15 July 2014

Merawat Ingatan

Model: Aisha

Demi menjaga  ‘ingatan masa lalu’, saya telah berjanji untuk berbuat baik dan menyayangi setiap bayi dan anak-anak yang saya temui. Sebelumnya, saya tidak pernah begitu menyadari tentang sebetapa kuat pengaruh ingatan masa lalu terhadap pandangan hidup di masa kini.

Minggu lalu, seorang teman kampus mengajak saya ngobrol di rumahnya. Ia telah menikah dan punya seorang bayi perempuan yang lucu berumur 5 bulan. Bayinya baru berumur 2 bulan ketika suaminya yang seorang tentara pergi meninggalkannya entah kemana, tanpa alasan. Keduanya menikah karena dijodohkan.
Ketika ia mulai bercerita kepada saya tentang suaminya, saya meminta ia memberikan bayinya kepada seseorang. Saya tak ingin pembicaraan kami terdengar olehnya. Ingatan masa kecilnya harus dijaga tentang kebaikan dan hubungan harmonis kedua orang tuanya. Tentu saja kita tak bisa membohongi anak kecil. Namun menyembunyikan hal-hal yang belum layak ia ketahui adaIah hal wajar. Seorang bayi berumur 5 bulan masih terlalu muda untuk ikut merasakan sedih dan sakit.
Teman saya tertawa. Ia meremehkan saran saya. Alasannya, bayinya masih kecil, belum tahu apa-apa. Tapi siapa yang menjamin bahwa bayi berumur 5 bulan belum tahu apa-apa? Setidaknya itu berdasarkan pengalaman saya.
Seumur hidup, hanya satu kali saya pernah ditertawakan oleh seluruh anggota keluarga besar saya. Sebabnya adalah ketika saya menceritakan apa yang saya ingat di masa kecil, yang ternyata peristiwa itu terjadi dan membekas di ingatan saya saat umur saya masih 2 bulan.
Suatu hari, barangkali di usia 20-an, saat sedang bermanja-manja di pangkuan Ibu, tiba-tiba saja saya ingin menceritakan tentang semua hal yang saya ingat di masa kecil. Saya mengingatkan Ibu ketika ia menggendong saya ke posyandu terdekat untuk imunisasi. Saya mengingatkan padanya bahwa saat itu berat saya 7 kg dan betapa sakitnya jarum suntik. Setelah ditimbang di posyandu, Ibu menggendong saya ke dalam rumah, membaringkan saya di atas tempat tidur, lantas meninggalkan saya bermain-main sendirian.
Ibu bertanya bagaimana saya bisa tahu berat badan saya ketika itu 7 kg. Saya jawab, ketika Ibu sedang menggendong saya, ada seorang tetangga yang bertanya tentang berat timbangan saya. Saya dengar Ibu bilang 7 kg.
Ibu kaget. Keningnya berkerut. “Sulit dipercaya. Waktu itu umurmu baru 2 bulan,” ujarnya. Saya tentu lebih kaget lagi saat tahu waktu itu saya masih berumur 2 bulan.
Tapi kemudian saya menyesal menceritakan hal itu pada Ibu karena 2 kakak saya yang ternyata menguping pembicaraan kami tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Mereka bilang saya pembohong. Saya tidak mungkin mengingat peristiwa-peristiwa kecil saat umur saya masih 2 bulan. Ibu saya cuma tersenyum saat itu. Saya tahu, dari ekspresi wajahnya, Ibu lebih percaya saya tapi tidak ingin menghancurkan kebahagiaan kakak-kakak saya yang mendapat bahan tertawaan.
Sialnya lagi, kakak-kakak saya menceritakan hal konyol itu kepada sepupu-sepupu saya yang lain. Lalu jadilah saya bahan olok-olok sepanjang hari dalam waktu lama. Saya agak kesal karena Ibu tidak berusaha membela saya. Tapi suatu hari, secara tidak sengaja saya mendengar ia berkata kepada kakak saya bahwa saya tidak mengarang-ngarang cerita. Semua yang saya ceritakan benar adanya. Sejak saat itu, kedua kakak saya tidak pernah lagi menertawakan saya.
Untuk memperkuat pembelaan diri, saya kemudian kembali menceritakan peristiwa-peristiwa lain. Saya ingat ketika kakak laki-laki saya, yang umurnya terpaut 7 tahun, melarang saya bermain pisau. Sewaktu kecil, saya senang mengambil pisau dapur dan memotongi setiap dahan pohon yang dapat saya jangkau atau semak-semak di belakang rumah. Kakak saya bilang, kalau saya tetap bermain-main pisau dan tangan saya teriris, ia akan kena marah Ibu. Waktu itu saya belum mengerti, jika tangan saya yang terluka, kenapa justru kakak saya yang harus kena marah. Ia bilang, karena ia yang  lebih tua, maka ia harus menjaga saya yang lebih kecil. Meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar ingin menjaga saya. Ia hanya takut pada Ibu. Kakak saya tidak terlalu suka sama saya. Gara-gara saya, perhatiannya sering teralihkan saat ia sedang asyik bermain-main dengan teman laki-lakinya. Ia tidak terlalu suka anak perempuan.
Ibu bilang, ketika itu saya sudah agak besar, sekitar 3 tahun. 
Berdasar pada ingatan itu, saya mencari lebih banyak referensi terkait terbentuknya ingatan-ingatan di masa balita. Dan ternyata sangat banyak sumber yang menyebutkan bahwa, ingatan-ingatan, bahkan telah terbentuk sejak bayi masih di dalam kandungan. Kelak ketika seorang anak terlahir, ia bisa mengenali suara yang sering diperdengarkan sang ibu ketika ia masih berada di dalam kandungan. Saya rasa, hal ini turut mempengaruhi mengapa sejumlah anak begitu menyukai sebuah jenis musik tertentu. Atau kenapa ada anak yang yang jauh lebih lengket dengan ayah dibandingkan ibunya. Jika dikaitkan lebih jauh, cara sang ayah menanggapi kehadiran janin di dalam perut istrinya, turut mempengaruhi kedekatan yang kelak akan terjalin antara sang anak dan ayahnya.
Jika merujuk pada teori reinkarnasi, konon, jiwa yang melayang di atas awan yang lembut bersama para malaikat, bahkan bisa memilih perempuan mana yang kelak akan dijadikan ibunya, tergantung seberapa siap perempuan itu baginya untuk menerimanya. Karenanya, bukan hanya sang anak yang perlu berterima kasih pada sang ibu, sebaliknya sang ibu juga mestinya berterima kasih telah menjadi pilihan sang anak.
Kembali ke ingatan masa kecil—ketika saya beranjak kanak-kanak, saya tak mampu akrab dengan semua orang di lingkungan saya. Sebab saya bisa mengingat dengan jelas, orang-orang yang memperlakukan saya dengan kasih sayang, dan orang-orang yang tak begitu peduli dengan kehadiran saya di sebuah tempat. Ingatan itu pulalah yang selalu menarik-narik saya untuk memperlakukan anak-anak dengan penuh hormat. Saya tidak ingin ingatan mereka di masa dewasa tentang saya dipenuhi oleh kenangan-kenangan buruk. Saya ingin membangun kenangan yang indah di benak mereka tentang saya. Sebab saya tahu, pada dasarnya mereka adalah jiwa-jiwa yang suci yang belum tercemari oleh hal-hal buruk. Kepribadian mereka masih dibentuk di dalam rumah, sebelum terjun dalam lingkungan sosial. Kepribadian anak-anak ketika mereka dewasa kelak, sangat banyak ditentukan oleh orang-orang dewasa yang ditemuinya. Pengalaman-pengalaman masa kecillah yang mendorong saya untuk menghormati jiwa-jiwa suci tersebut.
   



Share:

0 komentar: