05 September 2013

Ketika Anak-anak Cerdas tak Kenal Bangsanya


Sedari kecil, saya selalu berangan-angan, alangkah enaknya hidup sebagai orang kaya. Fasilitas lengkap dan selalu punya uang untuk membeli apa pun. Saya pernah merasa tidak beruntung, karena terlahir dari keluarga yang sederhana dan biasa-biasa saja. Tapi meski orang tua saya bukan jutawan, setidaknya kami tidak pula hidup melarat. Kebutuhan kami selalu tercukupi meski tidak hidup berlebihan.
Kemarin, untuk kesekian kalinya saya merasa sangat bersyukur tidak terlahir sebagai anak orang kaya. Setidaknya, dengan keadaan ini, saya masih bisa mengenali berbagai jenis pepohonan yang tumbuh di tepi jalan. Saya bisa punya kesempatan menghirup wangi rerumputan dan berjalan di pematang sawah, kapan pun saya ingin.
Saya bersyukur bahwa saya bukanlah golongan orang-orang yang menghabiskan waktu dengan sebuah rutinitas khas orang kaya yang membosankan. Saya tidak menghabiskan liburan di mall dan pusat perbelanjaan mewah. Sebaliknya, saya menjelajah lembah, gunung, dan pantai berpanorama indah. Saya senang mandi di sungai berair jernih. Saya tidak punya mobil mewah. Saya kemana-mana dengan alat transportasi umum dan bertemu para pengamen, pengemis, tukang becak hingga gelandangan yang tak punya rumah untuk pulang.
Tulisan ini saya buat tidak dengan nada sarkastik. Karena saya sama sekali tidak iri dengan orang-orang yang hidup mewah dan berlimpah harta. Sebaliknya, saya merasa hidup saya lebih beruntung dari sebagian mereka. Tapi setidaknya inilah yang saya rasakan ketika berkenalan dengan adik-adik baru saya yang polos ini. Saya juga tidak bermaksud menyindir mereka. Bahkan saya menganggap ini seperti lelucon yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri setiap mengingatnya.


Kemarin, kantor saya kedatangan tamu dari Singapura. Semuanya ada 4 orang. Mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam organisasi pelajar Indonesia di Singapura. Setiap tahun, organisasi mereka melakukan kegiatan bakti sosial di desa-desa terpencil di Indonesia. Mereka menghimpun dana dari sponsor, yang katanya adalah perusahaan-perusahaan asing. “Ini adalah bentuk sumbangsih kami untuk Indonesia,” ujar salah seorang di antaranya.
Mereka bercerita, bahwa mereka punya anggaran untuk membantu warga di desa terpencil. Bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya penyediaan saluran air bersih, slauran irigasi, pengembangan industri rumah tangga, dan lain-lain.
Saya bangga dengan adik-adik ini. Saya bangga atas niat tulus mereka melakukan sesuatu untuk negeri ini. Saya bangga dengan kepekaan jiwa sosial mereka. Tahun ini, mereka akan melakukan bakti sosial di Kabupaten Bulukumba, yang berjarak 4 jam perjalanan naik mobil dari Makassar. Tempat tersebut mereka pilih atas rekomendasi dari kantor saya. Ketika keempat adik-adik ini datang melakukan survei awal, saya diminta teman-teman untuk mendampingi mereka ke Bulukumba. Saya dengan senang hati menerimanya.
Di Bulukumba, kami mengunjungi Desa Bontonyeleng, sebuah desa di kaki bukit dengan penduduk yang bermatapencaharian sebagai petani. Kami bermalam di rumah salah seorang warga yang menyambut dengan ramah. Kami tiba tengah malam karena berangkat sore hari dari Makassar. Setiba di desa tersebut, kami langsung masuk ke kamar yang disediakan dan tidur karena kelelahan.
Awalnya, saya tidak terlalu khawatir dengan mereka. Dari wajah-wajah polos mereka, saya tahu mereka tidak terbiasa bekerja di lapangan. Tapi karena ini bukan kegiatan yang pertama, saya yakin mereka tidak ada masalah dengan ini, dengan kondisi hidup di desa terpencil. Toh cuma semalam, cuma untuk survei awal, sebelum seluruh anggota tim mereka dalam jumlah banyak datang ke desa ini 3 bulan kemudian.
Saya mulai khawatir ketika tersadar esok paginya, bahwa semalaman mereka (dua orang di antaranya, cewek, yang kebetulan sekamar dengan saya) tidak bisa tidur. Padahal saya tahu, perjalanan yang kami tempuh cukup melelahkan. Mungkin karena tidak terbiasa tidur di tempat yang baru dan cukup sederhana. Kekhawatiran saya bertambah ketika melihat mereka tidak mampu menelan sarapan yang disajikan tuan rumah.
Saya tidak ingin berpikiran macam-macam terhadap mereka. Saya sadar, kehidupan yang mereka jalani sehari-hari, selama beberapa tahun terakhir tinggal di Singapura sangat berbeda dengan tempat yang kami datangi saat itu. Saya hanya merasa kahwatir mereka tidak betah. Dan melihat mereka makan dengan tidak berselera membuat saya khawatir mereka akan kelaparan. Saya tak sabar menunggu momen kami beranjak dari desa ini dan kembali ke kota Bulukumba, dengan harapan di sana mereka bisa menemukan makanan yang mereka inginkan.
Hari itu, pagi-pagi benar kami berjalan berkeliling kampung. Mereka melakukan wawancara dengan masyarakat setempat. Menanyakan sumber mata pencaharian, pendidikan, kehidupan sosial dan segala macamnya.
Pada saat survei kecil-kecilan itulah saya benar-benar geli. Saya tertawa tapi dalam hati saja. Rupanya, seumur hidup, ini merupakan pengalaman pertama mereka berkunjung ke sebuah desa, menginjakkan kaki di pematang sawah dan berkenalan dengan berbagai jenis tanaman yang tumbuh di kebun penduduk.
Saya menanyakan bagaimana pengalaman mereka melakukan survei tahun sebelumnya. Dan ternyata, setiap tahun penanggungjawab kegiatan berbeda, dengan kata lain, yang melakukan survei tahun sebelumnya bukan mereka.
Ini untuk pertama kalinya mereka berdiri di bawah pohon cengkeh, memegang bulir-bulir padi, memelototi buah kakao dan kopi. Mereka terheran-heran melihat biji-biji kakao di penjemuran. Mereka bertanya, kenapa buah kakao dibuang dan hanya diambil bijinya saja. Saya diam saja. Entah kenapa, saya merasa ikut-ikutan konyol jika menjelaskan, bahwa biji itulah inti dari buah kakao, sementara bagian pembungkusnya hanya kulit belaka.   
Setelah melakukan survei kecil-kecilan siang itu, kami kembali ke kota. Saya mempertemukan mereka dengan salah seorang pejabat pemerintah daerah setempat. Tujuannya juga untuk wawancara. Sore menjelang malam, kami mengunjungi sebuah desa lain, Desa Tanah Lemo di Bulukumba Timur. Juga untuk melakukan survei. Kelak, hasil survei dari kedua desa tersebut akan mereka bandingkan, untuk menentukan desa mana yang layak mereka bantu. 
Selama seharian menemani mereka di desa itu, saya sadar mereka anak-anak cerdas dan bermasa depan cerah. Wawasan mereka luas. Mereka suka musik. Mereka kenal atlet-atlet dunia. Mereka kenal belahan dunia yang tersohor. Tapi ah, hati saya meringis, menangis menyadari mereka tidak mengenali Nusantara ini.
Ah, maaf. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya bisa mengerti jika mereka tak kenal berbagai jenis tanaman yang tumbuh di tepi jalan. Tapi saya miris jika ternyata mereka tidak tahu bahwa Sulawesi Selatan adalah tanah leluhur suku Bugis, salah satu suku di Nusantara ini yang mestinya cukup dikenal.
Sepanjang kebersamaan itu, saya mencoba menceritakan segala sesuatu tentang Makassar dan Sulawesi Selatan. Saya menceritakan tentang Tana Toraja, daerah wisata budaya yang luar biasa. Saya bercerita tentang peninggalan sejarah, tentang Benteng Rotterdam jejak Belanda. Ternyata, tentang Benteng Rotterdam tak mereka tahu meski pernah sekilas mendengarnya dalam pelajaran sejarah di masa sekolah dasar.
Saya menceritakan tentang Pantai Tanjung Bira di Bulukumba, pantai indah nan eksotis berpasir putih lembut bak tepung. Mereka tidak pernah mendengar nama Syech Yusuf. Mereka tidak tahu nama bahasa daerah yang digunakan penduduk Makassar. Mereka tidak tahu tentang Kapal Pinisi, kapal tersohor yang pada zaman dahulu membawa nenek moyang Bugis berlayar hingga Madagaskar dengan hanya mengandalkan layar belaka.   
Ah, tak satu pun cerita saya menarik perhatian mereka. Mereka lebih tertarik membahas berapa jumlah mall yang ada di Makassar, tentang Trans Studio, sebuah pusat permainan modern yang tak mampu dijangkau anak-anak kalangan menengah ke bawah. Ah, saya jadi malu sendiri. Pada akhirnya, saya memilih diam.
Saya menangis dalam hati. Mungkin berlebihan. Tapi begitulah kenyataannya. Saya tahu, dengan kecerdasan otak, fasilitas dan pendidikan mapan yang mereka punya (yang tak semua orang bisa memilikinya), bukan tak mungkin suatu hari nanti mereka akan menjadi orang besar.
Barangkali mereka akan tetap tinggal dan bekerja di Singapura, atau bahkan di negara lain. Mereka bisa menjadi pebisnis hebat, atau apapun. Bahkan tak mungkin suatu saat mereka akan kembali ke negeri ini dan terjun ke dunia politik, dan menjadi salah seorang yang berperan dalam menentukan kebijakan pemerintahan. Tapi mereka tidak paham sejarah Nusantara ini. Mereka tidak mengenali bangsa mereka. Apa yang akan terjadi jika suatu saat mereka akan jadi pemimpin bangsa ini?
Ya, barangkali uang bisa membuat kita bisa melakukan apa saja. Apa pun yang kita inginkan. Saya menghargai usaha dan kerja keras mereka. Saya menghargai mereka ingin berbuat sesuatu untuk bangsa ini. Tapi entah apa yang bisa mereka lakukan terhadap bangsa yang tak mereka kenal.
Saya sadar, Sulawesi Selatan-Makassar-Bugis, barangkali bukan sesuatu yang luar biasa yang membuat orang-orang di belahan nusantara lain terkesan. Tapi ketika mereka memutuskan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah ini, adik-adik yang baik ini ternyata tidak sama sekali membaca referensi tentang tanah yang akan kunjungi. Dan barangkali, apa yang mereka tahu tentang Sulawesi Selatan sama dangkalnya dengan belahan Nusantara lainnya. Tentang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku atau Papua.
Ketika saya menceritakan pengalaman saya ini kepada salah seorang teman, ia tertawa terpingkal-pingkal. “Mereka tidak pernah membaca. Dan kita, menabung setengah mati untuk bisa membeli buku,” ucapnya.
Saya berpikir, mungkin ada yang salah dengan sistem pendidikan kita? Ah, adik-adik yang bersama saya ini hanya 4 orang. Di Singapura sana (meski tentu tidak semuanya seperti itu), masih ada ratusan mahasiswa lainnya. Dan ribuan orang lainnya di negara-negara lain. Mereka, yang begitu tamat SMA langsung bisa kuliah ke luar negeri dengan mudah atas biaya orang tua.     
Saya menertawakan diri saya di sini yang masih tersaruk-sarung berjuang mencari beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Makassar, 17 Agustus 201
Share:

0 komentar: