21 September 2014

Lawe dan Kisah Peperangan Memperebutkan Emas

Desa Lawe

Mendengarkan Pak Isai Kaleb—Kepala Desa Lawe—menceritakan sejarah desanya, seperti mendengarkan kisah dongeng. Saya terbuai. Kami duduk berhadap-hadapan di sebuah meja kayu yang biasa digunakan keluarganya makan malam bersama. Di hadapannya secangkir kopi hitam pekat. Sebatang rokok mengepulkan asap di sela jemarinya. Sambil bercerita, tatapannya menghadap langit-langit rumah.
Desa Lawe dipindahkan dari Kampung Lama ke Kampung Baru (perkampungan yang ditempati saat ini) pada tahun 1970-an. Di Kampung lama, sumber air yang tersedia tidak mencukupi untuk pengairan sawah dan kebutuhan sehari-hari. Tanaman tidak bisa tumbuh subur karena kekurangan air.
Nama Lawe, diberikan untuk desa itu setelah peperangan dengan masyarakat Kulawi[1]. Menurut Pak Isai, Lawe artinya perdamaian. Konon di Kampung Lama, orang-orang Lawe memiliki emas. Panjangnya melebihi 2 meter. Emas itu, biasanya digunakan orang-orang Lawe sebagai perhiasan pada pakaian yang mereka kenakan. Mereka menggunakan pakaian yang terbuat dari tenunan serat kulit kayu. Setiap membuat pakaian baru, mereka akan memukul emas itu, untuk membuat biji-biji emas kecil yang pas ditempelkan pada pakaian mereka. Namun suara pukulan tersebut terdengar hingga ke Kulawi. Orang-orang Kulawi yang merasa penasaran mendatangi Lawe untuk mencari tahu asal suara tersebut. Alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa orang-orang Lawe memiliki kekayaan berharga berupa emas.
Orang-orang Kulawi ingin memiliki emas itu. Mereka berusaha merebutnya dari orang-orang Lawe. Tapi orang-orang Lawe tidak lebih menginginkan emas ketimbang perselisihan. Emas itu mereka buang ke dalam sebuah sungai yang entah bermuara di mana. Mereka tidak ingin emas itu membuat hubungan mereka dengan orang-orang Kulawi jadi rusak.
Di Kampung Baru, kehidupan orang-orang Lawe mulai membaik. Mereka membuka lahan untuk bertani. Mereka menanam kakao, kopi, jagung, dan sayuran. Sekarang sumber penghasilan utama orang-orang Lawe berasal dari kopi dan kakao. Sayuran ditanam hanya untuk kebutuhan dapur. Daerah Pipikoro yang berada di atas pegunungan sebenarnya sangat cocok untuk bertanam sayuran. Sayangnya, akses jalan tidak memadai. Sayuran akan hancur sebelum tiba di pasar. Untuk tiba ke pasar terdekat di ibukota kecamatan, butuh waktu 3 jam dengan sepeda motor melewati jalan setapak menuruni lereng pegunungan.  
Sebelum sepeda motor masuk ke Lawe, orang-orang menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Tapi dengan kuda, perjalanan ke Gimpu (ibukota kecamatan) membutuhkan waktu tempuh selama 3 hari 3 malam. Mereka harus bermalam di perjalanan. Memang bukan hal yang mengada-ada. Kuda memang hewan yang kuat dan cepat. Tapi jika berjalan terlalu cepat di atas jalan setapak yang licin dan berbatu-batu, bukan tak mungkin nasib kuda akan berakhir di dalam jurang terjal di sisi lereng pegunungan. Jalanan di Pipikoro selalu basah. Tak peduli musim hujan atau kemarau, hujan selalu turun setiap sore. Maka tak heran jika seekor kuda membutuhkan waktu 3 hari 3 malam untuk berjalan ke Gimpu dengan beban biji kopi dan kakao kering di pundak.


Tahun 90-an, orang-orang Lawe mulai mengenal sepeda motor. Seorang warga Porolea[2] yang pertama kali membawa sepeda motor ke Lawe. Pak Isai masih ingat, bagaimana orang-orang berkerumun mengelilingi sepeda motor itu. Sepeda motor bagi mereka adalah sebuah benda ajaib yang bisa meluncur dengan cepat melebihi kecepatan kuda, dengan suara menggelegar dan menyisakan kepulan asap hitam di udara. Orang-orang Lawe terharu. Bahkan mereka menangis. Desa mereka bisa dilalui kendaraan bermotor adalah sebuah keajaiban bagi mereka. “Kami tidak pernah menyangka sepeda motor bisa masuk ke Lawe,” kenang Pak Isai.
Sejak saat itu, orang-orang Lawe berlomba-lomba belajar mengendarai sepeda motor. Kuda-kuda dijual hingga tak bersisa. Satu per satu sepeda motor didatangkang ke Lawe. Dan kini, kuda di Lawe hanya tinggal kenangan. Tak ada lagi seekor pun. Bang Sius bilang paling banyak dijual ke Jeneponto[3]. Hewan jinak yang masih ada di Lawe kini hanya babi dan anjing yang beranak pinak tanpa terkendali.
Obrolan kami dipotong oleh ajakan makan malam oleh Bang Sius. Sejak tadi saya heran melihatnya tiba-tiba sibuk dia dapur Bu Made—istri Pak Isai— menyiapkan makan malam untuk kami. Hal itu tidak dilakukannya di rumah Pak Apollo (Kepala Desa Lonebasa). Setelah di sepanjang rumah yang kami singgahi kami selalu disuguhi indomie rebus, melihat kesibukan Bang Sius di dapur membuat saya berharap lebih. Saya berharap ia memasak sayur untuk kami. Tapi ternyata tidak. Makan malam kami malam itu tetap saja indomie rebus, seperti menu yang kami dapatkan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam di Desa Lonebasa. Bedanya, masakan Bang Sius kali ini agak berbeda karena kelebihan bumbu. Ada begitu banyak cabe dan dan bawang dalam indomie rebus yang kami makan malam itu.
Rasa penasaran saya terjawab ketika Bang Sius memaksa kami naik ke lantai 2 rumah kayu Pak Isai seusai makan. Sebenarnya saya masih ingin duduk di bawah bersama Pak Isai, tapi ia memaksa. Rupanya ia kasihan melihat anak-anak merengek-rengek minta nonton tivi. Kalau kami terus di bawah, lampu di ruang makan akan terus dinyalakan dan mereka tidak bisa nonton tivi. Listrik di Lawe menggunakan tenaga kincir. Dayanya terbatas.
Ia juga menjelaskan mengapa ia begitu semangat di dapur. Bu Made tidak percaya diri memasak buat kami. Ia berpikir masakannya tidak akan enak untuk kami. Baginya, kami selalu mendapatkan makanan enak di kota. Karena itulah, ia mengambil beberapa bungkus indomie di warung kecilnya dan meminta Bang Sius memasaknya untuk kami.
“Lalu kenapa kami terus diberi makan indomie? Saya lihat di sini banyak daun yang bisa dipetik dan dimasak jadi sayur,” ujar Mariati Atkah. Ia bilang kepada saya, jika terlalu banyak makan indomie, selera makannya bisa hilang meskipun menu makanan kembali normal. Rupanya sejak kemarin ia memperhatikan tanaman singkong di samping rumah. Saya menelan ludah ketika ia menghayal betapa enaknya daun singkong itu ditumbuk dan diberi bumbu kelapa.
“Itu dia. Bagi mereka, sayur macam itu makanan kampung. Mereka menganggap indomie makanan mewah dan pas untuk kalian,” jelas Bang Sius. Kami mendesah kecewa.
Penjelasan itu juga yang membuat saya menarik kesimpulan atas mengapa kami diberi kopi sachet dan bukan kopi bubuk yang dipetik dari kebun dan digiling sendiri. Ketika kunjungan saya tahun lalu, saya mendapat oleh-oleh satu bungkus kopi bubuk. Rasanya sangat enak. Aromanya wangi. Ketika melihat Ibu Made sibuk di dapur, saya berharap segelas kopi beraroma khas itu. Tapi ternyata, kami diberi seduhan kopi sachet dengan merk yang tak asing.
“Kalian percaya di dalam perut Lawe ini ada emas?” tanya saya pada Bang Sius dan Pak Suaib. Keduanya adalah aktivis yang aktif mengadvokasi permasalahan agraria.
Bang Sius bilang, satu-dua orang Pipikoro atau Kulawi kadang mendulang emas di Sungai Lariang. Itu nama sungai terkenal yang membelah pegunungan Pipikoro. Saya teringat perkataan seorang kenalan saya, peneliti, di Makassar. Ia pernah bilang, Pipikoro adalah gunung emas. Entah di mana ia memperoleh informasi itu. Ia bilang, jika akses transportasi modern dibuka, Pipikoro akan hancur.
“Kau lebih suka akses jalan ke sini dibuka atau tetap terisolir seperti ini?” tanya Pak Suaib.
Saya bingung menjawabnya. Saya tahu, jalan pergi dan pulang ke Pipikoro yang terlalu mudah akan membuat banyak hal berubah. Sistem kehidupan sosial dan kebudayaan akan berubah total. Barangkali, jika akses keluar dibuka, orang-orang Lawe akan kehilangan keramahan. Kebiasaan gotong royong akan hilang. Tapi dengan kondisi Pipikoro yang seperti ini, kehidupan mereka tidak akan pernah berubah. Mereka tidak akan dapat mengenyam pendidikan tinggi dan mendapatkan akses kesehatan memadai.


Cerita yang saya dengar dari Bang Sius kemudian jauh lebih menakutkan. Ketika Pipikoro masih masuk dalam wilayah kabupaten Donggala, peta pembagian wilayah HPLnya sudah dibuat. LSM Bang Sius memiliki peta itu. Izin telah diberikan kepada sebuah perusahaan untuk menghancurkan Pipikoro dan mengeruk seluruh emas dari dalamnya. Sekarang Pipikoro menjadi bagian dari Kabupaten Sigi, yang merupakan kabupaten pemekaran dari Donggala pada tahun 2008. Sejak pemekaran itu, Bang Sius bilang, ia tak pernah lagi mendengar kabar mengenai pemberian izin tambang tersebut.
Membayangkan Pipikoro akan dihancurkan dan masyarakatnya disingkirkan adalah sebuah hal menakutkan bagi saya. Saya tahu, perusahaan tambang selalu menyingkirkan pribumi dan hanya menguntungkan segelintir orang. Orang-orang pintar didatangkan, dan orang-orang pribumi diusir secara perlahan namun pasti.
Baru pekan lalu saya mendampingi kegiatan Public Hearing Masyarakat Adat yang diselenggarakan Komnas HAM, AMAN dan Sajogyo Institute di Palu. Orang-orang yang memberikan kesaksian di sana adalah orang-orang yang tersingkir dari tanah leluhur mereka karena pemerintah lebih menginginkan perusahaan tambang atau perkebunan dengan alasan sebagai sumber APBD. Saya menyaksikan orang-orang Tau Ta’a Wana[4] yang menangis sesenggukan karena sejengkal demi sejengkal tanah leluhur mereka diklaim Pemerintah dan sebuah perusahaan sawit. Orang-orang Wana itu, kini tak dapat hidup tenang karena mereka sadar bahwa sewaktu-waktu oknum-oknum pemerintah dan perusahaan akan datang menghancurkan gubuk, mengusir, dan menuduh mereka sebagai pemukim liar atau perambah hutan. Terusir, tentu tidak menyakitkan jika kita punya tempat untuk pergi. Tapi tidak demikian dengan orang-orang Wana.
Saya menyaksikan bagaimana orang-orang Karonsi’e Dongi[5] menangis di hadapan Komisioner Komnas HAM karena lahan tempat mereka bertanam jagung sejak turun-temurun disulap menjadi lapangan golf untuk orang-orang perusahaan tambang nikel. Lalu kampung mereka dijadikan tempat pembuangan sampah oleh orang-orang yang tinggal di apartemen khusus orang-orang perusahaan. Ketika mereka tidak lagi memiliki tempat untuk bertani, yang lebih menyakitkan adalah, kehadiran mereka tidak diakui pemerintah setempat.
Saya tidak bisa membayangkan orang-orang Pipikoro yang ramah dan sederhana diperlakukan seperti itu. Tapi semoga hal tersebut tidak akan benar-benar terjadi.        




[1] Salah satu suku di Sulawesi Tengah, sekarang mendiami wilayah Kecamatan Kulawi
[2] Salah satu desa di Pipikoro, jaraknya sekitar 20 km dari Lawe. Dari Kulawi, kita akan menemukan desa Porolea terlebih dahulu, kemudian Lonebasa dan Lawe.
[3] Salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan makanan khas coto kuda.
[4] Salah satu komunitas masyarakat adat di Morowali, Sulawesi Tengah
[5] Salah satu komunitas masyarakat adat di Kabupaten Luwu Timur
Share:

0 komentar: