31 October 2010

Jalan


Seorang teman memberi saya pelajaran berharga. Bahwa kebahagiaan tak bisa dibeli dengan uang. Kalau Anda tidak bebas, Anda terpenjara dalam lingkungan dan situasi yang tak Anda senangi, segunung uang pun tak bisa membuat Anda bahagia. Karena kebahagiaan sejati bersumber dari hati yang merdeka.
Teman saya itu seorang pelaut. Umurnya masih muda. Ia pulang paling cepat setahun sekali. Kadang sampai bertahun-tahun barulah ia bisa menengok keluarganya. Setiap pulang kampung dan kami ketemu, ia menceritakan pengalamannya; tentang perjalanannya mengelilingi samudera, kapalnya mengelilingi lingkaran bola bumi dari ujung utara ke ujung selatan, menunggu berjam-jam di tengah samudera hingga air laut yang membeku jadi es mencair kembali dan tentang negara-negara Eropa yang sebagian besar telah ia singgahi. Lengkap dengan foto-foto dan video. Saya yang belum sekali pun berkunjung ke Eropa tentu saja terkesima. Takjub.
Suatu hari ia bertanya kepada saya, “Kamu tahu berapa gaji yang saya terima setiap bulannya?” Saya hanya menggeleng. Dua puluh lima juta rupiah per bulan, katanya. Setiap bulan ia menerima slip gaji berbentuk potongan kertas senilai 25 juta rupiah. Slip gaji itu ia tempelkan begitu saja di dinding kamarnya. Namun ia selalu bertanya dalam hati, akan ia apakan semua uang itu di tengah laut?
Ia merasa tidak merdeka. Ia merasa tidak bebas. Setiap saat, dari siang hingga malam yang ia saksikan di sekelilingnya hanya laut luas yang seakan tak bertepi. Maka setiap tugasnya selesai, ia naik ke atas atap kapal, berbaring telentang sambil menatap langit. Dan batinnya tersiksa. Sebab ia merasa ingin menjadi seseorang yang lain. Bukan sebagai pelaut. Ia tak senang terpenjara di tengah laut. Kadang ia mengisi waktu luangnya di atas kapal dengan menulis.
Sebenarnya, pilihannya menjadi seorang pelaut semata-mata demi menyenangkan orang tua dan keluarganya. Ia bahagia bisa membantu keluarganya dalam hal finansial. Apalagi ia memiliki beberapa orang adik yang masih kuliah dan sekolah. Orang tuanya juga tentu saja bangga memiliki anak yang bisa mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga. “Tapi kalau ingin jujur,” katanya kepada saya, “saya tidak bahagia menjalani semua ini. Rasanya seperti hidup dalam penjara.”
Sebenarnya sedari kecil ia bercita-cita jadi seniman. Ia ingin menjadi sutradara. Tapi ia tinggal di sebuah kota pesisir yang di sana, pekerjaan sebagai seniman hampir tak dianggap. Ditambah lagi tak ada dukungan dari keluarga dan ketika itu masih jarang sekolah atau perguruan tinggi yang bisa mencetak sutradara.
Hingga bertahun-tahun ia menjadi pelaut, cita-citanya itu tak pernah hilang. Ketika ia kembali yang terakhir kalinya dari pelayaran, akhirnya ia membuat keputusan itu. Ia berhenti jadi pelaut. Ia akan mendaftarkan diri sebagai Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tidak semua keluarganya senang dengan keputusan itu. Sebab menurut mereka, pilihannya untuk kuliah lagi adalah pilihan bodoh sementara selama ini ia telah punya penghasilan yang tak sedikit. Bukankah kuliah hanya menghabiskan uang?
Ketika ia telah mengambil keputusan itu, ia menemui saya. “Bagaimana menurutmu? Mana yang harus saya pentingkan, diri saya sendiri atau keluarga saya?”
Saya menjawab, “Tidak pernah ada kata terlambat untuk menggapai cita-cita. Jika menjadi pelaut tak membuatmu bahagia, berhenti saja.”
Ia mengucapkan terima kasih. “Saya hanya butuh dukungan untuk menguatkan keputusan saya,” katanya. Esok harinya ia meninggalkan Makassar menuju Jakarta untuk mendaftar di IKJ.
Beberapa minggu kemudian ia mengirim kabar. Ia sudah terdaftar sebagai Mahasiswa IKJ Jurusan Perfilman. “Beberapa tahun lagi kamu akan menyaksikan lahirnya seorang sutradara hebat,” katanya kepada saya. Karena biaya kuliah yang ia butuhkan sangat mahal, maka ia pun terpaksa kuliah sambil bekerja.
Ini bukan kisah super hero. Hanya saja, saya sangat salut dengan tekadnya untuk menggapai cita-cita. Tidak semua orang bisa mengambil keputusan seperti itu: meninggalkan sesuatu yang telah pasti demi hal yang belum pasti. Tapi ini soal cita-cita. Ketika kita telah melakukan segala usaha demi mencapainya namun tetap saja gagal, tak akan ada penyesalan di kemudian hari. Tapi ketika kita tak pernah berusaha menggapai cita-cita itu, penyesalan akan kita rasakan seumur hidup.




Share:

0 komentar: