21 June 2014

Maleficent and The Story About True Love


Penampilan Angelina Jolie dalam Maleficent
Sekian lama, kita dininabobokkan dengan kisah cinta sejati dalam dongeng-dongeng yang entah dari mana. Kita menjadi akrab dengan kisah seorang gadis cantik yang selamat dari kutukan penyihir jahat setelah mendapatkan ciuman dari seorang pangeran tampan. Dan konon, itulah cinta sejati.

Tapi Maleficent, film yang baru rilis beberapa pekan lalu ini, menawarkan pengertian cinta sejati yang tak biasa, yang belum pernah diperdengarkan dalam dongeng pengantar tidur; cinta yang sangat tak asing dalam kehidupan namun tak pernah kita sadari sepenuhnya.
Alkisah, di Moors, sebuah negeri yang dihuni para peri cantik nan baik hati, hiduplah seorang peri cantik berhati lembut bernama Maleficent, yang diperankan oleh Angelina Jolie. Kekuatan dan kelembutan hatinya menjadikan ia ratu di Moors. Ia memimpin para peri menjaga Moors, dan tak mengizinkan siapa pun merusaknya. Ia melindunginya dari serangan seorang raja serakah yang tinggal di sebuah kastil mewah tak jauh dari sana. Semua penghuni Moors menghormati dan mencintainya.
Suatu ketika, seorang anak yatim piatu miskin bernama Stefan masuk ke Moors dan mengambil sebuah batu berlian. Penjaga Moors memergokinya, namun Maleficent kecil menyelamatkannya. Pertemuan pertama itu sungguh berkesan. Dan setelahnya, Stefan kemali lagi ke Moors. Kembali dan kembali, hanya untuk bertemu Maleficent lagi. Hingga akhirnya mereka menyadari, bahwa hubungan keduanya tak lagi sekedar kasih sayang tulus dua orang sahabat. Mereka saling jatuh cinta!
Tapi bagaimana pun juga, peri dan manusia tetap saja berbeda. Peri adalah makhluk yang lembut penuh kasih sayang dan tak memiliki nafsu serakah khas duniawi. Stefan adalah sebaliknya. Ia berambisi menguasai kerajaan. Ia terlalu asyik dengan ambisinya hingga lupa Moors dan tak kembali setelah sekian lama, meninggalkan Maleficent yang terus merindukannya.
Kejayaan Moors akhirnya sampai juga ke telinga raja. Ia memerintahkan prajurit kerajaan menyerang Moors untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Tapi mereka tak bisa menandingi kekuatan Maleficent dan para prajuritnya. Ia pulang dengan dendam, tapi keinginan mengusai Moors tak pernah sirna. Ia lalu membuat sayembara: yang bisa membunuh Maleficent akan menikah dengan putrinya dan mewarisi tahta kerajaan. Dan Stefan yang bertahan hidup dari ambisi terbesarnya, memulai semuanya.   
Stefan kembali ke Moors. Tapi bagaimanapun, kenangan manis bersama Maleficent di masa kecilnya membuat ia tak sanggup menghunjamkan pedang ke jantung peri cantik itu. Ia mengabaikan kesempatan emasnya tatkala Maleficent tertidur lelap di sampingnya. Sebagai gantinya, ia memotong kedua sayap Maleficent untuk dibawa ke hadapan raja. Maleficent yang terbangun dari tidurnya, menjerit kesakitan ketika menyadari kedua sayapnya telah hilang. Saya tidak bisa membedakan, raungan kesakitan itu karena luka sayatan pada kedua pangkal sayapnya atau karena rasa sakit menghadapi pengkhianatan dari lelaki yang dicintainya.
Ia pun mulai belajar berjalan tersaruk-saruk dengan kedua kakinya, dengan membawa dendam di dasar jiwanya.  
Pada pesta perayaan kelahiran putri pertama Stefan, Maleficent datang membawa hadiah dan kutukan: Aurora akan tumbuh dengan kecantikan dan keanggunan khas seorang putri, tapi pada umur 16 tahun, Aurora akan tertusuk jarum pemintal benang dan akan tertidur selamanya. Hanya satu yang bisa membangunkan Aurora dari tidur panjangnya: ciuman cinta sejati.
Karena ketakutan akan kutukan Maleficent, Stefan mengumpulkan semua pemintal benang dan menyembunyikannya di dalam gudang istana. Tak boleh ada yang tersisa satu pun hingga Aurora usai merayakan ulang tahunnya yang ke-16. Dan untuk melengkapi ketakutannya, ia mengirim Aurora untuk dibesarkan oleh 3 peri baik hati di dalam hutan. Aurora bisa kembali ke istana sehari setelah ulang tahunnya yang ke-16 kelak.
Di dalam sebuah gubuk di tengah hutan, Maleficent  yang masih merana karena pengkhianatan Stefan dan kehilangan 2 sayapnya diam-diam menyaksikan Aurora tumbuh dari waktu ke waktu, sejak ia masih balita yang baru saja mulai berjalan tertatih-tatih hingga ia tumbuh menjadi gadis jelita. Hati kecilnya yang lembut tak dapat memungkiri bahwa ia telah menyayangi Aurora dengan tulus. Ketika ia menyaksikan Aurora bermain dengan para peri di Moors, ia seperti kembali ke masa kecilnya. Keceriaan Aurora, tak ada bedanya dengan keceriaan yang ia miliki dahulu.
Rasa sayang itu membuat ia tergerak mencabut kutukannya ketika Aurora tertidur lelap suatu malam di gubuknya. Namun, ternyata ia tak bisa mencabut kutukannya sendiri meskipun ia telah mengerahkan segenap tenaga yang ia miliki. Ia teringat, bahwa saat memberikan kutukan itu, tak ada satupun kekuatan di bumi yang bisa mencabutnya. Ia menangis tak berdaya dan penuh penyesalan. Ia sadar, betapa rasa dendamnya pada Stefan telah membuat Aurora yang tak bersalah kelak akan menderita. Ia tahu bahwa begitu kutukan tersebut terjadi, Aurora tak akan bisa terbangun selamanya. Sebab “Cinta Sejati”, hanya ada dalam dongeng. Cinta sejati tidak pernah ada. Itulah sebabnya mengapa ia menjadikan hal tersebut syarat untuk membangunkan Aurora dari tidur panjangnya. Sebab, pada saat mengeluarkan kutukan itu, ia memang tak ingin Aurora terbangun. Setidaknya itulah yang bisa ia lakukan untuk membalas dendamnya pada Stefan.
Untuk menghindarkan Aurora dari kutukannya sendiri, Maleficent mengajak gadis itu tinggal bersamanya di Moors agar ia bisa menjaganya setiap hari. Aurora setuju. Ulang tahunnya tinggal sehari lagi. Dan ia pun pulang ke gubuknya dengan riang, dengan maksud pamit pada bibi-bibi pengasuhnya yang saat itu tengah sibuk menyiapkan kue ulang tahun untuknya. Namun permintaan izinnya ternyata membuat para pengasuhnya panik dan tak sengaja mengucapkan bahwa besok, selepas perayaan ulang tahunnya, mereka akan membawa Aurora ke istana ayahnya.
Aurora kaget ketika mengetahui ayahnya masih hidup, dan hari itu, kisah masa lalunya terbongkar. Ia berkuda ke istana seorang diri dan meninggalkan Maleficent dengan penuh kebencian. Sementara Stefan, yang terkejut karena Aurora kembali sebelum hari ulang tahunnya, memerintahkan agar Aurora dikurung di dalam kamar dan tak boleh keluar sebelum hari ulang tahunnya lewat. Tapi di dalam kamarnya, ia menemukan sebuah jalan rahasia yang ternyata mengarah ke gudang tempat dulu ayahnya menyimpan seluruh pemintal benang. Dalam sekejap, kutukan Maleficent menjadi nyata.
Maleficent tak kuasa mencegah. Ia baru tiba di depan istana ketika matahari terbenam dan menyadari bahwa ia terlambat menyelamatkan Aurora dan tak henti-hentinya menyesali kebodohannya ketika menyadari bahwa Aurora akan tertidur selamanya.
Di dalam kamar Aurora, ketiga peri memaksa Phillip mencium gadis itu. Mereka berpikir, Phillip yang sebelumnya ditemui Aurora saat pria itu tersesat di hutan adalah cinta sejati yang bisa membangunkannya. Maleficent dan Diaval—burung gagak yang disihirnya berubah wujud menjadi manusia—menyaksikan Phillip mencium Aurora dan makin terpuruk ketika menyaksikan bahwa ciuman itu sama sekali tak memberikan reaksi apa-apa. Ia makin yakin bahwa cinta sejati memang tidak ada, seperti yang ia ucapkan pada Diaval ketika melihat ketertarikan antara Aurora dan Phillip saat keduanya bertemu di hutan.
“True love’s kiss,” desis Diaval ketika itu, saat melihat Phillip. Ia setengah berharap bahwa pertemuan tak disengaja itulah yang kelak akan menyelamatkan Aurora.
Namun Maleficent mematahkan sendiri harapan Diaval: “Haven’t you figured it out? I cursed her that way because there is no such thing.”
Rasa sesal dan kasih sayang tulus mendorong Maleficent mencium kening Aurora. Sambil menangis, Maleficent mengucapkan permintaan maaf. Lalu ia berbalik dan mengajak Diaval pulang dengan putus asa. Namun tanpa ia sangka, suara lembut Aurora memanggilnya dari belakang. Ia hampir tak percaya bahwa ciumannya yang tulus yang ternyata mampu membangunkan Aurora.
Ia mengajak Aurora kembali ke Moors, namun seisi istana telah memergoki mereka. Pertempuran sengit kemudian membuat Stefan meninggal, dan Aurora berhasil melepaskan kedua sayap Maleficent yang dirantai Stefan di dalam sebuah kurungan. Ketiganya kembali ke Moors, dan Maleficent dengan yakin meletakkan mahkotanya ke kepala Aurora. Aurora kini menjadi ratu di Moors.
Ketika menonton film ini pekan lalu, begitu banyak tebakan saya yang salah. Saat menyaksikan pertemuan Phillip dan Aurora, saya pun mengira bahwa Phillip adalah sang pembawa ciuman cinta sejati. Dan ketika melihat ciuman Phillip tak berpengaruh apa-apa, saya pun harap-harap cemas bahwa Diaval akan diam-diam mencium Aurora ketika terlindung dari penglihatan Maleficent. Diaval mengagumi Aurora dan pernah mencium tangan gadis itu saat masih berada di Moors. Namun ketika Maleficent mencium Aurora dengan tangis penyesalan lantas berbalik pergi, saya menebak dengan benar bahwa Aurora akan terbangun setelahnya.
Penggemar film Sleeping Beauty, seperti halnya saya, akan tercengang melihat kejutan di film ini. Maleficent telah menyuguhkan arti cinta sejati yang berbeda, dan barangkali saja versi ini yang benar. Entahlah, memangnya siapa yang benar-benar tahu seperti apa cinta sejati yang sesungguhnya? Sementara Maleficent sendiri menyangkal bahwa cinta sejati itu ada. Lantas apakah cinta sejati itu adalah cinta seorang ibu kepada anaknya, mengingat Maleficent layak menjadi ibu bagi Aurora? Ah bagi saya tidak juga, sebab nyatanya tak semua ibu memiliki kasih sayang yang tulus bagi anak-anaknya.
Tapi saya kemudian lebih yakin dengan cinta sejati versi film yang disutradarai oleh Robert Stromberg ini. Maleficent mengenal Aurora sejak gadis itu masih berupa bayi kemerahan yang terpaksa disembunyikan di hutan demi menghindari kutukannya. Ia menyaksikan Aurora tumbuh pelan-pelan: merangkak, terjalan tertatih, menjadi gadis cilik, hingga menjadi seorang putri yang cantik dan berhati lembut. Hati kecil Maleficent, yang telah dipaksanya menyimpan dendam, ternyata mengkhianatinya. Ia tak bisa memungkiri bahwa kedekatannya dengan Aurora telah menumbuhkan cintanya, dan demikian juga yang dirasakan Aurora padanya.  
Share:

0 komentar: