14 December 2010

Pemateri Kami yang Unik-unik dan Lucu-lucu


Uni Zulfiani Lubis (Dewan Pers/Pimpinan Redaksi ANTV). Beliau menggantikan Pak Bambang Harymurti yang ternyata dalam waktu bersamaan harus menghadiri sebuah acara di Jakarta. Pak BHM sendiri sebenarnya berniat hadir dari awal. Sesuai jadwal, kami menginginkan beliau membawakan materi pada hari pertama. Beliau meminta jadwalnya ditukar hari jumat. Namun jadwalnya sudah kami atur sedemikian apik, sehingga rasanya sulit untuk memindahkan jadwal materi untuk beliau. Kami meminta beliau merekomendasikan pengganti saja. Beliau setuju. Beberapa hari kemudian beliau memberitahukan bahwa Ibu Uni Zulfiani Lubis bersedia menggantikannya.
Sepanjang dua minggu sebelum kegiatan, hampir tiap hari seseorang dari Dewan Pers menghubungi saya via telepon untuk memastikan bahwa selama di Makassar nanti kami akan memperlakukan Ibu Uni dengan baik. Sepertinya ia takut kami menelantarkan Ibu Uni. Hahaha. Saya memberikan jaminan: “Saya sendiri yang akan menjemput beliau dari bandara pada hari kedatangannya, mengantarnya ke hotel yang telah dipesan sebelumnya dari Jakarta, menemaninya sepanjang hari ke mana pun ia ingin, tak akan meninggalkannya sedetik pun kecuali ia ingin saya pergi dari hadapannya.” Orang itu tertawa dari balik telepon dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu ia memberikan nomor handphone Ibu Uni. (Dan bahkan pada hari ketika Ibu Uni akan datang, ia masih mengirimkan saya sms untuk mengingatkan saya untuk menjemput).
Ibu Uni sendiri cuek-cuek saja. Sms saya jarang dibalas. Kalaupun dibalas, butuh berjam-jam sebelum: “Maaf, saya masih sibuk. Saya terbang dari Jakarta via…..” dan seterusnya.
Rencana awal berubah. Beliau tidak membutuhkan hotel karena beliau di Makassar hanya beberapa jam. Sesuai permintaan dari orang Dewan Pers tadi, kami menyiapkan sebuah kamar di tempat penginapan untuk beliau beristirahat sebelum masuk ke ruang kelas. Namun ketika kami menjemput di bandara, beliau menolak menghabiskan waktu berdiam diri di dalam kamar dan meminta diantarkan ke kafe. Katanya, beliau ada janji bertemu dengan rekan di sana. “Harusnya kamu tidak usah jemput saya,” katanya sambil tertawa-tawa. “Saya tidak akan hilang. Saya sudah sering kok datang ke Makassar. Hampir tiap bulan malah.” Jadi kami mengantarkan beliau ke kafe yang dimaksud di Mall Panakkukang. Sepanjang jalan berbincang-bincang tentang banjir di Jakarta dan pentingnya membuat sumur biopori di tiap rumah penduduk untuk mengurangi bahaya banjir. Hahaha.
Ibu Uni datang jam 10.30 Wita. Materinya jam 13.00. Jadi setelah mengantarkannya ke mall, saya pulang ke tempat pelatihan. Saya berjanji akan menjemputnya dari mall tersebut jam 12.30. Tapi ketika saya baru saja bersiap menjemput, beliau mengirim sms. “Smsin alamatnya dong. Saya lagi di jalan naik taksi.” Bahkan ketika beliau tiba di tempat pelatihan, ia berusaha sendiri mencari ruangan, celingak-celinguk sebelum saya menghampirinya dan mengantarkan ke ruang kelas. Ketika saya bertanya kenapa datang naik taksi dan tak menunggu kami untuk menjemput, Beliau hanya menjawab dengan: “Hmm….” Satu hal yang saya sadari, Ibu Uni sangat tidak ingin merepotkan panitia (thanks to her).     

Mardiyah Chamim (Direktur Eksekutif Tempo Institute). Beliau keluar dari pintu bandara Sultan-Hasanuddin dengan wajah tanpa ekspresi, handphone di tangan kiri dan tangan kanan menyeret tas ransel. Penerbangannya delay 2 jam. Saya merasa sangat prihatin. Karena begitu tiba, ia terlihat sangat kelelahan dan mengantuk. Ketika saya mendekatinya, ia tak mengeluarkan sepatah kata; diam dan hanya mengangguk-angguk. Saya maklum, beliau sedemikian capek hingga tak sanggup berkata-kata. Ada perasaan tidak enak juga. Tapi mau bagaimana lagi? Jauh di dalam lubuk hati saya mengumpat-umpat maskapai penerbangan yang mengangkutnya karena keberangkatannya tidak sesuai jadwal yang ditentukan dari awal. Ketika itu jam 2 dini hari. Mbak Mardiyah awalnya akan berangkat pagi dari Jakarta. Tapi karena harus melakukan penjurian Kompetisi Esai Mahasiswa yang diselengarakan Tempo pada pagi hingga siang, beliau minta dicarikan pesawat yang berangkat tengah malam.          
Satu hal lagi yang membuat saya merasa tidak enak, saat kami menuju mobil, Wandi—salah seorang kru yang bertugas sebagai sopir dadakan—rupanya tertidur dalam mobil dalam keadaan mobil terkunci. Kami (Kak Arman ikut menjemput) berteriak-teriak membangunkannya. Lantaran tidak tega membiarkan Mbak Mardiyah kelamaan menunggu Wandi yang tertidur seperti kucing pingsan, saya berinisiatif menyetop taksi. Ah, untung saja orang-orang yang ada di sekitar kami membantu membangunkan Wandi sehingga kami tak perlu naik taksi. Karena Sepanjang jalan menuju tempat pelatihan, beliau diam saja. Sepertinya rasa lelah dan ngantuk membuat beliau tak ingin bicara basa-basi. Jadi kami pun diam.
            Mbak Niniel (Widiarsi Agustina), Mas Philip (Philipus Parera) dan Mas Taufiq (Muhammad Taufiqurrohman) datang lebih awal, pagi-pagi sekali. Ketiganya datang dalam waktu yang hampir bersamaan. Saya tidak sempat menjemput mereka (yang semestinya saya sebagai ketua panitialah yang harus menyambut pertama kali) karena saya tidak boleh meninggalkan acara pembukaan.
Sehabis acara pembukaan, ketika saya kembali ke tempat pelatihan (acara pembukaan diselenggarakan di Unhas), Mbak Niniel, Mas Philip dan Mas Taufiq sudah berada di sana. Saya memperkenalkan diri, mengajak ngobrol dan sekedar berbasa-basi. Mbak Niniel menyambut saya dengan: “Ahahahaha.. jadi Anis itu kamu ya.” Mas Taufiq berkata, “Kamu yang kemarin saya approve di fesbuk?” dan Mas Philip, “Oh, ini Anis. Yang pernah ngajak saya chating.” Siangnya, ketiganya serempak minta diantarkan ke kantor biro Tempo Makassar, yang di sana telah menunggu Mas Elik Susanto.
Saya menjemput ke kantor Tempo Makassar malam harinya. Sebelum kembali ke tempat pelatihan, kami mengunjungi sebuah restoran seafood di dekat Pantai Losari bersama Mas Elik.

Ahahahaha…Saya ngerjain asisten Ibu Uni Lubis

Habisnya, saya merasa dia juga ngerjain saya. Namanya Mas Harto. Dia orangnya yang tiap hari menelpon dan mewanti-wanti saya agar selama di Makassar kami memperlakukan Ibu Uni dengan baik. Dan saya merasa dia sengaja membuat urusan jadi ribet.
Ia meminta saya mengirimkan nama-nama hotel (minimal 4 nama) bintang empat di Makassar. Lengkap dengan tarif dan alamat. Ia akan memesan hotel dari Jakarta buat Ibu Uni menginap. Materi untuk Ibu Uni tanggal 13. Tapi katanya, beliau akan datang tanggal 12 jadi butuh hotel buat menginap. Setelah saya mengirimkan nama-nama hotel, ia mengonfirmasi nama hotel tempat Ibu Uni nanti menginap. Nyatanya, hotel yang dia maksud bukanlah salah satu dari nama-nama hotel yang saya kirimkan. Jadi saya bingung dan bertanya-tanya buat apa saya disuruh kirim nama-nama hotel.
Sehari sebelum kedatangan Ibu Uni, ia memberitahu lagi kalau Ibu Uni tidak jadi datang tanggal 12. Beliau akan datang tanggal 13. Jadi, katanya, “Mbak, tolong siapkan satu kamar aja di tempat pelatihhan. Ibu Uni nggak nginap di hotel.” Seperti yang saya bilang tadi, Ibu Uni menolak dibawa ke tempat pelatihan sebelum jadwal materinya.
Berkali-kali dia meminta saya mengirimkan jadwal materi yang akan dibawakan ibu Uni. Beberapa kali saya kirimkan dan katanya emailnya  tidak sampai ke inboxnya. Jadi saya harus mengulangi berkali-kali. Dan dia berkata, “Mbak, sekalian kirim fotonya juga ya.” Saya sama sekali tidak merasa terbebani dengan segala permintaannya. Saya merasa gemas aja disuruh menyiapkan segala hal remeh-temeh yang akhirnya tidak berguna.
Pada saat kedatangannya, di dalam mobil, Ibu Uni memberi saya beberapa helai kertas yang katanya harus saya tandatangani. Mas Harto itu, juga sudah memberitahukan jauh-jauh hari bahwa ada berkas-berkas perjalanan Ibu Uni yang harus saya tandatangani. “Tolong minta langsung sama beliau, kali-kali aja dia lupa,” katanya.
Saat Ibu Uni kembali ke Jakarta, ia mengirimkan pesan lagi lewat sms, menanyakan apakah saya sudah meminta kertas tersebut kepada Ibu Uni. Beberapa smsnya sengaja tidak saya balas. Karena saya tidak membalas smsnya, dia menelpon.
“Mbak, ingat kertas yang saya bilang? Yang dibawa Ibu Uni itu?”
“Oh, yang mana ya.”
“Yang itu, yang saya bilang harus Mbak tandatanganin.”
“Upss.. Saya lupa.”
“Jadi, belum ditandatangani, ya Mbak.” Suaranya terdengar panik.
“Hmm… kayaknya sih belum.”
“Kalau begitu, nanti saya scan terus besok saya kirimkan lewat email ya. Tolong Mbak print trus tandatangan. Abis itu tolong kembalikan lagi via pos.”
“Boleh juga.”
“Makasih, Mbak. Maaf merepotkan ya.”
“Sama-sama. Tidak repot kok.”
Klik.
Biarlah ia dalam kerisauannya selama beberapa jam sampai Ibu Uni tiba di Jakarta dan menyerahkan kertas yang sudah saya tandatangani itu kepadanya.  
  
Share:

0 komentar: