01 April 2015

Sampah dan Kota Dunia

Ilustrasi: Koran Inilah Sulsel

Penggantian tampuk kepemimpinan Kota Makassar telah lama berlalu, tapi belum ada perubahan yang terasanya begitu nyata. Namun bagi saya, ada satu hal yang cukup melegakan setelah kepemimpinan Makassar diambilalih Danny Pomanto-Syamsu Rizal: deretan tempat sampah di tepi jalan raya. Langkah ini bisa menjadi jalan keluar bagi warga Makassar yang terbiasa membuang sampah begitu saja di pinggir jalan.
Mengapa tempat sampah sederhana tersebut begitu menarik perhatian saya? Saya pernah mengalami sebuah peristiwa memalukan. Suatu hari, saya sedang menemani seorang tamu berkewarganegaraan Amerika. Kami singgah di sebuah tempat untuk sebuah urusan. Ketika urusan selesai, kami semua bergegas ke atas mobil untuk melanjutkan perjalanan. Namun kenalan saya yang orang Amerika tersebut tak kunjung naik ke atas mobil. Kami bingung kemana ia pergi. Lantas, kami turun dari atas mobil untuk mencarinya.
Ternyata, ia sedang kebingungan mencari tempat sampah. Ia baru saja menghabiskan sebatang rokok dan hendak membuang puntungnya. Meskipun hanya sebuah puntung rokok, ia tak sudi membuangnya begitu saja di sembarang tempat. Untuk sesaat lamanya, ia harus berjalan mondar-mandir hingga menemukan sebuah tumpukan tempat pembakaran sampah. Di atas mobil dalam perjalanan, ia masih mengeluh soal susahnya mendapat tempat sampah di tempat umum di Makassar. 
Perihal sampah di Kota Makassar bukan hal baru. Tumpukan sampah di tepi jalan, atau bak kontainer sampah yang sudah penuh dan belum diangkut, bukan pemandangan asing. Kita bisa menyaksikannya hampir di setiap ruas jalan. Yang paling miris, perilaku warga kota yang seakan sama sekali tidak peduli terhadap kebersihan kota. Tiap hari, kita bisa menyaksikan orang-orang di jalanan yang membuang sampah seenaknya dari atas mobil sambil mobil terus melaju. Ketika seseorang baru saja menghabiskan minuman kemasan, sangat jarang yang mau merepotkan diri mencari tempat sampah untuk membuang botol kemasannya.
Yang memprihatinkan, perilaku buruk seperti ini sudah menjadi kebiasaan di semua kalangan. Tak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak usia sekolah. Saya teringat sentilan seorang kawan. Dia menyoroti gaya hidup orang Indonesia dan membandingkannya dengan warga negara maju. Dia  mengungkapkan alasan mengapa misalnya orang-orang Belanda sangat peduli kebersihan dan taat pada aturan. Sebab di Belanda, pelajaran yang diberikan kepada anak-anak di sekolah bukanlah hal yang rumit-rumit seperti halnya di negara kita. Pelajaran pertama yang diberikan kepada anak-anak yang baru menginjakkan kaki di sekolah hanyalah membiasakan buang sanmpah pada tempat yang disediakan.
Sedari kecil, anak-anak kecil di Belanda sudah diajarkan untuk tidak membuang sampah seenaknya di sembarang tempat. Dampaknya setelah dewasa, mereka akan merasa malu jika kedapatan membuang sampah di sembarang tempat. Maka tak heran jika berjalan di sepanjang jalan di sana—kata teman saya—kita tak akan menemukan sampah plastik berserak begitu saja. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan kota Makassar.
Kini, setelah Pemerintah Kota Makassar berinisiatif menyiapkan tempat sampah di sepanjang jalan-jalan kota, kita berharap usaha tersebut tidak sampai di sini saja. Orang-orang tua barangkali sudah tak bisa kita arahkan untuk memperhatikan kebersihan. Tapi kita belum terlambat untuk mendidik anak-anak kita yang kelak akan menjadi generasi penerus di Kota Makassar. Tak perlu metode pendidikan yang rumit, cukup ajarkan kepada mereka pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
Kita harus menjelaskan kepada anak-anak kita tentang bahaya yang ditimbulkan jika kita membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik. Ini bukan sekedar menjaga kebersihan saja, melainkan ada dampak yang lebih besar yang mengancam kita. Plastik adalah material yang tidak dapat diurai oleh organisme pengurai. Jika tertinggal di dalam tanah, plastik dapat mengganggu jalur air dan mengakibatkan banjir.
Di samping itu, penelitian memmbuktikan bahwa racun partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan pengurai, seperti cacing. Plastik juga akan merusak kesuburan tanah sehingga berpengaruh terhadap produktivitas tanaman.
Nantinya setelah permasalahan sampah di Makassar beres, barangkali kita bisa berharap Wali Kota Makassar juga memberikan perhatian serius terhadap masalah kebersihan di pulau-pulau terluar Makassar. Sudah bukan rahasia lagi, warga pulau, yang tidak punya pengetahuan tentang bahaya sampah plastik, menjadikan pantai dan laut sebagai tempat pembuangan sampah. Setidaknya, hal ini saya saksikan sendiri setelah beberapa minggu hidup bersama masyarakat Pulau Langkai, salah satu pulau terluar Makassar.
Perilaku seperti ini sama berbahayanya dengan perilaku warga kota. Ikan-ikan akan menganggap sampah di lautan sebagai makanan, dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya. Hebatnya lagi, pada saat ikan mati dan membusuk, plastik tersebut akan tetap tinggal di dalam tubuhnya, kembali ke laut dan dimakan ikan lain. Plastik ini pun akhirnya juga merusak sistem rantai makanan laut. Plastik bisa mengganggu perkembangbiakan plankton dan zooplankton yang merupakan makanan ikan. Jika persoalan sampah saja tak bisa ditangani, masihkah kita patut membanggakan kota kita sebagai Kota Dunia?

Tulisan ini dimuat di Koran Inilah Sulsel edisi 27 Maret 2015
Share:

0 komentar: