14 November 2013

Eksistensi Hutan dan Ancaman Industri


Dalam sebuah perjalanan tak terencana dari Kabupaten Luwu Timur (Sulsel) menuju Poso Sulawesi Tengah, saya mendapatkan sebuah pengalaman istimewa: menyaksikan hutan-hutan perawan. Pepohonan besar dan tinggi menjulang di sepanjang kiri-kanan jalan. Suara segala jenis satwa bersahut-sahutan. Kupu-kupu endemik beraneka warna bermain-main di sisi jalan. Damai rasanya. Begitu sejuk. Udara yang memenuhi rongga pernafasan begitu segar tak bercampur polusi.  
Bagi sebagian orang, barangkali ini hal yang biasa-biasa saja. Tapi bagi saya, hal ini menjadi istimewa karena kesempatan seperti ini terlalu langka. Di kota Makassar, kesejukan hanya bisa saya rasakan ketika berada di dalam ruangan yang dilengkapi AC.
Tapi di balik rasa damai itu, saya diliputi kecemasan. Kebun sawit hanya beberapa kilometer di belakang sana. Jika perusahaan, pemerintah, atau masyarakat memperluas areal perkebunan, sedikit demi sedikit, bukan tak mungkin hutan-hutan perawan ini akan hancur beberapa waktu ke depan dan berganti dengan kebun sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak orang-orang modern.
Di beberapa sisi lain perbukitan, di sisi kebun sawit yang setiap pohonnya ditata begitu rapi bak barisan tentara, lahan-lahan tak lagi hijau melainkan berubah jadi coklat. Sisa-sisa kayu tebangan melintang tak beraturan. Itu pertanda sebentar lagi lahan itu akan menjadi kebun sawit. Sementara di sebagian sisi jalan di Sulawesi Tengah, tak seberapa jauh dari perbatasan, saya menyaksikan tanah pegunungan yang mulai longsor.
Saya mencintai hutan. Bagi saya, ia begitu misterius dan eksotik. Ketika berada di dalam hutan, saya merasa seakan menyatu dengan alam. Saya merasa alam sedang memeluk saya dengan penuh kasih. Saya senang memandangi cahaya matahari dari balik dedaunan lebat. Saya senang mendengar kecipak air sungai dan kicauan burung-burung. Begitu damai. Kecintaan itu yang membuat hati saya menjadi miris tatkala melihat hutan yang menjadi rusak akibat ulah manusia.
Saya kemudian teringat Amma Toa, pemimpin adat Tana Toa di Kajang, Kabupaten Bulukumba. Dalam sebuah pertemuan saya dengannya beberapa tahun silam, saya pernah bertanya, kenapa ia dan orang-orang Tana Toa rela mengorbankan apa saja demi menjaga hutan adat. Ia menjawab, “Pepohonan adalah sumber kehidupan. Pohon memberi kita udara segar untuk bernafas, menyediakan air untuk minum, hujan untuk pertanian. Jika hutan hancur, umat manusia akan punah, kiamat akan tiba.” Jawabannya membuat saya tercengang. Betapa seorang yang tak pernah menginjakkan kaki di bangku sekolah, ataupun mempelajari teori Kehutanan, bisa mengerti akan hal itu.
Di Tana Toa, jangankan menebang pohon, memasuki hutan pun tak boleh dilakukan tanpa izin. Hutan ibarat sebuah porselen antik yang mudah pecah sehingga harus diperlakukan dengan sedemikian rupa. Mereka sadar, di dalam hutan begitu banyak hal berharga yang bisa membuat manusia lupa diri. “Di dalam hutan, kami punya sungai sebagai habitat segala jenis ikan dan udang. Kami punya lebah penghasil madu yang ampuh menyembuhkan segala macam penyakit.” Ikan, udang, dan lebah hanya mereka ambil dalam keadaan mendesak.
Saya tahu kenapa Amma Toa membatasi akses masyarakatnya untuk memanfaatkan sumber daya hutan. Hutan menyimpan kekayaan yang tak terhingga. Apa yang ada di dalam sana bisa membuat manusia lupa diri dan gelap mata. Amma Toa, pria tua yang tak pernah duduk di bangku sekolah itu tahu, bahwa sekali masyarakat dibebaskan keluar-masuk hutan tanpa pengawasan, selamanya mereka akan berbuat semaunya dalam memanfaatkan hutan. Sebab kekayaan hutan selalu menggoda manusia untuk menjadi serakah.
Apa yang diungkapkan oleh Amma Toa pernah pula diuangkapkan oleh Mahatma Gandhi. Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed. Bumi menyediakan cukup kebutuhan bagi seluruh manusia, tapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan mereka.
Untuk mencegah kerusakan hutan, masyarakat adat Tana Toa punya cara tersendiri. Mereka mempercayai mitos turun temurun. Jika ada yang mencuri sesuatu dari hutan adat, menangkapi ikan atau merusak sarang lebah untuk mengambil madunya, mereka akan kena tulah. Jika tidak ada yang mengaku, masyarakat adat akan mengadakan rapat. Amma Toa akan membakar linggis hingga merah membara. Warga dikumpulkan dan satu per satu diminta memegang linggis tersebut. Konon, tangan pencurinya akan melepuh. Tapi jika pencurinya tidak hadir dalam pertemuan itu, ia akan mengalami penderitaan yang lebih mengerikan lagi. Perut membengkak atau mati kesakitan.
Saya tidak tahu apakah hal tersebut benar atau tidak. Yang pasti, kepercayaan itulah yang berhasil menyelamatkan hutan adat di Tana Toa. Entah benar atau tidak, saya berdoa, semoga kepercayaan itu terus terjaga. Sebab saya tahu, hanya itulah satu-satunya yang mampu mempertahankan hutan adat di Tana Toa.
Sepertinya, hal ini pulalah yang membuat Amma Toa menolak modernisai. Sebab modernisasi sangat bertolakbelakang dengan mitos. Ketika masyarakat adat mulai menjalani kehidupan modern dan menghilangkan kepercayaan itu, mereka akan mulai merambah hutan, mengangkuti segala kekayaan yang ada di dalam sana. Lalu apa yang dikhawatirkan Amma Toa lambat laun akan benar-benar terjadi.
Hutan di Tana Toa dan di Luwu Timur, serta di sepanjang jalan yang saya lewati memang jauh berbeda. Di Tana Toa, masyarakat adat dan sebagian masyarakat di luar kawasan adat, sedang berjuang mati-matian menuntut perusahaan karet agar tanah mereka yang dirampas puluhan tahun silam dikembalikan. Sementara di Luwu Timur, lahan perkebunan sawit dibuka atas restu dari pemerintah. Di sana hampir tidak ada konflik. Bahkan, sebagian masyarakat dengan sukarela membuka lahan, menebangi tanaman lain dan menyulap lahan mereka menjadi kebun sawit. Alasannya adalah faktor ekonomi. Mamun pada kenyataannya, mereka tetap menelan pil pahit, ketika perusahaanlah yang menentukan harga sawit yang ala kadarnya. Dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika segenap tenaga dan modal telah terlanjut dikeluarkan untuk membuka kebun sawit.
Seorang kenalan saya dari Kementerian Kehutanan berkata, setiap pohon mampu menyerap karbon, jika hanya itu belaka yang jadi persoalan dalam mempertahankan eksistensi hutan. Tapi buat saya, ada persoalan lain yang tak kalah gentingnya.
Saya bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika hutan-hutan di Tana Toa disulap menjadi kebun karet.
Kebun karet yang setiap hari dijamah manusia tidak akan sanggup mempertahankan sungai berair jernih atau sarang lebah yang begitu produktif menghasilkan madu. Lalu kemana masyarakat adat akan mencari ikan dan udang ketika mengadakan pesta hajatan, atau mencari madu ketika mereka membutuhkannya untuk mengobati anggota keluarga yang sedang sakit?
Ketika setiap lahan di Luwu Timur disulap menjadi kebun sawit, kemana anoa akan mencari tempat bernaung? Anoa adalah salah satu hewan endemik di Sulsel yang masih tersisa dalam jumlah sedikit di sana. Atau kemana kupu-kupu cantik itu akan mencari tempat bermain? Kemana masyarakat setempat mencari rotan?
Pada akhirnya, industri memang tidak pernah berpihak kepada masyarakat kecil. Industri sawit ataupun industri karet sama saja. Seperti kata Amma Toa, modernisasi adalah awal dari kehancuran alam. Secara pribadi saya membenarkan. Dan pemerintah adalah bagian dari modernisasi, dan pendukung modernisasi. Itulah sebabnya mengapa izin dikeluarkan untuk pembukaan lahan kebun karet ataupun sawit. Industri karet atau sawit adalah bagian dari modernisasi. Kedua indutri tersebut bukan untuk masyarakat kecil yang hidup di kawasan hutan yang jauh dari modernitas.
Tulisan ini hanya sebagai ungkapan kekhawatiran semata. Betapa modernisasi menjadi sebuah ancaman yang sangat menakutkan bagi kelestarian hutan dan masyarakat di sekitarnya. Sementara sebagian besar orang-orang modern yang tinggal di perkotaan tidak pernah mau peduli.
Hari itu, sepanjang perjalanan, saya membatinkan sebuah harapan: semoga hutan-hutan perawan di sepanjang jalan yang saya lalui tetap abadi tanpa jamahan tangan manusia. Semoga...

Share:

0 komentar: