07 December 2009

Sepotong Kenangan di Tanah Minang

Perjalanan Menuju Minangkabau

Waktu transit empat jam cukup melatih kesabaran kami. Hoaaahh..ngantuk berat. Mana tadi bangunnya subuh-ubuh. Udah gitu, hawa di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta sangat dingin. Aku tidak terbiasa dengan hawa dingin. Makanya aku mengambil inisiatif untuk mengurangi rasa dingin itu. Kuambil semua barang bawaan kami, mulai dari tas kami masing-masing, kantong plastik berisi makananan ringan, sampai buku-buku dan kaset. Semua barang-barang itu kutempelkan pada pendingin ruangan sehingga menghalangi angin yang keluar dari benda tersebut. Beberapa orang memperhatikan aksiku. Mungkin mereka menganggapku sinting. Tapi ah, peduli amat!

Kupasang syal dan jaket di tubuhku kemudian mengambil posisi senyaman mungkin, tidur di kursi panjang. Kak Uchi dan Kak Sukma menertawaiku. Busyettt…seorang bule di sampingku membuat tidurku tidak nyenyak. Ia menelpon seseorang dengan suara yang cukup besar. Bahasanya aneh pula. Yang pasti bukan Bahasa Inggris. Ah, akhirnya aku bangkit lagi dari tempat duduk dan berjalan mondar-mandir sambil terus menerus melihat jam. Kapankah waktu 4 jam itu berlalu?

Aku duduk kembali di dekat Kak Uchi dan Kak Sukma. Kembali berusaha tidur. Kali ini berhasil. Aku tidur selama hampir sejam. Lagi-lagi tidurku terganggu oleh celotehan kak Uchi. “Bagaimana kalau pesawat kita jatuh?”. Kak Sukma menjawab ketus. “Jangan berpikiran macam-macam, Uchi. Berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa.”

Aku ikut menanggapinya. “Kalau pesawatnya jatuh, berdoa saja semoga jatuhnya di Laut. Kalau di laut, masih ada sedikit kemungkinan selamat. Kan ada baju pelampung. Atau mungkin ada ikan Lumba-lumba yang akan berbaik hati menolong kita memberikan tumpangan gratis ke Pantai Padang. Asal pesawatnya tidak meledak di udara atau kesambar petir kayak yang di berita kemarin aja. Kalau begitu, bisa berabe. Kasihan orang tua kita. Mayat kita pasti tidak bakalan ditemukan,” timpalku yang disambut dengan cubitan di paha dan lengan oleh mereka. Aku meringis kesakitan. Hampir saja berteriak kalau tidak cepat-cepat menyadari orang-orang dalam ruangan tersebut memandang kami dengan tatapan aneh.

Sifat jahilku kadang muncul saat situasi yang membosankan seperti saat ini. Jika bosan membuat orang-orang di sekitarku merinding dengan mengeluarkan cerita-cerita aneh bin ajaib hasil karanganku sendiri, aku akan menggelitiki mereka hingga mereka melotot padaku.

Seorang wanita muda datang menghampiri kami. Ia menitipkan barang bawaannya karena ingin mencari toilet. Toilet dalam ruang tunggu kami rusak. Karena itu, ia harus keluar mencari toilet di tempat lain. Sebelum pergi, ia mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Aku buru-buru mengambil barang-barang titipan tersebut, meletakkannya di dekat barang-barang kami untuk menahan hembusan angin yang keluar dari pendingin ruangan. Kuintip isinya. Wah, makanan. Aku melirik Kak Uchi dan Kak Sukma. “Kak, aku ada ide brilian. Kita sembunyikan barang-barang ini di bawah kursi,” kataku bercanda namun menggunakan nada serius.

“Kalau orang tadi datang dan menanyakan dimana barang-barangnya?” Jawab Kak Sukma yang sedang sibuk mengutak-atik laptop. Entah apa yang ia lakukan terhadap barang kesayanganku tersebut.

“Kita bilang aja gini, kak: Apa? Barang yang mana, ya. Kapan Mbak menitipkan sesuatu sama kami. Tidak ada tuh. Mbak salah ingat, kali,” kataku berusaha meyakinkan kalau ideku betul-betul ide super duper brilian.

Karena aku tak mendapat tanggapan lagi, aku mencari kesibukan lain. Kudekati tempat duduk bule tadi. Aku duduk di sampingnya sambil meniru gayanya. Ketika ia duduk mengangkat kaki, aku juga mengangkat kaki. Ketika ia mengeluarkan ponsel, aku juga melakukan hal sama. Kak Uchi terkekeh-kekeh dari jauh melihat aksiku. Bule tadi sesekali melirikku.

Aku bersorak girang saat terdengar pengumuman: Penumpang bla…bla..bla…yang menggunakan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan bla…bla..bla…tujuan Padang dipersilahkan naik ke pesawat dengan melewati pintu samping. Alhamdulillah… “Uni-uni, silahkan berbaris di belakangku. Kita ngantri naik ke pesawat. Ambo yang berjalan paling depan,” kataku pada kak Uchi dan kak Sukma. Baru saja beberapa menit yang lalu kak Uchi memberitahuku kalau ‘Uni’ adalah panggilan untuk kakak perempuan dalam bahasa Minang.

Kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Padang (sebenarnya aku lebih suka menyebutnya Tanah Minang) pukul 12.00.

Saat awak kabin mengumumkan bahwa pesawat kami akan mendarat sesaat lagi, aku tak henti-hentinya melihat ke bawah melalui jendela pesawat. Hiyyyaaa…bandaranya mana toh, Pak Pilot? Kok yang nampak di bawah lautan semua?. Aku menyikut kak Sukma di sampingku. “Kita akan melakukan pendaratan darurat di laut. Siap-siap pakai pelampung.” Kak Sukma yang sedang tidur terbangun dan ikut melihat ke daratan. “Daratannya mana?” Aku terkekeh. Mungkin bandaranya dekat pantai.

Singkat cerita, pesawat kami mendarat di bandara Minangkabau pukul 13.40. Artinya perjalanan kami tempuh selama satu jam empat puluh menit. Dan alhamdulillah tidak meledak di udara seperti kekhawatiran kak Sukma. Juga tidak mendarat darurat di laut seperti kekhawatiranku.

Saat turun dari tangga pesawat, aku menyodorkan lenganku pada kak Uchi? “Ada apa?” Ia bertanya bingung. “Coba cubit lenganku, kak. Kita nggak bermimpi kan? Sekarang kita tiba di Tanah Minang.” Kak Uchi bukannya mencubit seperti permintaanku, ia malah menepiskan lenganku. “Anak sinting, cepat keluarkan kamera.”

Dan kami pun berfoto-foto ria sebelum menuju tempat pengambilan Bagasi. Terakhir kali aku menyebut kata ‘Minangkabau’ saat pelajaran Antropologi saat masih kelas 3 SMA dulu. Dan sekarang aku menginjakkan kaki di tempat ini.

Setelah mendapatkan bagasi kami masing-masing, kami mencari mushollah untuk sholat dhuhur. Kami sholat dengan khusyuk. Aku tak lupa berdoa.” Tuhan, terima kasih pesawatnya tidak jadi melakukan pendaratan darurat di laut. Jaga kami di tempat yang asing ini. Hiks….”

Usai sholat, kami bertiga saling bertatapan. “Sekarang, kita kemana,Uni?” tanyaku.

“Kita telpon panitia aja, minta dijemput,” kata kak Uchi.

“Jangan ah,” bantahku. “Nggak enak terlalu ngerepotin mereka. Kasihan. Mereka pasti lagi sibuk-sibuknya sekarang. Lebih baik naik taksi aja. Minta diantarkan ke UNP.”

“Anies, kita nggak tahu daerah ini,” kata kak Sukma. “Kalau kita hilang, dirampok, dibunuh, hihh…”

“Oalaah kak, dirampok pye toh... Emangnya kita punya harta karun?”

“Sudahlah! Aku udah sms panitianya. Minta dijemput sekarang,” kata kak Uchi. Kami terdiam.

Beberapa menit kemudian….

“Kak, sms-nya udah dibalas?”

Kak uchi menggeleng, wajahnya muram.

Beberapa menit berlalu, aku bertanya lagi. “Kak, smsnya dibalas?” lagi-lagi ia menggeleng.

Aku mengambil inisiatif. Kukeluarkan ponsel dari tas. Aslm. Kami peserta PKJTL-N dari identitas. Sekarang udah di bandara Minangkabau. Mohon petunjuknya harus kemanakah gerangan kami melangkahkan kaki agar kami tak kesasar, kendaraan apa yang bisa mengantarkan kami ke lokasi?

Beberapa menit berlalu, tidak juga ada balasan. Kami mulai gusar.

“Kak, kita pulang aja ke Makassar yuk,” kataku.

“Ngawur, kamu. Pulang aja sendiri,” balas kak Sukma.

“Maksud aku, jangan langsung ke Makassar. Singgah dulu liburan di Jakarta. Minggu depan baru pulang ke Makassar. Nanti sama orang-orang redaksi, bilang aja kita udah ikut PKJTL-N. Hahaha….”

Akhirnya kak Uchi menelpon panitia kegiatan tersebut. “ Halo…Uni…Bandara Minangkabau,… jemput?....” Hanya itu yang kusimak.

“Tenang, sebentar lagi kita dijemput,” kata Kak Uchi riang. Hatiku mulai tenang.

Aku berkata kepada Kak Uchi dan Kak Sukma, “Kak, kalau melihat orang yang datang dengan berseragam Ganto atau menggunakan almamater UNP, jangan langsung mengaku kalau kita yang dari identitas, ya! Biar dia pusing nyari kita.”

“Manfaatnya apa buat kita? Kita udah telalu lama nunggu, masa mau buang-buang waktu lagi?” kata Kak Sukma.

“Mereka juga sudah melatih kesabaran kita nunggu di sini selama dua setengah jam. Jadi biarin dulu mereka pusing nyari kita.”

Kak Sukma dan Kak Uchi tidak menanggapi ide sintingku.

Orang yang dimaksud pun datang pukul 3 lebih 45 menit. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Herry, salah seorang panitia PKJTL-N. Malangnya, ia tidak menggunakan seragam Ganto atau pun almamater UNP.

“Udah lama?” ia bertanya ramah.

“Belum, baru beberapa jam,” jawabku sambil menguap.

Ternyata, selain menjemput kami, Herry juga bermaksud menjemput salah seorang peserta lain yang berasal dari Aceh.

“Aku Ibnu, dari Universitas Syah Kuala,” hanya itu yang kuingat….

“Kami bertiga dari identitas, Unhas-Makassar.” Kataku sembari menyebutkan nama.

Lucunya, Ibnu duduk menunggu pas di depan tempat dudukku. Kalau saja kami sadar bahwa kami sama-sama calon peserta yang menunggu jemputan, mungkin kami bisa ngobrol duluan.


*************

Beberapa orang panitia menjemput kami begitu turun dari mobil. Setelah berkenalan, kami diantar menuju salah sebuah gedung, yang akan menjadi penginapan kami. Kami pun masuk. Seorang panitia (yang belakangan kukenal bernama Winda) di meja registrasi menyambut kami dengan tersenyum ramah. Rasa lelah membuatku langsung menghempaskan diri di kursi tamu.

Tapi karena kami harus mendaftarkan ulang nama kami plus bertanda tangan di daftar nama-nama peserta, aku bangkit lagi dari tempat duduk dan berdiri di hadapan meja registrasi. Beberapa orang panitia dengan pakaian seragam masuk dan menyalami kami, menanyakan pengalaman kami selama di perjalanan.

Salah seorang panitia, cewek berjilbab datang ke hadapanku. Ia tidak mengajakku bersalaman dan berkenalan seperti panitia yang lainnya. Ia malah menyodorkan sepotong kue padaku sambil tersenyum ramah. Memang, ketika itu ia sedang makan kue.

“Kamu mau makan snack?” ia bertanya.

Aku menggelengkan kepala.

“Kenapa? Kamu nggak lapar?” Lagi-lagi aku menggelengkan kepala. Mungkin sikapku agak kurang sopan. Tapi rasa lelah membuatku kurang semangat berbicara.

“Udah makan siang?” Aku mengangguk.

“Makan di mana?”

Kali ini pertanyaannya tak mungkin kujawab dengan anggukan atau pun gelengan kepala.

“Di bandara,” jawabku sambil berusaha tersenyum. Jika saat itu di hadapanku ada cermin, aku yakin ekspresiku lebih layak disebut ‘meringis’ daripada ‘tersenyum’. Tapi itulah senyum termanis yang bisa kupersembahkan di saat suasana hatiku sedang genting begini.

“Ya udah, istirahat aja dulu. Silahkan masuk kamar,” katanya lagi. Aku mengangguk.

Sebelum melangkah masuk ke kamar yang sebelumnya telah ditunjukkan oleh panitia lain, aku sempat melirik nama yang tertera di bajunya. MEIRIZA P. aku ingat nama ini. Sebelumnya aku telah pernah membaca namanya di surat undangan yang dikirimkan ke LPM kami. Kalau tidak salah, dia adalah ketua panitia. Aku sempat mencatat nomor telponnya. Dan dia pula yang selama ini aku telpon ketika membutuhkan info tambahan tentang kegiatan ini.

“Halo, Mbak. Mbak panitia PKJTL-N Ganto ya. Saya Anies dari identitas. Cuma mau konfirmasi, dari identitas, kami akan mengutus 3 orang peserta. Ok. Makasih Mbak.” Atau, “Mbak, maaf, uang kontribusinya bisa dibayarkan pada saat registrasi nanti?” “Mbak, karya tulisnya bisa dikumpul nanti setelah kami tiba di Padang?” “Mbak, saya Anies dari identitas, tadi saya udah ngirim formulir sama Karya Tulis ke alamat email yang tertera di undangan.”

Kalau tidak salah ingat, dia juga pernah menelponku. “Maaf, ini dari Ganto.” Dan aku yang ketika itu baru bangun dari tidur siang menjawab gelagapan. “Ganto yang mana?” Dia mejawab lagi. “Ini dari panitia PKJTL-N. Mau Tanya, jadi ngga identitas mengirim utusan? Boleh minta alamat email identitas? Kami akan mengirimkan informasi tambahan”

Teman-teman dari Acheh

Teman sekamarku, Kiky dari LPM Sumber Pos IAIN Ar-Raniri Aceh. Kami cepat akrab. Saling bertukar pengalaman, saling mengajarkan bahasa daerah masing-masing. Apalagi, teman-teman Kiky yang sama-sama dari Aceh, Thathi, Ainul, dan May sering ngumpul di kamarku. Demikian juga Kak Sukma dan Kak Uchi. Suasana jadi tambah meriah sehingga aku sering mengatakan, kami membentuk koalisi Aceh-Makassar. Dan kamarku jadi base camp. Namun bukan berarti kami tidak akrab dengan peserta dari daerah lain.

Hal yang paling sering membuatku tertawa terpingkal-pingkal adalah ketika menyaksikan Kak Uchi dan May berbicara menggunakan logat daerah masing-masing. Sangat lucu. Apalagi ketika kak Uchi mengajarkan bahasa Bugis kepada mereka. Mereka kadang salah ucap dan jadinya kedengaran lucu. Mereka itu juga mengajarkan kami beberapa kata dalam bahasa Acheh. Namun kadang sifat jahilku muncul lagi. Aku mengajarkan mereka mengucapkan kata calleda’. Dalam bahasa Makassar artinya centil, namun kepada mereka aku mengatakan artinya ‘cantik.’ (Dan saat kami pulang ke daerah masing-masing, Ainul dalam sms-sms yang dikirim kepadaku selalu berkata: Apa kabar calleda’ku?)

Namun ada juga saatnya ketika mereka membuat hatiku terenyuh, tak mampu tertawa. Ketika mereka menceritakan kisah masa kecil mereka, masa bahagia kanak-kanak mereka yang dirampas oleh perang (antara TNI dan GAM). Aku sedih mendengar kisah mereka. Ditambah lagi kisah keluarga mereka yang hilang dan meninggal karena tsunami beberapa tahun lalu.

Aku teringat di sebuah malam, ketika yang lain telah tidur, tinggal aku dan May. May berkata. “Boleh dibilang aku kehilangan kebahagiaan masa kecil. Maka wajar saja, ketika kemarin di jalan kami melihat delman, aku sangat ingin menaiki delman itu. Mungkin aneh, orang dewasa seperti aku tergila-gila melihat delman. Namun, kesempatan seperti itu tak pernah kudapatkan sewaktu masih kecil.”

Pernah juga, di suatu malam, sebelum tidur, Kiky bertanya padaku. “Nis, kalau kamu disuruh milih, antara TNI dan GAM, kamu milih mana?”

Aku bingung dengan pertanyaan itu. “Aku nggak tahu, Ky. Aku nggak tahu siapa yang pantas dipilih di antara mereka? Kamu sendiri milih siapa?”

“Kiky tidak peduli, Nis. Siapa pun yang kelak memimpin Acheh, Kiky hanya ingin kedamaian,” kata Kiky sambil naik ke atas tempat tidur. “Kami sudah lelah,” lanjutnya. “Kami lelah dengan pertumpahan darah. Kami lelah mendengar desingan peluru dimana-mana. Kami ingin hidup kami tenang.” Anak-anak Aceh itu tak pernah menggunakan kata ‘saya’ atau ‘aku’. Selalu menyebut nama. Kiky juga menceritakan tentang salah seorang kakak kandungnya yang meninggal sebagai korban tsunami.

Sifat melankolisku muncul. Mataku terasa panas. Dadaku sesak. “Sungguh malang nasibmu, kawan,” kataku dalam hati. Dan aku beringsut turun dari tempat tidur, mematikan lampu. Pukul dua belas lewat sedikit. Air mataku menetes mendengar cerita Kiky. Aku tak mau cahaya lampu di kamar kami membuat ia melihat mataku.(Harus kuakui, aku memang perasa. Gampang sedih, gampang terharu. Mungkin betul apa yang dikatakan gadis berjilbab, ketua panitia kegiatan ini saat perpisahan di Ngarai Sianok: ‘cengeng’. Tapi aku teringat lagi kata-kata kak Tuti saat kami chat di fesbuk beberapa hari setelah aku tiba kembali di Makassar. “Tak semua tetesan air mata bermakna cengeng”).

Saat aku membuka inbox di ponselku, air mataku menetes kian deras. Aku baru menyadari kalau besok adalah hari ulang tahunku, ketika Inboxku dipenuhi ucapan selamat ulang tahun dari teman-temanku. Aku menempelkan bantal di wajahku. Kubalas sms mereka satu persatu. Terima kasih...

(Keesokan harinya, atau mungkin dua hari kemudian, setelah mengikuti beberapa materi dari Mas Andreas Harsono yang banyak mengulas tentang pelanggaran HAM di Aceh yang dilakukan oleh … terhadap … , (off the record) dengan mantap aku berkata terhadap gadis-gadis Aceh ini, “Aku memilih pilihan kalian.”)

*********

Malam pertama kami tiba, kami diantarkan menuju gedung PKM UNP. Para peserta dan panitia saling memperkenalkan diri setelah sebelumnya kami disuguhi makan malam. Masakan khas Padang tentunya. Rancak bana… Dan malam itulah aku pertama kali melihat wajah Mas Andreas Harsono. Sebelumnya aku hanya tahu namanya dari teman-teman di LPM yang mengagumi tulisannya tentang jurnalisme.

Setelah acara ramah tamah tersebut, kami kembali ke penginapan. Materi diklat dimulai keesokan harinya.


****************

Materi Pengenalan Senjata

Kalau nggak salah, namanya Pak Septa Viandi. Aku lupa. (Ketika membuat tulisan ini, copian materinya masih ada aku simpan di rak buku. Nama lengkapnya tertera di sana. Tapi aku malas mengaduk-ngaduk rak bukuku hanya untuk melihat nama lengkapnya). Dia dari Pangdam VII Wirabuana Sumbar.

Aku bergidik saat ia dan seorang temannya yang lain, dengan seragam khas TNI memasuki ruangan pelatihan kami. Sebelumnya Mas Andreas telah memberi tahu bahwa kami akan diberi materi pengenalan senjata. Tapi aku tak pernah berpikir bahwa orang itu, Pak Septa akan datang dengan belasan pucuk senjata. Aku pikir kami hanya akan diberi pemahaman secara teori.

Aku selalu takut melihat senjata. Bagiku senjata adalah lambang kekerasan. Beberapa teman tampaknya berpikiran sama. Kelihatan dari wajah mereka yang langsung tegang. Salah seorang teman di sampingku—aku tak tahu siapa karena lupa melirik wajahnya ketika ia bertanya—menyikut pinggangku. “Nis, menurutmu senjata-senjata itu ada pelurunya nggak? Bagaimana kalau meledak tak sengaja?” “Entahlah,” jawabku

Pak Septa pun memperkenalkan tipe-tipe benda ‘mengerikan’ itu kepada kami. Plus menerangkan bagaimana mengidentifikasi pelaku penembakan dengan meneliti jenis peluru yang digunakan dengan melihat selongsongnya, dan bahaya-bahaya yang ditimbulkan dari senjata-senjata tersebut berdasarkan tipenya.

Di akhir materi, kami diizinkan memegang senjata itu. Aku hanya berani memegang pistol, yang ukurannya jauh lebih kecil namun ternyata lumayan berat. Aku berpose dengan pistol di tangan yang kuarahkan ke depan, seolah-olah hendak menembak sesuatu. May terkekeh saat Kak Uchi dengan tersenyum-senyum simpul minta difoto sambil memegang AK-47 di depan dada. “Yang May tahu, orang yang pegang senjata itu mukanya sangar-sangar. Ini kok, pegang senjata, gede pula sambil tersenyum-senyum?” dan Kak Uchi langsung memasang wajah garang yang dibuat-buat.

Pak Septa mematahkan sebutir peluru dan mengeluarkan bubuk mesiu di dalamnya, untuk mengobati rasa penasaran Satya. Satya Sandida, peserta dari Universitas Diponegoro-Semarang. Ia ingin tahu bagaimana wujud bubuk mesiu yang ada di balik selongsong peluru. Kami pun ramai-ramai menyentuh bubuk berwarna abu-abu itu dengan jari telunjuk.

Field Trip ke Bukittinggi


Sabtu, kami mengadakan acara Field Trip ke Bukittinggi. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sana, seperti Ngarai Sianok, Lobang Jepang, bekas kediaman Bung Hatta, dan Jam Gadang.

Harus kuakui, aku tak puas dengan acara jalan-jalan tersebut. Pasalnya, hari itu pula jadwal kepulangan kami ke Jakarta. Kami sudah terlanjur pesan tiket dan harus check-in sebelum setengah tujuh. Baru beberapa menit keluar dati Lobang Jepang, Kak Tuti memanggilku. “Pamitan sama teman-teman, Nis. Kita berangkat ke Jam Gadang duluan. Setelah itu langsung ke Bandara. Takutnya kalian ketinggalan pesawat.”

Pamitan, berpisah? Hiks... Dan aku hanya terdiam selama beberapa saat. Satya, mendekatiku. “Kita berangkat bareng. Aku juga sudah pesan tiket. Pesawatku berangkat jam 6.”

Dengan langkah lesu, aku mendekati teman-teman yang masih asyik berfoto-foto di taman. Kiky menyambutku sambil mengulurkan tangan. Aku tak memperdulikannya. Ia mengikutiku. “Nis, kamu mau pulang duluan kan?” Aku mengacuhkannya. Kalau aku pamit duluan sama dia, maka aku tak akan sanggup berpamitan pada teman-teman yang lain. Tiana dan Ryan dari LPM Caka, sama-sama dari Makassar dan satu kampus, namun baru kali ini bertemu. Bang Irwanto peserta paling lucu yang datang dari Palembang ke Padang dengan niat utama mencari jodoh. Mbak Ivo dari Pekanbaru. Nur dari Lampung. Trisna, Vico dan Prima dari Jakarta. Sierra, Arizona, Rosadi dan Desfa dari Medan. Hanif dan Hasan dari Solo. Dimas dari Jambi. Ibnu dan Bang Zaini dari Aceh. Bang Zaini membuat catatan tersendiri di benakku. Setiap kami foto bareng, anak-anak ramai-ramai mengulurkan kamera pada Bang Zaini. Dia yang jadi fotografer. Aku yakin fotonya sendiri tak seberapa. Aku menyalami mereka dengan tangan gemetar. Aku tak mampu mengeluarkan kata-kata perpisahan. Kiky, May, Thathi, dan Ainul, berdiri di hadapanku sambil mengulurkan tangan. Aku tak sanggup menyambut uluran tangannya. Yang mampu kulakukan hanya menunduk. Menatap ujung sepatuku. Perasaanku kacau balau. Sedih.

Dan pertahananku runtuhlah seketika. Air mata yang sedari tadi kutahan menetes. Aku memeluk mereka sambil terisak. Wajah mereka, ah, mereka teman-teman yang menyenangkan.

“Ternyata kamu cengeng juga ya,” kata May. “Percuma aja penampilanmu tomboy begitu kayak laki-laki. Semalam kamu bilang tidak bakalan kangen sama kami. Kenapa sekarang menangis?”

Aku menghapus air mata lalu memeluk mereka, memberi kecupan di pipi mereka satu persatu. “Kapan kita ketemu lagi, ya? Kalian gadis-gadis yang hebat,” bisikku.

“Tenang aja. Kita pasti ketemu lagi. Nanti di pesta pernikahan May, datang ya!” kata May sambil menatapku. Matanya berkaca-kaca. “Jangan lupa bawa kado.”

Sehari sebelumnya, Kiky memberi tahu kami kalau May akan menikah sebentar lagi, selepas wisuda.

“Pasti, May. Aku bakalan datang. Jangan lupa kirim undangan, ya. Dan jangan lupa sertakan tiket pesawat pulang pergi,” jawabku bercanda.

“Lha, pesawat yang kemarin May hadiahin ke kamu mana?”

Kemarin, saat materi yang kami ikuti di siang hari, materinya kurang memberi kami semangat. Kami malah ngantuk. May yang duduk di belakangku mencari kesibukan lain. Ia mencolek pinggangku. Kalau aku menoleh ke belakang, ia membuang muka. Kubalas dengan menuliskan lelucon di sepotong kertas dan memberikan padanya. Ia membacanya sambil menahan tawa, menutup mulut. Takut mengganggu peserta lain.

Ia balas memberikan aku sepotong kertas. “Besok kamu pulang naik apa Bu Anis?”

“Naik pesawat, Cutbang,” balasku. Kata May, cutbang adalah panggilan sayang kepada seorang gadis di Acheh. “Kenapa?”

“Tak perlulah repot-repot beli tiket pesawat, Nis. Ini May kasih pesawat gratis. Memang sih, pesawatnya kecil. Tapi muat untuk kalian bertiga.” Ia memberikan padaku sepotong kertas yang telah dihiasi dengan gambar pesawat berbentuk aneh. Aku menutup mulut, menahan untuk tidak tergelak.

Ia memberiku potongan kertas berikutnya, yang telah ia tulisi dengan sejumlah nominal uang. RP 3.500.000. “Ini cek, untuk beli tiket pesawat ke Acheh, di hari pernikahan May nanti. Silahkan cairkan di Bank mana saja. Kalau tidak cukup, bilang aja. Nanti May transfer lagi ke rekening kamu.”

Aku menerima potongan kertas itu lalu memasukkan ke kantong celanaku. “Makasih, cutbang. Kamu dermawan sekali.”

Aku melepaskan pelukan mereka. Tidak enak sama kak Tuti dan Kak Anggi yang sudah terlalu lama menunggu. Panitia yang lain berdatangan menyalami kami, mengucapkan salam perpisahan. Tak ketinggalan gadis berjilbab yang pernah menawariku sepotong kue ketika baru menginjakkan kaki di penginapan. Meiriza Paramita. Yang kemudian ketika aku tiba di Makassar, aku memanggilnya Tante Mita.

“Udah mau pulang, Nis?” ia bertanya.

“Iya, kak,” jawabku sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipiku.

“Lho, kok nangis? Jangan nangis. Wartawan tidak boleh cengeng,” katanya sembari menatapku. Aku jadi malu.

Aku mengambil tissu dari tas, menghapus air mata dan berusaha tersenyum.

“Makasih atas semuanya ya, kak. Makasih atas keramahannya, makasih atas semua pelayanan yang kakak berikan pada kami,” aku mengulurkan tangan padanya, mengajak bersalaman. Namun ia menggeleng.

Dan aku pun langsung memeluknya erat, sebelum kemudian menemukan kak Tuti, Kak Anggi, Bang Yasman, Adek, Satya, dan Dimas yang menunggu di gerbang taman. Kak Tuti, Kak Anggi, Bang Yasman, dan Adek, mereka adalah panitia yang akan mengantarkan kami.


*********

Tak banyak waktu yang kami habiskan di Jam Gadang. Sekedar foto bersama, kemudian menuju pasar untuk membeli oleh-oleh. Aku kasihan juga sama Kak Tuti dan panitia lain yang ikut mengantarkan kami. Setelah ritual belanja usai, kami mencari Bis yang tadi mengantar kami dari Padang menuju Bukittinggi. Barang-barang kami ada di Bis tersebut. Saat itu hujan turun. Bis tak tahu parkir dimana. Kami kerepotan berlari-lari di bawah hujan mencari-cari tempat bis tersebut parkir. (Yang aku pikirkan adalah para panitia ini. Mereka sudah terlalu banyak kami repotkan. Bagaimana kalau mereka sakit gara-gara kehujanan?)


*********

Kami berangkat ke bandara dengan mobil travel. Perpisahan episode kedua, dengan Kak tuti, Kak Anggi, dan Adek. Kami berpelukan lagi. Huhh….tidak…tidak. jangan sampai menangis lagi. Bang Yasman mengantarkan kami sampai ke bandara. Satya, yang sangat khawatir ketinggalan pesawat duduk di jok belakang dengan muka tegang. Sesekali ia melirik jam tangan Dimas yang duduk di sampingnya.

Atas permintaan Satya, cowok keriting asal semarang ini, sopirnya ngebut. “Tenang. Kita akan tiba di bandara tepat waktu,” kata sopir tersebut.

Hujan belum juga reda ketika kami tiba di bandara. Satya, yang tadinya takut ketinggalan pesawat masih duduk termenung di ruang tunggu ketika kami menaiki pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta. Aku naik Lion, dan Ia menunggu Sriwijaya yang belum datang-datang juga. Molor dari jadwal sebelumnya. “Kita ketemu di Bandara Soekarno-Hatta ya. Kalo udah nyampe, sms aku,” kataku menenangkannya. Ia akan transit di Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Semarang. Ini perpisahan episode ketiga. Eh, salah. Perpisahan episode keempat. Episode ketiga saat kami masuk pintu keberangkatan dan bersalaman dengan Dimas dan Bang Yasman. Bang Yasman akan mengantarkan Dimas mencari bis tujuan Jambi.

Saat pesawat hendak lepas landas, Kak Sukma meliriku. “Kamu pernah naik pesawat saat hujan begini?”

“Sering. Yang penting jatuh di laut,” kataku. Matanya melotot ke arahku. Aku tersenyum.

Kami meninggalkan Minangkabau di sebuah malam yang basah. Hujan membuat jendela pesawat mengaburkan pandangan kami. Sebelum sempat menon-aktifkan ponsel, masih sempat kubaca sms dari May. “Udah dimana? Hati-hati, ya!” Aku membalasnya. “Aku tahu kau pasti akan merindukanku hey, gadis Aceh.” Air mataku menetes lagi. Pramugari yang mondar-mandir sempat melirikku. Aku mengomel dalam hati. “Jangan tertawa. Aku menangis karena sedih berpisah dengan mereka, teman-temanku.”

Jakarta

Kami tiba di Soekarno-Hatta jam 9 malam. Karena ada urusan mendesak, Kak Sukma kembali ke Makassar malam itu juga. Aku dan Kak Uchi menghabiskan waktu seminggu di Jakarta. Kakakku yang sedang hamil anak ke-dua ngidam kripik balado. Jadi aku harus singgah dulu di Jakarta, mengantarkan se-kardus besar kripik balado plus kripik-kripik khas Bukittinggi lainnya.

Kak Uchi yang dijemput oleh kakaknya langsung menuju Pasar Minggu. Aku harus menunggu bis Lebak Bulus yang menurut pengalamanku selalu datang terlambat. Aku menolak dijemput, tak ingin merepotkan. Kak Uchi menawarkan aku nginap di tempatnya. Kakaknya, yang tak kutahu namanya berpikiran sama. Sepertinya ia khawatir aku pulang sendirian malam-malam. Aku meyakinkannya aku tidak apa-apa.

“Aku sering berkeliaran di daerah ini sendirian. Jangan khawatir. Bis bandara kan, aman. Aku dijemput di Lebak Bulus.”

Kami pun berpisah. Tapi keesokan harinya kami bertemu lagi. Kami janjian di suatu tempat. Kak Uchi yang sebelumnya belum pernah ke Jakarta meminta kakaknya mengantar ke tempat kami akan bertemu. Kemudian aku akan menjemputnya ke tempat tersebut. Setelah itu kami jalan-jalan. Tempat favoritku adalah Pasar Senen. Kerena di sana banyak buku-buku bekas yang murah dan bagus. Setiap kali ke Jakarta, aku tak pernah lupa tempat itu. Barulah kami mengunjungi tempat lain. Kak Uchi ingin foto-foto di Monas. Hari berikutnya ke Ancol, Ragunan, dan Tanah Abang. Hari terakhir di Jakarta, aku tinggal di rumah. Tidur seharian karena capek.

Kembali ke Makassar


Malam ketika kami akan kembali ke Makassar, Kak Uchi menangis di bandara Soekarno-Hatta. Ia dinyatakan terlambat check-in. Hanya terlambat beberapa detik sehingga ia harus membayar biaya tambahan 200 ribu rupiah dan menunggu penerbangan berikutnya.

Aku yang kesal mengomel di depan seorang wanita yang bertugas di loket check-in. Pasalnya, menurutku hal ini bukan sepenuhnya kesalahan Kak Uchi. Kami antri bersamaan, dia di belakangku. Aku menyodorkan tiket kami secara bersamaan. Namun wanita itu mengambil tiketku duluan. Saat aku menyodorkan tiket Kak Uchi berikutnya, ia berlari ke tempat lain. Beberapa saat kemudian ia kembali dan mengatakan Kak Uchi sudah terlambat. Aku jadi emosi dan mengeluarkan kata-kata yang tak sedap didengar kepada wanita itu. Ia diam saja. Aku yakin kalau ia membalas, aku akan semakin emosi dan mengajaknya berkelahi satu lawan satu. Aku akhirnya pulang ke Makassar seorang diri.

Di atas pesawat, aku memandang berkeliling. Seluruh kursi penuh, tak ada satu pun yang kosong. Hmmm…Melalui pengeras suara, pilot minta maaf karena penerbangan kami terlambat hampir sejam. Katanya kesalahan administrasi. Yang seharusnya berangkat jam setengah sembilan, molor jadi setengah sepuluh kurang lima menit.

Sepanjang perjalanan di atas udara, pesawat berjoget tak karuan. Seperti naik mobil di jalanan yang berbatu-batu. Hujan. Petir menyambar-nyambar. Pesawat tak pernah bergerak tenang sampai semenit. Kami seperti teraduk-aduk. Beberapa kali awak kabin meminta agar penumpang tetap duduk di kursi masing-masing karena cuaca sedang buruk. Aku melirik seorang ibu yang duduk di sampingku. Matanya terpejam. Mulutnya berkomat-kamit. Sepertinya ia melafalkan doa keselamatan. Aku melirik penumpang lainnya yang dekat dengan tempat dudukku. Wajah-wajah tegang. Sepertinya mereka semua khawatir maut sudah ada di depan mata. Aku tersenyum. Merasa geli saja. Ekspresi ketakutan membuat mereka tampak lucu.

Kunyalakan lampu baca dan mulai membuka Twilight-nya Stephenie Meyer. Ini lebih baik. Ekspresi tegang wajah-wajah di dekatku bisa membuatku ikut-ikutan paranoid.


Makassar, Juni 2009

Share:

2 komentar:

Anonymous said...

hahha...
semakin rindu aku untuk mengatakan satu kalimat itu bila nanti bertemu dengan mu :D

Anies' Home said...

sudahlah, aku sudah bosan mendengarnya....