05 September 2013

Bocah dari Kampung Pemulung

Foto milik Tribun News

“Tante, lihat, kaca mobilnya pecah!” Sebuah suara kanak-kanak menyambut saya saat tiba di halaman kantor pagi ini. Suara itu berasal dari seorang bocah berkulit gelap dengan seragam putih-merah yang sudah lusuh. Saya tidak tahu siapa bocah itu dan bagaimana ia bisa tiba-tiba berada di kantor saya.
Mobil yang ia maksud adalah milik salah seorang teman kantor. Benar saja. Kaca belakang mobil tersebut telah digantikan oleh plastik yang ditempel dengan perekat. Bagian belakang mobil penyok. Lampunya juga hancur. Bocah itu kemudian menunjuk ke arah pagar. Di sana, pecahan kaca berserakan.
Bocah tersebut lalu menceritakan saya awal mula peristiwa itu.
Pagi tadi, begitu teman saya turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam ruangan kantor, tanpa ia sadari, mobil yang telah ia parkir dengan sempurna mundur dengan sendirinya. Mobil tersebut terhenti begitu tertahan pagar besi, yang kemudian menghancurkan kaca bagian belakang. Tanpa pagar itu, mobil tersebut akan mundur hingga ke jalan raya.
Bocah tersebut yang pertama kali melihatnya. Awalnya ia mengira ada seseorang di atas mobil. Tapi begitu melihat kaca mobil pecah berhamburan, ia berteriak memanggil para buruh pengangkut pasir di seberang jalan. Kebetulan, di seberang kantor saya ada sebuah tempat penjualan pasir. Orang-orang itulah yang kemudian masuk ke kantor dan memberitahukan teman saya.
Sampai orang-orang bubar, bocah itu tak beranjak. Ia tetap berada di halaman kantor saya duduk sambil asyik bermain-main sendirian.
Saya menduga ia bolos sekolah, sebab ia masih berseragam. Tapi ketika saya menanyakan itu, ia membantah.
“Saya masuk jam 1 siang,” ucapnya. Saya melirik jam tangan. Belum jam 10 pagi.
“Lalu kenapa kamu begitu cepat memakai seragam dan kenapa ada di sini?”
Ia lalu menjelaskan. Dan percakapan kami menjadi begitu panjang. Saya menanyakan banyak hal padanya. Dan seperti inilah cerita yang ia tuturkan kepada saya.
Bocah itu tinggal berdua dengan neneknya. Pagi-pagi betul, neneknya harus keluar rumah entah kemana. Karena tidak ada seorang pun di rumah, sang nenek meminta ia segera berkemas. Akhirnya, ia terpaksa segera mengenakan seragamnya dan keluar rumah. Ia mengeluh. Neneknya meminta ia pergi ke sekolah terlalu cepat tapi tidak diberi uang jajan. Ia ingin meminta uang jajan, tapi ia tahu neneknya tak punya uang sama sekali.
Saya kian penasaran. Saya menanyakan semakin banyak hal kepadanya. Termasuk pekerjaan sang nenek dan kedua orang tuanya.
Bocah itu tinggal di sebuah pemukiman kumuh di dekat Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di Makassar. Tempat itu adalah perkampungan pemulung. Di sana, banyak warga yang bermatapencaharian sebagai pemulung.
Bocah itu punya dua orang adik. Orang tuanya tinggal terpisah. Ayahnya merantau ke Jakarta membawa salah seorang adiknya. Ibunya tinggal di tempat yang tak ia tahu dimana, dengan membawa adiknya yang lain.
Tapi ia tidak tahu pekerjaan apa yang dilakoni orang tuanya. Ia hanya tahu bahwa ayah dan ibunya sama-sama menjaga adiknya.
Bersama sang nenek, bocah itu dulu mengandalkan hidupnya pada hasil kerja keras sang kakek mencari nafkah. Tapi kakeknya telah meninggal. Neneknya pun tak lagi bekerja. Saya bertanya darimana mereka mendapatkan uang, termasuk untuk membeli beras buat makan sehari-hari.
“Kami tak pernah beli beras,” ucapnya.
“Lalu apa yang kamu makan?” saya mencecar.
Ia menjelaskan, bersama neneknya, ia tidak pernah makan nasi dari beras. Sehari-hari keduanya makan singkong. Itupun diminta dari ladang milik tetangga.
Saya terhenyak. Dada saya terasa sesak.
Pagi itu, saya menyerahkan padanya 2 helai uang rupiah yang nilainya tak seberapa. Ia butuh beberapa saat lamanya—menatap lembaran uang itu dan wajah saya bergantian—sebelum mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ada binar-binar keheranan di matanya. Setelahnya saya masuk ke dalam kantor. Saya memberinya kesempatan untuk merasakan kegembiraannya seorang diri dengan lembaran uang yang nilainya tak seberapa itu.
Sesaat kemudian, anak itu pergi. Saya menduga ia pergi mencari makanan untuk menghilangkan rasa laparnya.
Seorang teman kantor berkata, anak itu bisa saja berbohong atas apa yang diceritakannya. Saya mengiyakan. Betul, ia bisa saja berbohong. Tapi kadang, saat kita berbicara dengan seseorang sambil menatap matanya, kita bisa membedakan mana perkataan yanh jujur dan mana yang bohong. Dan saya melihat cahaya kanak-kanak yang masih suci dari kedua bola mata anak itu. Saya merasa ia masih terlalu polos untuk bisa berbohong.
Pada anak itu, saya belajar lagi satu hal sederhana. Kemiskinan tidak sesederhana yang kami pikirkan dan kami perbincangkan di ruang-ruang diskusi. Sampai saya bertemu bocah itu, saya belum pernah terpikirkan, di sebuah tempat di sekitar saya, ada orang-orang kecil yang sama sekali tak punya uang untuk membeli beras dan hanya bisa makan singkong dari hasil meminta di ladang tetangga.
Saya membatinkan sebuah doa sederhana. Semoga tetangga bocah, pemilik ladang singkong itu senantiasa mendapatkan rezeki berlimpah. Dan semoga bocah itu bisa terus bersekolah. Ia harus terus bersekolah agar bisa meraih cita-citanya dan mengubah nasibnya.
 Ah, Boy! Teruslah bersekolah untuk menolong hidupmu. Karena hanya kau sendirilah yang bisa menolong dirimu. Bukan mereka, para pejabat yang mendewakan uang dan tak malu-malu mencuri uang rakyat yang semestinya sebagian kecil diperuntukkan bagimu. Bukan pukan pula undang-undang yang menyatakan bahwa negara ini menjamin hak-hakmu. Kamu hidup di sebuah negeri yang tak banyak orang punya empati pada orang-orang sepertimu. Negeri dimana seorang perampas uang rakyat yang tertangkap lalu dipenjarakan masih bisa berdandan cantik dan masih bisa berlibur ke luar negeri dengan rambut passport palsu.
Sekarang, saya tiba-tiba menyesal. Saya menyesal tak menanyakan alamat lengkapnya dan meminta ia datang lagi ke kantor saya sesekali waktu. Betapa ingin saya memberinya beberapa buah buku yang bisa ia baca agar ia tetap termotivasi untuk terus belajar.
Share:

0 komentar: