27 December 2010

Tentang Linda Christanty


Linda Christanty
Saya ingin bercerita tentang Linda Christanty, salah seorang penulis yang lahir di Pulau Bangka.

Saya senang membaca karya sastra. Tapi terus terang saja, sangat jarang ada penulis yang kesemua karyanya mampu membuat saya terpikat, sebelum saya menemukan nama Linda. Sebelumnya, saya lebih banyak membaca buku—kumpulan cerpen atau novel—yang diterjemahkan dari bahasa asing.

Pertama kali mengenal nama Linda ketika saya masih semester satu. Suatu hari saya kehabisan bahan bacaan dan memutuskan untuk mengacak-acak rak toko buku Gramedia di Jalan Ratulangi, Makassar. Secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku bersampul merah. Judulnya “Rahasia Bulan.” Awalnya, saya membeli buku itu hanya karena tertarik dengan judul dan desain sampulnya. Tak lebih. Judulnya begitu melankolis menurut saya. Buku tersebut merupakan kumpulan cerpen, yang ternyata mengangkat satu tema: LGBT. Salah satu cerpen di dalamnya adalah tulisan Linda yang berjudul “Mercusuar.”

Sungguh, Mercusuar membuat saya terpikat. Diksi yang mengalir di dalamnya begitu indah. Ada sederet kalimat dalam cerpen itu yang masih saya ingat hingga sekarang (tak mampu saya lupakan): Dan kenangan akan aroma sama seperti trauma, selalu tersimpan lama, sayup dan bangkit memenuhi benakmu oleh suatu peristiwa tak terduga, seperti dampak sengat listrik voltase rendah. Tiba-tiba kau merasakan ngilu di jantungmu ketika kotak ingatanmu terbuka…

Kalimat ini entah mengapa begitu mengena di benak saya. Dan kalimat itu pula yang membuat saya membuka halaman judul cerpen tersebut dan memelototi nama Linda Christanty. Dari biodata penulis di halaman akhir buku, saya tahu bahwa Linda pernah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul Kuda Terbang Maria Pinto (KTMP). Langkah berikutnya, ketika saya kembali ke toko buku, yang pertama saya cari adalah KTMP. Sayang sekali saya tidak menemukannya. Stoknya habis.

Saya mulai penasaran dengannya. Saya mencari namanya di google, dan google menunjukkan saya alamat website pribadi Linda Christanty. Dari website tersebut, saya mengopi semua tulisannya, cerpen dan essainya, mencetak di atas kertas HVS, membawanya ke mana-mana dan menjadikannya bacaan yang gurih dan renyah. Dari website itu pula, saya akhirnya menemukan KTMP, cerpen yang penuh metafora membingungkan. (Saya ingat, saya pernah bertanya kepada Mbak Linda tentang apa maksud dari negeri jeruk dan kopi. Dan ia menjawab dengan: “Ahahahaha… kamu pembaca yang kurang peka.” Nyatanya—ia menjelaskan kemudian—negeri jeruk dan kopi merupakan metafora dari Timor Leste. Saya termangu-mangu kagum campur bingung).

Suatu hari, Kak Liah salah seorang senior saya di identitas memberi kabar bahwa Linda Christanty akan datang ke Makassar. Kebetulan ia berteman dengan Linda. “Mau wansus tidak?” katanya kepada saya. Ini sebuah kebetulan. Waktu itu di identitas jabatan saya adalah redaktur, yang berarti tugas saya adalah mengedit tulisan para reporter, dan tak perlu lagi turun langsung melakukan wawancara. Tapi senior saya itu tahu bahwa saya  selalu tergila-gila dengan penulis.

Linda sedang ada undangan membawakan materi tentang jurnalisme di Makassar. Jadi saya menungguinya di tempat acara berlangsung. Menunggu di dalam ruangan hingga ia selesai membawa materi. Waktu pertama kali melihatnya dari jauh, saya berkata kepada kepada Kak Liah, “Oh, Dia sekecil itu?” Kata Kak Liah, Linda Christanty itu memang bertubuh mungil.

Saya bertanya banyak hal tentang karir kepenulisannya. Hasil wawancara saya dengan Linda Christanty kemudian dimuat dalam rubrik Wawancara Khusus di identitas. Kalau tak salah, judulnya “Menulis untuk Orang Lain.” Judul itu saya ambil dari salah satu petikan hasil wawancara: “Saya tidak setuju jika ada penulis yang berkata bahwa ia menulis untuk diri sendiri. Bagi saya, menulis adalah salah satu cara berkomunikasi dengan orang lain …”

Menurut Linda pula, cerpen-cerpennya kebanyakan kisah nyata yang ia ramu dalam bentuk fiksi. Kisah yang ia saksikan terjadi di sekelilingnya. Seorang teman bertanya tentang beberapa cerpennya yang bertema lesbian. Katanya, ia sendiri seorang strong hetero. Tapi kisah dalam cerpen tersebut benar-benar ada dan terjadi. Kisah tersebut adalah milik salah seorang yang ia kenal.

Linda Christanty orangnya ramah. Dan lucu. Sepanjang wawancara, jawaban-jawabannya banyak diselingi dengan tawa ngakak. Juga dengan cerita-cerita lucu yang membuat kami mau tidak mau ikut ngakak.

Kembali ke soal tulisan Linda. Membaca kalimat pertama dari cerpen-cerpen Linda, saya tidak bisa menebak ending dari kisah yang akan ia tuturkan. Hal yang tak pernah saya temukan dalam karya penulis lainnya adalah gaya bertuturnya yang begitu tenang dan santun. Ia tidak begitu menggebu-gebu dalam bercerita. Tapi di balik gaya tutur yang tenang, siapa yang menyangka kalau ending dari ceritanya selalu mampu membuat pembaca terhenyak. Terpukul, tersengat, terpesona, terkaget-kaget atau ter apalah namanya. Tulisan-tulisan Linda sangat cerdas. Saya pikir, gaya bertutur Linda mirip Umar Kayam dalam Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Semoga saya tak salah.  

Dalam bukunya yang berjudul Dari Jawa Menuju Atjeh, entah mengapa, sebelum membaca isinya, kata pengantarnya telah membuat saya terpikat duluan. “Saya sendiri tak pernah ingin pulang. Saya selalu ingin pergi.” (Ia bercerita tentang masa-masa menjelang ayahnya meninggal). Buku ini berisi kumpulan esai Linda tentang Politik, Islam dan Gay. Juga bercerita banyak tentang perjalanan Linda menuju Aceh dan mengapa ia memutuskan untuk tinggal di Aceh. Sekarang Linda memimpin kantor berita  Aceh Feature.

Lalu untuk apa saya membuat tulisan ini? Semata-mata untuk memberitahukan, bahwa Linda menjelma menjadi penulis idola baru saya semenjak membaca Mercusuar-nya. Patut diingat juga, dalam bidang sastra Linda telah banyak mendapat penghargaan bergengsi. Tapi saya hanya ingin menyebutkan satu: Khatulistiwa Literary Award. Penghargaan paling keren dalam bidang kesusastraan Indonesia. Bukan cuma sekali, tapi dua kali. Pertama untuk kumpulan cerpen KTMP di tahun 2004 dan kedua untuk kumpulan cerpen Rahasia Selma di tahun 2010.
Share:

5 komentar:

Anonymous said...

yah...
aku juga mulai menyukai tulisannya. terkadang aku bergdang tengah malam membca tulisan2 y d Aceh Feature...

untuk yg satu ini, mungkin kita punya kesamaan :D
ibnu

Anonymous said...

rahasia selma kali neng,..

Anies-Z-Syahrir said...

Ibnu: Tidak rugi begadang buat baca tulisan2nya Mba linda.

@Anonimous (siapakah gerangan dirimu): Rahasia Selma itu kumcer belakangan kok. Kumcernya Mba Linda yang pertama Kuda Terbang Mario Pinto :)

Ozan said...

linda memang luar biasa... kalo bukunya jangan tulis kami teroris punya gak mb' nies... coz skrg di pasaran dh gak nemu...

Anies-Z-Syahrir said...

Aku punya semua, kecuali Kuda Terbang Maria Pinto. hehe