08 June 2012

Beringin Pengharapan

Ada dua buah pohon beringin besar yang tumbuh kokoh di tengah sebuah lapangan yang sangat luas. Keduanya tumbuh berdampingan, dan masing-masing dipagari dengan tembok bercat krem. Krem atau putih, entahlah. Tidak terlalu jelas karena saya melihatnya pada malam hari.  Jarak antara kedua pohon tersebut sekitar 5 meter .
Ketika kau berdiri beberapa meter dari kedua pohon tersebut, lalu berjalan ke sana dengan mata tertutup, sebuah keajaiban bila kau mampu berjalan ke sana, dan bisa tiba di antara celah kedua pohon tanpa meleset. Tampaknya memang sangat mudah. Bahkan berjalan dengan mata tertutup sambil jongkok, tampaknya mudah. Tapi nyatanya tidak demikian. Tidak semudah itu. Kerena ketika kau mulai melangkahkan kaki, seperti ada sebuah kekuatan mistis yang menarikmu untuk berbelok ke arah lain, kiri atau kanan.
Tanah lapang ini, disebut sebagai Alun-alun Selatan, karena letaknya tepat berada di depan gerbang Selatan Keraton Yogyakarta. Tempat ini sangat ramai pada sore menjelang malam hari. Bukan hanya oleh para pendatang yang ingin duduk beralas tikar di tepi alun-alun sambil menikmati penganan khas jogja, atau bersantai dengan sepeda yang dihiasi dengan lampu warna-warni. Salah satu tujuan utama mereka adalah untuk mencoba hal yang satu ini.
Bagi yang tidak membawa kain atau sesuatu yang bisa digunakan untuk menutup mata, di tepi alun-alun terdapat tempat penyewaan kain hitam seharga Rp 4 ribu. Pak Jumadi, seorang pemandu yang mengikuti ke sana-ke mari sambil menawarkan penutup mata berwarna hitam menjelaskan tentang pohon beringin kembar itu kepada saya.
Konon, ketika seseorang mampu berjalan ke celah kedua pohon tersebut dengan mata tertutup, lalu ia membisikkan keinginannya, niscaya semua cita-citanya akan tercapai. Saya tertawa dalam hati. Mana mungkin? Terlepas dari sejarah apa pun yang membentuk kedua pohon tersebut, saya tidak percaya. Sepanjang hidup, saya percaya bahwa beringin adalah pohon tempat bersemayamnya segala macam hantu. Karena itu, saya lebih percaya bahwa cita-cita bisa terkabul dengan berdoa kepada Tuhan ketimbang memohon-mohon di bawah pohon beringin.
Pak Jumadi berkata bahwa tidak semua orang yang mencoba bisa melakukannya. Ia menawarkan saya untuk mencoba sambil melambai-lambaikan penutup mata berwarna hitam di depan muka saya. Saya berkata ingin melihat yang lain dulu sebelum mencobanya dan ia mempersilahkan. Saya mulai memperhatikan orang-orang yang mencobanya terlebih dahulu. Mereka melenceng kiri-kanan dan hampir tidak ada yang berhasil.
Dua orang gadis remaja berdiri di sisi kami. Salah seorang membantu temannya memasang penutup mata. Setelah selesai, ia memberi aba-aba agar temannya mulai melangkah. Gadis yang mengenakan penutup mata mulai berjalan dan temannya mengikuti dari belakang tanpa bersuara. Keduanya berdiri lurus dengan kedua pohon beringin itu dengan jarak sekitar 10 meter. Saya memperhatikan dengan seksama saat ia mulai berjalan.
Yang terjadi kemudian, ia memang berjalan lurus. Tapi tidak lurus ke depan, ke arah kedua pohon tersebut, melainkan melenceng jauh ke sisi sebelah kiri. Saat ia sudah berjalan terlalu jauh, temannya memberi aba-aba untuk berhenti. Ia membuka penutup mata dan terperanjat dengan sendirinya saat menyadari ia malah berjalan menjauhi pohon. “Kok bisa?” ucapnya bingung.
Saya bertanya apa yang ia rasakan saat mulai berjalan. Ia berkata, rasa-rasanya jalannya lurus-lurus saja ke arah pohon. Ia sama sekali tidak merasa bahwa ia berbelok ke arah kiri.
Saya akhirnya meminta penutup mata itu kepada Pak Jumadi. Bukan untuk berdoa sambil berjalan ke arah pohon itu, melainkan karena penasaran semata. “Jalan lurus ke depan,” bisik Pak Jumadi usai menutup mata. Saya mulai melangkah dengan ragu-ragu. Segalanya gelap, dan saya khawatir akan menginjak atau tersandung sesuatu. Saya menunggu dengan tidak sabar aba-aba berhenti dari Pak Jumadi. Ia memberikannya sekitar 5 menit kemudian. Saya membuka penutup mata dan memandang ke sekeliling. Sial! Kedua pohon itu malah berada jauh di sisi kanan saya. Seperti halnya gadis yang saya perhatikan tadi, saya berbelok ke kiri. Padahal selama berjalan saya sangat yakin bahwa saya berjalan lurus ke depan.
Pak Jumadi menawarkan saya untuk mengulangi. Katanya, bisa diulang sampai 3 kali. Kalau sudah 3 kali dan tetap tidak berhasil, artinya apa yang dicita-citakan tidak akan berhasil. Hal ini sama saja dengan salat, kata dia. Ketika kita berkonsentrasi, maka kita akan mampu melaksanakannya dengan khusyuk. Demikian halnya dengan cita-cita dan impian. “Cita-cita dan impian tidak akan berhasil tanpa konsentrasi dan usaha keras,” katanya.
Usai menutup mata saya untuk kedua kalinya, ia berbisik di telinga saya agar saya berkonsentrasi dengan tujuan dan jangan takut tersandung sesuatu. Rupanya tadi ia tahu bahwa saya melangkah dengan ragu-ragu.
Pada kesempatan kedua, saya memantapkan hati melangkah ke depan. Saya melangkah dengan lebih cepat tanpa ragu sedikit pun. Dan karena saya takut doa yang saya ucapkan sambil melangkah akan membuat saya jadi musyrik, saya menyelipkan nama Tuhan. “Dear God, my Lord, take me to France someday. Please, please!!!” Saya mengucapkannya puluhan kali dan dengan mantap saya yakin bahwa saya akan mampu mencapai tujuan, tepat di antara kedua pohon tersebut, di bawah rindang dedaunannya.
Pak Jumadi memberikan aba-aba ‘stop!’ saat kaki saya tersandung sesuatu. Rupanya itu sebuah batu. Saya membuka penutup mata dan memandang berkeliling. Kedua pohon ajaib itu ada di sisi kiri dan kanan saya.
“Cita-cita saya akan tercapai?” tanya saya pada Pak Jumadi. Ia mengiyakan. Katanya sudah banyak yang terbukti. Entah bukti bagaimana, ia tidak menjelaskan. Barangkali ia hanya mengarang cerita, entahlah. Ia lalu menjelaskan sejarah kedua pohon itu kepada saya.
Dulu, kedua pohon ini dijadikan sebagai ajang untuk menguji calon abdi dalem yang ingin mengabdikan diri di Keraton Yogyakarta. Yang bisa lulus hanyalah yang bisa mencapai celah pohon dengan mata tertutup. Yang tidak berhasil jauh lebih banyak ketimbang yang berhasil. Konon, yang bisa melewati kedua pohon tersebut hanyalah orang-orang yang berhati bersih dan lurus.  
Mitos lain mengatakan bahwa ketika ada orang yang berhasil melewati celah pohon dengan cara yang curang, maka ia akan dihantui hal-hal gaib, atau terjebak dalam dunia tak kasat mata. Umur kedua pohon tersebut telah ratusan tahun. Sulur-sulur panjang dan besar menjuntai dari atas ketinggian dahan dan meliliti batangnya. Meskipun banyak yang mencoba melakukan tantangan ini pada siang hari, namun melakukannya pada malam hari dianggap lebih menantang karena suasananya lebih mencekam.
Jogjakarta, 8 Juni 2012
Share:

0 komentar: