12 March 2012

Lelaki Tua Penunggu Lembah


Senja mulai jatuh ketika ia muncul tanpa suara hentak kaki. Membuyarkan kita dari lamunan dan kantuk akibat kekenyangan usai makan siang. Ia duduk bersila, bersidekap di depan tenda. 
Lelaki tua penunggu lembah. Kecipak air sungai dan kicau burung tak pernah membuatnya sunyi. Ia sendiri. Betul betul sendiri. (Tentu saja tidak jika beberapa ekor sapi dan anjing yang patuh pada majikan bisa dianggap teman). 
Pada malam-malam dengan sinar rembulan dan bintang yang cukup, ia duduk memetik kecapi. Menyanyikan lagu dengan bahasa yang tidak dimengerti orang kota. 
“Tapi tak ada yang lebih sunyi daripada bulan Ramadan,” katanya. Sebulan penuh ketika umat Islam berpuasa dan lembah ini sunyi dari para pendaki gunung. Sunyi. Benar-benar sunyi. Namun ia tetap tak ingin kemana-mana. Ia mencintai lembah dan hutan yang senantiasa menyesapkan udara segar tanpa polusi ke rongga dadanya. 
Setiap akhir pekan ia pindah dari tenda satu ke tenda lain. Tidak, ia tidak sekedar mencari sebatang rokok atau sekeping biskuit yang dikunyah dengan susah payah. Ia hanya mencari teman bicara yang hanya didapatkan sekali seminggu. Jika beruntung.   
Ia terkekeh-kekeh, sambil menceritakan tentang salah seorang temannya yang telah ia buang: Tarzan, seekor anjing bebal yang selalu mengganggu sapi-sapinya.
Juga keengganannya kembali ke kampung di balik bukit. Hutan dan lembah adalah hidupnya. Ia berpindah-pindah dari lembah satu ke lembah lain. Terakhir di sini, dan ia tak ingin ke mana-mana lagi. 
Hari ini aku belajar satu hal padanya: aku salah telah berpikir bahwa hanya orang modern yang sesekali mencari kesunyian. Bahkan ia tidak pernah mencari kesunyian itu. Kesunyianlah yang mengikutinya setiap saat. Dan keduanya saling memiliki. Berpuluh-puluh tahun lamanya.
Gerimis jatuh dan ia bergegas menjauh. Menuju pondok tua yang berdiri seadanya. 
Entah apa yang ia lakukan di sana ketika lembah ini sepi dari pendaki gunung. Atau pada malam-malam sunyi ketika langit tak memancarkan cahaya sama sekali. Atau ketika sedang hujan dan petir menyambar-nyambar. Memetik kecapi? Duduk melamun? Ah, pernahkan ia menangis dan merasa sangat sendirian?

Lembah Ramma, Maret 2012
Share:

1 komentar:

arul said...

orang tua ini panjang umur karena hidup ditengah eksotisme lembah itu. jadi penulisnya juga harus tinggal di sana :p