05 September 2014

Cerita-cerita Kematian di Lonebasa (Catatan Perjalanan ke Pipikoro)

Desa Lonebasa

Matahari sudah tenggelam ketika kami tiba di Lonebasa[1]. Kabut mulai menyelimuti pegunungan di belakang perkampungan. Beberapa saat ketika kami duduk di beranda rumah Pak Apollo, Kepala Desa Lonebasa, tampak iring-iringan orang-orang yang melangkah dengan cepat dan tergesa-gesa di jalan desa. Mereka membawa obor yang yang nyalanya meliuk-liuk karena tiupan angin. Ketika iring-iringan itu mulai mendekat, kami melihat di tengah rombongan itu sebuah tandu digotong di atas pundak empat orang pria dewasa. Tandu itu berisi jenazah.

Ketika iring-iringan itu berlalu, sunyi menyelimuti Lonebasa. Rumah-rumah penduduk gelap. Tidak ada yang menyalakan lampu. Semuanya menuju rumah duka, yang tak jauh dari rumah Pak Apollo. Bang Sius, teman dari LSM Perkumpulan Karsa di Palu yang menemani kami mengatakan, menjelang malam, biasanya Lonebasa ramai oleh suara musik dari ponsel. Di sini, ponsel fungsinya hanya untuk menyetel musik. Tidak ada sinyal untuk telepon. Ponsel digunakan untuk berkomunikasi hanya ketika pemiliknya sedang berkunjung ke kota. Tiba-tiba, saya merasa peristiwa kematian yang menyambut kedatangan kami sore itu, seperti sebuah kematian paling sunyi yang pernah saya saksikan.
“Alangkah sunyinya menyambut kematian di atas gunung seperti ini,” ucap saya pada Mariati Atkah, teman seperjalanan saya dari Makassar.
“Kematian memang sunyi. Mau mati di kota atau di tempat seperti ini, semuanya sama saja,” balasnya. Kami duduk di beranda rumah Pak Apollo sambil memandangi iring-iringan itu menjauh.
Saya mengiyakan.
Tapi semestinya tidak semua kematian sesunyi ini. Barangkali tidak, jika ada dokter di sisi kita yang tahu bahwa sakit yang kita derita adalah perjuangan terakhir untuk bertahan hidup. Barangkali tidak jika ada rumah sakit yang bisa kita kunjungi, dan ada uang untuk membeli obat-obatan. Barangkali tidak, jika sesudah mati, kita tidak harus menyaksikan tubuh kita diikat di atas tandu dan digotong sejauh 11 kilometer.
Jenazah yang digotong itu adalah warga Lonebasa. Ia meninggal di Onu, sebuah desa yang jaraknya 11 kilometer di sebelah Barat. Onu juga masih masuk dalam wilayah Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi. Akses jalan dari Onu ke Lonebasa tak ada bedanya dengan jalan yang kami lalui dari Kecamatan Kulawi Selatan ke Pipikoro: jalan  setapak yang mengitari lereng pegunungan naik dan turun, membelah kebun kakao dan jagung. Di satu sisi jalan adalah kebun warga, dan di sisi lain adalah jurang terjal yang menganga dan tampak selalu siap menerima tubuh kami jika tidak hati-hati berjalan. Maka tak heran, ketika ada yang meninggal dan harus dimakamkan di tempat yang jauh, jenazah akan digotong di atas tandu. Tandu jenazah itu, orang-orang Pipikoro menyebutnya ambulans berjalan.
Akses jalan menuju Lonebasa
Tidak ada yang tahu persis orang itu sakit apa. Menantu Pak Apollo berkata, sepertinya urat yang berada di bagian leher, persis di bawah telinga, pecah dan itu yang menyebabkan ia meninggal. Bang Sius menyimpulkan, itu kelenjar getah bening. Saya tidak tahu benar atau tidak. Tidak ada yang bisa menyimpulkan ia sakit apa. Tidak ada dokter atau petugas kesehatan di Lonebasa. Bidan yang ditugaskan di sana, hanya berkunjung sesekali. Kadang 3-6 bulan sekali. Tapi saya sendiri tidak menyalahkan dia. Bukan hal remeh menempuh perjalanan naik-turun gunung dengan sepeda motor selama 6 jam pulang-pergi. Mariati Atkah, yang baru kali ini ke Pipikoro karena saya ajak berkata, perutnya langsung mulas setiap kali matanya menatap jurang di sisi jalan yang kami lalui.
Satu-satunya yang memiliki obat-obatan di Lonebasa adalah Ibu Sejati (saya memanggilnya Mama Jati). Itupun tak banyak. Hanya betadine, kain kasa untuk menutup luka, penghilang rasa sakit, dan sarung tangan yang ia gunakan setiap menolong persalinan. Obat-obatan yang berada di rumah Mama Jati adalah hasil bantuan dari program PNPM Peduli. Di Pipikoro, program ini disalurkan melalui kantor saya di Makassar, Sulawesi Community Foundation. Di Palu, kami bekerjasama lagi dengan LSM lokal, Perkumpulan Karsa. Bang Sius adalah salah seorang pendamping yang rutin berkunjung ke Pipikoro untuk menjalankan program ini.
Sebelum Mama Jati direkrut jadi kader kesehatan, ia telah menjalani beberapa kali pelatihan. Ia diajarkan bagaimana membebat luka, menghentikan pendarahan, dan menolong persalinan. Kini, semua warga Lonebasa mulai dari perempuan hamil hingga warga yang mengalami patah tulang akibat jatuh di kebun bergantung pada Mama Jati.
Keesokan paginya, saya menemui Mama Jati di rumahnya. Rupanya saya datang terlalu pagi. Ia tergopoh-gopoh keluar dari dapur dan tampak malu karena rumahnya sedang kotor. Dengan tergesa-gesa, ia mengumpulkan pakaian kotor yang berserakan di ruang tamu dan memasang kain di atas meja kayu. Saya pernah bertemu dengannya tahun lalu, tapi ia tidak terlalu mengenali saya kali ini. Saya menduga penyebabnya karena ketika kami bertemu pertama kali, rambut saya panjang. Dan ketika kami bertemu lagi, rambut saya menjadi terlalu pendek untuk seorang perempuan. Setelah saya berhasil mengembalikan ingatannya tentang pertemuan pertama kami, ia sangat senang. Ia tertawa-tawa.
Pagi itu sedang ada seorang pasien di rumah Mama Jati. Ia seorang pemuda tanggung yang di kakinya terdapat sebuah luka menganga akibat tertusuk bambu saat bekerja di kebun. Mama Jati bercerita, ia membersihkan luka itu dengan betadine dan menutup lukanya dengan kain kasa. Saya memuji tindakannya. “Mama Jati hebat sekali, sudah seperti dokter. Rumah ini sekarang seperti puskesmas,” kata saya. Ia tertawa malu, tapi senang dengan pujian saya. Tidak lama kemudian, Mama Silva datang. Ia adik Mama Jati. Mama Silva sering menemani Mama Jati jika pergi malam-malam untuk menolong ibu melahirkan. Mama Jati takut keluar sendirian malam-malam.
“Jadi sudah betul, Mama Jati sudah seperti dokter dan Mama Silva ini asisten dokter,” kata saya. Keduanya tertawa terbahak-bahak. Kepada Mama Silva, Mama Jati bilang saya ini orang yang ramah. Ia bicara dalam bahasa Uma, tapi setelahnya ia menerjemahkan artinya dalam bahasa Indonesia untuk saya. “Saya bilang ke Mama Silva, kamu orangnya peramah,” ucapnya. 
Jangan bayangkan keahlian Mama Jati merawat orang sakit seperti dokter betulan. Seperti yang saya katakan tadi, modalnya hanya pernah beberapa kali mengikuti pelatihan. Ia hanya tamatan SD, yang sudah berpengalaman bekerja sebagai dukun beranak sebelum mengikuti pelatihan itu. Mama Jati dan Mama Silva bekerja secara sukarela. Tidak ada imbalan yang diberikan orang-orang yang ditolongnya. Ia melakukan tugasnya dengan ikhlas, bahkan jika harus keluar dini hari untuk menolong ibu melahirkan.
Mama Silva, Mariati Atkah, dan Mama Jati

Pagi itu, saya bertanya sudah berapa banyak bayi baru yang lahir di Lonebasa sepanjang tahun 2014. Ia mengambil buku catatannya. “9 orang,” katanya. Ia juga bercerita bagaimana susahnya akses kesehatan di Lonebasa. Puskesmas terdekat ada di Desa Koja, sekitar 12 kilometer dari Lonebasa. Jarak itu tentu tidak terasa terlalu jauh jika jalan yang dilalui mulus beraspal. Koja adalah desa pertama yang akan kita temukan dalam perjalanan ke Pipikoro dari Kulawi Selatan.
Bulan lalu, ada seorang ibu melahirkan di Lonebasa yang dirujuk ke puskemas Koja. Bayinya sudah lahir, tapi ari-arinya tidak bisa keluar. Mama Jati tidak sanggup menolongnya. Sebagai kader kesehatan, salah satu prosedur yang harus ia patuhi saat menolong persalinan adalah tidak boleh memasukkan tangan ke dalam rahim. Karena itu, ibu tersebut dirujuk ke puskesmas. Ia dimasukkan ke dalam sarung, kemudian digotong dengan kayu dengan berjalan kaki sejauh 12 kilometer menyusur jalan setapak mendaki dan menuruni lereng pegunungan untuk bisa tiba ke puskesmas terdekat di Koja.
Cerita-cerita tentang sulitnya mendapat fasilitas kesehatan di Pipikoro karena tidak ada akses jalan, saya dapatkan dari Bang Sius. Ia bercerita, bagaimana di sebuah tempat ia menyaksikan 9 orang ibu yang sedang hamil tua, berjalan kaki berkilo-kilometer hanya untuk menemui seorang bidan. Ia juga bercerita bagaimana seorang mayat yang dibonceng dan diikat di atas sepeda motor menuju rumah keluarganya, karena jalanan tidak bisa dilalui mobil.
Saya merenung. Di sini, setelah menjalani kehidupan yang sangat sederhana, betapa kematian begitu sunyi dan sedih. *

  



[1] Lonebasa adalah salah satu desa di Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Letaknya berada di atas pegunungan Pipikoro. Pipikoro bisa ditempuh dari Kecamatan Kulawi Selatan (3-4 jam dari Palu) dengan sepeda motor yang didesain khusus untuk mendaki gunung. Pipikoro dihuni oleh suku Uma yang semuanya bekerja sebagai petani.

Share:

0 komentar: