29 July 2019

Mantra dan Lelaki yang Pergi


Tak ada kekuatan manusia yang mampu mengalahkan apa yang telah ditetapkan Alam Semesta. Dan cinta yang telah ditakdirkan, akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk pulang.
Di sebuah pagi yang berhujan, ia menyusuri jalan tanpa alas kaki bak orang linglung. Ia hanya mengenakan sebuah kaos warna putih lusuh dan celana pendek selutut. Ia terus berjalan tanpa menoleh dan tak berbicara kepada siapa pun. Ketika itu umur saya 10 tahun. Tak ada yang tahu ia pergi ke mana. Dan hari itu, adalah pengingat terakhir kali saya mengenalnya sebagai seorang yang ceria dan senang tertawa.
Share:

06 March 2018

Mahalona, Mahalona


“Siapa kah yang harus bertanggungjawab terhadap penggundulan hutan di Mahalona Raya itu?” ucap saya semalam kepada teman-teman di Perkumpulan Wallacea, di Palopo.
Saat itu kami duduk bersama mengitari meja panjang, diskusi soal strategi menyusun peraturan desa di Desa Buangin, salah satu desa di Mahalona Raya, Kecamatan Towuti. Dalam perdes tersebut nantinya akan diatur bagaimana menyelamatkan hutan dan daerah tangkapan air untuk menyelamatkan lingkungan Desa Buangin.
Share:

23 January 2017

Akhirnya Saya Memilih Sony A6000

Sony A6000
Setahun silam, saat terpaksa merelakan Canon 600D kesayangan, rasanya sedih sekali. Kamera adalah barang kesayangan yang selalu saya bawa kemana-mana. Saya senang memotret setiap momen menarik yang saya temukan. Dan saat kehilangannya, rasanya setiap perjalanan ke luar daerah jadi tidak lengkap. Saya tidak punya pilihan lain selain bersabar. Sadly but true, saya menjual bukan karena ada niat mengganti, tapi karena kebutuhan mendadak.

Sempat terpikir untuk menabung kembali agar bisa beli kamera baru. Pilihan saya, ya tetap Canon. Secara saya sudah sangat familiar dengan tombol-tombol settingnya. Lagipula, saya sudah cukup puas dengan kualitas gambar yang dihasilkan Canon.  

Setelah akhirnya saya punya duit lagi yang cukup buat beli kamera, yap saya menemukan kenyataan bahwa sekarang kamera yang populer adalah mirrorless. Yang mempertahankan DSLR yang besar itu hanya fotografer profesional (which is not me). Saya memotret sekedar hobi, mengabadikan sesuatu yang unik dengan gambar. saya tidak berniat untuk menjadi fotografer profesional, meskipun tetap mempertimbangkan kualitas foto.

Saya pun mulai mencari informasi kamera mirrorless di internet. Ada beberapa produsen kamera mirrorless yang mumpuni. Sebut saja Panasonic dengan Lumix-nya, Fujifilm, dan Sony. Saya mencari punya Canon, tapi rupanya ia tidak terlalu serius dengan mirrorless. Sepertinya Canon ingin tetap bertahan di DSLRnya. Nikon pun demikian. Awalnya saya naksir Lumix GX85 yang harganya, bagi cewek kere seperti saya ini, sangat wow!

Saya juga mulai melirik-lirik ke Fujifilm. Saya sangat tergoda dengan desain retro milik Fujifilm yang tampak sangat elegan dan keren. Tapi ya saya harus nelan air liur. Ya gitu deh. Fuji itu, untuk kamera yang termasuk jenis keren, mahalnya tak terjangkau. Saya pun sibuk membaca review kamera mirrorless kemana-mana, yang kira-kira harganya cocok dengan kantong tipis saya dan kualitasnya bagus. Tapi ya tetap saja. Kalau mau bagus ya harus mahal. Kalau mau yang murah, pasti kualitasnya biasa-biasa saja.

Ada beberapa pilihan yang saya incar. Di antaranya:
Nikon 1 J5.
Saya tertarik dengan modelnya, apalagi yang warna silver. Harganya lumayan terjangkau dibanding mirrorless lainnya, dan saya merasa mampu membelinya dengan cash. Sekitar Rp 5.3 juta. Tapi saya menemukan sejumlah review di internet bahwa kualitas gambar Nikon 1 J5 tidak begitu bagus, karena sensornya juga ala kadarnya.   
Fujifilm X-A2
Ini kamera entry-level milik Fujifilm. Saya sangat jatuh cinta pada desainnya yang imut-imut dan kesan retro pada bodinya. Harganya sekitar Rp 7 juta lebih, menghampiri 8 juta.
Sony A6000
Saat saya membaca sejumlah review kamera mirrorless, saya menemukan paling banyak yang memuji-muji A6000 ini. Sony A6000 disebut-sebut sebagai mirrorless dengan sistem autofokus tercepat di dunia. Kualitasnya gambarnya juga bagus. Tak ada satu pun review yang tidak memuji-muji barang satu ini. Kalau dari segi desain bodi, saya lebih suka Fujifilm. tapi dari segi kualitas, A6000 disebut-sebut jauh melampaui Fujifilm X-A2. Harganya? Sesuatu banget juga buat kantong saya yang tipis. Rp 10 juta.
Canon Eos M3.
Saya pikir, saya akan memilih EOS M3 ini. Alasannya adalah, saya sudah familiar dengan tombol-tombol Canon. Harganya Rp 6.8 juta. Lumayan juga, tapi saya rasa saya mampu jika ngumpul uang dikit-dikit. Tapi akhirnya? Yang membuat ia jatuh di mata saya adalah, ia tidak punya jendela bidik. Jadi saat memotret kita hanya mengandalkan layar LCD. Hal ini tentu berpengaruh saat kita memotret di bawah paparan sinar matahari langsung.

Saya pilih mana? Bingung. Saya pengen X-A2 tapi kemudian saya membaca bahwa seri terbarunya, X-A3 akan keluar sebentar lagi. Harganya tentu lebih mahal lagi, Rp 8,9 juta. Saya pikir, ya sudah kepalang basah mandi sekalian. Saya tidak bisa tidur nyenyak sebelum punya kamera baru. Tapi percuma juga beli kamera baru kalau kualitas pas-pasan.

Nikon 1 J5 sudah jatuh karena kualitasnya dianggap tidak terlalu bagus. Hasil review infofotografi.com bilang, kualitas gambarnya hanya sedikit di atas kamera pocket. Eos M3 juga jatuh karena tidak ada jendela bidiknya. Karena X-A3 keluar sebentar lagi, saya rasa sayang kalau beli X-A2. Kemudian saya sibuk membanding-bandingkan X-A3 dengan A6000. www.cameradecision.com mengupas tuntas kedua kamera ini tanpa tersisa.

A6000 konon menurut hasil review memiliki kualitas gambar jauh di atas X-A3 meski harganya hanya beda 1 juta sekian.

Lalu kemudian, Tuhan memberkati, Sony memberi promo cashback Rp 2 juta untuk A6000. Jadi, sampai 31 januari, harganya hanya 8 juta saja. Yang membuat saya agak ragu cuma karena barang ini keluarnya sejak 2014. Tapi saya melihat bahwa meski keluar sejak dua tahun lebih lalu, peminat Sony A6000 tetap banyak. Masih banyak yang mengincarnya.

Hal terakhir yang saya pikirkan adalah, relakah saya mengeluarkan uang Rp 8juta untuk kamera ini. Apa boleh buat. Daripada hidup saya tidak tenang. Minggu lalu sebelum ke toko kamera, saya menjual sebuah laptop dan android biar duitnya cukup beli kamera. Berhubung sekarang saya ada laptop kantor untuk bekerja, ya tidak apa-apa. Androidnya juga sudah tidak berfungsi efektif karena sekarang saya lebih nyaman menggunakan ponsel mungil 5s saya.

Dan ya, jadilah saya pengguna Sony A6000. Selamat tinggal Canon!
Share:

14 December 2016

Seorang Anak yang Menangis di Kaki Ibunya


Tulisan ini mungkin terlalu melankolis dan sok tahu. Tapi saya tidak tahan untuk tidak menuliskannya.

Sudah beberapa hari belakangan saya merasa terganggu. Saya terngiang-ngiang seorang gadis cilik yang menangis terisak-isak sambil memohon, “Jangan tendang saya! Jangan tendang saya!” Kenyataan bahwa saya mengenalnya namun tak mampu berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya dari penderitaan membuat saya tak dapat menahan tangis jika mengingat wajahnya yang berlelehan air mata. Percayalah, kau pun akan merasakan hal yang sama jika menyaksikan seorang anak yang kau kenal sejak masih berupa bayi merah disakiti seseorang, meski oleh ibunya sendiri. Saya tidak habis pikir, mengapa ada orang yang sanggup menyakiti anak-anak yang masih polos tanpa dosa.

Gadis cilik itu memang bukan darah daging saya. Ia bukan siapa-siapa. Tapi demi mendengar suaranya yang memelas dan memekik tertahan, saya memberanikan diri menuju ke sana, meraihnya dalam pelukan sementara seseorang masih berdiri di hadapannya siap melayangkan sapu. Ia menangis sambil mengelusi kulit pahanya yang meninggalkan bekas cubitan. Dan saya tidak tahan untuk tidak menangis menyaksikannya. Saya memang terlalu perasa terhadap anak-anak, sebab saya pernah merasakan menjadi anak-anak yang tak sanggup berbuat apa-apa untuk membela diri. 

Setelah kejadian itu, saya selalu memikirkannya. Entah bagaimana ia akan tumbuh. Bukan tentang kelak ia akan jadi apa. Hal-hal yang terlihat dengan kasat mata gampang diraih dan dimanipulasi. Yang saya khawatirkan adalah jiwa yang bersemayam di sana. Setiap hari menerima pukulan dan caci maki, bagi anak-anak akan menorehkan luka yang abadi. Bukan rasa sakit di permukaan kulit itu yang perlu dirisaukan. Dalam beberapa jam sakit di permukaan kulit akan sembuh. Tapi kenangan yang tersimpan tak akan terhapuskan hingga masa dewasa.

Oya, kau juga harus tahu. Disakiti oleh orang lain, rasanya tidak sesakit jika kita disakiti oleh seseorang yang justru kita harap dapat melindungi kita.

Tentang mengapa saya begitu mengkhawatirkannya, atau men-cap kelak ia akan tumbuh dengan jiwa yang tidak sehat, bukan karena saya merasa telah tumbuh menjadi seorang dengan emosi yang lebih stabil dan mapan. Saya hanya belajar dari pengalaman masa kecil. Ketika orang-orang dewasa di sekitar saya menilai saya hanya anak-anak yang tak tahu apa-apa, sementara mereka tidak tahu bahwa ingatan saya telah terbentuk terlalu dini dan saya sanggup mengingat setiap momen masa balita hingga detik ini.

Saya dapat mengingat bagaimana saya digendong ke sana-kemari, bertemu orang-orang yang gemas melihat saya, mencubiti pipi saya. Saya masih ingat bagaimana saya merasakan jengah pada mereka dan tak sanggup berbuat apa-apa karena saya bahkan belum bisa bicara. Saya tidak bangga dengan kekuatan ingatan masa kecil itu, tapi menyesalinya. Hingga kini, saya tidak bisa mengakrabkan diri dengan orang-orang yang familiar di masa kecil saya. Karena saya masih mengingat dengan jelas, di antara mereka siapa yang bersikap baik kepada saya. Saya bahkan bisa tahu dari sekedar melihat ekspresi wajah mereka.

Suatu ketika, entah berapa usia saya kala itu, saya berada di tengah para gadis-gadis remaja, dalam gendongan salah seorang sepupu. Salah seorang di antara mereka melontarkan pertanyaan, kira-kira kelak ketika saya dewasa, siapa yang lebih cantik antara saya dan kakak perempuan saya. Saya belum bisa bicara kala itu. Tapi saya masih ingat dengan jelas siapa yang menilai kakak saya lebih cantik dari saya, dan saya masih ingat bagaimana kala itu saya merasa sangat kesal padanya.

Beberapa tahun silam, salah seorang bibi, saudara bapak saya meninggal. Para keluarga berkumpul. Ketika saudara saya menelepon dan memberitahu, saya tak merasakan emosi apa-apa. Ia menyuruh saya pulang. Saya bilang, saya tipe orang yang tidak bisa berbohong. Kalau saya pulang, saya mesti ikut menangis di tengah orang-orang yang tengah berduka. Tapi saya tidak bisa menangis sebab saya tidak merasa sedih. Saya tidak pulang. Sebab, ia tak meninggalkan kesan apa-apa dalam masa kecil saya, seberapa dekat pun ikatan darah kami.

Seorang kenalan saya pernah menceritakan masa kecilnya. Ia tinggal di sebuah pedalaman dekat laut. Masa kecilnya, saban hari diwarnai dengan pukulan dan amarah dari orang tuanya. Ia harus menerima pukulan untuk hal-hal remeh, semisal bermain terlalu jauh atau terlambat pulang ke rumah pada sore hari menjelang malam. Kelak ketika ia dewasa, ketika teringat akan rumah dan orang tuanya, hal yang melintas pertama kali dalam kepalanya adalah kenangan menyakitkan tersebut. Semuanya memang sudah lama berlalu. Seiring masa dewasanya, sikap orang tuanya telah berubah. Tapi ingatannya masih begitu jelas. Dan semua ingatan masa kecilnya itu, membuat ia tak ingin pulang ke rumah. Ia lebih senang berada di tempat yang jauh, menjalin pertemanan dengan orang-orang baru. Ia hanya pulang sesekali. Kadang saat lebaran, kadang saat mendengar kabar orang tuanya sedang sakit.

Ketika ia menjalin hubungan dengan seorang pria, ia menjadi sosok yang pemarah dan kerap berbuat kasar pada pasangannya. Semacam melempar barang-barang atau berkata kasar. Ia bilang pada saya, ia sadar bahwa tindakannya salah. Tapi itulah gambaran yang ada di kepalanya tentang kedua orang tuanya. Ia tidak bisa menghindar, tidak bisa menolak. Potret keluarganya di masa kecil telah mempengaruhinya di masa dewasa.
Seorang psikolog berkata, anak adalah peniru ulung. Dan orang tua, adalah role model mereka.  perilaku orang tua mereka di masa kecil secara otomatis akan tercetak dalam kepala mereka. Dan ingatan itu, juga secara otomatis akan membentuk mereka menjadi seperti apa yang mereka lihat. Sebagian besar—seperti teman saya tadi—sesungguhnya sadar bahwa contoh yang diberikan orang tuanya salah. Tapi ingatan mereka role model itu telah mereka ikuti sejak kecil. Dan mereka tidak sanggup mengendalikan diri. Tidak sanggup menolak apa yang telah terekam dalam otak sejak kecil.

Masih dengan tema yang sama, saya pernah membaca sebuah artikel (atau buku, saya lupa) psikologi yang mengatakan: seseorang yang memiliki orang tua buruk, dan sanggup mengendalikan diri dengan tidak meniru pola asuh orang tuanya tersebut terhadap anak-anaknya sendiri, sesungguhnya adalah orang yang memiliki pengendalian diri yang luar biasa. Orang tua yang bisa belajar dari pengalaman buruk di masa kecilnya, alih-alih menirunya, adalah pribadi yang istimewa. Dan hanya sedikit yang dapat melakukannya.

Saya pernah melakukan ‘riset’ kecil-kecilan. Saya mengamati orang-orang di sekitar saya (anak-anak, teman, keluarga) yang tumbuh dengan perilaku kurang baik (dari segi sikap, moral, dan mental). Tentu saja saya sekedar iseng dan saya tidak punya kapasitas dalam hal ini. Saya menemukan bahwa anak-anak yang berperilaku kurang bagus, umumnya hidup dalam keluarga yang tidak sehat. Saya menemukan bahwa orang yang berperilaku buruk dan cenderung kasar terhadap anaknya, biasanya mengalami hal serupa semasa kecilnya.

Itulah yang saya takutkan pada gadis cilik itu. Saya takut ia akan tumbuh dengan jiwa yang tidak sehat. Naluri saya mengatakan bahwa anak dengan jiwa yang terluka akan tumbuh dengan mental yang tidak sehat. Mereka bisa jadi penyendiri, pemalu, tidak bisa bergaul, tidak bertanggungjawab, dan tidak percaya diri. Mereka akan tumbuh menjadi jiwa yang tidak utuh.

Menjadi orang tua memang tidak mudah. Hanya orang tua yang sabar yang mampu melahirkan anak-anak yang berjiwa sehat dan berprestasi. Dan sedikit sekali orang tua yang seperti ini. Itulah sebabnya anak-anak yang berhasil dengan cita-citanya dapat dihitung dengan jari tangan. Sebagian besar gagal, dan menghasilkan anak-anak yang stres dan menjalani hidupnya mengikuti arus. Tidak percaya diri pada kapasitas yang dimilikinya.

Terkadang, orang tua terlalu dini menuntut anak-anak mereka menjadi ‘sesuatu’. They forced their children to do ‘cool things’, but they don’t show the way. Akibatnya anak-anak akan kebingungan. Mereka tidak bisa melakukan apa yang baik menurut mereka sendiri. Mereka tidak sadar bahwa jiwa anak-anak butuh waktu untuk menjadi matang. Mereka butuh waktu untuk bermain-main hingga menemukan jalan sendiri, kelak akan menjadi apa.

Percayalah, jika kau membiarkan anak-anakmu tumbuh bahagia, menikmati masa kecil yang bahagia tanpa bentakan, kelak kau akan melihat mereka menjadi sesuatu. Ajarkan mereka menyanyikan lagu ‘balonku ada lima. Biarkan mereka bermain hujan-hujanan di halaman berumput. Sesekali izinkan mereka berkelahi dengan teman sekelas.

Frederick Douglass, seorang yang tak saya kenal namun saya anggap ia bijak pernah berkata, “It is easier to build strong children than to repair broken men". Jika anak-anakmu tumbuh dengan jiwa yang rusak, akan sangat terlambat untuk memperbaikinya.

Oya, ketika saya menuliskan semua omong kosong ini, saya hanya seorang perempuan single yang belum pernah merasakan menjadi orang tua. Tapi saya belajar dari hal-hal kecil yang saya lihat dan saya sangat mencintai senyum anak-anak.

Hal-hal sepele membuat saya paham betapa kita orang-orang dewasa harus memelihara jiwa anak-anak dari amarah, seberapa marah pun kita. Sebab kebersamaan, sifatnya hanya sementara. Kenanganlah yang abadi. Saya selalu berusaha sedapat mungkin menjaga ingatan anak-anak kecil tentang saya. Semoga, kelak ketika dewasa, saya meninggalkan kenangan manis di kepala mereka. Dan saya berjanji kelak jika saya menjadi seorang ibu, saya akan melahirkan anak-anak yang selalu merindukan rumah.


Makassar, 2016
Sambil mendengarkan ‘7 Years’-nya Lukas Graham
Share:

11 May 2016

Mahalona, Merica dan Ancaman Bencana Alam


Hutan telah dibakar, tiang telah dipancangkan, bibit merica telah ditanam
Apa yang Anda pikirkan saat melihat begitu banyak mobil mewah berlalu-lalang di jalan raya? Barangkali, hal pertama yang terlintas di pikiran adalah, sang pemilik mobil pasti seorang konglomerat, pengusaha kaya raya, atau pejabat. Sejenis orang yang tentu tak kesulitan membeli kendaraan seharga setengah miliar rupiah ke atas.
Tapi di Luwu Timur, tidak demikian. Jika menyusuri jalan-jalan desa, kita akan sangat sering berpapasan dengan mobil-mobil mahal berbagai merk. Fortuner, Hilux, Strada, Pajero, hingga sekelas Avanza. Pemiliknya? Bukan pejabat atau pengusaha, melainkan petani biasa. Mereka adalah petani-petani yang tiba-tiba menjadi menjadi kaya raya dari hasil bertanam merica.
Kebun merica di Kabupaten Luwu Timur paling banyak saya temukan di Kecamatan Towuti. Lahan merica menyebar di sepanjang jalan, di tepi Danau Towuti dan Danau Mahalona, dalam perjalanan menuju kawasan Mahalona. Saya menyebutnya sebagai kawasan Mahalona karena awalnya, daerah ini hanya terdiri atas satu desa (Desa Mahalona) yang kemudian dimekarkan menjadi 5 desa. Di sana, tanaman merica tampak tumbuh gemuk dan subur, bertumpu pada tiang-tiang yang ditancapkan dengan kuat ke dalam tanah pegunungan yang gembur. Pada tiang-tiang itu, buah-buah merica bermunculan menjuntai-juntai dengan lebatnya.
Mahalona berjarak sekitar 34 kilometer dari Ibukota kecamatan. Penduduknya, pada umumnya adalah petani. Kawasan ini juga merupakan salah satu unit pemukiman transmigrasi (UPT) di Luwu Timur. Mahalona dihuni oleh orang-orang dari beragam suku dan etnis. Bugis, Makassar, Jawa, dan Bali. Untuk menuju ke sana, kita akan membelah hutan, melewati jalan yang belum beraspal. Kubangan air dan lumpur, jembatan dari dua belahan pohon, adalah pemandangan yang lazim. Pada musim hujan, tidak sembarang kendaraan yang bisa melewati jalan tersebut. Orang-orang Mahalona sendiri, yang tentu sudah paham kondisi tersebut, telah mengantisipasi. Mereka mendesain kendaraan roda dua agar bisa melewati jalan macam ini. Demikian juga dengan mobil-mobil angkutan yang biasanya berupa mobil jenis Panther atau Kijang. Umumnya, ban mobil akan diganti dengan jenis GT Radial yang cocok melewati segala medan, termasuk jalan berlumpur.
Akses jalan ke Mahalona
Tapi sejak lonjakan harga merica itu, para petani menemukan jenis kendaraan yang lebih tepat dan praktis yang tak perlu dimodifikasi ulang. Dan tentunya, terlihat terlalu mewah untuk kelas kawasan pemukiman transmigrasi di tepi hutan seperti Mahalona. Di jalan tanah merah yang penuh kubangan lumpur itu, berseliweran motor jenis trail yang tampak masih baru. Ninja. Juga mobil jenis double cabin. Mitsubishi Strada atau Toyota Hilux.
“Di sini, orang-orang membeli mobil seperti membeli sayur,” kata Mamad, sopir yang mengantarkan saya dan teman-teman dari JURnaL Celebes dari Towuti ke Desa Buangin. Desa Buangin berada di ujung kawasan Mahalona, berbatasan langsung dengan Sulawesi Tengah dan Tenggara. Mamad berkata demikian karena orang-orang itu membeli mobil mahal seakan tanpa beban. Jika ingin beli mobil, ya langsung beli saja. Tunai. Tanpa tawar menawar. Persis seperti membeli sayur. Jika ingin mobil jenis lain, ya beli lagi. 
“Orang itu baru kemarin beli mobilnya,” kata Mamad lagi saat kami berpapasan dengan sebuah mobil Hilux yang pengemudinya ia kenal. Mobil itu berhenti di sisi mobil kami. Pengemudinya bercakap-cakap sejenak dengan Mamad. “Ia sedang membangun rumah senilai 1 Miliar,” tambah Mamad saat mobil kembali melaju.
Sejak kurang lebih setahun terakhir, harga merica melonjak drastis. Sekilo bisa dijual seharga Rp 110-150 ribu. Bayangkan saja jika seseorang memiliki 1000 pohon merica dalam sepetak lahan. Setiap pohon, biasanya bisa menghasilkan 5-6 kilogram sekali panen, yang dilakukan sepanjang September hingga Februari dalam setiap tahun. Buahnya bermunculan tak henti-henti. Sekali panen, petani bisa menghasilkan ratusan juta. Bagaimana dengan panen kedua, ketiga, dan seterusnya?
Camat Towuti, Pak Aswan Azis mengatakan, di Towuti ada kepala desa yang memiliki kebun merica hingga 150 hektar. (Bisa membayangkan berapa uang yang diperoleh setiap panen yang berlangsung selama 6 bulan non-stop setiap tahun? Saya tidak bisa). Jika ia hendak menjual hasil panen, ia akan carter kapal ke Surabaya, menyeberang melalui Pelabuhan Timampu. Jika ingin bawa uang hasil panen ke bank, ia akan minta dikawal polisi dalam perjalanan. Menurut Pak Aswan, salah seorang pedagang pengumpul merica di Towuti pernah melakukan pembelian hingga Rp 700 Miliar. Peredaran uang sebanyak itu di sebuah kecamatan kecil, tentu merupakan hal yang terlalu luar biasa.
Hutan yang telah dibakar untuk berkebun merica
Merica di Mahalona tak serta merta bisa disebut telah menyejahterakan petani, tapi juga merusak dan menghancurkan. Bahkan dampak kerusakan itu terasa lebih mengkhawatirkan ketimbang keuntungan yang diterima oleh hanya segelintir petani saja. Orang-orang yang beruntung itu adalah yang sedari awal fokus bertanam merica, jauh sebelum harga melonjak. Sementara mereka yang hanya mengembangkan tanaman lain, atau tidak memiliki lahan, hanya jadi penonton atau buruh pemetik. Kecemburuan meningkat. Banyak petani yang kecurian saat hasil panennya tengah direndam. Biasanya buah merica direndam selama 15-18 hari sebelum dikelupas dari kulitnya. Adapula yang kalap membabat hutan agar bisa ikutan menanam merica.
Merica membuat banyak hal berubah di Towuti, termasuk gaya hidup penduduknya. Sehabis panen, mereka berbondong ke Makassar, berkunjung ke mall-mall, dan membeli sejumlah barang, yang terkadang berlebihan. Cerita lain mengenai ini saya dapatkan dari Pak Ulfa di Desa Buangin. “Ada teman saya, pergi ke Makassar hanya untuk sekedar cukur rambut,” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Para petani yang sedari awal tak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengenai sistem manajemen keuangan, jadi kalap ketika mendadak memiliki uang banyak. Mereka menjadi konsumtif secara berlebihan, tak terpikir untuk investasi. Padahal, lonjakan harga hasil pertanian macam ini, biasanya terjadi secara berkala dan hanya beberapa saat, tidak terus-menerus.  Hal sama pernah terjadi dengan kakao dan cengkeh. Di kampung saya di Bulukumba, para petani sama kalapnya ketika itu. Konon, ada yang membeli kulkas meski rumahnya belum dialiri listrik. Akhirnya, kulkas malang itu difungsikan sebagai lemari pakaian.
Harga barang kebutuhan pokok di Towuti juga berubah drastis. Semuanya melonjak tanpa tedeng aling-aling. Penyebabnya adalah kebiasaan penduduk, khsusnya petani merica membeli barang-barang tanpa tawar-menawar dengan penjualnya. Untuk apa menawar? Uang yang ada saja bingung mau dikemanakan. Merica pulalah yang merusak kebiasaan gotong royong, yang biasanya masih tumbuh mekar di desa-desa terpencil seperti Mahalona. Warga tak lagi berminat saling membantu, atau bergotong royong membangun fasilitas publik. Setiap tenaga yang dikeluarkan mesti ada harganya. Untuk apa gotong royong, jika mereka bisa menghasilkan uang Rp 80 ribu sehari jika memetik merica di desa sebelah?
Tanaman merica di sepanjang jalan
Sementara itu, anak-anak pun terkena dampaknya. Di warung-warung di desa, menurut Pak Rahmat, anak-anak bisa belanja jajan hingga 3 kali sehari. Pagi-pagi, mereka akan datang ke warung dengan membawa uang pecahan 100 ribu. Sekali belanja menghabiskan 20-30 ribu. Sisa uang kembalian akan dihabiskan saat mereka jajan lagi pada siang dan sore hari. Yang menggelisahkan, gaya hidup anak-anak petani merica itu, entah mengapa telah menular pada anak-anak lain, yang orang tuanya tak punya kebun merica. Mereka seakan tak mau kalah.
Hal paling menakutkan, yang kelak akan menjadi puncak dari bom merica ini adalah kerusakan hutan. Di sepanjang jalan desa, saat kita mendongak ke atas ke arah pegunungan, akan tampak dengan sangat jelas lahan-lahan yang tak lagi hijau. Seluruhnya berganti menjadi hamparan tanah kecoklatan dengan potongan-potongan kayu hitam sisa pembakaran hutan. Pelakunya adalah orang-orang yang tergoda tingginya harga merica. Seperti petani yang telah merasakan manisnya hasil bertani merica, mereka juga ingin merasakan hal yang sama. Karena tak punya lahan, jalan satu-satunya yang mereka lakukan adalah membakar hutan. Kayu sisa hasil pembakaran mereka tegakkan kembali untuk bakal tempat merambatnya tanaman merica.
Salah satu kawasan yang telah gundul akibat dibakar dengan segaja, saya saksikan langsung ketika menyusuri tepian Sungai Lamonto yang mengalir di belakang pemukiman warga Desa Buangin. Menurut Kepala Desa Buangin, Pak Rahmat, kawasan itu beberapa bulan sebelumnya masih hijau. Luas lahan yang dibakar mungkin mencapai 3 hektare, memanjang di tepian sungai. Di beberapa bagian sudah ditanami bibit merica. Pak Rahmat, mengaku tak tahu siapa yang melakukannya. Kawasan tersebut sebenarnya masih masuk area lahan transmigrasi. Warga Desa Buangin sendiri, kebanyakan hanya menjadi buruh pemetik di desa tetangga.
Di sela-sela perbukitan yang telah gundul itulah, Sungai Lamonto yang berhulu di Morowali, mengalir dengan derasnya. Sungai ini menjadi sumber irigasi bagi lahan pertanian warga di 5 desa. Kita yang menyaksikan kenyataan ini dari jauh saja, dapat membayangkan bahaya apa yang hendak dituai oleh warga di sana. Cepat atau lambat, jika tak segera ada penanganan, tanah dari ketinggian itu, yang kini tanpa pepohonan, akan longsor ke bawah dan menghancurkan kawasan Mahalona dan sekitarnya, seperti peristiwa yang sudah-sudah. Hal seperti ini sebelumnya pernah terjadi di Enrekang dan Sinjai. Banjir bandang yang bermula dari pegunungan gundul mengalir jauh hingga kota, menghancurkan lahan pertanian dan rumah-rumah penduduk. Bahkan mengambil korban nyawa. Tanaman merica memang berbuah manis. Tapi akibat jangka panjangnya, tentulah pahitnya tak tertanggungkan.  (*)
Makassar, Mei 2016

Share:

18 December 2015

Mendambakan Pebisnis Sosial di Indonesia


Pada suatu waktu, dulu, saya pernah begitu berambisi menjadi pebisnis. Alangkah menyenangkannya punya usaha sendiri, mempekerjakan sejumlah orang dengan gaji rendah, dan rupiah pun mengalir ke dalam kantong sendiri. Kelak dengan bisnis yang saya jalankan, saya bisa membeli apa saja. Mobil seharga 1 Miliar, rumah eksotis berhalaman luas, dan apa pun yang bisa melambangkan saya sebagai pebisnis sukses. Saya juga tidak akan lupa beramal tentu saja. Secara rutin, pada waktu yang telah saya  tentukan, saya akan mengunjungi rumah yatim, memberi beasiswa pada anak-anak miskin, atau membagi-bagikan kotak makanan pada anak-anak jalanan.
Saya memulai ambisi itu dengan rajin mengikuti pelatihan dan seminar tentang bagaimana memulai bisnis. Misalnya, bagaimana trik-trik untuk menjual barang dagangan. Ini bagian tersulit. Sebab saya tipe orang yang paling tak tahan melihat orang memelas. Jika saya menjual sesuatu dan calon pembeli mulai memelas, saya tidak tahan.
Para pemateri dalam seminar-seminar itu, yang konon saat ini bisnisnya sudah beromzet miliaran dan sudah pernah mengalami kebangkrutan berkali-kali lantas bangkit lagi (konon ini adalah pembuktian kesuksesan sebuah bisnis), saya menyaksikan betapa mereka gigih dan keras. Betapa mereka ulet melakukan promosi. Segala kemampuan dikeluarkan untuk menjual produk yang mereka buat.
Pada sekali kesempatan, saya mengikuti sebuah seminar yang dibawakan seorang pengusaha yang sekaligus menjual buku-buku. Ia menjual buku tentang pengalaman yang telah ia jalani hingga menjadi seorang pebisnis handal. Buku dengan judul-judul semacam: 7 Jurus Jualan di Medsos, Jurus Marketing, dan jurus-jurus lainnya. Buku-bukunya tipis saja, kecil pula, tapi harganya selangit (bagi orang pas-pasan seperti saya). Antara 300 ribu hingga 700 ribuan. Saya membayangkan, buku-buku bagus di toko buku dengan tebal 5 kali lipat harganya cuma berkisar Rp 100-150 ribu. Biasanya, sebelum bukunya ditulis, promosinya sudah dilakukan duluan lewat internet. Kalau banyak yang pre-order, barulah bukunya benar-benar ditulis.
Tapi barangkali itu memang jenis buku yang sangat berharga dan bernilai tinggi, terutama bagi orang-orang yang tergiur menjadi pengusaha beromzet miliaran. Bagi mereka, pengalaman-pengalaman yang tertuang dalam buku tipis itu bak harta karun. Harus segera dimiliki, agar kesuksesan yang empunya bisa segera menular. Tapi harga setinggi itu tentu tak akan sanggup dibeli oleh mahasiswa-mahasiswa yang untuk makan saja seringkali harus berhemat akibat uang bulanan yang selalu datang terlambat. Saya jadi berpikir, sebegitu mahalkah membagi pengalaman berharga dalam sebuah buku kecil itu?
Belakangan saya sadar, saya tidak bisa menjadi bagian dari mereka. bukan berarti mereka adalah komunitas yang tidak baik. Mereka baik tentu saja, dan punya peranan besar dalam menggerakkan roda perekonomian di Indonesia. Tapi jika saya sendiri yang melakukannya, hati kecil saya berontak. Ada rasa bersalah ketika saya melakukan berbagai upaya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya untuk diri saya sendiri. Sementara di banyak tempat yang saya kunjungi, saya menemukan banyak orang yang tak punya kesempatan mengikuti seminar wirausaha, orang-orang yang sakit tapi tak punya uang untuk berobat, yang terusir dari rumahnya karena tanahnya dirampas pengusaha rakus, anak-anak yang memilih tak sekolah (meski gratis) karena lebih memilih mencari nafkah agar keluarganya bisa makan, dan orang-orang yang tak mungkin bisa membeli sebuah buku kecil bertajuk Jurus Sukses Jadi Pebisnis. Dan percayalah, orang seperti ini di Nusantara, jumlahnya jauh lebih banyak. Dan kehidupan mereka tak akan berubah dengan sekedar sumbangan ala kadarnya dari para pengusaha dan perusahaan yang mencari citra baik. Saya mematikan ambisi itu. Jika menjadi pengusaha adalah satu-satunya cara menjadi kaya raya, barangkali memang ada orang yang tidak ditakdirkan menjadi kaya. Dan saya adalah salah satu di antaranya.
Saat kemudian saya bertemu dan berkenalan dengan Muhammad Yunus lewat bukunya yang berjudul Bisnis Sosial, ambisi itu kembali. Muhammad Yunus adalah seorang warga negara Bangladesh. Pada tahun 2006, ia menerima penghargaan Nobel Perdamaian atas langkah-langkah yang ia lakukan untuk mengurangi kemiskinan di Bangladesh. Siapa yang tak kenal Bangladesh? Ia adalah sebuah negara miskin di Asia Selatan yang penuh dengan pengangguran, orang-orang miskin, dan wabah penyakit. Tapi sesial-sialnya Bangladesh, negara yang tingginya hanya 1 meter dari atas permukaan laut itu, ia adalah sebuah negara yang beruntung karena memiliki seorang warga jenius bernama Muhammad Yunus.   
Pasca krisis keuangan global pada 2008, Bangladesh adalah salah satu negara yang merasakan imbasnya. Jumlah orang miskin dan pengangguran meningkat. Hal semacam ini kemudian dimanfaatkan oleh lintah darat, yang memberi pinjaman kepada orang-orang miskin dengan bunga tinggi. Meminjam kepada bank adalah sesuatu yang mustahil, sebab mereka mensyaratkan agunan dan menganggap orang miskin tak akan pernah sanggup mengangsur pinjaman. Prihatin dengan apa yang terjadi di negaranya, Yunus membentuk sebuah bank yang fokus memberi kredit mikro bagi orang orang miskin di Bangladesh. Namanya Grameen Bank.
Grameen Bank telah membuktikan bahwa anggapan bank-bank besar bahwa orang miskin tak bisa membayar sangsuran salah besar. Grameen Bank bahkan berani memberi pinjaman untuk para pengemis. Dalam seketika, ribuan pengemis beralih menjadi pedagang kecil-kecilan. Dan diakui Yunus, sebagian masih tetap mengemis dengan menjadikan berdagang sebagai pekerjaan sampingan. Yang ajaib, ternyata orang-orang miskin ini bisa membayar angsuran tepat waktu.
Yunus juga memberdayakan nasabah Grameen Bank yang kebanyakan perempuan. Mereka diberi pekerjaan lewat anak usaha Grameen yang lain. Sejauh ini, Grameen telah melakukan kemitraan dengan banyak perusahaan besar dunia, dengan tujuan mengurangi dampak kemiskinan di Bangladesh. Ia misalnya, bekerjasama dengan Adidas untuk membuat sepatu dengan harga terjangkau agar semua anak-anak miskin di Bangladesh bisa memiliki sepatu. Sebab penyakit parasit, seperti cacing, biasanya masuk ke dalam tubuh melalui kulit, terutama di kaki. Ia juga bekerjasama dengan sebuah perusahaan air minum, Veolia Water, untuk menyediakan air bersih bagi warga sebuah desa yang sumber airnya terpapar racun arsenik. Untuk anak-anak yang tidak mampu, ia mendirikan sekolah keperawatan, dengan sistem pembayaran uang sekolah melalui pinjaman dari Grameen Bank.
Yang unik, Yunus tak memberikan semuanya secara cuma-cuma. Semuanya berlatar bisnis. Yunus percaya bahwa segala yang diberikan secara gratis, melalui badan amal, yayasan, maupun LSM, selalu tidak berkelanjutan dan tidak memberi manfaat dalam jangka panjang. LSM misalnya, bekerja dengan menggunakan dana dari sebuah badan amal. Pada saat hibah terhenti, maka program akan terhenti pula. Sebaliknya dalam sebuah bisnis sosial, bisnis akan terus dikembangkan dan laba yang diterima sepenuhnya dipergunakan untuk memberdayakan masyarakat miskin. Tidak ada pembagian dividen untuk investor.
Grameen Bank yang didirikan Muhammad Yunus telah memberikan dampak besar bagi perkembangan perekonomian kelas bawah di Bangladesh. Sistem kredit mikro ini pun ditiru di berbagai negara. Bank di Indonesia misalnya, berlomba melakukan promosi tentang pemberian kredit mikro untuk petani dan nelayan, kredit dengan bunga kecil yang tanpa agunan. Namun yang terjadi di lapangan sangat jauh berbeda. Dalam perjalanan saya ke berbagai tempat di Sulsel dan mengobrol dengan komunitas masyarakat, tak ada pinjaman yang sama sekali tanpa agunan dari bank. Yang tak kalah menjengkelkan, bank tidak bersedia memberi pinjaman kepada kaum perempuan (ibu rumah tangga) tanpa persetujuan suami. Bahkan, meskipun perempuan ini memiliki penghasilan sendiri, meskipun ia adalah pencari nafkah dalam keluarga. Hal ini bertolak belakang dengan Grameen Bank yang justru memberi perhatian khusus dan memprioritaskan perempuan. Di satu sisi, Grameen dan semua anak perusahaannya juga sangat memperhatikan dampak lingkungan.
Di Indonesia akankah kita menemukan seorang social enterpreneur? Akankah kita suatu akan terkesima dengan sebuah berita tentang sosok pebisnis yang menggunakan seluruh laba yang diperoleh perusahaannya untuk mengentaskan kemiskinan? Alih-alih hanya tentang perusahaan rakus yang terus memperluas lahan perkebunan dengan membabat hutan dan melepaskan jutaan ton karbondioksida ke atmosfer, dan membuat rakyat Indonesia menderita?

  
Share:

19 November 2015

Mengenal Kearifan Masyarakat Adat Kaluppini di Enrekang

Mas Yayan memimpin di depan, disambut Pemangku Adat 

Kak Uthi, teman seperjalanan saya dari Sulawesi Community Foundation (SCF) menuju Desa Kaluppini, berpegang erat pada jok mobil sambil tak henti-hentinya merafal doa. Wajahnya pucat. Saya ingin tertawa tapi tak sanggup. Rasa tegang memang telah menyelimuti kami saat mulai masuk ke jalan desa. Sebelumnya, teman-teman dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulsel dan Massenrempulu (Enrekang) telah memberitahu medan yang akan kami lalui menuju Desa Kaluppini. Tapi saat menyaksikan sendiri, rasanya apa yang ada di depan mata jauh lebih menakutkan dari apa yang mereka ceritakan.
Jalanan menuju Kaluppini terbuat dari beton. Tapi lebarnya tak seberapa, tak bisa dilalui dua mobil yang berpapasan. Hujan yang turun sejak siang hingga sore membuat jalanan licin. Ada beberapa bagian jalan yang rusak. Mobil harus mendaki tanjakan yang cukup tinggi, kemudian menuruni lereng terjal. Di beberapa bagian adalah tikungan tajam. Di sisi kiri kanan jalan adalah jurang yang menganga. Dapat dibayangkan bagaimana takutnya kami melewati tikungan tajam di sebuah jalan beton yang sempit dan licin, di lereng gunung, sementara di sisi jalan adalah jurang. Tantangan lainnya adalah menyeberangi sungai tanpa jembatan. Belum lagi, sopir yang membawa kami sejak dari Makassar, tidak terbiasa dengan kondisi jalan seperti ini.
Dari atas ketinggian, kami masih sempat melirik ke sisi kiri jalan, pada hamparan perbukitan yang hijau menyejukkan mata, dan pada ibukota Kabupaten Enrekang nun di bawah sana. Indah, namun ketegangan membuat kami tak dapat benar-benar menikmatinya.
Mobil yang kami tumpangi tak bisa membawa hingga ke Kaluppini. Kepala Desa berserta belasan ojek menunggu kami di bagian jalan datar, tempat kami menitip mobil di depan rumah salah seorang warga. Desa Kaluppini masih sekitar 3 kilometer ke atas puncak. Tapi tanjakan terlalu tajam dan jalanannya rusak.
Berfoto dengan Bupati Enrekang, Pak Muslimin Bando

Desa Kaluppini masuk ke dalam wilayah pegunungan Latimojong, gunung tertinggi di Sulsel. Letaknya sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Desa ini dipilih AMAN sebagai salah satu komunitas adat percontohan, karena keteguhan masyarakatnya mempertahankan adat istiadat dan kearifan lokal. Hari itu, setelah berbincang dengan Bupati Enrekang, Pak Muslimin Bando di rumah jabatan, kami bermobil mendaki ketinggian untuk berkenalan dengan Komunitas Masyarakat Adat Kaluppini. Dalam tim ada teman-teman dari AMAN Enrekang, Armansyah Dore dari AMAN Sulsel, Mbak Tea Marlina Chandra dan Mbak Fadlun Saus dari Yayasan Persfektif Baru (YPB), Mas Gladi ‘Yayan’ Haryanto dari Kemitraan, Kak Uthi dan Kak Aji dari SCF, Kak Wahyu Chandra dari Mongabay, serta beberapa wartawan yang diundang khusus dari Jakarta. Saya sendiri mewakili JURnaL Celebes (Perkumpulan Jurnalis untuk Advokasi Lingkungan).
AMAN saat ini sedang mengadvokasi pembuatan Perda tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat di Enrekang. Ranperda tengah dibahas di DPRD dan ditargetkan selesai sebelum 2016. Langkah AMAN didukung Kemitraan, SCF, dan YPB. Enrekang adalah kabupaten kedua yang sedang mempersiapkan Perda, selain Bulukumba. Di Enrekang, Komunitas Masyarakat Adat Kaluppini yang didorong sebagai percontohan, sementara di Bulukumba adalah Masyarakat  Adat Kajang.
Melihat dukungan Pemda, tampaknya target pengesahan Perda sebelum 2016 bukan hal mustahil. Pak Muslimin Bando sendiri dengan tegas menyatakan dukungannya terhadap perlindungan masyarakat adat. Muslimin mengungkapkan, masyarakat adat punya peranan penting dalam pelestarian hutan. Enrekang kata dia, bagaimana pun juga punya tanggungjawab moral untuk menjaga sumber air di Sulsel. Sebab dari pegunungan Latimojong, mengalir Sungai Saddang yang merupakan sumber pengairan lahan persawahan di beberapa kabupaten penghasil beras, seperti Pinrang, Sidrap, Wajo, dan Palopo. Semua kabupaten tersebut adalah lumbung padi yang menjadikan Sulsel sebagai salah satu provinsi penghasil beras di Indonesia. Maka jika hutan rusak, sumber air akan terganggu yang secara otomatis akan berpengaruh pada hasil pertanian di Sulsel.
Memasuki kawasan hutan

Saat tiba di perkampungan Masyarakat Adat Kaluppini, rasa tegang dan lelah hilang menyaksikan sambutan warga. Mereka berdiri di tepi jalan menyambut kami. Tiga orang lelaki paruh baya dengan pakaian adat berdiri di depan rombongan warga, menyambut kedatangan kami dengan ritual adat. Mereka menari-nari, sambil ‘menggiring’ kami menuju sebuah aula yang biasa digunakan warga untuk pertemuan. Ratusan warga, laki-laki dan perempuan, anak-anak, sudah duduk di dalam, menyambut dengan hangat. Selepas pertemuan singkat itu untuk berkenalan dan menyampaikan maksud kedatangan, kami menuju rumah Kepala Desa dan rumah Pak Imam untuk beristirahat. Diskusi dengan masyarakat akan dilanjutkan malam nanti selepas Isya.

Kerjasama yang Baik Antara Pemangku Agama dan Pemangku Adat
Sejatinya, agama dan adat istiadat adalah dua hal yang kontras. Sering kita saksikan bahwa sebuah komunitas harus memilih untuk mempertahankan salah satu di antara keduanya. Tapi di Kaluppini, sebuah hal yang unik terjadi. Ajaran agama dan ritual adat berjalan bersamaan tanpa ada gesekan. Mayoritas penduduk di Kaluppini beragama Islam. Mereka adalah pemeluk Islam yang taat. Perayaan hari besar keagamaan selalu berlangsung dengan meriah. Semua ritual keagamaan yang selalu dilaksanakan dengan khidmat, mulai dari perayaan Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, hingga salat Jumat berjamaah. Yang unik, mesjid desa dibangun di atas puncak tertinggi.
Sementara itu, ritual adat juga selalu berlangsung dengan meriah. Ritual adat yang paling terkenal dan paling meriah bernama Pangewaran yang dilaksanakan delapan tahun sekali. Pada setiap perayaan, ribuan orang akan memadati Kaluppini. Bukan hanya warga Desa Kaluppini sendiri, melainkan juga pendatang dari luar. Anggota keluarga yang mencari nafkah di Malaysia akan pulang kampung beramai-ramai untuk menghadiri pesta adat ini.

Yang khas dalam ritual ini adalah ritual memanggil air. Dalam ritual tersebut, para pemangku adat akan duduk mengelilingi sumber air yang terletak di tepi hutan. Sekilas, sumber air tersebut bukan apa-apa, hanya tumpukan batu yang ditupi dedaunan kering. Namun dengan sebuah mantra yang dirafalkan para tetua adat, air bersih akan mengalir pelan keluar dari sebuah lubang di balik batu-batu tersebut. Warga yang hadir akan berkerumun, dan meminum air yang keluar dari lubang.
Pemimpin adat Kaluppini dikenal dengan nama Tau Appa’ (empat orang). Mereka adalah Tomakaka, Khali’, Ada’, dan Imam. Tomakaka dan Ada’ adalah pemimpin dalam kelembagaan adat, sementara Khali’ dan Imam adalah pemimpin di bidang agama. Dalam praktek pemerintahan, Tomakaka dipasangkan dengan Khali’, sementara Ada’ berpasangan dengan Imam. Dalam kepercayaan masyarakat Kaluppini, pasangan tersebut ibarat suami istri yang harus saling menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Dalam tingkat Pemerintahan Masyarakat Adat, tugas mereka adalah menjaga keharmonisan Kawasan Adat Kaluppini.

Rumah Adat Kaluppini


Antara ritual keagamaan dan ritual adat tak ada gesekan. Maka, di sinilah letak peran Imam dan Pemangku Adat. Imam mengurusi ritual keagamaan, sementara pemangku adat mengurusi ritual adat. Keduanya berjalan di jalurnya masing-masing. Pengikut keduanya saling menghargai dan tak ada yang saling menentang. Tak heran jika Pak Muslimin Bando menyebut Enrekang sebagai sebuah daerah dengan toleransi tinggi. Jika dalam sebuah rumah tangga sang suami lebih mempercayai ritual agama sementara sang istri lebih condong pada ritual adat, keduanya saling menghargai dan bekerjasama. Hal ini, menurut Bupati dapat juga dilihat dari letak wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja. Enrekang yang penduduknya 90 % beragama Islam, tak pernah ada konflik dengan Tana Toraja yang 90 % penduduknya beragama Nasrani.

Melek Informasi dan Teknologi
Meski Komunitas Masyarakat Adat Kaluppini mendiami daerah pegunungan di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, jangan membayangkan mereka sebagai masyarakat yang terbelakang dan gagap teknologi. Sebagai contoh, Pak Imam di Kaluppini terampil berselancar di dunia Internet. Ia punya akun Facebook.
Nenek Sabiah, penjaga rumah adat yang bercakap dengan Bahasa Melayu

Saat berada di sana, saya kaget ketika smartphone saya menangkap sinyal wi-fi. Selidik punya selidik, sumbernya dari pocket wi-fi milik Pak Imam. Ia membagi-bagikan kami password untuk mengakses internet. Ia bilang sudah membeali cukup paket data internet khusus untuk menyambut kami. Wi-fi itu selalu mengikuti ke mana pun kami pergi. Saat tengah duduk di dalam aula yang berjarak sekitar 400 meter dari rumah Pak Imam, Fa (Fadlun Saus) kaget, berpikir sinyal wi-fi nya kuat sekali menjangkau sampai ke aula. Ternyata, Pak Imam yang duduk di dekat kami membawa pocket wi-finya di dalam saku.
Keesokan harinya saat kami menjelajah hutan, melihat beberapa situs sejarah dan melihat-lihat lokasi hutan adat, dengan jumawa teman-teman memamerkan foto terbaru dan update status di media sosial masing-masing. Sambil tertawa-tawa tentu saja, sebab merasa lucu bisa dapat akses internet di tengah hutan.
Tak hanya itu, nyaris setiap rumah memiliki antena parabola. Setiap rumah punya tivi. Masyarakat Kaluppini tentu saja tak pernah ketinggalan informasi, sama halnya dengan mereka yang tinggal di kota.

Mempertahankan Kearifan Lokal
Sebagai sebuah komunitas masyarakat, sebuah konflik kadang dapat dihindari. Biasanya, konflik yang terjadi seputar sengketa tanah. Meski demikian, semua konflik selalu bisa diselesaikan secara adat. Tak ada sengketa yang sampai melibatkan pihak keamanan atau sampai ke pengadilan. Masyarakat Kaluppini percaya bahwa menyelesaikan masalah secara adat adalah jalan penyelesaian terbaik.
Dalam mengelola hasil panen, Masyarakat Adat Kaluppini punya aturan tersendiri. Mereka tidak pernah menjual hasil panen, seberapapun banyaknya. Hasil panen disimpan di lumbung penyimpanan. Peraturan ini berawal pada puluhan tahun silam ketika paceklik dan kekeringan melanda Kaluppini. Tak ada hujan. Tanah kering kerontang. Sejak peristiwa itu, Masyarakat Adat Kaluppini jadi lebih menghargai hasil panen dan makanan. Maka tak heran pula, saat makan mereka tak pernah menyisakan sebutir pun nasi di piring. Mereka belajar untuk mengambil makanan sesuai yang mampu dihabiskan.
 Yang paling penting adalah bagaimana mereka mengelola hutan. Masyarakat Adat Kaluppini  sadar bahwa hutan adalah sumber kehidupan mereka. Jika ada warga yang butuh kayu untuk bahan membangun rumah, mereka hanya mengambil seperlunya. Jika berlebih, sisa kayu akan disimpan di rumah adat dan kelak bisa digunakan oleh oleh warga lain. Di samping itu, terdapat juga kawasan hutan adat, hutan yang masih perawan dan tidak boleh diganggu. (*)
Fa dan Tea selfie di hutan



Share:

Pemberontakan Perempuan Bali dalam Novel Tarian Bumi

Tarian Bumi, novel yang ditulis Oka Rusmini

Saat para perempuan sudra[1] rela melakukan apa saja demi menaikkan kastanya, Ida Ayu Telaga Pidada justru melakukan hal sebaliknya. Ia membuang gelar Ida Ayu—gelar untuk perempuan berkasta Brahmana[2]--demi bisa menikah dengan Wayan Sasmitha, seorang pelukis yang dicintainya sejak umur 10 tahun. Di griya, Telaga merelakan kakinya diinjak, orang-orang Brahmana membasuh kaki di atas kepalanya, sebagai rangkaian upacara melepaskan gelar kehormatannya. Sejak saat itu, namanya menjadi Luh Telaga, bukan lagi Ida Ayu Telaga.
Lahir sebagai perempuan dalam masyarakat dengan strata sosial bertingkat-tingkat bukan main sakitnya. Itulah yang dirasakan para tokoh perempuan yang diciptakan Oka Rusmini dalam novel Tarian Bumi ini. Mereka hanya bisa bergaul dengan yang memiliki kasta setara. Wanita Brahmana menikahi pria Sudra adalah aib tak tertanggungkan. Sebaliknya, jika wanita sudra menikahi pria brahmana, kastanya, juga kasta anak turunannya akan berubah jadi brahmana. Status sosial anak-anak ditentukan oleh kasta sang bapak. Perempuan bukan apa-apa selain sekedar pelengkap hidup.
Hal ini yang menjadi pertimbangan Ni Luh Sekar, ibu Telaga, sehingga rela melakukan apa saja agar bisa menikah dengan laki-laki Brahmana. Dengan menikahi laki-laki Brahmana yang kaya raya, kelak anaknya juga akan lahir sebagai perempuan Brahmana. Kelak anak-cucunya akan memiliki posisi terhormat di tengah masyarakat.
Ia bahkan tak perduli meski laki-laki Brahmana yang ia nikahi itu—Ida Bagus Pidada—adalah seorang laki-laki yang sehari-hari menghabiskan waktu untuk mabuk dan tidur dengan pelacur. Sekar tak perduli. Sebab yang terpenting adalah status sosial. Ia juga tak perduli meski ibu mertuanya membencinya setengah mati.
Telaga adalah potret seorang perempuan pemberontak dalam masyarakat Bali yang digambarkan Oka Rusmini dalam novelnya ini. Ia memberontak pada sistem strata sosial yang mengharuskan ia menikah dengan laki-laki yang memiliki kasta setara dengannya. Ia meninggalkan rumah yang bergelimang harta, menanggalkan perhiasan dari tubuhnya, pakaiannya yang bagus-bagus, dan memasuki rumah Wayan Sasmita, membiasakan diri meniup bara api di depan dapur.
Pemberontakan perempuan yang digambarkan Oka Rusmini dalam novel ini bukan hanya tentang Telaga. Ada banyak perempuan lain yang akhirnya memilih jalan sendiri, tidak mengikuti sistem dan norma yang berlaku dalam masyarakat Bali. Luh Kenten, sahabat ibunyan Telaga, memilih untuk tidak pernah mencintai laki-laki, dan menyadari justru ia jatuh cinta pada perempuan. Pada sahabatnya, Luh Sekar (ibunya Telaga).
Ada Luh Kambreng, seorang penari luar biasa yang berkali-kali mendapat piagam penghargaan. Tapi ia menyadari bahwa ternyata setumpuk piagam tak membuatnya banyak uang, ia merobek-robek piagam tersebut untuk menutupi gubuknya yang bocor. Luh Kambreng menolak cinta seorang pria bule saat menyaksikan bagaimana sahabatnya mati bunuh diri setelah tubuhnya dieksploitasi oleh suami bulenya untuk objek lukisan.
Saya rasa, menulis novel ini adalah cara Oka Rusmini memberontak pada kekuasaan laki-laki yang selalu mendominasi perempuan dalam semua hal. Tak sedikit pun Oka menggambarkan laki-laki sebagai makhluk terhormat dalam novel ini. Ia bercerita bahwa, segala penderitaan perempuan bersumber dari ulah laki-laki. Laki-laki digambarkan sebagai sosok yang tak punya tanggung jawab terhadap keluarga dan hanya bisa hura-hura. Mereka senang menggoda perempuan cantik, malas, dan berpikir bahwa perempuan terbaik untuk dinikahi adalah yang kuat dan pekerja keras, sehingga para suami bisa berleha-leha di rumah.
Saya tak begitu paham budaya Bali. Saya tak tahu apakah apa yang digambarkan Oka Rusmini tentang laki-laki Bali sama persis dengan apa yang ada dalam novel ini. Oka seolah memandang semua laki-laki sama saja. Ia seolah menulis sambil menahan amarah terhadap laki-laki, semua laki-laki. Namun bagaimana pun, saya pikir, tak semua laki-laki punya karakter buruk seperti para laki-laki dalam Tarian Bumi. Di dunia nyata pun, tak semua laki-laki jahat. Di novel ini, hanya ada satu laki-laki Ida Bagus Pidada, kakek Telaga. Tapi kebijaksanaan itu toh ternodai juga dengan ulahnya meniduri menantunya sendiri (meski hanya desas-desus dan tidak dijelaskan lebih jauh apakah benar atau tidak).
Oka Rusmini punya kesempatan lain untuk menjelaskan bahwa di antara sekian banyak laki-laki jahat, ada juga laki-laki yang baik dan menghargai perempuan. Dia adalah Wayan Sasmitha, yang berani menerobos segala norma budaya demi cintanya pada Telaga. Tapi Oka Rusmini bahkan tak menjelaskan lebih jauh tentang karakter Wayan. Ia hanya menggambarkan tokoh Wayah sebagai seorang pelukis berbakat yang mati muda setelah menikahi Telaga. Alangkah sayangnya.
Di sisi lain, Oka menggambarkan perempuan-perempuan Bali sebagai sosok yang pemberani, kuat, dan pekerja keras. Ada Ibu Sekar misalnya, yang gigih berjuang seorang diri demi anak-anaknya. Ia bahkan dengan tulus membesarkan dua anak kembar yang lahir dari hasil pemorkosaan terhadap dirinya.
Ada Luh Sekar, yang dengan gigih berjuang demi bisa menjadi penari. Meski pada saat itu, ia diremehkan karena statusnya sebagai perempuan Sudra. Ada Luh Kambreng yang meski dikenal sebagai penari berbakat, tak mau menggunakan kemampuannya untuk mencari uang.
Tapi di antara perempuan-perempuan pemberani itu, ada sosok perempuan berani lain yang digambarkan secara setengah-setengah. Dia Luh Kenten, sahabat Luh Sekar. Kenten menolak jatuh cinta pada laki-laki. Ia malah jatuh cinta pada Sekar, namun takut menyampaikan cintanya, dan takut pada pandangan masyarakat umum tentang orientasi seksualnya.
Tarian Bumi adalah sebuah novel dengan tema yang menarik. Tapi bagi saya, novel ini belum tuntas. Banyak hal yang masih perlu dijelaskan.
Apa yang terjadi setelah Sadri (saudara ipar Telaga) meminta bagian tanah warisan pada ibunya? Apakah ia berhasil membawa Putu Sarma datang kepada ibunya?
Apa yang terjadi setelah Putus Sarma menggoda Telaga dan ternyata Telaga menyukai godaan itu? Apakah ia akhirnya akan benar-benar tergoda atau tetap setia pada suaminya yang telah mati?
Apa yang terjadi setelah Telaga melepaskan statusnya sebagai perempuan Brahmana?
Tusuk konde itu... dari mana dan untuk apa nenek Telaga mewariskannya?
Jika saja Oka Rusmini menuliskan novel ini dengan cara yang lebih terperinci dan mengalir, dengan perbincangan yang tidak kaku dan lebih hidup, Tarian Bumi akan jadi sebuah novel yang sangat indah.   




[1] Kasta terendah dalam strata sosial di Bali
[2] Kasta tertinggi dalam strata sosial di Bali 
Share:

08 November 2015

Cat’s Eye: Dengan Siapa Engkau akan Minum Teh dan Tertawa di Hari Tua?

Cat's Eye, novel yang ditulis Margaret Atwood

This is what I miss, Cordelia: not something that’s  gone, but something that will never happen. Two old women giggling over their tea.
Elaine sadar bahwa ia merindukan Cordelia, teman masa kecilnya. Bahwa dengan Coordelia-lah seharusnya ia menjalin persahabatan hingga tua. Tapi Cordelia menghilang. Dan sebuah penyesalan merayap pelan dalam sanubarinya. Seandainya dulu ia menolong Cordelia, barangkali hingga di usia senjanya kini, keduanya masih berteman.
Kembali ke Toronto, Elaine seakan dipaksa untuk kembali mengingat semua kenangan masa kecilnya di kota itu. Tentang rumah orang tuanya di sisi jalan berlumpur, tentang bukit dan jembatan tempat ia sering bermain, dan tentang teman-temannya: Cordelia, Carol, dan Grace.
Memiliki orang tua seorang peneliti biologi membuat Elaine tak memiliki teman. Orang tuanya tidak memiliki tempat tinggal tetap. Bersama kakanya Stephen, mereka hidup berpindah dari hotel ke hotel, dari hutan ke hutan. Mengamati ulat, katak, dan segala hewan yang menarik perhatian ayahnya.
Ketika akhirnya ia memasuki usia sekolah dan orang tuanya memutuskan membeli rumah sederhana di Toronto, Elaine sangat senang. Satu hal yang telah lama diimpikannya sepertinya akan segera terwujud: teman perempuan. Ia sudah bosan bermain dengan Stephen, kakaknya satu-satunya. Impian Elaine terwujud saat ia akhirnya bertemu Cordelia, Carol, dan Grace. Ia menyayangi ketiganya. Mereka bermain bersama dan saling berkunjung ke rumah masing-masing. Dan Elaine akan rela melakukan apa pun demi mereka, karena mereka adalah teman-temannya.
Saat mengetahui bahwa Elaine dan keluarganya tak pernah berkunjung ke gereja, keluarga Smeath (Carol Smeath) berinisiatif mengajaknya untuk ke gereja bersama. Orang tua Elaine yang atheis karena menganggap agama hanya memecah-belah persaudaraan sesama manusia, tidak keberatan. Dan akhirnya, setiap Minggu Elaine rutin ke gereja bersama keluarga Smeath.
Persahabatan Elaine dan teman-temannya mulai terasa aneh ketika Cordelia muncul. Cordelia menjelma sebagai ketua geng yang kerap menyuruh Elaine melakukan hal-hal aneh. Cordelia menggali lubang dan meminta Elaine masuk ke dalam lubang tersebut lalu meninggalkannya. Elaine sering menyalahkan Elaine atas hal yang tak ia pahami. Caranya berjalan, caranya bersikap, caranya berbicara, dan semuanya. Singkat kata, Elaine sangat buruk di mata teman-temnnya. Elaine tak protes, sebab ia menganggap bahwa mereka adalah teman terbaik yang ia punya. Lagipula, teman-temannya tak pernah mempermalukan dirinya di depan orang lain. Segala tentang itu hanya diketahui anggota geng.
Suatu hari, saat berkunjung ke rumah Carol, Elaine mendengar percakapan Mrs Smeath di dapur mereka. Elaine sadar, bahwa semua perlakukan buruk yang dilakukan teman-temannya terhadapnya adalah sepengetahuan keluarga Smeath yang taat dan rajin ke gereja. Semuanya terjadi atas perintah Mrs Smeath yang menurut ia, sebagai hukuman dari Tuhan karena keluarga Elaine tidak pernah ke gereja. Peristiwa itu membuat Elaine membenci Mrs Smeath.
Ia menyadari bahwa ketiga temannya bukan teman yang baik, ketika suatu sore di musim dingin mereka memaksa Elaine turun ke bawah jembatan untuk mengambil topinya yang jatuh, lalu meninggalkannya sendiri. Elaine tak sanggup kembali ke atas dan nyaris mati keidinginan. Kesadaran itu membuat ia menjauhi teman-temannya dan mencari teman lain.
Persahabatan mereka benar-benar putus hingga lulus sekolah. Saat menginjak bangku SMA, Elaine harus berteman kembali dengan Cordelia, yang dikeluarkan dari sekolah lamanya dan terpaksa masuk ke sekolah Elaine. Elaine tak keberatan dan tak pernah mendendam. Ia sudah melupakan perlakuan buruk Cordelia di masa kecilnya. Tapi perlahan ia kembali menjauhi Cordelia, saat menyadari bahwa Cordelia adalah anak yang sama sekali tak punya keinginan belajar. Karakter dan kecerdasan keduanya sangat bertolak belakang.
Pertemuan terakhir antara Elaine dan Cordelia terjadi di sebuah cafe ketika Cordelia meminta bantuan Elaine. Cordelia ingin Elaine menyelamatkannya dari sebuah rumah, tempat ia ditahan karena disangka gila. Ia ingin Elaine mengeluarkan ia dari tempat itu atau meminjamkannya uang. Tapi Elaine tak bersedia melakukannya. Hingga ia sadar, beberapa bulan kemudian saat mengirim surat untuk Cordelia, suratnya dikembalikan. Cordelia sudah tidak ada di tempat itu.
Pertengkaran dengan suaminya Jon membuat Elaine pindah ke Vancouver. Saat kembali ke Toronto untuk pameran lukisan-lukisannya, ia setengah berharap mendapat kejutan: bahwa Cordelia akan muncul tiba-tiba di tengah gedung pameran. Atau tiba-tiba meneleponnya untuk mengabarkan bahwa ia melihat Elaine, sang pelukis terkenal, di koran. Tapi Cordelia sudah benar-benar hilang. Dan ia kembali menyesal. Seandainya dulu ia menolong Cordelia...
Margaret Atwood menulis Cat’s Eye dengan narasi yang sangat mengagumkan. Ia bercerita dengan alur maju-mundur, dengan irama yang tenang tapi tajam. Tak ada peristiwa yang mencengangkan di ending novel ini. Tidak ada kejutan yang luar biasa. Sang tokoh utama, Elaine, memang sudah sadar bahwa Cordelia, sahabatnya satu-satunya, telah hilang darinya.  Ia sekedar mengajak pembaca ikut menguliti masa kecilnya, atau sekedar memberitahu bahwa ia pernah punya teman baik bernama Cordelia.
Poin utama yang ingin ia sampaikan kepada pembaca, akhirnya tersampaikan di bagian ending: This is what I miss, Cordelia: not something that’s  gone, but something that will never happen. Two old women giggling over their tea. Ketika itu ia dalam perjalanan dari Toronto kembali ke Vancouver dan melihat dua orang tua di atas pesawat. Dua sahabat yang sangat akrab. Elaine membayangkan kedua orang itu adalah dirinya dan Cordelia.
Bagi saya, satu hal yang disayangkan dalam novel ini adalah bagaimana pandangan Elaine terhadap gubungan antara laki-laki dan perempuan. Ia seperti tak memiliki pendirian tetap tentang percintaan. Misalnya, ia mencintai dua pria dalam sekali waktu. Ia menjalin hubungan dengan Josef Hrbik, gurunya, dan Jon, temannya. Sementara ia tahu bahwa Josef juga menjalin hubungan dengan teman perempuannya yang lain, Susie. Ia akhirnya menikah dengan Jon karena hamil. Mereka mulai bertengkar saat anaknya lahir, hingga Elaine pindah ke Vancouver dan menikah dengan Ben. Tapi saat kembali ke Toronto untuk pameran lukisannya, ia secara sadar kembali tidur dengan Jon. Atau barangkali, seperti ini pulalah pandangan Atwood tentang bagaimana hubungan laki-laki dan perempuan: Tak ada komitmen, dan tak ada salahnya tidur dengan lelaki lain jika ada kesempatan, meski ada laki-laki lain yang menunggumu di tempat lain.
  


   
Share:

29 October 2015

Menertawakan Orang-orang yang Gila Gelar


Salah seorang teman kost saya seorang mahasiswa pascasarjana di salah satu universitas swasta di Makassar. Ia juga bekerja sebagai  dosen di sebuah yayasan, di sebuah kabupaten berjarak 4 jam perjalanan dengan mobil dari Makassar. Ia bekerja dari Senin hingga Rabu, dan selebihnya menghabiskan waktu di Makassar untuk kuliah. Ia datang ke Makassar setiap Rabu, meski ia bilang, ia kuliah hanya dua hari dalam seminggu, setiap Jumat dan Sabtu. Hari Kamis ia gunakan untuk bersantai karena malas masuk kantor.
Setiap datang, ia selalu membawa cerita-cerita baru. Sebagian besar tentang pekerjaannya. Tentang kampus tempatnya mengajar, dan tentang bosnya—ketua yayasan di kampus tempat ia mengajar tersebut. Ia selalu bercerita tentang bosnya dengan rasa bercampur aduk. Kesal dan geli. Di saat ia bercerita dengan raut wajah kesal, saya tertawa-tawa. Kisah yang ia ceritakan tak ubahnya bak kisah sinetron komedi.
Bosnya, pemilik yayasan, seorang wanita berusia lebih dari 40 tahun. Mungkin 50. Ia sedang mengambil program Doktor di sebuah universitas swasta di Makassar. Tapi jauh-jauh hari, sebelum gelar Doktor tersebut ia peroleh secara resmi, ia telah memakai gelar itu dengan bangga. Dr. bla bla bla. Ia adalah seorang yang sangat bangga dengan gelar akademik, senang mempermudah cara memperoleh gelar tersebut. (Saat ini ia telah benar-benar memperoleh gelar tersebut secara resmi). Tapi meski dengan gelar kehormatan itu, ia sama sekali tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan banyak di bidang akademik.
Kenapa teman saya itu mengambil kesimpulan demikian? Sebab mata dan hati tak bisa dibohongi. Doktor baru itu tak pandai menggunakan laptop dan berselancar di dunia internet. Jika ia ingin mengetik sesuatu atau membuat power point, ia meminta tolong pada bawahannya. Jika ia harus mengajar dan butuh materi, ia meminta dosen-dosen bawahannya mencarikan bahan kuliah tersebut dari internet. Copy paste. Pernah suatu ketika, saat ia harus menghadapi ujian kompetensi yang juga berkaitan dengan gelar, ia minta izin pulang karena merasa sakit. Ia tak ikut ujian. Tapi sebuah nilai bagus tetap tercetak untuknya entah dengan cara apa. Pernah ada sebuah kejadian, ketika ia menghadap papan tulis, semua mahasiswa di belakangnya berjingkat keluar kelas. Sejak saat itu ia kapok mengajar.
Ia memberi label ‘kampus internasional’ pada kampus yang ia dirikan di bawah yayasannya itu. Apa yang membuat ia percaya diri memberi label luar biasa tersebut? Sang bos bilang, karena mahasiswa yang mendaftar di sana diwajibkan punya nilai TOEFL dan TOEIC. Saya kaget mendengarnya. Unhas saja, yang universitas terbesar di Indonesia Timur, hanya mensyaratkan TOEFL untuk mahasiswa pascasarjana. Tak ada TOEIC. Bahkan di universitas luar negeri setahu saya, untuk calon mahasiswa internasional, TOEIC tak diminta jika nilai TOEFL sudah memenuhi standar. Bagaimana mungkin sebuah kampus swasta skala kabupaten mensyaratkan TOEIC?
Teman saya bilang, ada dugaan sang bos ditipu. Barangkali. Bagaimana pun, ini hanya dugaan. Pihak yang diundang untuk menyelenggarakan tes TOEFL tersebut berasal dari Jakarta. Tak jelas lembaganya apa. Sebab di sertifikat yang diberikan untuk calon mahasiswa baru, tak ada nama lembaga. Hanya ada tanda tangan dan nama seseorang yang bertanggungjawab menyelenggarakan tes tersebut. Saya bilang, kalau untuk menyelenggarakan tes TOEFL, Pusat Bahasa di Unhas adalah salah satu lembaga resmi perwakilan ETS di Makassar. Tapi sang Sang bos senang dengan hal-hal yang terdengar canggih. Jakarta lebih canggih dari Makassar. Apa pun yang berbau Jakarta, pasti lebih bagus. Segala peralatan kampus didatangkan dari Jakarta. Bahkan kertas sertifikat. Biar mahal yang penting dibeli dari Jakarta, karena itu terdengar keren.
Soal TOEFL itu, tak ada yang tak lulus tes. Semuanya dijamin lulus, bahkan meski hanya memperoleh nilai 250. Ini hanya sebuah persyaratan resmi, untuk masuk sebuah universitas swasta skala kabupaten berstandar internasional. Yang penting calon mahasiswa membayar dan ikut tes. Itu saja.
 Di kampus, sang bos tidak sekedar mengurusi hal akademik. Bahkan persoalan pribadi para karyawan (dosen) ia urusi. Ia melarang para dosen melanjutkan pendidikan. Alasannya, untuk apa kuliah tinggi-tinggi kalau toh nanti setelah menikah ikut suami juga. Nah lho?! Ia melarang para dosen pacaran karena katanya pacar bisa mengganggu pekerjaan di kampus. Ia pernah memanggil teman saya itu menghadap hanya untuk memberitahu satu hal: “Kamu, kalau punya pacar yang jabatannya tinggi jangan belagu. Gelar dan pangkat itu hanya untuk di dunia. Tidak dibawa mati.” Teman saya terbengong-bengong. Ia tak tahu mengapa sang bos memanggilnya hanya untuk mengatakan itu. Tiba-tiba saja, tanpa ada angin atau pun hujan.
Suatu hari, ia pernah memanggil satpam menghadap. Ia marah kepada satpam tersebut. Katanya, “Kerjamu apa di kampus ini? kenapa sempritanmu tidak pernah bunyi?” Barangkali ia pikir, tugas satpam hanya satu: membunyikan sempritan sepanjang hari. Di hari lain, ia mengadakan rapat mendadak untuk dosen dan pegawai kampus. Rapat tersebut membahas anak kuda kesayangannya yang baru mati. Sang bos menceritakan kesedihannya kehilangan anak kuda sambil menangis.
Di kampus, ia membayar seorang cleaning service. Tapi sang CS hanya berleha-leha. Kerjanya tak seberapa, sebab ia tak diizinkan membersihkan ruangan. Sang bos memberi jadwal piket untuk para pegawai kampus. CS membersihkan bagian luar ruangan saja.
Saya selalu merasa terhibur mendengar cerita teman saya itu. Saya sadar, sang bos tersebut hanya satu di antara sekian banyak. Di Indonesia. Saya teringat pada sebuah universitas di Jakarta, yang telah menerbitkan banyak sertifikat gelar untuk banyak petinggi. Katanya, namanya Universitas Berkley. Konon, ini adalah perwakilan resmi dari Universitas Berkley di Michigan, Amerika. Pemiliknya sudah mengantongi izin menyelenggarakan pendidikan dan menciptakan gelar bagi yang membutuhkan di Indonesia. Sementara di beberapa sumber disebutkan, Universitas Berkley ini, di Amerika, tidak terakreditasi dan tidak diakui. Berbeda dengan Universitas Berkeley, sebuah universitas keren di daerah California. Tapi Berkley dan Berkeley jelas beda.
Masih jelas pula bagaimana seorang peserta wisuda di Universitas Terbuka di Tangerang tak tahu nama mata kuliah dan tak tahu jumlah IPKnya. Saya tidak tahu kampus itu masuk wilayah Tangerang atau Jakarta Selatan. Saat berlalu-lalang dari Pamulang ke Jakarta, saya sering melewati kampus itu. Wisuda palsu itu digerebek Kementerian Pendidikan. Di Makassar, beberapa waktu lalu, puluhan kampus swasta dinonaktifkan karena memperjualbelikan ijasah. Konon, di kampus-kampus itu, kau bisa mendapat ijasah dan nilai IPK luar biasa tanpa perlu hadir di bangku kuliah.
Membicarakan pendidikan di negeri ini memang selalu menggelikan. Selalu ada cerita lucu yang membuat kita tertawa-tawa. Betapa gelar akademik adalah sebuah kebanggaan, bahkan oleh orang-orang yang tak mencintai pendidikan. Akibatnya, banyak juga yang memperdagangkan pendidikan, menjadikannya lahan bisnis. Saya mencoba memposisikan diri di pihak mereka. Betapa malunya saya jika punya gelar doktor tapi tak memahami apa yang dibicarakan orang-orang di sekitar saya. Tak membaca buku, tak tahu isu lingkungan, tak punya kepedulian sosial. Tapi saya tahu, kesalahan tidak sepenuhnya ada di pihak mereka, pembeli gelar itu. Sepertinya sistem pendidikan di negeri ini sudah amburadul sejak awal.

Makassar, 30 Oktober 2015
Share: