24 February 2012

Pelukis Roh


Mirna Gonzales
Bahtiar Hafid (65 tahun), akhirnya tahu mengapa Islam melarang umatnya menyimpan lukisan makhluk hidup di dalam rumah, ketika pada suatu hari ia bertemu dengan Mirna Gonzales. Saya ingin bercerita tentang teknik melukis Bahtiar yang sangat unik namun entah kenapa saya lebih tertarik menceritakan lebih awal tentang kisah hidup Mirna.
Mirna Gonzales adalah putri seorang kapten kapal berkebangsaan Portugis, yang bertugas mengangkuti barang-barang dagangan dari Makassar ke Eropa. Ketika Portugis masih menguasai Makassar, Mirna Gonzales kerap mengikuti ayahnya berlayar ke Indonesia. Salah satu tujuannya adalah bertemu kekasihnya yang ketika itu menjadi tentara Portugis dan ditugaskan di Makassar.   
Setelah perjanjian Bongaya antara Kompeni Belanda yang diwakili oleh Cornelis Speelman dan Pemerintah Kerajaan Gowa yang diwakili Sultan Hasanuddin pada tahun 1667 ditandatangani, orang-orang Portugis yang masih berdiam di Makassar diusir oleh Belanda. Salah satu isi perjanjian Bongaya adalah orang-orang Portugis tidak boleh lagi berdiam di Makassar, terlebih melakukan aktifitas perdagangan. Perdagangan dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. Benteng Rotterdam yang merupakan bangunan Portugis ketika itu pun jatuh ke tangan Belanda.
Benteng Rotterdam di masa Portugis
Orang-orang Portugis yang tertangkap ditahan. Juga para prajurit Portugis yang belum sempat melarikan diri dari Benteng Rotterdam ketika perjanjian Bongaya usai ditandatangani. Salah seorang prajurit Portugis yang tertawan di Benteng Rotterdam adalah kekasih Mirna Gonzales. Cinta membuat Mirna nekat datang ke Benteng Rotterdam untuk menyelamatkan kekasihnya, entah dengan cara apa. Mirna sendiri barangkali tidak pernah tahu dengan cara apa ia bisa menyelamatkan sang kekasih. Ia hanya tahu bahwa ia harus ke Benteng Rotterdam, karena kekasihnya masih ditahan Belanda di sana.
Mirna yang malang. Ia tak pernah berhasil menyelamatkan sang kekasih. Bahkan dirinya sendiri tewas di tiang gantungan akibat aksi nekatnya. Tapi setidaknya, ia dan kekasihnya meninggal dalam waktu bersamaan. Mereka jadi korban kekejaman Belanda yang sedang berjaya ketika itu, pasca penandatanganan Perjanjian Bongaya.
Arwah Mirna Gonzales tak pernah tenang setelahnya. Ia gentanyangan.
Pada suatu hari di tahun 1990an, ia mendatangi Bahtiar untuk dilukis. Alangkah kagetnya pelukis itu. Mirna cantik secara kasat mata. Namun bagi orang-orang yang memiliki kemampuan melihat hal gaib, dalam wujud aslinya, ia seorang gadis yang tanpa kaki. Bahtiar kagum dengan kecantikan itu, namun seketika terperanjat ketika melihat bagian bawah tubuh Mirna yang tidak menjejak bumi.
Oleh Belanda, Rotterdam dibangun kembali dengan beton
Mirna minta dilukis. Ia ingin media untuk bersemayam agar arwahnya bisa tenang. Dengan lukisan, ia akan memiliki tempat. Ketika itulah Bahtiar mulai mengerti kenapa Al-quran melarang orang-orang muslim menyimpan lukisan mahluk hidup di dalam rumah. Kiranya bukan cerita omong kosong belaka bahwa sebuah lukisan bisa menjadi tempat bersemayam bagi arwah. Bahkan di lukisannya yang lain, banyak arwah yang ingin masuk dan tinggal, namun Bahtiar menolak. Ia melukis untuk seni, bukan untuk hal-hal mistik.
“Lukislah aku. Kau bisa memajang gambarku di mana saja, tapi tolong doakan arwahku,” begitulah permintaan Mirna.
Bahtiar merasa kasihan. Terlebih ketika mendengar kisah tragis kehidupan Mirna, gadis tanpa dosa yang menjadi korban kekejaman prajurit Belanda hanya karena ingin mengeluarkan sang kekasih dari Benteng dengan cara yang ia sendiri tidak tahu .
Dengan senang hati Bahtiar menerima permintaan Mirna. Dan hingga kini, 2 lukisan Mirna masih terpajang di dalam ruang lukis Bahtiar. Satu dalam posisi close up dengan rambut ikal sebahu dan satu lagi lukisan seluruh badan dengan gaun biru yang indah. Dan arwah Mirna pun hingga kini masih berdiam di lukisan itu. “Lukisan adalah media yang baik untuk mendoakan roh,” kata Bahtiar ketika saya berkunjung ke tempatnya, salah satu ruang bawah tanah di Benteng Rotterdam yang pada jaman penjajahan merupakan bekas ruang penjara. Di dalam ruangan itu ia menyimpan lukisan-lukisannya.
Speelman (atas) dan Arung Palaka (bawah)
Mirna bukan arwah pertama yang dilukis oleh Bahtiar. Sebelumnya ada Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka pada tahun 1991. Mirna Gonzales adalah objek lukisannya yang ketiga. Jika ditanya bagaimana caranya ia bisa mertemu dengan para arwah yang menjadi objek lukisannya, Bahtiar mengaku bingung. Ia berkata semuanya datang begitu saja semacam anugerah dari Allah. Ia menamai lukisannya Ekstra Dimensi.
Bahtiar adalah seorang muslim yang taat. Setiap kali ingin melukis, ia melaksanakan salat hajat dan zikir. Usai berzikir, bayangan wajah itu muncul begitu saja di atas permukaan kanvas, dan tangannya mulai menari-nari dengan lincah memainkan kuas dan cat. Wajah itu tidak datang lama. Karenanya ia, dapat menyelesaikan lukisan dalam sekejap. Ia tidak pernah menyelesaikan 1 lukisan dalam 2 kali kesempatan. Kadang kala arwah itu secara terang-terangan menampakkan wujud padanya.
Bahtiar juga melukis 3 orang wali dengan cara yang sama. Datok Ri bandang, Datok Ri Tiro, dan Datok Patimang, yang merupakan penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan. Ketiganya hanya membutuhkan setengah jam untuk terbentuk menjadi sebuah lukisan di tangan Bahtiar. Namun untuk menemukan sosoknya, Bahtiar membutuhkan waktu 2 tahun lamanya dalam zikir, dan doa dalam salat hajat. Di depan lukisan-lukisan arwahnya, tak jarang orang-orang menangis dan kesurupan. Namun hal tersebut hanya berlaku bagi mereka yang memiliki kemampuan melihat arwah.


Dengan kemampuan yang dimilikinya, Bahtiar bukannya mendapat apresiasi positif, ia mengaku banyak yang menganggapnya gila dan musrik. Hal ini tentu berkaitan dengan kemampuannya melukis arwah. Hanya sedikit orang yang mempercayai kemampuannya.
Sultan Hasanuddin dengan pakaian kerajaan
Namun demikian, bukan berarti ia tak dikenal. Namanya sudah sampai ke kancah internasional. Ia sering mendapat penghargaan karena kemampuan melukisnya. Pun ketika dalam sebuah kesempatan, para pelukis diminta berkumpul di Jakarta untuk melukiskan wajah Pangeran Diponegoro. Hanya Bahtiar yang memiliki corak yang berbeda dengan pelukis lainnya. Dan semua orang yang menyaksikan lukisan itu pun mengakui kehadiran aura Diponegoro dalam lukisannya. Menurut orang-orang, ketika Bahtiar membuat luksian itu, Pangeran Diponegoro hadir dalam sosok Bahtiar. Karenanya, Bahtiar mampu membuat lukisan dengan sempurna. Tapi Bahtiar membantah. Ia sekedar melukis, dan tak merasa memiliki keterkaitan dengan Dipenegoro. Ia asli Bugis dan Diponegoro seorang Jawa.
Suatu ketika, seseorang dari Banten mendatangi Bahtiar. Ia meminta dirinya dilukis bersama ayahnya yang sudah meninggal. Bahtiar sadar sedang diuji, sebab si anak tidak membawa foto sang ayah sama sekali. Si anak hanya memberikan petunjuk bahwa sang ayah memiliki wajah yang agak mirip dengannya. Namun alangkah terkejutnya ia ketika sketsa wajah yang dibuat Bahtiar benar-benar persis dengan wajah ayahnya.
Selain melukis, Bahtiar juga hafal Sejarah. Salah satu keahliannya tersebut pun yang menurutnya mengherankan dirinya sendiri. Sebab ia mengaku tidak pernah membaca buku Sejarah. Namun ia dengan mudah dapat menceritakan sejarah Makassar kepada semua orang yang bertanya. “Biasanya, usai bercerita, saya sendiri juga lupa dengan apa yang saya ucapkan sebelumnya, dan saya tidak tahu kenapa saya bisa mengetahui semua itu,” ungkapnya.
Kini di usia tua, bahtiar hanya ingin ketenangan dalam hidupnya. Ia mengaku tidak lagi membutuhkan uang sehingga tidak perlu melukis dengan orientasi uang. “Sekarang kalau saya punya uang banyak saya juga bingung akan saya apakan,” katanya. Istrinya sudah tua dan kebutuhannya tidak seberapa. Anak-anaknya yang berjumlah 3 orang semuanya sudah bekerja dan berkeluarga.
Bahtiar Hafid di ruang lukisnya
Satu-satunya yang ia harapkan kini adalah bisa melihat seni benar-benar dihargai. Ia salah seorang seniman yang merasa tidak mendapatkan penghargaan sama sekali dari pemerintah. Ia berdiam di dalam ruang bawah tanah tempatnya melukis sehari-hari dengan modal sendiri. Ia merasa lebih mendapatkan perhatian pengunjung dari luar Sulawesi Selatan, dari Jawa dan dari luar negeri. Bahtiar tidak materialistis, tapi ia sadar, jika ia hidup di sebuan negara yang menghargai seni, ia akan hidup berkecukupan bahkan kaya raya. “Barangkali nanti ketika saya mati baru dicari,” katanya, atas kesadaran tentang keistimewaan bakatnya. Di Indonesia, tidak ada pelukis yang memiliki kemampuan seperti dirinya.
Jauh di lubuk hatinya, Bahtiar berharap sedikit perhatian pemerintah. Setidaknya dalam bentuk fasilitas melukis. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk murid-muridnya yang ia ajar dengan sukarela beberapa kali dalam seminggu. Salah seorang muridnya pernah menjuarai lomba melukis internasional di Cina. “Bahkan ketika ia menerima penghargaan itu, juga tidak ada sedikit pun apresiasi dari Pemerintah Kota,” katanya.
Sambil berbicara, Bahtiar menunjuk ke sisinya. “Mirna Gonzales ada di sini. Ah, seandainya kamu punya kemampuan melihat roh. Ia sedang di samping kita sekarang,” katanya. Saya bergidik ngeri namun juga sangat berharap bisa melihat seperti apa gerangan wajah Mirna yang asli. Adakah ia jauh lebih anggun dari seraut wajah dalam lukisan itu?

Makassar, 24 Februari 2012



Share:

2 komentar:

adlien said...

keren.. dimana galerinya kak? saya penasaran untuk kenal lebih dekat. :D

Anies Zenevieva said...

di bagian belakang. ke sana aja.