05 December 2013

Bibi


Saya tidak pernah tahu siapa nama perempuan tua itu. Saya mengenalnya tak sampai 24 jam.
Ketika saya sedang ada kegiatan di Bogor, sebelum pulang ke Makassar, saya menyempatkan diri untuk mampir ke rumah kakak saya di Pamulang. Saya ingin melepas rindu dengan 3 orang ponakan. Kakak saya sedang keluar bersama dua anaknya. Si bungsu yang masih berumur kurang dari 2 tahun ditinggal bersama perempuan tua itu.
Ia yang membukakan saya pintu. Ia bilang baru mulai bekerja di rumah kakak saya pada hari itu juga. Ia berasal dari Klaten. Si bungsu menyambut saya minta digendong. Karena si bungsu tampak kotor, saya membawanya ke kamar mandi, memandikan dan membuang popoknya.
Kakak saya datang selagi kami masih di kamar mandi. Ia bertanya kenapa bukan Bibi (perempuan itu) yang memandikan si kecil. Saya bilang, Bibi belum melihat kalau kalau popoknya sudah harus diganti.
Saya bermain-main dengan ketiga ponakan saya malam itu. Bibi duduk menonton tivi. Saya memperhatikannya. Ia tampak segan dan bingung. Mungkin ia tidak tahu harus melakukan apa.
Ia hanya memperhatikan kami dan sesekali memangku si bungsu.
Kakak saya mengambil jemuran kering dari kamar dan meminta Bibi untuk menyetrika. Bibi mengiyakan. Pakaian yang harus Bibi setrika sangat banyak. Sudah hampir sejam belum juga selesai. Saya kasihan padanya.
Saat kakak saya masuk ke kamar menidurkan si bungsu, saya masuk ke kamar Bibi. Saya meminta ia makan malam dulu sebelum melanjutkan pekerjaannya menyeterika. Ia mengiyakan.
Bibi mengambil makanan dan duduk di meja makan. Tapi saat ia sudah menyendokkan makanan ke piring, ia malah tidak melanjutkan makan. Ia kembali ke kamar dan melanjutkan pekerjaannya menyetrika pakaian. Saya menduga, ia merasa tidak enak hati meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai. Atau mungkin juga ia mengira kami akan akan makan bersama. Tapi saya sudah makan duluan. Kalau tidak, saya akan menemaninya makan.
Bibi baru makan kemudian saat pekerjaannya selesai. Saat itu kami semua sudah tertidur.
Keesokan harinya, pagi-pagi benar kakak saya mengajak ke Tanah Abang. Tapi kakak ipar saya belum berada di rumah. Kakak ipar saya mengurus sebuah event organizer. Biasanya ia bekerja malam dan baru pulang ke rumah pada pagi hari. Tapi hari itu ia pulang terlambat.
Kakak saya tidak berani meninggalkan si bungsu hanya berdua dengan Bibi. Tapi kami harus segera pergi sebelum keburu macet. Ia akhirnya memanggil salah seorang tetangga untuk menjaga si bungsu sambil menunggu suaminya pulang. Dan akhirnya kami pun berangkat dengan sepeda motor karena si sulung yang ikut menolak naik mobil.
Kami pulang dari Tanah Abang sore hari. Tapi setiba di rumah saya tidak melihat Bibi. Saya mengira ia sedang salat di dalam kamar. Atau sedang di kamar mandi. Tapi ia tak kunjung keluar. Saya mulai heran.
Ketika seorang tetangga datang bertamu ke rumah, saya mendengar pembicaraan mereka secara tidak sengaja.
Kakak saya bilang, ia sengaja tidak mempekerjakan bibi lagi. Alasannya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pagi tadi sebelum berangkat ke Tanah Abang, kakak saya sibuk mencuci pakaian, sementara bibi duduk saja memperhatikan.
Saya sedih sekali. Saya membayangkan wajah Bibi yang memelas waktu saya baru pertama kali melihatnya. Saya berpikir, Bibi bukan malas atau tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya belum tahu harus melakukan apa karena itu adalah hari pertama ia bekerja. Saya menyesali tindakan kakak saya yang tak pernah memberi ia kesempatan untuk belajar.
Saya telah merancang sebuah rencana percakapan untuk Bibi. Sepulang dari Tanah Abang, saya ingin bertanya banyak hal. Saya ingin bertanya tentang tanah kelahirannya, tentang masa kecilnya, tentang anak-anaknya. Kemanakah gerangan anak-anaknya hingga ia memilih bekerja membantu pekerjaan rumah tangga orang lain. Saya ingin bertanya tentang Klaten, tentang Jawa. Pokoknya saya ingin bertanya banyak hal padanya.
Tapi semua harapan saya itu berujung kekecewaan. Saya tidak tahu kemana Bibi dan dengan apa ia pergi. Adakah ia punya uang untuk membeli makan siang? Saya menduga kakak saya meminta seseorang menjemput bibi. Di kompleks perumahan itu ada penyalur pembantu. Tapi saya hanya menduga-duga. Saya tidak ingin mencampuri urusan rumah tangganya. Sore itu, saya hanya berkata padanya, harusnya ia mencari seseorang yang lebih muda untuk membantu pekerjaannya di rumah.
Saya memang tidak mengenal Bibi dan ia bukan siapa-siapa saya. Tapi membayangkan wajahnya yang memelas dan sangat sederhana membuat saya sedih. Setiap mengingat wajahnya yang polos, dada saya terasa sesak. Saya menangis. Dari tutur katanya yang halus, saya tahu Bibi orang yang baik. Saya berdoa kepada Tuhan yang Maha Baik, agar Bibi dipertemukan dengan majikan lain yang lebih sabar mengajarinya tentang apa yang harus ia lakukan di rumah. Saya berdoa semoga bibi senantiasa sehat dan kuat. Semoga. 
Share:

0 komentar: