17 January 2014

Belajar Bahasa Perancis di IFI Surabaya


Bonjour! Je m'appelle Anne Françoise. Je suis Indonésienne. J'habite à Surabaya, mais je viens de Makassar.
Selama seminggu pertama belajar bahasa Prancis di Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya, itulah kalimat yang selalu saya ulangi setiap hari. Sejak hari pertama, saya telah mendapat nama Prancis dari Monsieur Karguna, professeur (guru) yang mengajar saya di minggu pertama. Anne Françoise! Nama pemberian Monsieur Karguna ini membuat lidah saya menderita berhari-hari karena tak sanggup mengucapkannya dengan benar.  
Di kelas saya ada 5 siswa lain: Arnella Harvany (Armelle Legrand), Patricia Harsono (Pauline Rapon), Tika Ristyarini Hapsari (Therese Garnier), Ahmad Yani Budi Laksana (Alain Dumenil), dan Renaldi Andra Pradana (Rolland Martin). Semuanya mendapat nama Prancis. Teman-teman saya ini pun sama menderitanya dengan saya menanggung beban nama Prancis yang mengucapkannya membuat lidah menjadi keriting. Kami butuh waktu berhari-hari untuk bisa mengucapkan nama kami masing-masing dengan benar. Sementara Monsieur Karguna, tertawa terbahak-bahak melihat begitu payahnya lidah kami menyebut nama sendiri.

Kami datang dari daerah yang berbeda-beda, kecuali Renaldi yang memang asli Surabaya. Tika dari Pasuruan, Patricia dari Manado, Arnella dari Malang, dan Yani dari Kediri. Mereka mengambil kursus intensif dengan alasan bermacam-macam. Tika dan Patricia ingin melanjutkan kuliah di Prancis, Renaldi sekedar iseng, Arnella mengisi waktu sambil menunggu waktu melahirkan bayinya, sementara Yani, ia sendiri sepertinya tidak tahu alasan mengapa belajar bahasa Prancis. Yani mahasiswa semester akhir di Universitas Malang yang sedang galau menunggu Drop Out (DO).
Di minggu pertama, Monsieur Karguna yang mengajar kami. Cara mengajarnya menyenangkan. Ia senang
Saya dan Patricia di depan Eiffel
bercanda dan tak segan-segan menertawakan jika kami membuat kesalahan. Di awal mengajar, Monsieur Karguna sudah memberi tahu bahwa dia bukan guru kami yang sebenarnya. Monsieur Karguna mengajar kami hanya selama 3 hari pada minggu pertama. Selama dua hari berikutnya, kami diajar oleh Monsieur Wawan Sasono.
Meski kapasitas kedua guru kami ini tak diragukan, namun Monsieur Wawan mengajar dengan metode berbeda. Monsieur Wawan terbiasa menggunakan video. Ia memulai kelas kami dengan mengajarkan conjugasion yang langsung membuat kami menarik nafas dalam-dalam. Patricia bilang, jika Monsieur Karguna mengajar kami dengan lebih santai, Monsieur Wawan seperti memborbardir kami dengan rumus conjugasion, dan otak kami serasa ingin meledak, belum sanggup menelan rumus-rumus itu.
Di sela-sela istirahat 15 menit di kantin, kami berunding tentang guru kami selanjutnya. Kami khawatir jika guru kami yang asli, nantinya jauh lebih serius dari Monsieur Wawan. Patricia bilang ia ingin request supaya kami diajar Monsieur Karguna saja sampai kursus selesai. Saya bilang, dengan diajar Monsieur Wawan, sepertinya kita akan lebih cepat pintar.
Pada hari Senin di minggu kedua, Monsieur Karguna mengajar kami untuk terkhir kalinya. Besok guru kami yang sebenarnya akan datang. Monsieur Karguna bilang, nama guru kami itu adalah Madame Wea. Beliau habis cuti sehingga digantikan Monsieur Karguna dan Monsieur Wawan di minggu pertama.
Esok harinya, kami harap-harap cemas menunggu di depan kelas, seperti apa gerangan wujud Madame Wea. Kami kembali bermain tebak-tebakan, akan seperti apa gerangan metode mengajar Madame Wea. Saya berkata kepada teman-teman, kami harus rajin belajar supaya tidak mengecewakan Madame Wea. Sebab biasanya guru perempuan jauh lebih cerewet dan lebih tidak sabar menghadapi murid-murid bandel dan malas.
Pagi itu, sambil duduk di depan kelas, kami tak henti-hentinya melihat ke pintu, sambil menebak-nebak apakah setiap perempuan yang masuk melewati pintu IFI adalah seorang Madame Wea. Ketika seorang perempuan muda berambut panjang masuk, kami sama-sama menebak dengan benar: “Itu pasti yang namanya Madame Wea!” Ia masuk ke kelas dengan kalem, duduk di depan, dan kami mengikutinya dengan was-was. Kami duduk di kursi masing-masing dalam senyap.
Tika, Mme Wea, Arnella, Anies
Tapi ternyata, sosok Madame Wea sangat jauh berbeda dari yang kami bayangkan. Madame Wea orangnya humoris dan sangat menyenangkan. Pagi itu, ia menyambut kami dengan hangat.
Kami melongo di hari pertama ia masuk, ketika tanpa ba-bi-bu ia langsung mengajak kami bercakap-cakap dalam bahasa Prancis. Dan yang membuat kami takjub sekaligus terpesona adalah ketika ia berbicara, seluruh anggota badannya dari kepala hingga pinggang ikut bergerak. Itu adalah cara Madame Wea agar kami gampang mengerti. Sambil bicara, ia juga menggunakan bahasa tubuh.
Ketika ada sebuah kata yang tidak kami tahu artinya, Madame Wea tidak menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Ia menjelaskannya tetap dalam bahasa Prancis sambil memeragakannya dengan tangan. Beruntung Madame Wea tidak menanyakan nama Prancis kami sehingga kami tidak perlu lagi tersiksa menyebut nama ajaib itu.
Di antara seisi kelas, Yani yang selalu menjadi bulan-bulanan. Kami menilai anak itu terlalu polos dan lucu. Ia juga yang paling lambat menangkap pelajaran. Ia selalu menjadi bahan tertawaan kami di dalam kelas. Ia juga yang paling sering diomeli Madame Wea karena selalu tidak mengerjakan PR. Yang paling membuat kami tertawa terpingkal-pingkal adalah kebiasaannya memanggil Madame Wea dengan sebutan ‘Ibu’. Dan Madame Wea dengan sewot menanggapi, “Hah, Ibu?”. Well, panggilan ‘ibu’ untuk guru tidak berlaku di kelas kursus Prancis kami.
Patricia, Tika, Madame Wea, Arnella
Suatu hari di dalam kelas, saya, Patricia, Arnella, dan Tika tak dapat menahan gelak tawa menyadari sesuatu yang ganjil dari Yani. Setiap latihan berbicara, kami dahului dengan menyebutkan nama disertai umur. Lalu kami berlatih bicara berpasangan dengan teman secara bergantian. Yang lucu, saat berbicara dengan Arnella dalam bahasa Prancis, Yani menyebut umurnya 25 tahun. Sementara ketika bicara dengan Patricia, umurnya berubah menjadi 20 tahun. Di kelas Monsieur Karguna sebelumnya, ia menyebut umurnya 23 tahun. Di kelas Monsieur Wawan, ia bilang tidak punya nomor HP. Ia bahkan tidak tahu nomor rumahnya. Tapi di kelas Madame Wea, ia bisa mengeja nomor HP-nya dengan terbata-bata.
Setiap hari, Yani memperlihatkan wajah memelas penuh penderitaan ketika kelas berakhir dan Madame Wea memberi PR untuk kami. Setiap dapat PR, Yani akan mengusap wajah sambil mengucap istighfar, dan kami pun akan kembali tertawa. Sementara Madame Wea kembali mengomelinya. “Kalau dapat tugas tuh, ucapnya alhamdulillah, bukan malah astaghfirullah,” kata Madame Wea.
Di kelas Madame Wea, kami sedikit kecewa karena ia tidak menggunakan sistem hot chair seperti Monsieur Karguna. Sewaktu masih diajar Monsieur Karguna, kursi yang berada di ujung kanan adalah hot chair. Yang datang telat akan mendapat hot chair tersebut karena yang datang lebih awal tidak akan sudi duduk di sana. Duduk di hot chair, berarti siap-siap menjawab pertanyaan Monsieur Karguna pertama kali. Setiap mengajukan pertanyaan, telunjuk Monsieur Karguna pasti akan mengarah ke hot chair sebelum ke yang lainnya.
Dans la classe
Seringkali kami mengerjai Yani agar ia yang mendapat hot chair. Anak itu selalu datang lebih awal dari siapa pun. Saya bahkan curiga ia datang lebih cepat dari security IFI, sebab setiap saya datang, ia telah duduk tenang di kursi depan kelas sambil membaca koran. Begitu yang lain datang, biasanya Yani masih asyik dengan korannya. Dan kami pun buru-buru masuk ke kelas, mengatur tempat duduk dan menyisakan hot chair untuk Yani. Dengan Madame Wea, hot chair itu tidak berguna sama sekali. Jika ingin mengajukan pertanyaan, Madame Wea akan mengarahkan telunjuknya sekehendak hati, kemana pun ia suka.
Cara belajar kami di kelas tak ubahnya bak anak SD yang senang bermain-main jika luput dari perhatian guru. Arnella mematenkan tempat duduknya di ujung kiri, lalu menyusul Patricia, saya, Tika, Renaldi, dan Yani di ujung kanan.
Jika sedang ingin serius belajar, biasanya saya menghindari berada di antara Patricia dan Tika. Duduk di samping Patricia, selalu saja ada hal-hal kecil yang membuat kami tertawa. Patricia senang mengeluarkan suara aneh dari mulutnya—menirukan entah suara tikus atau suara kambing. Sementara Tika, ia kerap mencolek saya, atau mencubiti lengan saya. Dan pada akhirnya, kami akan saling mengganggu hingga tertawa terbahak-bahak. Candaan kami akan terhenti jika Madame Wea melirik sambil bertanya, “Il y a une question?” (Apakah ada pertanyaan?).
Kadang saya merasa kasihan pada Madame Wea. Meskipun kami telah mengeluarkan sejumlah biaya untuk bisa duduk di dalam kelas ini, namun tampak jelas ia juga telah mengeluarkan segenap kemampuannya untuk mengajar kami. Metode mengajar yang ia pilih memang agak berbeda dari guru kami sebelumnya. Bagi saya, Madame Wea berusaha jauh lebih keras agar kami cepat memahami pelajaran yang ia berikan. Ia lebih banyak berbicara dan berinteraksi dengan kami. Gerakan tubuhnya saat ia berusaha menjelaskan hal-hal yang tidak kami pahami, mirip orang yang sedang berolahraga. Kalau kami tidak di dalam ruangan ber-AC, ia pasti akan bercucuran keringat menghadapi kami yang berotak agak tumpul. Saya yakin, Madame Wea akan kurus kering jika terlalu lama menghadapi kami. Untung Cuma 2 bulan.
Arnella, PAtricia, Tika.
Bahasa Prancis memang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Setidaknya ini menurut saya. Bahasa seksi ini misalnya, memiliki identitas gender untuk setiap kata benda-nya. Feminin dan Masculin. Kami bingung bagaimana ciri jenis kata benda yang terasuk Feminin atau Masculin. Biasanya, kata Feminin ditandai dengan akhiran huruf E di akhir kata. Namun toh, tetap saja ada pengecualian. Misalnya untuk nama-nama negara (Les Pays). L’Indonesie, La France, adalah negara dengan artikel Feminin. Negara berartikel Masculin misalnya Le Japon, Le Portugal. Namun toh, Le Mexique jelas-jelas berartikel Masculin juga meski berakhiran huruf E.
Kebingungan lain adalah soal adjectif (kata sifat). Umumnya dalam bahasa Inggris, kata sifat selalu berada di depan kata benda. Namun dalam bahasa Prancis, adjectif bisa jadi berada di depan atau di belakang kata benda. Misalnya: A beautiful wowan, dalam bahasa Prancis adalah Une belle femme. Namun ada juga phrase bahasa Prancis yang adjectif-nya berada di belakang kata benda. Contohnya,  la musique classique (musik klasik). Dalam bahasa Inggris, kira-kira kita akan mengatakan classical music.
Tidak ada rumus untuk menentukan adjectif mana yang ditempatkan di depan atau di belakang kata benda. Bingung??? Ya, saya juga!
Ada beberapa kata yang gemar diucapkan Madame Wea dalam kelas, yang kami tiru dalam percakapan sehari-hari. Madame Wea senang mengucapkan kata “Superbe!” (hebat) jika ada pertanyaan yang kami jawab sempurna. Itu kata favorit saya. Atau kata “Normalement....” (normalnya....). Arnella menirunya dengan cara yang sangat lucu. Ketika Patricia menegurnya jika melakukan sesuatu, ia langsung menjawab, “Ah, tidak apa-apa. Ini normalment kok.” Dan kami kembali tertawa terbahak-bahak.   
Patrick et Tika
Teman yang lucu dan bersahabat, professeur(es) yang luar biasa, ruangan yang sejuk dan nyaman, adalah beberapa dari banyak hal yang membuat IFI Surabaya menjadi tempat yang sangat menyenangkan untuk belajar. Jika sedang bosan, atau saat kelas berakhir, kami biasanya masuk ke biblioteque (perpustakaan). Di sana terdapat ribuan koleksi buku dan film dalam bahasa Prancis. Biasanya saya meminjam film untuk mengisi akhir pekan agar tidak bosan.
Awal kursus, saya sempat bingung memilih tempat kursus di cabang IFI yang lain, Bandung, Yogyakarta atau Jakarta. Saya tidak mau memilih Jakarta, karena di sana tinggal salah seorang kakak saya. Kalau memilih Jakarta, saya takut lebih banyak main ke tempat kakak saya dan jadi malas belajar. Di Yogyakarta, tidak ada jadwal kursus seperti yang saya inginkan. Sementara di Bandung, saya malah diminta untuk masuk kelas satu hari berselang saya menelpon ke sana. Di Alliance Francais Denpasar, saya ditawarkan kelas privat seharga Rp 90 ribu per jam selama 100 jam.
Kursus intensif di IFI Surabaya sangat menyenangkan. Sayang sekali, program kursus intensif yang disediakan untuk  tahun 2013 yang saya ikuti hanya sampail level A2. Sementara saya butuh sertifikat DELF B2. Kabar baiknya, tahun 2014 ada program baru kelas intensif untuk kemampuan bahasa Prancis di setiap level, A1, A2, B1, dan B2. Dan untuk bisa melanjutkan ke B1 dan B2, saya harus mencari teman yang ingin melanjutkan kursus intensif dengan level yang sama dengan saya.    

      

Share:

0 komentar: