26 February 2011

Kisah Demonstran Gagal

Hampir tiap hari berita di media, terutama tivi, dihiasi berita demonstrasi dengan tuntutan yang beragam. Siang tadi, saat menonton berita demonstrasi para pencinta sepak bola yang menuntut Nurdin Halid mundur dari pencalonan kembali sebagai ketua PSSI, saya ingat kenangan bertahun-tahun silam. Kurang lebih tujuh tahun lalu. Hal yang mengingatkan saya akan kenangan itu bukan Nurdin Halid atau PSSI. Saya bukan penikmat sepakbola. Malah, saya membenci sepakbola karena tayangan pertandingan sepakbola di tivi selalu membuat saya berkelahi dengan kakak saya rebutan remote.

Saya teringat pengalaman pertama kali melakukan demonstrasi. Tapi demonstrasi yang saya dan teman-teman lakukan bukanlah menuntut seseorang mundur dari jabatan apa pun, tapi berjuang mempertahankan hak-hak orang tersebut. Ketika itu saya masih kelas 3 SMP. Belum mengerti tentang tata cara melakukan demonstrasi dengan baik dan benar. Kalau saat itu saya dan teman-teman melakukannya, rasa-rasanya itu pun terinspirasi dari berita-berita di tivi—yang memberitahu kami bahwa demonstrasi berarti mengumpulkan massa dan membuat spanduk dengan tulisan yang berisi tuntutan-tuntutan.

Saat menginjak kelas 3 SMP, kami (saya menulis ‘kami’ untuk mengikutsertakan teman-teman SMP saya) kedatangan guru bahasa Inggris baru. Kami senang. Sebelumnya, guru bahasa Inggris kami cuma 3 orang, yang mengajar 9 kelas. Kata kepala sekolah, guru bahasa Inggris ketika itu masih susah dicari. Nama guru baru kami itu Pak Hamka. Saya sudah lupa nama lengkapnya. Setiap hari, Pak Hamka datang ke sekolah dengan sepeda motor vespanya.  

Kami menganggap Pak Hamka guru yang unik dan beda dari guru bahasa Inggris kami yang lain. Ia berjiwa muda dan tak segan bercanda dengan para murid. Cara mengajarnya pun beda. Jika guru kami sebelumnya mengandalkan buku teks, Pak Hamka tidak demikian. Ia jarang meminta kami membuka buku teks. Ia mengajarkan kami cara-cara menghapal kata-kata bahasa Inggris beserta artinya. Selain mengajarkan bahasa Inggris sesuai kurikulum, Pak Hamka juga memberi kami les bahasa Inggris setiap sore, tiga kali seminggu.

Hari pertama mengajar di kelas saya, ia meminta ketua kelas membuat sebuah kotak dari kayu. Mirip kotak surat. Setiap hari, murid-murid diwajibkan menulis 3 kata bahasa Inggris beserta artinya. Setiap kata ditulis di atas sebuah kertas yang digunting kecil. Artinya, 3 kata ditulis di atas 3 lembar kertas pula. Kata Pak Hamka ketika itu, “kalau kalian merasa 3 kata terlalu sedikit, tulislah sebanyak-banyaknya, asalkan kalian bisa pertanggungjawabkan di akhir minggu.” Saya termasuk yang merasa 3 terlalu sedikit, jadi saya memasukkan sepuluh kertas setiap hari ke dalam kotak itu.

Setiap hari Sabtu, kertas-kertas itu dikeluarkan dari kotak. Murid-murid diminta ke depan kelas untuk menghapalkan kembali kata-kata yang telah mereka tuliskan di atas kertas tersebut. Saya senang, karena metode mengajarnya yang demikian menambah perbendaharaan kata bahasa Inggris saya. Setiap hari, saya memperhatikan sekeliling dan mencari kata-kata apa yang kira-kira akan saya tulis.

Pak Hamka baru beberapa minggu mengajar di sekolah kami ketika insiden itu terjadi. Suatu hari, ketika Pak Hamka mengajar di kelas 2, ia memukul salah seorang murid yang terkenal bandel dan malas. Nama anak itu Irfan. Entahlah benar Pak Hamka memukulnya atau tidak, saya tidak tahu. Ada teman saya yang bilang itu tidak benar. Pak Hamka tidak memukul Irfan, hanya mendorongnya karena kesal. Irfan sudah berkali-kali diajari dan juga belum mengerti pelajaran yang diberikan Pak Hamka. Dan dasar anak itu yang pertahanan tubuhnya kurang bagus, baru didorong saja sudah jatuh pingsan. Dan sayangnya, Irfan adalah keponakan dari guru bahasa Indonesia kami, Pak Syam.

Ketika mengetahui peristiwa itu, Pak Syam murka bukan kepalang. Kalau saja tidak dihalangi oleh guru-guru yang lain, ia akan membalas memukul Pak Hamka. Hari itu juga, Pak Syam mengusir Pak Hamka dari sekolah kami. Ia mengancam akan memukul Pak Hamka jika kembali ke sekolah kami. Kami tahu ancaman itu membuat Pak Hamka takut. Rumah pak Syam hanya berjarak beberapa ratus meter dari gedung sekolah. Dan Pak Syam termasuk orang yang disegani oleh warga. Sementara Pak Hamka adalah pendatang.

Selama beberapa hari, Pak Hamka tidak datang ke sekolah. Kami merindukannya. Dan meskipun ia tidak datang mengajar, kami tetap rajin memasukkan kertas-kertas ke dalam kotak yang tergantung di sudut ruang kelas. Berharap esok hari, dan esok harinya lagi, Pak Hamka akan datang dan meminta kami menghapalkan kata-kata itu di depan kelas. Ketika Pak Hamka menghilang dalam waktu lama, Pak Syam sesekali masuk ke kelas kami untuk mengajarkan bahasa Inggris. Teman-teman saya bilang, ia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa mengajarkan bahasa Inggris, seperti Pak Hamka.

Saya masih ingat pelajaran bahasa Inggris pertama yang ia berikan. Ia mengacungkan sebuah kapur ke depan wajahnya lalu bertanya, “ini bahasa Inggrisnya apa, anak-anak?” Tak ada yang menjawab. Bukan karena tidak tahu, tapi kami belum terbiasa diajar pelajaran bahasa Inggris olehnya. Melihat semua murid diam, Pak Syam kesal. “Bagaimana ini? Selama ini apa yang diajarkan oleh Pak Hamka kepada kalian?” Dengan kapur yang dipegangnya tadi, ia menuliskan sebuah kata di papan tulis. CHALK. “Kapur bahasa Inggrisnya chalk. Saya juga bisa mengajarkan kalian bahasa Inggris. Jangan pikir cuma Pak Hamka yang bisa.” Kami masih diam. Kami menunggu Pak Hamka.  

Penantian kami berujung kecewa ketika pada suatu pagi Pak Hamka datang namun tidak masuk ke kelas. Ia duduk di atas motor vespanya yang ia parkir di bawah pohon kelapa di halaman samping sekolah kami. Kami memintanya masuk ke kelas tapi ia menolak. Ia datang bukan untuk mengajar, tapi untuk berpamitan kepada kami. Ia akan pindah. Berita itu membuat kami sedih. Kami memohon-mohon padanya agar ia tidak pindah. Kami ingin ia tetap tinggal dan mengajarkan kami bahasa Inggris. Tapi ia bilang, kepala sekolah yang meminta ia pindah. Ia mengatakan itu pada kami dengan mata berkaca-kaca. Dan yang paling membuat kami sedih, hari itu tidak ada guru lain yang menemui Pak Hamka yang duduk di atas motor vespanya. Ia sendirian saja di sana sampai kami datang. Ia tidak berani masuk ke halaman sekolah.

Kami juga kesal karena kepala sekolah sepertinya tak berinisiatif menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan. Padahal Pak Hamka baru beberapa minggu pindah ke sekolah kami. Dan kami sudah terlanjur suka padanya. Hari itu, saya dan teman-teman berembuk. Kami tak  mau Pak Hamka pergi. Karena itu, kami memutar otak, mencari cara agar Pak Hamka tidak pindah. Saya mengusulkan untuk melakukan demonstrasi di depan kantor kepala sekolah. Teman-teman yang lain manggut-manggut dan setuju. Kami pun segera bergerak, membagi tugas. Ada yang mencari kardus bekas ke kantin sekolah, ada yang mengais-ngais tempat sampah mencari kertas karton bekas dan menyiapkan spidol. Setelah semua bahan-bahan itu terkumpul, kami pun bekerja layaknya demonstran profesional. Jika saya tak salah ingat, inilah beberapa tuntutan yang kami tulis: Kembalikan Pak Hamka!; Pak Hamka guru favorit kami!; Pak Hamka tidak boleh pindah!. 

Teman-teman yang tulisannya bagus membubuhkan tulisan dengan spidol di atas kardus-kardus bekas yang direntangkan dan di atas kertas karton yang tersedia. Saya mengumpulkan massa. Berhubung saya di kelas 3A, saya menyeberang ke kelas 3B dan 3C untuk mengajak yang lain bergabung. Saya tidak mendapat banyak pendukung dari kelas 2 karena mereka kebanyakan membela Irfan, yang juga notabene anak kelas 2. Saya tidak mengajak anak kelas 1 karena menganggap mereka masih bau kencur dan belum layak diikutkan.

Setelah semua berkumpul, kami membuat barisan. Jumlah murid yang ikut sekitar 30-an. Yang berada di barisan paling depan—termasuk saya—membentangkan kertas karton dan kardus yang sudah kami tulisi. Kami mengambil start dari depan kelas saya, yang berhadapan dengan kantor kepala sekolah, dibatasi oleh lapangan upacara. Kami pun mulai bergerak, berjalan perlahan melintasi lapangan upacara menuju kantor kepala sekolah sambil berteriak “Kembalikan Pak Hamka!”. Kami sangat bersemangat. Dan ketika itu, saya berpikir, barangkali aksi kami mirip dengan aksi para demonstran yang biasa saya lihat di tivi.

Sementara itu, dari seberang sana, tampak Pak Syam keluar dari dalam ruang guru yang berdampingan dengan ruang kepala sekolah. Ia menyeberangi lapangan upacara mendekati kami dengan langkah bergegas. Rupanya sedari tadi ia memperhatikan tindak-tanduk kami dari jauh. Ia tampak sangat marah. Sungguh, melihatnya berjalan mendekat membuat saya merasa ingin pipis. Saya ketakutan melihat wajahnya memerah, khas kalau ia sedang marah. Spontan langkah kami terhenti. Kaki saya gemetaran. Begitu Pak Syam mulai mendekat, barisan kami kocar-kacir. “Apa-apaan ini?!” suaranya menggelegar. Teman-teman yang lain bubar tanpa aba-aba. Mereka berlarian ke belakang ruang kelas untuk bersembunyi. Saya pun tak ketinggalan, berjalan berjingkat-jingkat menuju kantin. Pak Syam memungut semua kertas karton dan kardus yang kami bawa. Ia merobek-robek dan menginjak-injaknya. Para guru memperhatikan dari jauh. Saya melihat Pak Hamka juga mengintip aksi kami.

Aksi kami gagal. Kami belum sempat tiba di depan ruang kepala sekolah ketika Pak Syam datang dan membubarkan kami. Tapi kami tetap puas karena Pak Hamka melihat aksi kami. Setidaknya ia tahu bahwa tidak semua menginginkan ia pergi. Tidak semua memusuhinya. Masih ada yang mengharapkan ia tetap tinggal. Meski pada akhirnya ia tetap pergi. Hingga hari ini, saya tidak pernah melihat Pak Hamka lagi.
Share:

3 komentar:

Mutiara Pembelajar said...

demontrasi memang kebanyakan hanya sekedar aksi teatrikal...menampilkan keunikan demonstrasi

Anonymous said...

mengharukan ya hehe

arullaode said...

hahaha, ini bukan demonstran yang gagal, tapi saat itu belum cukup umur kali. hehe