06 March 2014

Anjing

Saya ingin bercerita tentang seekor anjing, hewan peliharaan yang sangat keren dan garang itu. Siang tadi, saya ngobrol dengan teman saya lewat BlackBerry Messenger. Dia memasang foto anjing sebagai display picture. Seekor anjing besar dan gagah. Saya bertanya apakah ia suka anjing. Dan ia mengiyakan. Ia bergabung dalam klub SARDog Indonesia, sebuah klub pemelihara anjing yang diperuntukkan untuk kemanusiaan. Anjing-anjing yang tergabung dalam klub itu digunakan untuk menolong korban bencana.
Teman saya bercerita, banyak yang bertanya kenapa ia memelihara anjing, padahal ia seorang Muslim. Bagi orang Muslim, anjing adalah hewan najis. Tapi ini soal hobi. Teman saya menganggap anjing adalah hewan peliharaan yang luar biasa. Ia bercerita, anjing adalah hewan yang pandai membalas budi, menjaga tuannya, dan punya naluri yang tajam. 
Dan berbicara soal najis, ia berkata, asalkan kita bisa membersihkannya, tidak ada masalah. Toh Rasullullah tidak memperbolehkan umatnya memelihara anjing karena permasalahan najis. Dia juga tidak memelihara anjingnya di dalam rumah. Kalau untuk soal ini, permasalahannya bukan najis, tapi tentang psikologis anjing itu sendiri. Ia menjelaskan, jika kita memelihara anjing di dalam rumah—apalagi seekor anjing garang berbadan besar, bukan anjing yang lucu dan imut—maka anjing itu akan mendominasi rumah. Dia akan menjadi angkuh dan defensif. Dia tidak akan lagi menghormati tuannya, tapi menganggapnya sebagai teman yang derajatnya setara.
Saya berkata, saya juga sangat ingin punya hewan peliharaan. (Tapi saya tidak akan memilih anjing tentu saja). Saya senang kuda dan kelinci. Bapak saya punya kuda. Saya kerap memeluknya dan mengelus-elus punggungnya. Kuda itu jinak sekali dan senang mengendus-endus jika saya ada di dekatnya. Saya juga ingin punya kelinci sejak bertahun-tahun lalu. Setiap melihat penjual kelinci di tepi jalan, saya selalu mampir sekedar untuk menggendongnya dan mengelus-elus punggungnya yang lembut. Saya ingin beli tapi takut kelinci itu malah mati di tangan saya.
Saya merasa terlalu sibuk. Saya tidak punya waktu untuk hewan peliharaan. Seorang kenalan saya pernah berkata, jangan sekali-sekali memelihara hewan jika tidak punya waktu luang untuknya. Sebab hewan peliharaan butuh limpahan kasih sayang yang besar. Bisa-bisa, hewan itu malah mati jika kita tidak berkomitmen meluangkan waktu untuknya.
Kepada teman saya yang punya anjing itu, saya memberikan pendapat bahwa, kita harus menganggap peliharaan kita seperti teman, seperti keluarga. Memberi makan, dan berkomitmen menjaganya. Tapi dia tidak setuju dengan pendapat saya.  “Jika kita menganggap anjing sebagai teman, sebagai keluarga, maka anjing juga akan menganggap kita seperti dirinya. Bagaimana pun, anjing tetap anjing. Kita harus menjadi tuannya, bukan menjadi keluarganya,” demikian kata teman saya.
Di lingkungan tempat tinggal saya, dari masa kecil hingga saat ini, anjing dianggap hewan paling menjijikkan. Mereka, berkata bahwa anjing adalah hewan kotor yang najisnya susah dibersihkan. Mereka yang memelihara anjing dan begitu akrab dengan hewan peliharaannya itu dipandang sebelah mata. Saya lahir dan tumbuh di lingkungan Muslim taat. Keluarga saya semuanya Muslim. 
Sama seperti orang-orang di lingkungan saya pada umumnya, saya juga tidak suka anjing. Namun alasan saya bukan sekedar anjing adalah hewan jorok. Saya melihat anjing sebagai hewan yang menyeramkan. Membayangkan gigi-geliginya—taringnya—yang tajam saat mulutnya terbuka dan lidahnya terjulur meneteskan air liur membuat saya bergidik ngeri. Saya selalu membayangkan seandainya seekor anjing garang menyerang saya dan sepasang gigi taringnya tenggelam ke dalam kulit saya.
Ketika saya bertamu ke rumah seseorang, langkah saya akan terhenti total di halaman ketika tahu di rumah yang saya kunjungi itu ada anjing. Saya tidak akan sudi melangkah lebih jauh ke dalam.
Dan saat berdiskusi dengan teman saya itu, saya berkata, bahwa rasa-rasanya, Tuhan tidak menciptakan mahluk tanpa manfaat sama sekali. Demikian pula dengan anjing. Dan bukankah, kita sudah tidak asing dengan kisah seorang wanita tuna susila yang dimasukkan Tuhan ke dalam surga karena memberi minum seekor anjing?
Konon, ada seorang pelacur yang kemudian, di masa tuanya akhirnya bertaubat. Ia menyesali perbuatannya di masa muda. Suatu ketika, ia berjalan di tengah gurun pasir dalam keadaan lelah dan haus. Dalam perjalanannya, ia menemukan sebuah sumur (barangkali oase). Dengan sepatu yang dipakainya, ia menjulurkan tangan ke dalam sumur itu hendak menangkup air untuk menghilangkan haus. Lalu datanglah seekor anjing yang juga kehausan, ngos-ngosan dengan lidah terjulur. Karena kasihan, perempuan itu tidak jadi minum. Air yang diperolehnya diberikan kepada anjing itu. Setelah minum, anjing itu segar bugar kembali dan berlari menjauh. Sementara perempuan itu, meninggal kehausan dan dikisahkan masuk surga. Jika ‘dongeng’ ini benar, alangkah Tuhan maha pengasih, bukan?   
Beberapa waktu lalu, pandangan saya berubah sepenuhnya terhadap hewan garang itu. Saya mencoba berdamai dengan ketakutan dan kejijikan saya. Dan tiba-tiba, saya menjadi merasa begitu ingin akrab dengan hewan itu. Penyebabnya adalah, saya berkunjung ke sebuah desa di atas pegunungan yang di setiap rumah penduduknya terdapat anjing peliharaan. Anjing-anjing peliharaan mereka, tidak sekedar menjemput di halaman atau di depan pintu, melainkan akan menemanimu berlalu-lalang di dalam rumah. Dari ruang tamu hingga dapur.
Saya bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat miskin yang hidup di sekitar kawasan hutan. Pekerjaan ini membuat saya sering berinteraksi dengan masyarakat yang hidup di sekitar hutan. Beberapa waktu lalu, saya ditugaskan melakukan kegiatan Monitoring dan Evaluasi program PNPM Peduli di sebuah desa di tengah hutan, di atas gunung, di Kecamatan Pipikoro, Sulawesi Tengah. Saya mendatangi 3 desa yang semua penduduknya beragama Kristen.
Di desa itu, semua penduduk memelihara anjing. Berekor-ekor. Sebagian menjalani usaha sampingan sebagai peternak babi. Ketika mulai memasuki rumah salah seorang warga, saya menarik nafas dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga menekan rasa takut saya. Seorang teman pernah berkata, seekor anjing bisa merasakan emosi yang dirasakan seorang manusia. Ia bisa tahu apa yang dirasakan orang di dekatnya.
Saya berusaha menenangkan diri saat anjing-anjing peliharaan berlalu di dekat saya, dan bulu-bulu mereka menyentuh betis saya. Di desa itu, saya harus tinggal berhari-hari. Seperti layaknya desa terpencil yang memiliki akses terbatas ke kota, di sana tak ada warung makan. Mau tidak mau saya harus menumpang makan di rumah warga. Yang saya pikirkan, bukan sekedar bahwa saya akan mati kelaparan jika tak mampu berdamai dengan rasa takut dan jijik saya terhadap anjing. Bukan, bukan hanya itu. Yang saya pikirkan jauh melebihi itu. Ada hal yang sangat mendasar. Saya membawa tanda bahwa saya seorang Muslim. Dan mereka semua adalah Kristen. Mereka tahu bahwa orang-orang Muslim pada umumnya tidak suka anjing. Dan jika saya menampakkan ketakutan saya terhadap hewan peliharaan kesayangan mereka, secara tidak langsung, saya telah membuat jurang di antara kami, dan saya tidak akan bisa menjadi bagian mereka selama beberapa hari itu.
Orang-orang Pipikoro adalah sekumpulan etnis Uma. Pada hari pertama saya berada di sana, dua orang ibu saling berbisik di belakang saya dengan bahasa Uma yang sama sekali tidak saya mengerti. Setelahnya, salah seorang di antaranya memberi tahu saya tentang apa yang mereka perbincangkan.
“Maaf ya. Tadi kami berbincang dalam bahasa kami tentang kamu,” katanya.
“Tidak apa-apa, Bu,” jawab saya. “Memangnya apa yang Ibu berdua perbincangkan tentang saya?”
“Kami bilang, beruntung kamu tidak jijik sama anjing. Di sini kami punya banyak anjing. Tadinya kami pikir kamu jijik sama anjing,” katanya.
Saya terkekeh mendengarnya. “Ah tidak, kok. Saya tidak jijik sama anjing. Saya sudah terbiasa bermain-main dengan anjing,” jawab saya. Saya berbohong tentu saja. Seumur hidup, saya tidak pernah berdiri begitu dekat dengan seekor anjing. Ini yang pertama kalinya. Dan ternyata, jawaban saya itu membuat mereka senang. Mereka jadi lebih akrab dan senang dengan saya.
Dan seperti itulah akhirnya yang saja jalani selama 2 hari itu di desa tersebut. Saya tidur di dalam rumah seorang kepala desa, dengan anjing berlalu-lalang di ruang tamu hingga dapur. Juga dengan suara ngiukan babi yang tak mau kalah ingin melihat gerangan seperti apa wujud tamu tuannya.
Sepulang dari desa itu, ketika tiba di kantor di Makassar, saya berkata kepada rekan kantor, saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga di sana. Bukan sekedar bahwa saya bisa melaksanakan tugas saya di sana. Pengalaman yang paling saya hargai adalah: setelah dari desa itu, saya tidak lagi takut terhadap anjing, segarang apa pun anjing itu di hadapan saya. Dan saya, bisa memahami persahabatan anjing dan manusia. Meskipun, saya tetap tidak akan memilih hewan itu jika punya kesempatan memiliki hewan peliharaan. Saya tetap lebih sayang kuda atau kelinci.

Share:

0 komentar: