11 February 2013

Parasit itu Tak lagi Lajang (Tentang Ayu Utami)


Foto: gresik.co

Saya berhenti mengidolakan Ayu Utami. Sebelumnya, saya mengira ia wanita paling teguh sedunia. Tapi pernikahannya membuat pikiran saya berubah haluan: ia seorang wanita yang sangat lemah mempertahankan pendirian dan prinsip. Saya tidak tahu apa hukumnya mematahkan prinsip pribadi yang telah dibangun bertahun-tahun. Ini tentu urusan pribadi yang tidak merugikan kepentingan orang lain. Tapi bagi saya, jika seseorang tidak memiliki keyakinan untuk mampu mempertahankanprinsipnya seumur hidup, semestinya jangan begitu terburu-buru mempropagandakannya (mungkin dengan tujuan mendapat dukungan).

Siapapun yang mengikuti perkembangan tulisan Ayu Utami akan tahu perihal Parasit Lajang. Sebuah buku esai, yang buat saya, dalam buku tersebut ia meneguhkan dirinya untuk menjadi lajang seumur hidup. Barangkali saya sudah tidak begitu hapal isi buku tersebut. Tapi lebih kurang seperti ini:

Hampir semua perempuan di dunia ini menjalankan rutinitas yang sama setiap hari. Perempuan-perempuan biasa pasti menganggap bahwa, Tuhan telah menetapkan sebuah hukum kekal bagi perempuan, yang harus dijalani sepanjang hidup. Hukum yang tak dapat dibantah: terlahir, tumbuh, dewasa, menikah dan beranak-pinak seperti kucing betina. Di sebuah negara patriarkal seperti Indonesia ini, seorang perempuan dewasa yang terlambat menikah akan dianggap kurang beruntung.

Ayu ingin mematahkan semuanya. Ia ingin membuktikan bahwa tidak semua perempuan harus menikah. Bahwa tidak semua perempuan harus melahirkan anak, meskipun itu sudah menjadi kodrat, karena lelaki tak mungkin bisa melakukannya hingga kiamat. Ayu ingin hidup sebagai perempuan yang berbeda dari perempuan lainnya, yang tidak tunduk pada norma yang dibuat manusia.

Satu lagi pandangan menyedihkan yang ditujukan pada perempuan yang tidak menikah: mereka cenderung memiliki sifat temperamental, uring-uringan, gampang marah dan sulit bersosialisasi. Barangkali karena mereka menanggung beban, oleh masyarakat dianggap hidupnya tidak sempurna karena tidak punya pasangan hidup yang bisa membantunya melahirkan bayi-bayi.

Ayu mengatakan ia memiliki tante yang tidak menikah dan sikapnya persis seperti itu. Tapi dengan ia tidak menikah, ia ingin membuktikan bahwa tidak semua perempuan lajang punya kebiasaan buruk seperti itu. Dan ia akan menjadi salah seorang contoh.

Lalu ia akan membuat Eks-Parasit Lajang untuk menjawab rasa penasaran para pembaca Parasit Lajang. Buat saya, itu sia-sia saja. Sebab ia telah merusak apa yang ia bangun sejak awal. Jika hari ini ia mengaku seorang agnostik, barangkali besok ia akan tiba-tiba mengaku seorang penganut Hindu atau Budha yang patuh, atau Kristiani, mungkin Muslim. Jika ini terjadi, tidak akan lebih mengejutkan dengan berita pernikahannya, dan ini jauh lebih bisa diterima. Well, semua ini tidak merugikan siapa-siapa, saya cuma merasa geli. Well, saya senang orang-orang menikah dan mendambakan pernikahan, tapi pengecualian bagi dia.

Lalu kenapa saya menjadi gusar? Saya rasa karena saya adalah seorang penikmat sastra dan ia seorang penulis. Dan ia terlanjur mempropagandakan diri sebagai seorang parasit lajang. Dan barangkali, tulisan  itu membuat salah satu atau beberapa orang fans fanatiknya, perempuan tentunya, mengikuti jejaknya: bersumpah tak menikah seumur hidup. Lalu tiba-tiba Ayu menikah. Duh, bukankah hati sang fans akan hancur berkeping-keping? Saya rasa begitu. Kecuali jika tidak ada fans yang mengikuti prinsip bodoh itu.

Dulu, saya mengidolakan dia bukan karena ia tidak mau menikah. Hanya saja, prinsipnya itu membuat ia berbeda. Saya mulai mengenal Ayu lewat Saman. Lalu saya mulai membaca Larung dan Bilangan Fu. Saya mengagumi karena ia berbeda dengan penulis lainnya, dan karena ia perempuan. Ia menulis hal-hal tabu dengan berani. Di bilangan Fu misalnya, ia mengkritik para penganut agama dengan tajam. Ia memiliki pikiran yang berani, cerdas, seksi dan vulgar. Saya rasa ia juga kejam terhadap sejenis lelaki bodoh. Tapi Erik Prasetya, lelaki yang dinikahinya itu pasti lelaki cerdas karena mampu mematahkan prinsip Ayu hingga berkeping-keping. Saya ingat ia menyebut-nyebut nama Erik dalam Bilangan Fu.

Setelah menghapal mati di luar kepala ketiga bukunya, saya tidak lagi berminat membaca Cerita Cerita Enrico. Apalagi Eks Parasit Lajang, saya pasti muntah membacanya.
Share:

4 komentar:

Shaela Mayasari said...

saya baru baca ini tulisanmu. Dan menurutku, ini tulisanmu plaing jelek. Saya tdk kenal Ayu Utami, dan terlepas dari itu. Menurutku kau terlalu mendewakan prinsip. Tanpa melihat nilai dan lingkungan sosial kita. Setiap orang punya kewenangan berprinsip. Dan ketika dia menyalahinya, sy rasa itu persoalan yg genting, penting, sehingga dia m,au tidak mau berubah haluan. Kau juga ndak bisa, yakinkan dirimu akan seperti itu terus.. Tiap orang pasti bermetamorfosis Nies...Adakah yg dia rugikan Ayu Utami dengan dia menikah?

Anies said...

Terima kasih atas tanggapannya. Mendewakan prinsip? Kalau manusia sudah tidak punya prinsip, apa yang bisa diharapkan darinya?

Soal prinsip, itu bukan kewenangan TAPI keharusan.

Soal prinsip Ayu Utami, saya tidak berbicara untung dan rugi, tapi mempertanyakan. Soal dia menikah atau tidak, saya tidak ada urusan. Toh dia bukan tante saya. Bukan kakak saya. Bukan pula tetangga saya.

Saya cuma heran, ada apa gerangan sehingga pronsip-prinsipnya yg ia bangun bertahun-tahun ia langgar begitu saja. Dan bagi saya, tak ada masalah jika ia tak pernah mempublikasikannya lewat sebuah buku.

Salam.

Anonymous said...

ayu utami sudah meminta maaf kepada para penggemar2nya spt mba anies ini di novelnya eks parasit lajang, dia juga menyertakan alasannya menikah di sana, hanya menikah secara agama tidak hukum kalo saya tidak salah. coba baca mba ^^

Anies Sjahrir said...

Makasih dear anonymous. sy udah jd malas bacanya hehe.