05 August 2011

Kenangan tak Pernah Benar-benar Hilang

Kenangan tak pernah benar-benar hilang. Itu yang terukir di benak saya ketika kami bertemu lagi. Meski mengenalnya bukanlah sesuatu hal yang terlalu istimewa, tetap saja sedikit kisah itu mengisi sebagian ingatan saya. 
Ia tetangga saya dulu semasa SMA. Sudah lama kami tidak bertemu. Seingat saya, sudah lebih dari lebih dari empat tahun.
Kemarin, saat mampir di warung kopi langganan saya, tiba-tiba ia muncul. Tidak ada yang berubah padanya kecuali wajahnya yang tampak kian hitam dan keriput dimakan usia.
Saat saya memarkir sepeda motor di tepi jalan, ia lewat dan secara kebetulan pandangan kami bertemu. Barangkali ia heran melihat saya terus menatapnya. Saya membuka masker penutup wajah, dan ia seketika berhenti. Saya hampir menjerit histeris karena gembira.
“Mas, kenapa tiba-tiba ada di sini?” saya menjabat tangannya, dan ia menyambut dengan wajah yang tampak penuh suka cita.
Ia menjelaskan kalau saat ini ia menetap di Makassar.
“Si Mbak mana?” Tanya saya. “Saya pengen ketemu.”
Saya memanggilnya “Mas”. Itu saja. Saya tidak tahu siapa namanya hingga kini. Dan yang saya maksud “Mbak” adalah istrinya. Sama halnya dengan sang suami, saya pun tak tahu siapa nama istrinya, meskipun kami pernah sangat akrab. Karena sudah sangat dekat dan terbiasa memanggilnya dengan sebutan itu, saya jadi tidak tertarik mencaritahu siapa nama mereka sebenarnya.
“Si Mbak mana?” saya bertanya lagi.
“Kami sudah berpisah,” jawabnya singkat.
“Berpisah? Berpisah bagaimana?”
“Ya, begitulah. Kami sudah tidak cocok, akhirnya memutuskan bercerai.”
Saya terhenyak. Perpisahan antara sepasang suami istri bukan hal yang aneh. Tapi tetap saja saya kaget. Sekian lama tidak bertemu, saya membayangkan jika suatu hari kami akan bertemu lagi saat anak-anak mereka sudah besar. Dan saya membayangkan mereka menjamu saya di rumah kontrakan mereka yang cukup sederhana dengan makanan hasil masakan Mbak.
Kami berteman baik. Dulu, Mbak kerap mengajar saya memasak. Dia mengeluarkan segala macam resep di dapurnya. Ia pandai memasak. Hal itulah yang membuat saya senang terhadapnya.
Mereka memiliki dua orang anak perempuan, Diana dan Ully. Sebenarnya tiga orang. Anak pertama mereka Dian, tinggal di rumah neneknya di Jawa. Entah Jawa bagian mana, saya tidak tahu. Mbak memang orang Jawa. Mas sendiri asli Bugis. Menurut Mbak, mereka bertemu di Bali, saat sama-sama bekerja di sana. Mbak bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga yang baik hati, sementara Mas bekerja sebagai sopir di rumah lain. Mereka jatuh cinta, berpacaran dan tidak lama kemudian memutuskan untuk menikah.
Setelah menikah, mereka banyak berpindah-pindah tempat—mencari pekerjaan yang lebih baik—sebelum akhirnya menetap di Makassar.
Hampir setiap sore, begitu pulang sekolah saya mampir ke tempat mereka. Saya menyukai kesederhanaan mereka. Mbak banyak menceritakan soal latar belakangnya pada saya. Tak ada hal muluk-muluk yang ia ceritakan. Tak ada sama sekali. Bukan karena ia tak mau tapi saya yakin karena ia memang tidak memiliki bahan cerita sejenis itu. Ia seorang yang sederhana. Sangat sederhana.
Ia bercerita tentang beberapa keluarga yang pernah menjadi majikannya. Salah satunya yang di Bali, yang menurut dia paling baik dari majikan yang lain. “Setelah menikah dengan Mas, ia meminta kami kembali bekerja padanya,” ia menuturkan.
Bekas majikan yang tak pernah ia sebutkan namanya itu menurut dia sangat baik. Ia memenuhi segala kebutuhan Mbak. Mereka juga tak pernah marah, ketika Mbak melakukan sebuah kesalahan yang tidak disengaja. Salah satu hal yang paling membuat Mbak  senang, di rumah mereka banyak makanan yang dibeli tiap hari dari supermarket. Makanan tersebut disimpan di lemari dan kulkas. “Tempat makanannya tidak dikunci. Aku dipersilahkan mengambil saja kalau pengen.”
Mbak mengaku jika ia masih ingin bekerja di sana. “Tapi Mas tidak mengijinkan lagi. Katanya kami harus mulai berusaha sendiri. Setelah menikah, tidak bisa selamanya tinggal di rumah orang.” Saat pergi dari rumah majikannya di Bali, sang majikan menangisi kepergian Mbak. 
Mereka mengaku saling mencintai sedari awal. Tapi saya merasa tidak pernah melihat itu. Entahlah, barangkali saya saja yang kurang peka melihat sepasang manusia yang saling mencintai. Tapi sepemahaman saya, sepasang suami istri setidaknya sama-sama mengucapkan kata-kata yang sopan dan lembut ketika saling berbicara. Namun tidak demikian halnya dengan Mas dan Mbak. Tak jarang keduanya mengeluarkan kata-kata kasar dengan sengaja untuk membuat yang lain tersinggung.
Saya pernah mendapati mereka bertengkar pada suatu tengah malam buta. Mbak menjerit histeris. Mas membalasnya dengan suara yang tak kalah menggelegar. Entah apa permasalahannya. Yang pasti, sebuah pot bunga yang melayang hampir mengenai Mbak mengakhiri teriakan keduanya.
Tanah dan bunga dalam pot berhamburan. Mbak membungkus pakaiannya dengan kain lalu pergi dari rumah kontrakan mereka. Pakaian dipanggul di pundak. Tangan kiri menggendong Ully si bungsu, tangan kanan menggandeng lengan kecil Diana. Mbak melangkah ke jalanan yang gelap sambil terisak-isak. Mas mengambil sepeda motor bututnya dan melewati jalan yang berlawanan arah. Sebelumnya ia berteriak, meminta Mbak untuk tidak pernah kembali.
Diana dan Ully diam saja. Ketika saya melihat mereka, saya berpikir, untung saja mereka masih kecil. Pasti belum mengerti kejadian yang barusan antara kedua orang tua mereka. Diana 3 tahun dan Ully 1 tahun. Tapi sekarang saya berpikir lain. Barangkali ketika itu mereka juga mengerti segalanya. Mereka hanya belum cukup dewasa untuk memberikan respon seperti layaknya orang dewasa. Diana diam, tapi saya melihat kesedihan di matanya. Saya melihat itu.
Ketika itu jam 12 malam lewat sedikit. Saya, dan juga tetangga kami yang lain yang melihat kejadian itu bertanya-tanya Mbak hendak ke mana. Kami kasihan, tapi tak tahu harus bagaimana. Beberapa orang di antara tetangga sudah berusaha mencegah tapi Mbak menolak. Ia tipe orang yang tak ingin dikasihani.
Mas akhirnya menjemput Mbak menjelang subuh. Keesokan harinya, para tetangga bercerita: Mas mendapati Mbak tidur di atas trotoar bersama Diana dan Ully. Konon, cerita aslinya berasal dari Mas sendiri.
Esok harinya, kehidupan keduanya kembali seperti semula, seolah tak pernah terjadi apa-apa.  
“Main ke rumah, Dik,” ia membuyarkan lamunan saya. Ia memberitahu alamat lengkapnya.
“Insya Allah, kapan-kapan kalau saya ada waktu,” jawab saya.
Ia mengajak saya bertukar nomer ponsel. Katanya, kalau saya hendak ke rumahnya, saya harus memberitahu terlebih dahulu lewat sms. “Rumah saya berantakan. Kalau kamu mau datang, saya bersihkan dulu,” katanya sambil tertawa.
“Mas tak pernah kangen sama Diana dan Ully?” ia tak menjawab. Hanya tertawa lalu berlalu pergi.
Saya tak pernah menyimpan nomer ponsel yang ia berikan hingga kini. Saya memang tak berniat berkunjung ke rumahnya, sekali pun saya ada waktu luang. Dan tiba-tiba saya merasa ia lelaki yang jahat. Entah kenapa. Saya cuma kasihan pada Mbak, juga Diana dan Ully. Serta Dian yang hampir tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah karena sedari kecil hidup bersama neneknya. Ini perasaan kasihan semata.  Toh saya tak memiliki ikatan kekeluargaan dengan mereka.
Entah mengapa saya memikirkan anak-anak lain yang bernasib sama. Anak-anak yang tak merasakan kasih sayang orang tua secara lengkap karena perceraian. Saya teringat perkataan seorang teman. “Hidup dengan orang tua yang tak lengkap akan membuat hidup kita tak seimbang. Tanpa ayah, perekonomian akan goyah. Sebaliknya tanpa ibu, seorang anak akan kekurangan kasih sayang.
Saya juga melihat hal ini pada dua orang keponakan saya, Nurfi dan Isna. Ia anak dari sepupu saya. Orang tuanya bercerai sedari mereka masih sangat kecil. Ayahnya pergi, lalu ibunya memutuskan untuk menikah kembali, lalu meninggalkan anak-anaknya untuk bersama suami barunya. Nurfi dan Isna pernah tinggal bersama ibu saya. Saya pernah menyaksikan ibu saya menangis diam-diam sambil memandangi kedua anak itu. Ibu berkata, ia memikirkan apa yang ada dalam benak keduanya. Ibu merasa kasihan.
Tapi Ibu tak penah memanjakan keduanya. Ibu mengajarkan mereka hidup mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Ibu ingin perpisahan orang tua bisa membuat mereka jauh lebih kuat dari anak-anak lainnya. Kata Ibu, pengalaman tersebut akan mengajarkan mereka bahwasanya kadang tak semua harapan sesuai dengan kenyataan yang kita terima. Pastinya, semua anak menginginkan hidup bahagia bersama kedua orang tuanya.
Saya percaya bahwa kenangan tak akan pernah benar-benar hilang. Sebuah ingatan sekecil apa pun, untuk suatu hal yang memiliki makna mendalam, kelak akan datang kembali pada suatu ketika. Kadang pada saat kita tak menyadarinya. Seperti halnya Dian, Diana dan Ully. Juga pada Nurfi dan Isna. Selama apa pun waktu membawa mereka ke masa dewasa, mereka tak akan pernah melupakan masa-masa kebersamaan dengan kedua orang tua mereka. Kadang, saya melihat mereka duduk berdua, sambil saling bertanya, “Kamu tidak rindu sama Ayah?” ada kabut yang menggantung pada bola mata keduanya, meski mereka belum cukup dewasa untuk mengungkapkan kesedihan dengan cara yang mampu dikenali orang dewasa.
Duhai, bagaimanakah rasanya berusaha sekuat tenaga membunuh kenangan yang menyakitkan? Dan gerangan hal apakah yang sanggup membuat sepasang manusia melupakan kenangan manis lalu memutuskan untuk saling melukai dengan begitu mudah?
Makassar, Agustus 2011      
Share:

0 komentar: