07 April 2011

Kisah Makan Malam

“Kalau tak cekatan, kami bisa malu”

Senang bisa bertemu Mas Andreas Harsono lagi. Saya pernah mengikuti kelas menulisnya di Padang tahun 2009 lalu. Ketika itu saya ikut sebuah pelatihan yang diadakan oleh Surat Kabar Kampus Ganto, Universitas Negeri Padang, dengan tema Jurnalisme Investigasi. Dia guru yang luar biasa dan rendah hati, tak pernah segan berbagi ilmu kepada siapa saja.
Selepas pelatihan di Padang, dalam beberapa kali kunjungan saya ke Jakarta, sempat terpikir ingin mengunjungi beliau untuk sekedar berdiskusi tentang jurnalisme. Namun niat itu selalu saya urungkan karena takut ia sedang sibuk. Ketika tahu dia akan berkunjung ke Makassar melalui status yang ia tulis di facebook, saya sudah mempersiapkan diri untuk mengosongkan jadwal pada saat kedatangannya. Saya ingin bertemu dengannya, mengajaknya makan dan mengobrol panjang. Mas Andreas teman ngobrol yang asyik. Cerdas dan wawasannya luas. Saya sengaja membuat rencana mengajaknya makan bersama supaya punya waktu lama untuk mengobrol. 
Mas Andreas di Makassar dalam rangka acara bedah buku untuk antologi terbarunya, Agama Saya adalah Jurnalisme. Tempat pelaksanaannya di Universitas Negeri Makassar. Saya datang ke sana, tapi tak ada waktu buat menyapa. Ia sedang sibuk melayani beberapa orang peserta kegiatan yang memintanya membubuhkan tandatangan di antologi tersebut. Lagipula, saya harus liputan (untuk koran Tempo Makassar).

Adik-adik saya di identitas memberitahu kalau Mas Andreas akan berkunjung ke rumah kecil (sebutan kami untuk sekretariat identitas) dua hari setelah acara bedah buku di UNM. Ketika itu hari Jumat. Saya datang ke identitas sore hari seusai liputan. Diskusi telah berlangsung begitu saya tiba. Saya bergabung dalam lingkaran untuk ikut berdiskusi.

Seusai diskusi, saya mengajaknya makan malam bersama peserta diskusi lainnya. Ia mengiyakan dengan senang hati. Bersama kami ada Nilam Indahsari —kakak seperguruan di identitas, Icha Dian dan Syukri yang saat ini koordinator liputan identitas, Fadly redaktur berita, Ekbes Wulandari dari panyingkul.com, serta Rina Atmasari dari LPM Profesi UNM.  Saya mengajak mereka ke sebuah rumah makan seafood. Ia setuju. 

Sempat terpikir mengajaknya makan coto Makassar, tapi saya tahu ia ada masalah dengan kolesterol. Jadi saya menawarkan alternatif lain: ikan. Ada pilihan lain yang saya yakin dia akan suka, rumah makan khas Palopo, yang menyediakan makananan tradisional seperti Kapurung, Barobbo, Pallu Butung dan lainnya. Makanan di sana bahan utamanya sayuran. Tapi rumah makan tersebut tutup pada sore hari. Maka berangkatlah kami ke rumah makan Lae-lae, tak seberapa jauh dari Pantai Losari. 

Well, inti yang ingin saya ceritakan bukan makanannya, tapi kami yang kelimpungan karena uang yang kami bawa tidak cukup untuk membayar makan malam tersebut. Saya membawa uang 300 ribu rupiah pemberian dari Ela (redpel identitas), yang merupakan uang kas dari redaksi. Sebelum berangkat, uang itu langsung saya kantongi saja, dengan bodohnya tanpa melihat jumlahnya. Sebenarnya, sebelum berangkat ke rumah makan, Mas Andreas mengisyaratkan beliau yang akan mentraktir kami. Tapi saya menolak, dengan alasan bahwa tak sopan jika tamu yang mentraktir tuan rumah. Kata Mas Andreas, “kalian ini mahasiswa. Dapat uang dari mana? Biar saya saja yang traktir.” Saya dan Icha serempak menolak. 

Akhirnya terkabul juga keinginan saya untuk ngobrol dengan Mas Andreas. Kami membicarakan banyak hal. Soal kekerasan yang menimpa jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, kasus kekerasan HAM yang terjadi di Indonesia—dari Aceh hingga Papua, soal kebiasaan presenter berita TV yang kerap berpenampilan menor dan seksi saat siaran hingga soal kisah pacaran. Mas Andreas bercerita banyak tentang keluarganya kini, mulai dari awal masa pacaran. Saat obrolan tengah berlangsung, menyusul Kak Upi Asmaradhana—mantan koresponden Metro Tv—bersama Mbak Uci (Fauziah Erwin), koresponden Metro TV biro Makassar saat ini. Keduanya bergabung dengan kami.

Usai makan, saya menyeret Icha ke kasir. Ini untuk mengantisipasi Mas Andreas mendahului kami. Apalagi, kak Upi sudah mewanti-wanti. “Jangan sampai Mas Andreas yang membayar makan malamnya,” kata dia waktu baru datang. Di meja kasir, jantung saya berdegup kencang begitu melihat angka yang tertera di kertas struk. Semuanya 569 ribu. Sementara uang yang kami pegang cuma enam helai pecahan lima puluhan. Kekurangannya 269 ribu. Saya teringat, di dompet saya ada selembar seratus ribuan. Saya kembali ke meja makan untuk mengambil dompet. Icha juga mengorek-ngorek dompetnya dan menemukan seratus ribu. Sekarang, kekurangannya 59 ribu. Saya merogoh kantong celana depan belakang tapi rupanya sudah tak ada yang tersisa. Kasirnya mulai melongo melmandangi  kami yang mengumpulkan recehan-recehan. Tetap tidak cukup. 

Saya bertanya kepada kasirnya di mana letak ATM terdekat. Dia mengangkat telunjuk, mengarahkannya entah ke mana. Karena kelimpungan, saya langsung mengangguk-angguk saja mengikuti arah telunjuknya. Saya menyerahkan struk tadi berikut uang 500 ribu. “Saya ke ATM dulu, uang saya tidak cukup,” kata saya. “Kalau ada orang lain yang mau bayar, jangan dikasih, bilang kami sudah bayar,” Icha menimpali. Kasirnya mengiyakan. “Tenang saja,” katanya.

Saya dan Icha cepat-cepat berlalu karena sedari tadi aksi kami menarik perhatian pengunjung lain yang juga sedang antri di kasir. Di tepi jalan, kami mulai kebingungan. Kami tidak tahu letak ATM terdekat di mana. Dan saya juga teringat, ATM yang terbawa di tas saya adalah BNI yang isinya cuma 50 ribu. “Bagaimana ini?” ujar saya kepada Icha. “Kalau pun mesin ATMnya ketemu, uangnya masih kurang 19 ribu,” kata saya. Icha terdiam. “Bahaya, kita bisa malu sama Mas Andreas kalau ketahuan uangnya tidak cukup,” katanya. Ia berinisiatif menelpon Ela, memintanya membawakan uang ke rumah makan. Tapi Ela sedang ada urusan dan jauh dari tempat kami makan, sehingga kalau pun datang ia pasti telat. Akhirnya Icha menelpon Fadly yang saat itu masih berada di meja makan, dan memintanya keluar. 

Begitu Fadly tiba di hadapan kami, saya meminta dia mengeluarkan dompet. Dia kebingungan tapi menurut saja. Di dompetnya ternyata cuma ada selembar 50 ribuan. “Periksa semua kantong kamu, siapa tau masih ada,” kata Icha. Benar saja. Dari empat buah kantong di celananya, ia menemukan dua helai pecahan lima ribuan dan selebihnya pecahan seribuan, yang alhamdulillah pas 19 ribu. Saya dan Icha bersorak kegirangan. Kami selamat dari rasa malu setelah mengosongkan isi dompet masing-masing dan setelah menguras isi dompet Fadly. Dengan langkah percaya diri kami kembali ke meja kasir dan meminta struknya. Kami pun kembali ke meja makan setelahnya. Mas Andreas berdiri saat kami baru saja duduk. Ia mengeluarkan dompet dari ransel, bersiap ke kasir. “Kami sudah bayar, Mas,” kata saya. 
“Kalian dapat uang dari mana?” Mas Andreas bertanya.

“Tenang saja, Mas. Anak-anak ini punya banyak uang,” kata Kak Upi menimpali. 

Mas Andreas duduk kembali dan melanjutkan ngobrol, setelah mengucapkan terima kasih telah ditraktir. 
Obrolan berlanjut hingga larut malam. Barangkali masih akan berlanjut lama jika Mas Andreas tidak berinisiatif mengajak kami pulang. Kami beranjak dari meja makan setelah foto bersama. Kak Upi menawarkan agar dia saja yang mengantarkan Mas Andreas kembali ke hotel tempatnya menginap. Kami mengiyakan. Kak Upi membawa mobil sendiri dan hanya berdua dengan Mbak Uci. Mas Andreas dan Kak Upi berjalan di depan. 

Di pintu masuk, pelayan di rumah makan mencegat saya dan Icha. “Mbak, mangganya belum dibayar,” katanya. Tadi usai makan, Kak Upi memesan buah mangga untuk makanan penutup. Saya kembali risau. 

“Dua puluh lima ribu,” Icha berbisik di telinga saya. 

Saya meletakkan jari telunjuk di bibir. “Tunggu dulu, Mas. Jangan rebut. Tunggu sampai orang yang di depan pergi, baru kami bayar,” kata saya. Orang di depan yang saya maksud adalah Mas Andreas. Kalau Kak Upi sudah membawa Mas Andreas pulang ke hotel, barulah saya akan mencari akal lagi untuk membayar kekurangannya tadi. Saya bersiap bertanya kepada Kak Nilam, kalau-kalau ia punya uang. Saya mengabaikan Syukri karena tak yakin ia membawa dompet. Saya tak mungkin meminjam uang kepada yang lainnya, karena mereka notabene tamu kami juga.    

Tapi rupanya Kak Upi mencium gelagat aneh kami. Ia mendekat. “Ada apa?” ia berbisik di telinga saya. 

“Katanya, buah mangga tadi belum dibayar. Uang kami habis,” kata Saya.

“Ah, kalian ini,” Kak Upi menggerutu. Ia bergerak ke meja kasir. Saya menjabat tangan Icha. “Kita selamat lagi,” kata saya. Icha mengangguk-angguk. Dalam perjalanan pulang, saya dan Icha tertawa terbahak-bahak di mobil.


NB: Mas Andreas, makasih sudah mau makan malam dengan kami…    
Share:

7 komentar:

Tuti Handriani said...

lucu, seru, dan haru baca note kamu, boy..
kk jadi malu, karena waktu mas AH di Padang malah kami (beberapa panitia) yang ditraktir. Tuan rumah yang tak sopan

tuti handriani said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Nilam Indahsari said...

o, saya jadi tahu isi dompet dan ATM kalian sekarang...hahaha

akbar kasmiati said...

salam kenal.
Seru juga ceritanya. Saya juga ingin sekali ikut diskusi buku itu tapi karena saya mengajar jadi tak bisa karena saya juga menetap di Pinrang.
Saya menemukan blog anda melalui comment yang anda tinggalkan di lakonhidup.wordpress.com. saya menyimpulkan jika media yang anda maksudkan pada comment anda itu adalah Fajar. Hingga melalui comment itu saya bisa tahu jika honor untuk pemuatan puisi dan cerpen ternyata harus diambil di kantor redaksi media itu. Puisi saya pernah dimuat berkisar setahun lalu dan honornya terus saya tunggu ditransfer, tapi ternyata penungguan itu hanya sia-sia.
Maaf jika commentnya jauh dari isi tulisan.

Anies-Syahrir said...

Kak Tuti: Sama kakek tidak usah malu-malu. hihihi

Kak Nilam: kata Mas Andreas, "kalian ini masih mahasiswa..." jadi memang begitulah kenyataannya isi dompet kami. hahaha

Anies-Syahrir said...

Akbar Kasmiati: Salam hangat, salam kenal juga. kebetulan sy sekali-sekali nongkrong di lakonhihup kalau lg ada waktu :)

memang redaksi itulah yg saya maksud. beberapa kali sy ngirim puisi dan cerpen ke sana. Memang tempat tinggal sy tdk jauh dari kantor redaksinya, tapi capek juga kalau harus ke sana sendiri buat ngambil honor tulisan. Apa lagi, tulisan dimuat juga tidak ada pemberitahuan. Setidaknya via sms atau email. Jadi kalau gak ketahuan tulisan dimuat, gak dibayar-bayar deh... Menurut saya mereka sangat tidak profesional. Honornya tdk seberapa pula. Sekarang jadi malas ngirim ke sana . hehe

arullaode said...

saya tidak ingin mengomentari seperti apa nikmatanya makan malam bersama sang guru. Tapi, saya ingin tahu bagaimana cara menyusun cerita sebagus ini. Adakah selain mas Andreas, yang bisa berbagi ilmu? biar saya juga bisa menjamu makan malam disuatu ketika. saya suka cara mengespresikan semua cerita tentang mas Andreas, Anis. Sy tunggu karya terbarumu...