06 April 2012

Eksotisme Lembah Ramma'

Matahari tepat berada di atas puncak ketinggian ketika kami usai mendaki bukit terakhir. Di hadapan kami terhampar lembah hijau yang dikelilingi perbukitan. Eksotis! Rasa lelah hilang seketika menyaksikan keindahan hamparan lembah dari atas puncak bukit, yang merupakan salah satu sisi dari dinding lembah. Udara tetap sejuk meski matahari sedang terik. 
Sisi-sisi dinding lembah yang tak rata dan dipenuhi pepohonan hijau menampilkan keindahan tersediri. Dinding-dinding lembah yang tak lain dari lapisan beberapa bukit seumpama ukiran tangan yang dibuat sedemikian rupa untuk menghadirkan keindahan maha dahsyat. Lembah ini dikelilingi oleh sungai-sungai berair jernih. Dari atas, aliran sungai seperti garis-garis kecil yang tak beraturan. Di bawah sana, berserakan bangunan tenda  dari para pencinta alam.
Nun jauh di balik salah satu bukit, tampak air terjun yang bermuara ke sebuah danau biru. Eksotisme danau biru di tengah hamparan pepohonan hijau. Kami hanya menyaksikannya dari jauh. Menurut salah seorang teman, tempat aslinya masih sangat jauh dari tempat kami berdiri. Masih berkilo-kilo meter, dan jika ingin ke sana kami harus menorobos hutan.
Inilah Lembah Ramma’! Sebuah lembah landai nan indah yang berada di bawah kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa. Dari Dusun Lembanna,  tempat pemukiman penduduk terdekat, kami menyusuri hutan pinus, mendaki beberapa bukit, menuruni tebing, memasuki hutan lumut dan menyeberangi sungai-sungai kecil berair jernih.
Rasa dingin merayapi telapak tangan saat menyentuh batang-batang pohon yang permukaannya dipenuhi lumut hijau dengan air yang menetes-netes ke tanah. Sensasi dingin yang menyejukkan.
Pada setiap sungai yang kami lewati, kami meyempatkan untuk mampir. Sekedar membasuh muka dan mengisi botol air yang telah kosong. Air yang mengalir langsung dari mata air begitu segar membasahi kerongkongan.
Butuh perjuangan besar untuk tiba di lembah ini. Barangkali tidak demikian dengan para pendaki gunung yang sudah terbiasa. Belum lagi tas ransel berisi bekal yang begitu membebani punggung. Namun begitu tiba di puncak terakhir, rasa lelah itu hilang seketika menyaksikan hamparan lembah di depan sana.
Kata teman-teman, jika kami tiba di sini pada sore atau pagi hari, pemandangannya akan jauh lebih menarik. Pada sore hari, puncak bukit di sisi lembah bagian utara tertutup kabut putih. Kabut bergerak pelan dari bawah lereng lalu beringsut naik menutupi permukaan bukit hingga puncaknya. Dan bukit di seberang sana akan berselimut kabut.
Pada pagi hari, cahaya matahari yang muncul perlahan dari balik sisi bukit di dinding lembah bagian Timur memudarkan kabut. Kabut bergerak menjauh, hilang, lalu puncak bukit kembali terang benderang
Untuk mencapai lembah di bawah sana, kami harus melewati tantangan terakhir: satu tebing yang paling curam dari tebing lainnya. Jalanan sangat sempit dan licin akibat hujan yang turun sehari sebelumnya. Kami harus berjalan dengan sangat hati-hati karena bongkahan-bongkahan batu bisa terlepas dari tanah pijakan dan luruh sewaktu-waktu. Jika tidak hati-hati, bisa-bisa kami terpelanting. Dan jurang sudah menanti di salah satu sisi. Belum lagi bongkahan batu besar di tengah jalan.
Setelah tiba di dasar lembah, kami mencari tempat ynag paling nyaman untuk mendirikan tenda. Dan kami menemukannya di sisi salah satu sisi dinding bukit, tepat di tepi sungai yang dikelilingi pepohonan berlumut. Setelah dua tenda berdiri dengan sempurna, kami mulai membongkar isi ransel dan menyiapkan makan siang. Perut kami sangat keroncongan akibat perjalanan panjang yang kami tempuh hingga 4 jam.
Makan di tengah hamparan rumput, di bawah pepohonan dan di tepi aliran sungai adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Semuanya makan dengan lahap.
Usai makan, kami beristirahat di dalam tenda. Beberapa teman memilih membawa matras ke bawah pohon di seberang sungai, lalu merebahkan diri di atas batu besar dengan permukaan yang halus. Kantuk menyerang. Namun kami urung tidur juga saat lelaki tua itu muncul.
Namanya Tata Mandong. Tata adalah bahasa Makassar, yang biasa digunakan sebagai panggilan kepada orang laki-laki yang lebih tua, kadang kepada ayah.
Tanpa ba bi bu ia duduk bersila di depan tenda kami. Tentang diri Tata Mandong, saya dapatkan kisahnya dari teman-teman. Ia adalah satu-satunya manusia yang paling setia berdiam di lembah ini. Tak ada seseorang pun yang menemaninya kecuali beberapa ekor sapi dan anjing-anjing liar. Anjing-anjing liar banyak berkeliaran di sini, mengintip bekal yang dibawa para pendaki.
Kami duduk mengelilingi Tata mandong, laki-laki ajaib itu. Bagaimana tidak ajaib? Saya rasa tak ada seorang pun yang ingin menghabiskan hidupnya sendirian di tengah hutan, pada sebuah lembah bisu. Demi apa pun! Bahkan meskipun Tata Mandong berdalih ia diminta oleh Kementerian Kehutanan untuk tinggal di sini, menjaga hutan.
Apa yang bisa dilakukan oleh seorang laki-laki renta yang benar-benar sendirian untuk menjaga hutan?
Tapi Tata Mandong adalah pengecualian. Ia adalah manusia luar biasa. Di lembah ini, ia hanya mendapatkan teman bicara setiap akhir pekan, kadang Jumat sore hingga sabtu pagi, ketika para pendaki berbondong-bondong mendirikan kemah di sini.
Kami menyuguhkan sebungkus rokok dan biskuit kepada Tata Mandong. Ia bercerita banyak hal. Tentang anjing-anjingnya, sapi-sapi yang diurusnya seorang diri, dan kesepian yang dirasakannya setiap bulan Ramadan. Pada bulan Ramadan, ketika orang-orang Muslim berpuasa sebulan penuh, tak ada pendaki sama sekali yang datang ke sini. Ia tinggal sendirian di pondok taunya memetik kecapi. Kecapi itu satu-satunya teman yang mampu mengobati kesepiannya.
Tata bergegas pergi ketika salah seekor sapinya mendekat dan mengendus-endus tenda kami. Ia mengambil sebongkah batu dan mengusir sapi itu hingga menjauh. Saat itu sedang gerimis. Tata bergegas kembali ke pondoknya. Dan kami melanjutkan istirahat.
Malam hari, cuaca lumayan bersahabat. Kami makan di bawah terang gemintang dan rembulan. Sisa gerimis sesore tadi membuat api unggun yang kami persiapkan tidak bisa menyala meskipun telah disirami sekian banyak spiritus. Malam hari, kami menyaksikan kabut menyelimuti permukaan bukit di hadapan kami. Kabut bergerak perlahan, menutupi permukaan bukit, bergerak semakin ke atas hingga puncak bukit tidak kelihatan di bawah temaram sinar bulan.
Gerimis kecil jatuh lagi, dan kami beranjak masuk tenda.
Kami tidur bersama alunan musik yang dianugerahkan alam. Hembusan angin, gesekan dedaunan, gemercik air sungai dan burung malam. Semuanya menyatu. Damai.

Makassar, 19 Maret 2012 
Share:

4 komentar:

Hakim San said...

Setelah baca artikelya sepertinya sudah pernah baca di TEMPO.co dgn judul "Lembah Ramma’ Tempat Danau Biru Bersembunyi" ternyata penulisya jg sama hahaaha :)
sudah brp kali mbak ke sana? Salam kenal:)

Anies-Z-Syahrir said...

Betul, Mas. Saya menulisnya untuk koran dan portal Tempo dan mempublikasikannya juga di blog dengan isi yang mirip. Salam kenal juga :)

Hakim San said...

berarti mbak jago dong nulis ..mbak tolong visit k blok kami dong http://www.jalatzn.blogspot.com/ masih baru sekali sih mau minta saran dan kritiknya siapa tau bisa jago ky K'Anies..boleh dong pangil ka soaly kebiasan d kampus hehehe :)

Anies-Z-Syahrir said...

Tidak jago juga tapi saya memang senang nulis.Iya nanti sayajalan-jalanke blognya ya :)