17 November 2013

Ishak Ngeljaratan dan Tafsir Al Quran

Pak Ishak Ngeljaratan adalah seorang Kristiani. Tapi saya berani bertaruh, pemahamannya tentang Al

Quran jauh lebih baik dibandingkan sebagian orang Islam. Saya menilai ia seorang Humanis. Ia mencintai keberagaman dan kebersamaan. Ia tak pernah menilai seseorang dari agama dan kepercayaannya. Itulah yang membuat saya begitu mengaguminya.

Ia dosen di fakultas saya, Fakultas Ilmu Budaya Unhas. Meski begitu, kami tidak pernah berinteraksi di dalam kelas. Seingat saya hanya sekali, ketika saya masih mahasiswa baru, ia pernah memberi kuliah umum. Setelahnya, saya sering menyaksikan ia berceramah dalam berbagai acara bertema budaya. Pada sebuah kesempatan, saya juga pernah melakukan wawancara dengannya untuk keperluan penulisan buku biografi seseorang. Saya teringat pesannya ketika kami hendak berpisah, setelah ia menanyakan umur dan pekerjaan saya. Ia berpesan agar saya setia dan mempertahankan idealisme dalam pekerjaan saya. Ia juga berkata, “Sudah cukup orang tuamu menjagamu. Sekarang saatnya kamu menjaga diri sendiri,” katanya sembari mengantar saya ke pintu pagar.

Pak Ishak sudah tua. Barangkali usianya sudah mencapai 70-80 tahun. Kulitnya sudah mengeriput. Tapi semangatnya tampak tak pernah memudar. Ia tetap terlihat kuat menghadiri berbagai undangan. Ia masih sanggup berbicara dengan penuh semangat. Saya senang mendengar setiap kata yang ia keluarkan dari mulutnya. Bagi saya, setiap kalimat yang ia ucapkan penuh makna dan mengandung nilai-nilai kebijaksanaan.

Beberapa hari lalu, saya kembali berada dalam satu forum dengannya. Seorang kenalan saya, Pak Shaifuddin Bahrum—yang akrab disapa Pak Udin—sedang melaunching buku kumpulan esainya. Saya didaulat menjadi MC, dan Prof Ishak menjadi pembedah. Buku itu berjudul “Rahmatan Lil Alamin: Indahnya Berbagi”.

Dalam bukunya tersebut, Pak Udin menulis 40 judul kisah sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Semuanya adalah kisah nyata dari orang-orang di sekitarnya. Secara garis besar, kesemua esai yang ditulisnya berkisah tentang bagaimana seseorang dalam memperlakukan alam semesta. Seperti konsep Rahmatan Lil Alamin yang termaktub dalam Al Quran, yang berarti “Rahmat bagi Alam Semesta”. Tuhan, meminta manusia untuk mengasihi alam semesta beserta isinya. Tidak hanya kepada sesama manusia, atau kepada sesama Muslim, tapi juga terhadap hewan dan tumbuhan. Terhadap semesta dan segala isinya.

Pak Ishak membedah konsep Rahmatan Lil Alamin yang terkandung dalam buku tersebut. Ia juga membandingkan konsep ini, antara yang dipahami oleh seorang Muslim dan seorang Kristiani. Prof Ishak hafal beberapa ayat dalam Al Quran. Bagi dia, konsep Rahmatan Lil Alamin juga dimiliki seorang Kristiani dalam nama yang berbeda. Ia mencontohkan, masyarakat Tana Toraja yang sebagian besar beragama Kristiani, yang begitu mencintai alam dan lingkungan. Dan bagi mereka, tidak ada penghormatan yang lebih tinggi melebihi kepada alam dan lingkungan.

Diskusi pada hari itu melebar ke arah masalah tafsir Al Quran. Prof Ishak mengaitkan antara konsep Rahmatan Lil Alamin dengan tafsir Al Quran. Ia menyindir kalangan Fundamentalis yang beberapa waktu belakangan sering muncul ke permukaan karena tindak kekerasan yang mereka lakukan. Yang tentu saja, tindak kekerasan apa pun, jika mengatasnamakan agama, tidak bisa dibenarkan.

Bagi Prof Ishak, munculnya tindak kekerasan mengatasnamakan agama disebabkan oleh penafsiran yang salah terhadap ayat-ayat atau firman Tuhan. “Ayat tidak pernah salah, tapi tafsir manusia bisa saja salah,” ucapnya. Ia mengatakan, setiap manusia bebas menafsirkan ayat dalam Al Quran. Tapi kita tentu saja tidak boleh menganggap bahwa tafsir kita adalah yang paling benar dan menyalahkan tafsir yang dibuat orang lain. Sebab, sikap seperti inilah yang pada akhirnya menciptakan Fundamentalisme. Dan Fundamentalisme, tambahnya, sesuatu yang sangat berbahaya karena akan mendorong kita untuk melukai setiap yang berbeda pemahaman dengan kita.

Prof Ishak mendorong umat Muslim untuk menafsirkan ayat-ayat Al Quran tidak secara harafiah. Itu diungkapkannya ketika menanggapi seorang peserta diskusi, tentang pernyataan bahwa Tuhan Maha Melihat atau Maha Mendengar. Kata ‘melihat’ atau ‘mendengar’ adalah sesuatu yang biasa digunakan untuk manusia. Tapi benarkah Tuhan punya mata atau punya telinga? Pada kenyataannya, tidak! Itu hanya sebuah analogi agar manusia gampang memahami keberadaan Tuhan. Sebab tanpa sebuah analogi, manusia tidak bisa memahami Ketuhanan.

Apa yang diungkapkan oleh Prof Ishak sama halnya dengan apa yang diungkapkan oleh Ulil Abshar Abdallah yang seorang Muslim. Ulil menegaskan umat Islam untuk menafsirkan Al Quran secara kontekstual, bukan secara harafiah. Sebab jika ayat-ayat Al Quran mulai ditafsirkan secara harafiah, maka itu adalah sumber kehancuran bagi Al Quran itu sendiri. Kita dapat mengambil contoh pada berbagai tindakan terorisme yang dilakukan sekelompok orang dengan mengatasnamakan agama.

Yang Ulil maksud dengan pemaknaan secara kontekstual adalah pemahaman yang memperhitungkan konteks turunnya ayat tersebut, maupun konteks penerapannya pada waktu tertentu. Sejumlah pemikirannya saya kutip, salah satunya dalam esainya yang berjudul “Pancasila” Pemahaman mengenai Quran. Salah satunya ia menyatakan bahwa, ketika sebuah ayat Quran dikutip untuk membenarkan atau melarang suatu tindakan, kita harus memperhatikan kedua konteks itu: konteks turunnya ayat (siyaq al-nuzul) dan konteks penerapan (siyaq al-tathbiq).

Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin. Rahmat bagi alam semesta. Bukan Rahmatan Lil Naas atau Rahmatan Lil Muslimin. Konsep ini saya pahami sebagai konsep Humanis. Islam adalah sebuah agama yang Humanis. Karena itu saya tidak pernah setuju jika ada sekelompok tertentu yang melakukan kekerasan dengan alasan untuk menegakkan hukum Islam. (Jika kita berbicara mengenai konsep Nusantara, akan lain lagi dan pembahasan akan menjadi lebih panjang).   

Mengutip Ulil lagi, Islam bukanlah agama yang menghendaki instabilitas sosial, melainkan ketertiban sosial berdasarkan kebebasan berkeyakinan. Dengan demikian, pemahaman yang menganjurkan kebencian sosial jelas-jelas berlawanan dengan tujuan Islam yang sesungguhnya  

Saya tahu apa yang akan dipikirkan oleh rekan-rekan saya sebagian besar jika membaca tulisan saya. Mengutip seorang Kristiani yang sedang menafsirkan Al Quran bagi sebagian mereka tentu saja akan dianggap sebagai tindakan yang tidak terpuji. Tapi ketika saya memahami pemikiran-pemikiran Prof Ishak, saya tidak melihatnya sebagai sosok Kristiani. Saya melihatnya sebagai sosok yang bijaksana dan banyak memberikan pelajaran berharga. Dan mengutip seorang Ulil yang seorang Muslim Liberal apa lagi. Seorang Ulil, yang bagi kaum Fundamentalis dianggap kafir.

Tapi saya memilih belajar dari keduanya, ketimbang dari orang-orang yang lantang menggemakan takbir untuk menyerukan permusuhan dan pengrusakan. Sungguh!

Bagi saya pribadi, tindakan menyakiti sesuatu yang hidup adalah hal yang tak pernah bisa saya mengerti. Bagi saya, hanya ada salah satu alasan untuk tidak saling melukai: kesadaran bahwa sesuatu itu hidup dan mampu merasakan sakit. Hidup bagi saya adalah sebuah kenyataan yang dramatis dan misterius. Ketika kita melukai sesosok mahluk yang hidup, kita telah melukai sebuah jiwa yang misterius. Saya, dalam segala keterbatasan, selalu merasakan dorongan untuk mengasihi sesuatu yang hidup. Tidak saja sesama manusia, tapi juga hewan dan tumbuh-tumbuhan. 

Barangkali saya harus minta maaf. Saya hanya sedang belajar. Bukan kapasitas saya berbicara tentang agama, tapi saya, dalam keawaman, sedang mencoba menafsirkan sendiri ayat-ayat Quran ketika membacanya dengan terbata-bata. Saya tidak percaya bahwa ayat-ayat Quran yang begitu agung punya perintah untuk saling melukai sesama manusia. Ketika saya membaca setiap ayatnya, saya mencoba memutar otak, sejarah apa yang ada di balik turunnya ayat itu.

Dan jika saya mengutip Prof Ishak atau Ulil, itu karena keduanya seorang humanis. Masa kecil saya, saya habiskan dalam lingkungan keluarga Muslim yang taat.  Para sepupu beramai-ramai sekolah di pesantren. Tapi saya meminta sekolah umum karena saya tidak bisa membayangkan sepanjang hari mengenakan rok dan hidup dalam pagar pesantren tanpa bisa melihat dunia luar. Saya dididik untuk taat beragama dengan cara yang keras.

Saya pernah hidup dalam sebuah masa, dalam sebuah lingkungan, di mana berteman dengan Non-Muslim adalah tindakan tidak terpuji. Tapi seiring waktu, dan seiring saya menjadi dewasa, saya belajar memahami perbedaan. Bahwa sebuah perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa kita hindari. Saya menilai seseorang berdasarkan bagaimana ia memperlakukan saya, bukan dari apa kepercayaan yang dia anut.

Ah maafkan, maafkan saya. Saya hanya sedang belajar menjadi manusia yang penuh cinta dan kasih... 


Makassar, 18 November, 2013
Share:

0 komentar: