06 December 2013

Orang-orang Gunung dan Bandara Mutiara (Catatan Perjalanan ke Pipikoro bagian I)


Pemandangan dari atas ketinggian Pipikoro (Photographed by Anies)
Palu adalah sebuah kota yang tumbuh dengan tergesa-gesa. Ia seperti seseorang yang dipaksa untuk berlari cepat tanpa diberi perlengkapan memadai.
Infrastruktur masih seadanya. Fenomena listrik padam adalah hal biasa. Jalanan menuju kabupaten di luar kota Palu sebagian besar rusak.
Kota ini berada di pesisir Sulawesi Tengah, dikelilingi pegunungan yang permukaannya adalah hutan asri. Topografinya membuat proses pendaratan pesawat begitu rumit. Pesawat harus berputar dan mengambil jalur dari arah laut, untuk posisi yang tepat untuk pendaratan.
Sebelum naik ke pesawat Garuda di Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, saya bertemu Pak Junaidi, seorang kenalan saya yang pernah menjadi staf di Kantor Balai Karantina Hewan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan. Ia pindah tugas ke Palu Sejak Januari lalu dan menjabat sebagai kepala balai di sini. Dulu kami sering bertemu di Makassar. Ia merasa pertemuan kami hari itu sebuah kebetulan yang luar biasa. Sepanjang perjalanan hingga pesawat landing, ia menawarkan diri mengantar saya ke hotel.
Ketika pesawat mendarat di Bandara Mutiara Palu, saya menyaksikan di sekitar lapangan parkir pesawat tampak sejumlah truk besar dan eskavator yang mengeruk tanah. Rupayanya bandara akan diperlebar. Saya dan Pak Junaidi berjalan menuju terminal yang begitu kecil dan sempit. Para penjemput bebas berdiri di pintu masuk terminal tanpa pengamanan layaknya di bandara-bandara besar, seperti di Makassar. Sementara di pintu depan, adalah tempat parkir kendaraan.
Di seberang jalanan sempit yang sekaligus menjadi areal parkir itu, tampak proses pembangunan terminal baru yang lebih rapi dan apik. Benar perkiraan saya. Terminal ini akan direnovasi. Jika melihat bentuk bangunannya, tampaknya akan jauh lebih besar dari terminal sebelumnya.
Pak Junaidi menjelaskan, pembangunan terminal di depan sana dipercepat khusus untuk menyambut Pak Presiden. Sebentar lagi terminal kedatangan tempat kami saat ini akan diratakan dengan tanah dan berubah menjadi areal parkir pesawat. Bulan Desember proses renovasi harus selesai, apa pun alasannya. Sebab, Desember nanti, Pak Presiden dan sejumlah menteri akan hadir untuk kegiatan Festival Nusantara di Palu.
Proses ini bagi Pak Junaidi sangat luar biasa. Desember tinggal menghitung hari. Sementara bangunan yang hendak diratakan dan disulap menjadi lapangan parkir pesawat masih terlalu banyak. Pembangunan terminal di depan sana juga belum lagi kelar.
Menurut Pak Junaidi lagi, pembangunan bandara ini menjadi lebih luar biasa lagi karena proyeknya dipegang langsung oleh negara, bukan oleh PT Angkasa Pura seperti bandara di kota lainnya. Dia sempat menyebut angka proyek. Saya tidak mengingatnya, namun kemudian saya menelusuri kebenaran seluruh informasi yang ia berikan lewat internet.
Pembangunan bandara ini, konon dimulai sejak 2010 dan ditargetkan selesai pada 2015 mendatang dengan biaya sebesar Rp 35 miliar rupiah. (Soal ini, informasi yang saya peroleh bisa saja salah).
Saya lebih tertarik memikirkan proses pembangunan bandara itu ketimbang kemegahan hasilnya kelak. Bagi saya, sesuatu yang dilaksanakan dengan tergesa-gesa, tidak akan memberikan hasil yang sempurna. Membangun sesuatu sambil memikirkan waktu deadline yang kian dekat akan membuat kita menjadi mengesampingkan hal-hal sepele yang justru berpengaruh pada hasil akhir dari bangunan tersebut.    
Ini pendapat pribadi saya yang bisa saja salah. Bahwa, barangkali karena pembangunan bandara dipercepat agar bisa dilihat dan diresmikan presiden, konstruksi akan dibuat seadanya. Yang penting segera selesai, dan seperti apa hasil akhirnya kelak, itu akan menjadi soal belakangan. Sebab untuk kesempurnaan hasil sebuah pembangunan, biasanya prosesnya dilaksanakan dengan teliti dan tidak dengan tergesa-gesa karena tenggak waktu yang diberikan.
Saya kemudian berpikir, jika pembangunan bandara ini tidak selesai pada Desember nanti, apakah Festival Nusantara akan batal, atau presiden dan sejumlah menteri akan membatalkan kedatangannya? Kepada siapa mereka ingin memamerkan kemajuan kota Palu, yang direpresentasikan oleh bandara ini? 
Ah, saya mengesampingkan pikiran-pikiran itu. Toh, tak ada gunanya juga. Saya kemudian lebih fokus memikirkan tugas utama saya berada di kota ini. Besok, saya akan melihat program PNPM Mandiri di Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi. Saya harus mendatangi 3 desa di atas pegunungan. Desa Porolea, Lonebasa, dan Lawe.
Sore itu, Pak Junaidi mengajak saya mampir ke kantornya, sebuah gedung yang tidak terlalu besar namun bangunannya tampak modern. Ruangannya ada di lantai 2. Ia memaksa saya ikut ke atas. Ia menjelaskan setiap ruangan yang ada di dalam gedung itu. Beberapa staf memperhatikan kami. Barangkali mereka heran, bos mereka pulang dengan membawa seorang tamu yang tidak berpenampilan seperti ‘orang penting’, malah berpenampilan seperti pengembara tersesat. Tapi saya menilai, Pak Junaidi memang menganggap saya orang penting, dan saya menganggap itu sangat lucu. Kepada para stafnya, ia memperkenalkan saya sebagai seorang mantan wartawan Tempo di Makassar. Di dalam ruangannya, ia menjamu saya dengan teh dan kue.
Rupanya saya tidak memerlukan proses pamit kepada Pak Junaidi. Sebab begitu ia merasa perbincangan kami cukup, ia sendiri yang justru ‘mengusir’ saya. Ia bangkit duluan dan mengajak saya keluar dari ruangannya. Di bawah, salah seorang stafnya sudah siap dengan mobil untuk mengantarkan saya ke hotel.
Keesokan harinya, jam 8 pagi, Pak Subarkah, rekan yang aktif di lembaga Relawan untuk Orang dan Alam (ROA), yang akan menemani perjalanan saya, menjemput saya di hotel dengan sebuah mobil yang kami sepakati untuk disewa lengkap dengan sopirnya. Kami hendak menuju Kecamatan Kulawi. Menurut Pak Subarkah, perjalanan ke sana memakan waktu 2 jam. Dari Kulawi kemudian, kami akan mencari ojek yang akan mengantarkan kami ke Pipikoro.
Dari kota Palu ke Kulawi, kami melewati jalan beraspal yang sudah rusak. Jalanan berkelok-kelok dan sempit sehingga kendaraan yang berpapasan harus saling mengurangi kecepatan. Di sepanjang sisi jalan adalah hutan lindung dan persawahan. Saya juga menyaksikan bekas longsoran tanah pegunungan. Juga tumpukan tanah kering—yang bercampur potongan-potongan kayu—sisa banjir bandang pada tahun 2012 lalu.
Rupanya nasib baik sedang tidak berpihak kepada kami. Sopir kami mengomel dengan kesal. Ia salah paham. Kulawi tidak terlalu jauh dari kota Palu. Jaraknya sekitar 1 jam perjalanan.  Tapi Kulawi Selatan yang menjadi tujuan kami, masih membutuhkan satu setengah jam perjalanan dari Kulawi. Pukul 12 siang, kami tiba di Gimpu, sebuah desa di Kulawi Selatan. Kami mampir di sebuah warung makan. Sopir itu menolak ikut makan. Ia segera meninggalkan kami setelah sebelumnya meminta kami menambah ongkos.
Selepas makan, sejumlah warga menanyakan kami hendak ke mana. Dari penampilan kami yang begitu rapi dengan ransel besar, wajar saja mereka tahu bahwa kami akan bepergian jauh. Saat kami menyebut Porolea, beberapa orang di antaranya menawarkan diri membantu mencari ojek. Pak Subarkah mengiyakan. Pokoknya, saya menyerahkan hidup saya kepada Pak Subarkah di tempat ini. Sebab saya yakin ia lebih paham. Ia pernah ke Pipikoro sebelumnya, 2 tahun silam. Beda dengan saya yang memang baru pertama kali menginjak tempat ini.
Namun hingga 2 jam lamanya kami menunggu di warung tersebut, ojek tak kunjung datang. Kami mulai gelisah. Beberapa orang warga menjelaskan, ojek ke Porolea hanya ada pada pagi hari. Itu pun, bukan oleh warga yang memang berprofesi sebagai tukang ojek. Di sini tidak ada warga yang memang berprofesi sebagai tukang ojek. Semuanya punya sepeda motor sendiri. Pada pagi hari, biasanya orang-orang Porolea akan turun ke Gimpu untuk belanja. Pada saat itulah, biasanya mereka sekalian mengangkut orang-orang yang ingin ke sana.
Kecamatan Pipikoro adalah sebuah wilayah terisolasi di atas pegunungan. Tak ada akses ke sana selain jalan setapak berundak-undak, beberapa jembatan kayu, dan sebuah rakit bambu untuk menyeberangkan sepeda motor. Sepeda motor mesti berjalan tertatih-tatih. Pada musim hujan, orang-orang bermotor harus lebih hati-hati sebab jalanan akan menjadi becek dan berlumpur. Pada bagian jalan yang terdapat batu-batu kerikil, jalanan akan menjadi sangat licin.  Sepanjang jalan adalah hutan, kebun, dan jurang terjal. Menuju Pipikoro, kita mempertaruhkan nyawa. Ini saya baca dari laporan seorang teman. Dan sekarang, saya akan membuktikannya sendiri. Saya akan ikut melalui jalan, mempertaruhkan nyawa untuk menemui orang-orang suku Uma di atas gunung.
Setelah duduk terkantuk-kantuk selama 2 jam di warung tersebut, saya meraih ransel dan mengajak Pak Subarkah untuk mencari penginapan. Seorang perempuan paruh baya, pemilik toko kelontong di samping warung menawarkan sebuah kamar kosong di rumahnya ketika kami mulai berjalan menjauh. Pak Subarkah menerima, tapi saya menolak. Saya merasa tidak nyaman menerima tawaran orang asing. Dan lagi pula, Pak Subarkah berkata, kamar itu bisa untuk saya dan ia bisa tidur di luar. Saya tidak tega.
Kami berjalan beberapa puluh meter ke pertigaan jalan, kembali ke arah tadi kami datang. Hati saya dipenuhi harapan ketika melihat beberapa buah sepeda motor terparkir di pinggir jalan. Tapi lalu saya kecewa lagi ketika sadar bahwa tempat itu adalah sebuah bengkel tempat sejumlah motor rusak menunggu giliran diperbaiki. Pak Subarkah bertanya kepada seseorang apakah ada ojek yang bisa mengantarkan kami ke penginapan. Jawabannya hanya gelengan kepala. Penginapan terdekat berada di desa seberang. Namanya Desa Lowua.
Kami duduk di sebuah balai-balai kayu di bawah sebuah pohon, nyaris putus asa. Pak Subarkah tidak menjelaskan kepada saya bahwa jarak penginapan masih cukup jauh. Jika iya, saya akan terpaksa menerima tawaran ibu pemilik toko tadi. Seorang pria datang menghampiri. Ia mengatakan bersedia mengantarkan kami ke Porolea, tapi ia harus mencari salah seorang temannya lagi, karena kami berdua. Kami mengiyakan dengan gembira. Ia lalu pergi, dan tidak kembali hingga 2 jam lamanya kami menghabiskan waktu duduk kebingungan di balai-balai itu.
Pak Subarkah mulai mengantuk. Ia merebahkan badan. Saya memperhatikan sekitar. Tak ada mobil berlalu-lalang. Jika ada, saya akan menyetop dan memohon-mohon agar kami diberi tumpangan mencari penginapan. Saya mendekati seorang pria dan bertanya jarak Desa Lowua. Jawaban pertama adalah 2 kilometer, yang kemudian ia ralat sendiri menjadi 1 kilometer. Saya mendekati salah seorang lainnya yang memberikan jawaban berbeda, yakni hampir mencapai 3 kilometer.
Pak Subarkah bertanya apakah saya sanggup berjalan kaki menuju penginapan. Saya berkata sanggup, tapi tidak akan melakukannya saat ini. Sebelum berjalan ke sana, saya harus memastikan jarak pastinya, bukan dengan jarak yang direka-reka. Sebab jika ternyata jaraknya 5 kilometer, kami tidak akan tiba di sana sebelum tengah malam. Pilihan terakhir yang saya pikirkan adalah menemui ibu tadi dan bertanya apa tawarannya masih berlaku, dengan resiko menanggung malu.
Mata saya kian nanar memperhatikan sekitar. Banyak sepeda motor berlalu-lalang. Menurut Pak Subarkah, semua warga di sini memiliki sepeda motor. Sebab itu adalah satu-satunya alat transportasi yang ada. Dan saya merasa, alangkah bodohnya saya jika tak berhasil merayu satu pun dan memaksa mengantarkan saya ke penginapan. Saya harus nekat dan tidak memikirkan malu.
Dari sebuah rumah di belakang balai-balai, muncul seorang bapak berpenampilan klimis sambil mendorong sepeda motor Honda Beat-nya. Sepertinya ia akan pergi entah ke mana. Saya mendekatinya. Setelah berbasa-basi sejenak, saya pun menjelaskan tujuan saya. Dan berhasil! Ia bersedia mengantar ke penginapan dengan ongkos Rp 15 ribu untuk 2 buah sepeda motor. Ada sebuah sepeda motor lain di bawah pohon. Ia memanggil seorang bocah, barangkali anaknya, yang akan membawa motor itu. Saya membangunkan Pak Subarkah, yang kemudian mengambil alih kemudi motor dari bocah itu. Saya girang. Setidaknya kami bisa menemukan tempat untuk beristirahat.
Ah, ternyata di sini, saya harus memegang hidup saya sendiri, tak bisa menyerahkan semuanya ke Pak Subarkah. Saya merasa geli. Orang yang mengantar kami ke penginapan, berjanji akan menjemput keesokan paginya dan mengantar kami ke Pipikoro.
Mendung menyelimuti Kulawi Selatan ketika kami tiba di penginapan. Saya meminta kopi, dan Pak Subarkah meminta teh. Ia kaget saya minum kopi. Katanya, di Porolea saya akan bisa menemukan kopi enak yang diproduksi warga. Kopi robusta. Saya tentu senang. Saya berencana membeli banyak untuk saya bawa ke Makassar sebagai oleh-oleh. Orang-orang di kantor saya adalah para pecandu kopi.
Kamar saya sangat sederhana. Hanya ada tempat tidur dan sebuah kipas angin kecil. Kamar mandi entah di mana. Listrik padam. Tapi tak apalah. Setidaknya kami tidak tidur di jalanan. Dari jendela belakang, saya menyaksikan padang rumput yang dipagari pegunungan.
Senja kian tua. Matahari kian tenggelam, bersembunyi di punggung bukit. Kulawi Selatan mulai gelap dan listrik belum juga menyala. Saya memikirkan Porolea, Lonebasa, Lawe, dan orang-orang suku Uma di atas gunung yang tak bebas kemana-mana karena akses yang terbatas. Saya memikirkan pembangunan bandara megah di kota Palu yang akan segera diresmikan Pak Presiden. Ah, betapa kontrasnya. Betapa miris. Sayang sekali, bagi pengambil kebijakan, miliaran rupiah jauh lebih berharga untuk pembangunan bandara, ketimbang memperbaiki akses jalan bagi orang-orang di pegunungan yang tak membutuhkan bandara.
bersambung

Kulawi, Sulawesi Tengah, 20 November 2013
Share:

0 komentar: