08 April 2012

Masihkah Pinisi Milik Kita?



Empat buah kapal Pinisi dengan ukuran yang cukup besar berderet rapi di tepi pantai Tanetang, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Kapal-kapal ini belum siap digunakan. Pengerjaannya sementara berlangsung alias masih setengah jadi. Para pekerja berlalu-lalang di sana membawa alat-alat pertukangan. Suara mesin pemotong kayu menderu-deru memekakkan telinga.
Saya ternganga dengan takjub memandangi kapal-kapal itu. Alangkah megahnya. Satu buah di antaranya memiliki ukuran paling besar dengan 3 lantai. Sedangkan 3 yang lainnya lebih kecil dengan ukuran yang hampir sama besar satu sama lain dengan 2 lantai.
Keempat kapal itu milik orang asing. Tak ada satu pun yang dimiliki oleh orang Indonesia sendiri. Kapal yang paling besar serta 2 kapal yang lebih kecil dimiliki oleh 3 orang berkebangsaan Prancis, dan salah satunya lagi dimiliki seorang Australia.
Mereka membeli dengan harga selangit. Jusdi (40 tahun) salah seorang pekerja di tempat itu mengatakan, kapal yang paling besar, milik orang Prancis dibeli seharga Rp 7 miliar. “Saya tidak tahu harga yang lebih kecil, tapi yang dibeli orang Australia harganya Rp 2 miliar,” ungkapnya. Bagi dia, mengerjakan kapal-kapal untuk orang-orang asing ini memberikan kebanggan tersendiri.
Jusdi mengatakan ia sudah sering membuat kapal Pinisi dengan ukuran besar, dan semuanya untuk orang-orang asing dari luar negeri. Paling banyak dari Eropa, dia mengatakan. “Kalau pengusaha dari Indonesia sendiri, boleh dibilang kami tidak pernah menerima pesanan,” katanya. Saya bertanya-tanya dalam hati gerangan apakah yang membuat kapal unik warisan budaya nenek moyang kami ini lebih disukai orang asing daripada orang-orang di negeri kami sendiri.
Di Kabupaten Bulukumba, kampung halaman saya, khususnya di daerah pesisir, kemampuan merakit kapal Pinisi adalah keahlian yang telah diturunkan sejak turun temurun oleh nenek moyang kami, yang dulu terkenal sebagai pelaut ulung. Kapal Pinisi dikenal dunia karena keberhasilannya mengantarkan nenek moyang kami berlayar mengitari bola bumi. Tak heran jika banyak orang asing yang berminat memiliki kapal jenis ini. Mereka pun bersedia membayar dengan harga tinggi.
Salah satu hal unik yang dimiliki Pinisi terletak pada proses pembuatannya. Jika kapal kebanyakan terutama yang dibuat oleh bangsa-bangsa Barat dimulai dengan membuat rangka, pada Pinisi, proses pembuatan dimulai dari dari dindingnya.
Di sela rasa takjub dan kagum yang saya rasakan, terselip rasa miris menyadari bahwa kapal-kapal megah ini semuanya dimiliki oleh orang asing. Orang-orang ini, dengan kemampuan yang diwariskan nenek moyang, hanya menjadi pekerja kasar.
Saya membayangkan, sebentar lagi begitu proses pembuatan selesai, kapal-kapal ini akan berlayar jauh di laut lepas dan tidak lagi mengenal pembuatnya. Lalu akankan ia memiliki kesempatan untuk mampir berlabuh di tepi pantai Tanetang? Akankah pemiliknya menuliskan di badan kapal bahwa kapal ini buatan Indonesia? Akankah ia memberikan ucapan terima kasih kepada orang-orang kami yang telah membuatkan kapal ini, di samping memberikan segepok uang sebagai imbalan jasa?
Ya benar bahwa kapal-kapal ini telah menjadi milik mereka karena mereka telah membelinya dengan harga mahal. Tapi Pinisi adalah warisan nenek moyang kami yang tidak bisa dimiliki seenaknya. Sebab pada bentuk dan wujudnya, terdapat keringat nenek moyang kami yang tak bisa dinilai dengan uang.
Kepada salah pekerja itu, saya meminta izin untuk memotret. Ia mengizinkan saya memotret kapal-kapal kecil tapi tidak untuk kapal yang paling besar. Katanya, pemilik kapal besar itu melarang siapa pun memotret tanpa izin. Saya kian miris dan sedih. Ia membuat kapal di tanah kami, dan bahkan hanya sekedar memotret ia tak sudi memberi izin. Saya bisa saja langsung memotret tanpa meminta izin. Tapi saya merasa harus menghargai pemilik kapal dan para pekerja.
Jusdi menunjukkan saya sebuah pondok tak jauh dari tempat pembuatan kapal. “Di sana pemiliknya tinggal,” katanya. Saya menuju pondok itu dengan harapan bisa mendapatkan izin memotret dari sang pemilik. Namun ternyata di pondok itu yang tinggal hanya seorang pembantu. Menurut informasi yang ia berikan, sang pemilik kapal sedang ke kota sejak pagi tadi dan baru akan pulang malam nanti. Apa boleh buat, saya harus puas dengan memotret yang kecil saja.
Para pekerja itu memasang tampang lucu ketika saya mengarahkan lensa kamera ke arah mereka. Beberapa di antaranya sengaja bergaya di depan saya. Saya memotret untuk menyenangkan hati mereka.
Setelah memotret, saya berjalan menyusuri pesisir pantai Tanetang. Suara gelombang laut bergemuruh menghempas-hempas ke tepi. Di sepanjang jalan, bertebaran bangunan tenda-tenda usang yang mirip tenda pengungsi korban bencana alam. Tenda-tenda ini adalah tempat berlindung bagi para istri nelayan yang menunggu suami mereka pulang dari melaut menjelang subuh.
Di tengah-tengah bangunan tenda, juga terdapat belasan perahu kecil yang tak sebanding dengan kapal-kapal megah yang saya saksikan tadi. Dengan perahu-perahu kecil inilah para nelayan di Tanetang berjuang melawan gelombang laut setiap malam, menjaring ikan-ikan untuk dijual dengan harga murah demi sesuap nasi.
Saya menggumam. Seandainya saja nelayan-nelayan kami tidak semiskin ini. Seandainya saja mereka punya uang cukup untuk sama-sama membuat kapal Pinisi untuk mereka gunakan berlayar menangkap ikan. Dan kapankah orang-orang di negeri kami mencintai Pinisi, agar orang-orang kaya di negeri ini lebih mencintai Pinisi ketimbang membeli kapal besi buatan luar negeri untuk keperluan pribadi? Saya sendiri membayangkan suatu hari kelak dapat memiliki kapal pesiar Pinisi.
Semestinya Pemerintah Daerah dan Pemerintah Provinsi memperhatikan ini. Setidaknya meningkatkan perhatian terhadap eksistensi Pinisi di Sulawesi Selatan. Bukan berarti melarang penjualan Pinisi kepada orang asing, tapi setidaknya ada aturan baku yang menunjukkan bahwa Pinisi layak memiliki nilai jual yang tinggi daripada sekedar uang miliaran rupiah.
Betapa menyedihkan jika Pinisi-pinisi ini hanya mampu dimiliki orang asing berkantong tebal dan para pembuatnya sendiri tak mampu memiliki untuk diri sendiri. Barangkali, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mendaftarkan hak paten Pinisi sebagai warisan budaya dari kabupaten Bulukumba.      
Sambil berjalan di sepanjang pesisir pantai Tanetang, di benak saya terngiang-ngiang sebuah lagu masa kecil.
Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Makassar, 08 April 2012



Share:

1 komentar:

BlogS of Hariyanto said...

terkadang memang apa yang kita impikan belum jadi kenyataan, padahal Pinisi semakin jauh berlayar....,
selamat berlomba..salam sukses selalu kawan :)