21 June 2014

Lisa

Ketika saya melihat Lisa menangis, serta-merta saya kembali teringat pada novel To Kill a Mockingbird karya Harper Lee yang saya baca bertahun-tahun silam. Saya teringat pesan sederhana yang tak pernah bisa saya lupakan dalam novel itu: You never really understand a person untill you consider things from his point of view—until you climb into his skin and walk around it.
Saya mengartikan pesan itu secara sederhana; Kita tak pernah bisa benar-benar mengerti seseorang, sampai kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandangnya, sampai kita bisa menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya. Tapi bisakah kita melakukan semua itu? Kenyataannya, tidak! Dan itu berarti kita tak akan pernah bisa benar-benar mengerti kehidupan seseorang. Dan kesadaran itu, semestinya juga menyadarkan kita bahwasanya kita tak bisa begitu saja menghakimi seseorang dengan penilaian buruk karena melihat penampilan dari luar.
Tapi tidak demikian bagi Lisa. Hampir semua orang yang ditemuinya adalah hakim baginya, yang bisa menunjukkan apa saja kesalahannya.  Temannya tidak banyak. Orang-orang memandangnya dengan tatapan sarkastik dan ekspresi jijik. Tidak, tidak ada yang salah pada Lisa. Ia tidak memiliki sejenis penyakit menular dan penampilannya tidak berantakan sehingga harus membuat orang jijik padanya.
Lisa hanya seorang lelaki yang gemulai. Atau tepatnya, ia adalah seorang perempuan yang terjebak dalam tubuh seorang lelaki. Sebab meski ia bertubuh lelaki, ia memiliki kebiasaan-kebiasaan khas perempuan. Ia lebih nyaman memanjangkan rambut ketimbang memotongnya hingga cepak. Ia senang memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik merah tipis di bibirnya.
Tapi minggu lalu, Lisa terpaksa memotong rambutnya hingga tak bersisa. Ia  harus rela keluar rumah tanpa olesan bedak tipis di wajahnya. Tuntutan pekerjaan memaksa ia menjadi laki-laki. Jika menolak, ia dipecat. Meski usahanya tetap saja percuma. Meski ia telah berpenampilan layaknya laki-laki perkasa dari ujung kaki hingga ujung rambut, ia tak bisa mengubah caranya melangkah. Ia tak bisa berhenti tampil gemulai.
Orang-orang menjadikannya bahan tertawaan. Mereka mengolok-olok penampilannya dengan menyakitkan. Hal tersebut tak pernah bisa dimengerti olehnya. “Kenapa mereka menertawakan saya? Memangnya saya pernah meminta kepada Tuhan agar terlahir seperti ini? Sungguh, saya pun sangat ingin terlahir seperti mereka. Sebagai perempuan atau laki-laki seutuhnya,” ucapnya sambil terisak.
Tapi setidaknya Lisa jauh lebih beruntung dari teman-temannya yang lain yang terlahir dengan nasib sama dengannya. Lisa dikaruniai otak cerdas dan bisa punya pekerjaan tetap meski ia harus membayar dengan mengingkari kata hatinya. Di luar sana, banyak temannya yang tak punya kesempatan sebagus dirinya. Dan akhirnya, mereka mengambil jalan hina, yang membuat stigma orang-orang pada mereka semakin kuat. Mereka tak ada pilihan lain selain menjadi penjaja seks di sudut remang-remang kota. Tapi kalau ingin jujur, stigma buruk itulah yang terlebih dahulu dilekatkan pada mereka sebelum akhirnya benar-benar merka menjadi seburuk stigma tersebut.
Kenapa? Mereka terlahir dengan orientasi seksual yang dianggap tidak normal. Orang-orang memandang jijik pada mereka tanpa alasan yang jelas. Stigma telah menghilangkan kesempatan mereka dalam segala hal: pendidikan, pekerjaan dan status sosial. Di sekolah mereka ditertawakan. Akhirnya mereka nyaris tak punya keahlian apa-apa. Mereka tak diberi kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat karena dipandang sebelah mata. Mereka tak diberi kesempatan dalam pekerjaan. Perusaahaan-perusahaan hanya mempekerjakan laki-laki atau perempuan, tidak bagi orang yang terang-terangan berpenampilan sebagai waria. Yang beruntung punya sedikit modal, bisa membuka salon. Yang tidak beruntung dan tidak mendapat dukungan keluarga, berkumpul dengan teman sesama waria dan menjadi penjaja seks. Mereka melakukannya karena butuh uang, sebab mereka juga bisa merasakan lapar dan membutuhkan makanan untuk bertahan hidup.
Pada akhirnya, mereka benar-benar menjadi sehina stigma yang ditempelkan pada mereka. Tapi orang-orang tak menyadari, bahwa stigma itulah yang merenggut kesempatan mereka dalam segala hal dan akhirnya membuat mereka menjadi benar-benar buruk dan menghancurkan masa depan mereka.
Sudah beberapa bulan ini Lisa membantu teman-temannya. Sebuah LSM yang bergerak di bidang sosial merekrutnya untuk mendampingi teman-temannya sesama waria. Ia tahu bukan hal mudah mengubah mereka atau membuat mereka meninggalkan pekerjaan. Sebab mereka memang tak punya keahlian apa-apa semenjak stigma buruk diberikan pada mereka sejak lahir. Yang bisa dilakukan Lisa hanyalah membagikan brosur yang berisi tentang kesehatan organ reproduksi atau membagikan kondom. Harapan terakhir bukanlah agar mereka berhenti dari pekerjaan hina tersebut, tapi bagaimana menghindarkan mereka dari HIV-Aids. Lisa mendatangi teman-temannya yang mangkal di pinggir jalan remang-remang atau di lampu merah. Sesekali ia bisa mengobrol lama dengan mereka. Kadang kala, ia bersama belasan waria lain lari terpontang-panting jika ada Satpol PP yang sedang razia.
“Mengapa mereka menilai kami sedemikian rupa, sementara mereka tidak tahu siapa kami? Sementara mereka tidak tahu bagaimana rasanya menjadi kami?”
Kenapa saya teringat To Kill a Mockingbird? Sebenarnya, saya hanya teringat pesannya bahwa sungguh tidak adil menilai dan mengucilkan seseorang yang tak sungguh-sungguh kita kenal. Lisa dan kawan-kawannya seperti Boo Radley. Orang-orang di desanya menganggap Radley adalah manusia paling jahat sekaligus hina, meskipun tak ada yang benar-benar mengenalnya. Ketika bunga-bunga hazel di halaman layu, itu karena terkena tiupan nafas Radley. Ketika anjing tetangga mati di pinggir jalan, itu karena Radley. Ketika orang tua Radley pulang dari kota pada sore hari dengan membawa kantong plastik, orang-orang penasaran mereka membawa apa. Padahal tidak ada yang benar-benar tahu kehidupan keluarga itu. Suatu hal membuat mereka hidup lebih tertutup dari warga lain.
Tak ada yang tahu bahwa Radley sesungguhnya hanya manusia biasa yang pemalu, bukan monster jahat. Tak ada yang tahu bahwa Radley sesungguhnya menyayangi anak-anak. Bahwa setiap hari ia meletakkan permen, mainanan, atau koin di ceruk akar pohon besar di depan rumahnya, agar benda-benda itu bisa diambil dua bersaudara Jem dan Scout saat melintas hendak ke sekolah. Radley masih berwujud sesosok hantu jahat sampai suatu malam ia menyelamatkan nyawa Jem dari seorang musuh ayahnya.
Benar bukan? Lantas mengapa kita bisa dengan mudah menyematkan stigma buruk pada orang yang tidak kita kenal, hanya karena kita menganggapnya aneh, karena ia terlahir dengan takdir berbeda, atau karena penampilannya sehari-hari berbeda dengan kita? Jika orang-orang tak menyematkan stigma buruk pada waria, apakah teman-teman Lisa akan menjadi penjaja seks seperti sekarang? Bukankah seharusnya mereka punya kesempatan yang sama dengan kita; untuk bersekolah, untuk mengembangkan bakatnya, untuk bersosialisasi di masyarakat tanpa rasa rendah diri, untuk memperoleh pekerjaan yang layak, untuk mewujudkan cita-cita yang mereka tanam sejak kecil? Bukankah mereka juga berhak bercita-cita untuk menjadi seorang dokter, guru, pemusik atau apapun? Sebab bagaimanapun, benar apa yang dikatakan Lisa; mereka terlahir telah begitu adanya. Mereka tidak meminta menjadi waria. Sesungguhnya mereka juga ingin menjadi laki-laki atau perempuan seutuhnya. Tapi takdir, toh berkata lain.
Tentang kehidupan para waria ini, seorang teman saya yang pernah bekerja sebagai penyuluh Keluarga Berencana pernah menceritakan pengalamannya pada saya. Ia pernah bertemu seorang waria yang bekerja sebagai penjaja seks. Seks yang tidak aman telah membuatnya mengidap penyakit kelamin. Ia mengaku melihat sendiri seperti apa kondisi orang tersebut. Duburnya bengkak kemerahan dan nyaris melepuh. “Sudah ditangani dokter. Saya bisa memperlihatkan fotonya. Saya punya di laptop. Mau?” tanya teman saya. Saya menolak. Saya merasa cukup mendengar ceritanya saja. Teman saya berkata, sakit itu tak membuatnya berhenti bekerja. Teman saya pernah bertanya, apakah ia tidak merasakan sakit saat berhubungan seks? Jawabnya, sakitnya minta ampun hingga ia menangis. Tapi memangnya ia bisa apa? Ia butuh uang untuk makan. Ia tak akan pernah bisa meninggalkan pekerjaannya itu. Tidak ada orang yang mau memberikan ia pekerjaan lain.
Sekarang saya tahu kenapa Lisa sesedih itu. Kisah seperti yang diceritakan teman saya tentu tak sekali dua kali ia saksikan. Dan ia tahu, kalau saja ia tak begitu kuat menghadapi cemoohan orang-orang di sekitarnya, barangkali ia juga akan bernasib sama dengan mereka.
  
Share:

0 komentar: