sudah ada di depan matanya, dan ia tidak rela kembali sebelum menginjakkan kaki di sana. Karena bersimpati, Rob akhirnya kembali ke atas untuk menemaninya. Rob tahu bahwa puncak Everest adalah obsesi terbesar dalam hidup Doug.
Dari pos pemantauan, Guy sudah mewanti-wanti Rob bahwa badai sudah mendekati puncak tempatnya berada. Tapi semuanya sudah terlambat. Begitu tiba di puncak, tubuh Doug lemas tak berdaya karena kehabisan tenaga dan oksigen. Susah payah Rob menarik tubuh Doug namun akhirnya gagal. Doug terjatuh. Sementara Andy Harris yang meninggalkan regu dan kembali ke atas membawa  tabung oksigen untuk Doug, akhirnya ikut terjebak badai bersama Rob. Ia mati karena hipotermia. Regu bantuan yang dikirimkan untuk menolong Rob tidak berhasil karena badai susulan masih menerjang. Bahkan suara Jan—istri Rob yang sedang hamil anak pertama—di telepon tak sanggup membuat ia menggerakkan tubuhnya yang terlanjur membeku.
Sementara itu, beberapa puluh meter dari pos, tim penyelamat melewatkan tubuh Beck bersama tubuh Yasuko karena mengiranya sudah meninggal. Beck harusnya memang sudah mati. Tapi saat ia siuman, bayangan istri dan kedua anaknya menari-nari di pelupuk mata seakan memberi ia kekuatan untuk menggerakkan tubuhnya yang telah membeku. Jari-jemarinya telah hilang termakan salju. Dengan tertatih-tatih, ia berjalan menuju tenda di pos. Beck bisa diselamatkan setelah sebuah helikopter datang menjemputnya. Dalam kisah nyata, Beck kehilangan jari-jari tangan dan hidungnya.
Everest, bukan sekedar sebuah film yang memperlihatkan betapa susahnya mencapai puncak Everest, puncak tertinggi dunia dengan ketinggian mencapai kurang lebih 8.000 meter dari atas permukaan laut. Di sini, kita bisa melihat dan membayangkan bagaimana manusia sanggup melakukan apa saja demi sebuah pencapaian yang membanggakan bagi dirinya. Mereka tentu tahu bahwa Everest bukanlah medan yang mudah  untuk didaki. Tapi ini tentang sebuah pencapaian. Sekali tiba di atas sana, kebanggaan itu akan dibawa seumur hidup. Maka tak heran, mereka sanggup mengeluarkan uang sebesar 76.000 USD untuk membayar guide. Dan satu hal yang tentunya juga disadari, bahwa selain uang sebesar itu, mereka juga sedang mempertaruhkan nyawa, yang tidak bisa ditukar dengan uang 76.000 USD tentu saja. Entahlah jika mereka merasa bahwa kematian dalam perjalanan mendaki puncak Everest juga akan dianggap membanggakan. Tapi saya, yang tak menyukai hobi dan obsesi seekstrim itu berpikir, ah alangkah mengerikannya obsesi seorang manusia, hingga untuk mencapainya, apa pun sanggup dipertaruhkan termasuk nyawa.
Bagi saya, nuansa kengerian film ini masih kurang terasa. Saat nonton trailernya, saya membayangkan seisi bioskop akan histeris saat menonton, namun ternyata tidak demikian. Tapi bagaimana pun juga, film ini bisa menjadi salah satu tontonan menyenangkan, bagi mereka yang  bosan dengan film-film yang berkisah tentang superhero memberantas para penjahat.
Makassar, 22 September 2015



Share:

0 komentar: