08 December 2013

Ibu



Di jiwanya bersemayam rindu. Pada anak-anak yang tumbuh dewasa dengan begitu cepat. Yang mulai mandiri untuk mencari penghidupan hingga lupa untuk pulang. Ah, mereka telah mampu menanggung kesakitannya sendiri hingga lupa pada masa kanak-kanak yang penuh derai tawa dan suka cita sang ibunda.
Matanya begitu ibu. Di sana seberkas cahaya berpendar-pendar begitu elok. Itu cahaya cinta. Cinta yang begitu ibu. Tidak hanya di matanya, juga pada keriput kulitnya, pada mesra tawanya, pada lembat tutur katanya yang begitu ibu.
Kami bercerita tentang kelahiran dan kematian pada senja yang begitu sendu. Kelahiran yang mewarnai perjalanannya, tentang jiwa-jiwa mungil yang bergelayut manja di lengannya, dan tidur dalam damai di peluknya.
Juga tentang kematian pernah datang menghempasnya.  Sebuah kematian merampas jiwa yang begitu dicintainya, yang sepenuh hati dipertahankannya. Ia marah ketika sebuah suara membisikkan doa di telinganya: Tuhanku, jika kau menginginkan suamiku, kumohon segerakanlah, jangan biarkan ia terlalu lama dalam kesakitannya.
Ia bertahan karena cinta. Demi anak-anak yang segera tumbuh dengan cepat. Kerinduan tetap menyertai perjalanannya.  Langkah-langkahnya menjadi ragu. Pada setiap yang ditemuinya di jalan, ia bercerita betapa manis anak-anaknya. Ah, anak memang selalu lucu untuk seorang perempuan yang pernah merasakan perihnya mengerang sakit demi mengeluarkan anak-anak dari selangkangan. Anak-anak yang tak akan pernah menjadi dewasa bagi ibunya. Selamanya akan menjadi anak-anak, bahkan hingga mereka memiliki anak-anaknya sendiri.
Di dadanya,  dalam hangat peluknya, aku berbohong sambil memejamkan mata. Aku punya ibu yang bahagia, yang selalu merindukan anaknya untuk pulang. Seperti dirinya. Tapi aku tak pernah rindu untuk pulang, seperti juga anak-anaknya.
Lalu kami tertawa-tawa, dalam senja yang begitu sendu. “Ah, anak-anak. Ah, begitu lucunya dirimu. Sama seperti anak-anakku juga.” Tiba-tiba, aku merasa ingin selamanya tenggelam dalam pelukannya.  

Makassar, 9 Desember

Share:

0 komentar: